Ellis menatap mangkuk didepannya dengan mata hampa. Tangan kirinya yang tengah memegang sendok terus saja mengaduk- aduk bubur, tanpa menyadari bahwa Tony yang duduk tepat di samping telah memperhatikannya sejak tadi. “El,” panggil Tony lembut. “Kenapa kau belum makan?” Ellis menengadah, lalu tersenyum tipis pada Tony. Wajahnya makin terlihat muram dan lelah, dan ia hanya menggeleng. “Aku mencemaskan, Julie,” kata Ellis lirih. “Apa dia sudah makan? Sedang apa dia sekarang?” Tony memandang Ellis dengan tidak enak, namun belum sempat ia menghibur gadis berambut hitam itu, tiba- tiba mata Ellis berkaca- kaca. Kepalanya menunduk, dan tetes air mata jatuh di sela- sela rambut yang menirai wajahnya. “Ellis? Kau kenapa?” tanya Tony. Tapi dalam sedetik otaknya memberi sinyal bahwa ia seharusn

