*** Nathan menatap seorang wanita yang datang ke kantornya. Wanita dengan wajah Asia itu menatap dirinya dengan penuh penyesalan dan permohonan maaf yang tak kunjung terhenti dari mulutnya. Nathan menghembuskan napas kasar dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya terasa berat karena tugas yang belum selesai dan ditambah lagi kesalahpahaman yang terjadi. Terlihat jelas dari raut wajah Nathan jika ia merasa gelisah dan sangat lelah. “Apa benar?” gumam Nathan dan itu terdengar oleh wanita yang berada di depannya. “Benar, Tuan. Demi Tuhan saya tidak sengaja melakukannya hingga membuat gadis Anda hampir celaka,” ucap wanita itu dengan sangat amat menyesal. “Tapi, apa aku bisa percaya dengan perkataanmu?” Raut wajah Nathan menatap wanita di depannya itu dengan pandangan dat

