Zack sudah membaringkan Bastian dengan hati- hati di kamar tidur bocah itu. Basty menggeliat sedikit, tidurnya benar- benar pulas. Tidak terganggu. Setelah menyelimuti Basty, Zack menoleh pada Nyonya Faulkner yang berdiri di sampingnya. “Sudah.” “Terima kasih ya, Nak,” kata Nyonya Faulkner dengan wajah berseri- seri. “Oh, maukah kau duduk sebentar di sini dulu, sebelum kembali ke studio? Mama akan buatkan kamu minuman hangat. Teh? Kopi?” Wajah Zack masih begitu kaku, namun perlahan ia mengangguk. “Teh saja.” “Baiklah,” sahut Nyonya Faulkner riang. “Kau tunggu di ruang tengah, ya?” Wanita dengan rambut digelung anggun itu sudah berjalan menuju dapur dengan bersenandung. Zack, sementara itu, berjalan perlahan kembali ke ruang tengah. Pria berambut sebahu itu menatap ruang tengah yang l

