BAB 1: PERASAAN MERI YANG LABIL
meri duduk di kursi dekat jendela apartemennya yang sepi. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi, tapi pikirannya jauh melayang. Gadis 27 tahun itu tampak tenang, namun di dalam dirinya, dua suara terus berdebat—sisi rasional dan sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan.
meri: "Imas bilang dia bakal mampir sore ini... Tapi kenapa aku malah gelisah ya?"
Hatinya berdebar aneh setiap kali mendengar nama Imas. Teman sekaligus seseorang yang sudah membuat hatinya kacau sejak tiga bulan lalu. Sejak pelukan pertama yang terlalu lama, hingga ciuman di malam hujan waktu listrik padam. Semua terjadi begitu saja... tapi tidak bagi meri.
Tiba-tiba pintu diketuk. meri berdiri, napasnya tertahan.
Imas: "mer, aku bawa martabak kesukaanmu."
meri membuka pintu, matanya langsung menatap wajah ceria Imas. Wajah itu... wajah yang selalu bisa membuat pikirannya runtuh.
meri: "Makasih, Mas... masuk, ya."
Imas duduk di sofa, membuka bungkus martabak.
Imas: "Kamu lagi mikirin apa? Wajahmu kayak baru habis debat sama diri sendiri."
meri tersenyum hambar. Dalam benaknya, sisi lain dirinya berbisik, “Katakan. Bilang padanya kamu jatuh cinta.”
Tapi meri hanya diam.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Tegar.
Tegar: “Meri, kita harus bicara. Aku tahu soal kamu dan Imas.”
Meri terhenyak. Jantungnya serasa berhenti. Tegar adalah mantan kekasihnya—dan juga sahabat Imas.
Imas: "Kenapa? Wajahmu pucat banget."
Meri berdiri, bingung, ingin pergi tapi tak tahu harus ke mana.
Meri: "Maaf, Mas. Aku... aku harus keluar sebentar."
Imas: "Meri, kamu kenapa sih akhir-akhir ini?"
Meri hanya berjalan cepat menuju pintu, meninggalkan Imas yang kebingungan di dalam.
Di luar, malam mulai turun. Meri menatap bayangannya di kaca lift, dan suara itu kembali muncul dalam kepalanya.
“Kamu bukan kamu. Kamu bisa jadi siapa pun yang kamu mau. Tapi sampai kapan?”
---