Part 14

2089 Kata
Kaila Zeline : Kak, ke mall nya malam ini pukul delapan Grizelle Aileen : Oke Grizelle menyerngitkan dahinya setelah membalas pesan dari Kaila. ‘Dari mana dia tau nomorku?’ batin Grizelle Ting! Sebuah pesan masuk muncul lagi dari handphone Grizelle. Kaila Zeline : Aku tau nomor kakak dari kak Gerald Grizelle Aileen : Oh baiklah ‘Iya, aku lupa Gerald sudah punya nomorku’ batin Grizelle Dia segera pergi ke kampusnya. ***** “Kak” panggil Kaila dari kejauhan Kaila segera menghampiri Grizelle. “Kaila? Kenapa ada di sini? Jurusan mu kan sebelah sana” tanya Grizelle “Ah aku hanya mampir sebentar kok” jawab Kaila “Oh begitu” ujar Grizelle Grizelle melihat Gerald yang sedang memperhatikan handphonenya dan berada di belakang Kaila “Hai” sapa Grizelle Gerald melihat Grizelle sekilas dan membalas sapaan Grizelle hanya dengan anggukan. “Aku ada kelas, aku duluan ya” pamit Grizelle Kaila mengangguk. Grizelle pun pergi berlalu. “Kak” panggil Kaila “Hm?” gumam Gerald pelan “Kau tidak ada kelas hari ini, kenapa repot-repot datang ke kampus?” tanya Kaila Jari Gerald berhenti mengutak-atik handphonenya. Dia melirik Kaila yang sedang menunggu jawabannya. “Aku hanya bosan di rumah” jawab Gerald “Aku juga ada janji bermain dengan Gio, Vino dan Iki” sambung Gerald “Tapi-“ “Aku duluan, mereka mungkin sudah menungguku” potong Gerald berpamitan dan segera pergi ‘Tapi, kata Gio mereka gak ada janji hari ini’ batin Kaila ‘Atau karena kak Grizelle?’ batin Kaila sambil terkekeh “Kaila” panggil seseorang dari kejauhan Kaila menoleh dan menemukan Kiara yang sedang menghampirinya. “Kenapa kak?” tanya Kaila “Aku tadi melihat mu dengan Grizelle dan Gerald” jawab Kiara “D-dia udah tau kalau kalian saudara kandung?” tanya Kiara Kaila mengangguk. “Kau sudah memaafkannya?” tanya Kiara “Maksudnya?” tanya Kaila “Dia membulimu, kau sudah memaafkannya?” tanya Kiara Kaila mengangguk. “Kenapa?” tanya Kiara “Kak Grizelle udah berubah kok, dia udah gak kayak dulu” jawab Kaila Kaila memiringkan kepalanya bingung. “Tapi, kakak tau darimana soal itu? Rasanya hanya kak Gerald yang tau” tanya Kaila “Dari Gerald” jawab Kiara ‘Padahal sudah ku bilang jangan beri tahu siapa pun’ batin Kaila kesal “K-kalian sudah dekat?” tanya Kiara “Lumayan kak” jawab Kaila Kiara mengepalkan tangannya karena kesal. “Kak, aku duluan ya. Ada kelas soalnya” pamit Kaila Kiara mengangguk dan Kaila pun segera pergi. ‘Grizelle sialan!’ umpat Kiara kesal dalam batinnya **** Beberapa jam kemudian. Grizelle keluar dari kelasnya. “Hei” panggil seorang laki-laki Grizelle menoleh dan melihat Gerald. “Kenapa?” tanya Grizelle “Kau mau ke mana?” tanya Gerald “Aku mau ke minimarket. Aku shift siang hari ini” jawab Grizelle “Oh begitu” ujar Gerald “Aku pergi dulu” pamit Grizelle Langkah Grizelle terhenti saat tangan seseorang memegang tangannya untuk menahannya. Grizelle menoleh dan melihat Gerald yang memegang tangannya. “Kenapa?” tanya Grizelle Gerald melepas tangan Grizelle. “Mau ku antar?” tanya Gerald “Emangnya kau tidak ada kelas hari ini?” tanya Grizelle “Tidak ada” jawab Gerald “Lalu kenapa repot-repot datang ke kampus?” tanya Grizelle “A-aku ada janji dengan teman-temanku” jawab Gerald “Oh begitu” ucap Grizelle “Jadi, bolehkan?” tanya Gerald Grizelle tersenyum lalu segera mengangguk. Sementara, Kaila mencari-cari di mana Gerald berada. “Kak” panggil Kaila saat melihat Gio, Vino dan Iki. “Kalian melihat kak Gerald?” tanya Kaila “Tadi dia buru-buru pergi” jawab Iki “Ke mana?” tanya Kaila Iki mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. “Memang kenapa?” tanya Gio “Ah kelasku cepat selesai hari ini, padahal tadi kak Gerald sudah janji akan mengantarkan ku pulang” jawab Kaila “Wah, Siapa ya orang yang mau ditemui Gerald? Sampai-sampai melupakan adiknya yang berharga ini?” goda Vino “Hei, kau terlihat seperti om-om yang akan menculikku” ucap Kaila kesal Gio dan Iki tertawa. “Kalian memang ada janji dengan Gerald pagi tadi?” tanya Kaila “Enggak tuh. Dia yang menemui kami tiba-tiba” jawab Iki ‘Benar kan’ batin Kaila “Pulang denganku saja, bagaimana?” tanya Gio Kaila tersenyum dan mengangguk. “Kami duluan ya” pamit Gio Iki dan Vino hanya bisa mengangguk. ***** “Kau tidak langsung pulang?” tanya Grizelle yang melihat Gerald masih berdiri di depan minimarket Gerald terkejut dan segera mencari alasan. “A-aku hanya ingin melihatmu bekerja dengan baik atau tidak untuk membayar utangmu padaku” jawab Gerald “Hei, kata-kata panjangmu itu sangat jahat” ujar Grizelle “Maaf” ucap Gerald “Pergilah, aku gugup jika dilihat” usir Grizelle “Benarkah?” tanya Gerald Grizelle mengangguk. “Kalau gitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam” pamit Gerald Grizelle mengangguk. Gerald segera pergi menggunakan motor besarnya itu. “Wah, dia sangat tampan” puji seorang pegawai “Apa dia pacarmu?” tanya pegawai itu “Bukan” jawab Grizelle “Memang bukan atau belum?” goda pegawai itu “Hei, dari pada menggodaku lebih baik pulang sana” usir Grizelle “Oh iya, sekarang giliranmu. Aku pulang dulu” pamit pegawai itu Grizelle mengangguk. ***** “Kak” panggil Kaila saat melihat Grizelle dari kejauhan Grizelle segera menghampiri Kaila yang sedang bersama Gio dan Gerald. “Ah, maaf aku telat” ucap Grizelle “Tidak apa-apa” ujar Kaila “Sekarang, kita mau ke mana?” tanya Gio “Bagaimana kalau makan?” saran Kaila “Ah aku baru makan tadi sebelum ke sini, maaf” jawab Grizelle dengan penuh rasa bersalah “Ah tidak apa-apa” ujar Kaila “Kalau gitu, bagaimana kalau main di area permainan?” saran Kaila ‘Itu lagi’ batin Gerald kesal “Itu kan permainan anak-anak” ucap Gio kesal ‘Terima kasih, Gio. Sudah mewakilkan pikiranku’ batin Gerald “Anak-anak apanya? Banyak kok orang dewasa yang memainkannya” ujar Kaila “Ya palingan orang dewasa yang membawa anaknya bermain” ucap Gio Grizelle tertawa kecil melihat pertengkaran sepasang kekasih itu. “Menurut kakak bagaimana?” tanya Kaila pada Gerald “Gio benar, aku kan sudah pernah bilang. Aku tidak suka ke sana” jawab Gerald Kaila menghentakkan kakinya kesal. ‘Kak Grizelle pasti sama aja kayak kak Kiara. Pasti bela kak Gerald juga’ batin Kaila “Kau tidak bertanya padaku?” tanya Grizelle Kaila diam. “Kalian jangan begitu. Apa salahnya memainkan permainan itu? Setidaknya kita bisa merasakan kembali masa-masa kecil kita” ucap Grizelle “Jadi, ayolah! Aku sering ke sana dengan teman-temanku, banyak kok remaja yang main di sana” sambung Grizelle “Teman-teman?” tanya Gio “Ah aku lupa. Mereka bukan temanku” jawab Grizelle “Ayo!” ajak Grizelle sambil menarik tangan Gerald Gerald hanya bisa pasrah saat Grizelle menarik tangannya. ‘Kak Grizelle berbeda’ batin Kaila saat menyadari Gerald menuruti Grizelle padahal biasanya sampai Kaila menangis dan kabur pun, Gerald tetap mengajaknya untuk keluar dari area itu. “Kaila, tarik Gio” ucap Grizelle Kaila mengangguk dan segera menarik Gio. “Hei, hentikan!” ucap Gio Kaila mendekati telinga Gio dan untuk membisikkan sesuatu. “Kalau kau tidak mau ikut, aku tidak akan bicara padamu lagi” bisik Kaila Mata Gio melotot dan segera menarik tangan Kaila untuk segera sampai ke area permainan itu. Kaila hanya tertawa melihat sikap pacarnya itu. Setelah sampai di sana, Kaila mengedipkan matanya pada Grizelle. Grizelle menatap Kaila bingung. Kemudian, Kaila menatap mata Grizelle dengan tatapan memohon. Grizelle mengangguk dan tersenyum saat mengerti maksud Kaila. Grizelle kembali menarik tangan Gerald menuju permainan bola basket. “Kaila, gimana?” tanya Gerald saat tidak melihat Kaila dan Gio lagi “Mereka itu sudah besar, tidak perlu dijaga lagi” jawab Grizelle “Tapi, tetap saja-“ “Biarkan mereka berdua” potong Grizelle “Maksudmu?” tanya Gerald “Maksudku, kita berdua dan mereka berdua. Bagi tim gitu, biar adil” jawab Grizelle Gerald menyerngitkan dahinya karena masih tidak mengerti. “Sudahlah! Bagaimana kalau kita tanding? Siapa yang paling banyak memasukkan bola basket ke ring bakalan ditraktir beli ice cream sama yang kalah?” tanya Grizelle “Gimana-gimana?” tanya Grizelle lagi dengan mata berbinar Gerald tersenyum. “Memangnya kalau aku menang, kau ada uang untuk membelikan ku ice cream?” tanya Gerald “Waktu aku gajian, aku akan mentraktirmu. Sungguh!” jawab Grizelle meyakinkan Gerald “Aku tidak suka ice cream” ujar Gerald “Kalau begitu, aku akan membelikanmu yang lain. Bagaimana?” tanya Grizelle “Oke” jawab Gerald Mereka segera memulai permainan dan memasukkan bola ke ring sebanyak mungkin. Gerald melirik Grizelle yang sedang bermain dan terkadang mengumpat saat bola itu tidak masuk ke ring. “Sial! Aku tidak tahu sesusah ini memasukkan bola ke ring” ucap Grizelle kesal Gerald tersenyum tipis. Gerald melihat ke arah ring miliknya. Dan sengaja melesetkan bola itu agar tidak masuk ke dalam ring. “Yeay! Aku menang” seru Grizelle senang “Apa ini? Bagaimana bisa kau kalah dengan ku yang tidak mahir sama sekali?” tanya Grizelle “Aku sudah lama tidak bermain ini” jawab Gerald “Janji tetaplah janji! Belikan aku ice cream nanti” ucap Grizelle Gerald mengangguk. “Lihat!” ucap Grizelle dan segera menarik tangan Gerald lagi menuju permainan yang dia maksud “Ayo main ini!” ajak Grizelle “Aku tidak pandai dance” tolak Gerald “Kita hanya menggerakkan kaki sesuai panah yang ada di depan” ujar Grizelle “Ayolah, hm?” bujuk Grizelle Gerald menghembus nafas berat. Grizelle tersenyum senang dan mengajak Gerald. Padahal Gerald tidak ada bilang kalau dia setuju. Gerald hanya memperhatikan Grizelle yang tengah bermain sambil menggerakkan juga sekali kakinya mengikuti irama. “Ah sial!” umpat Grizelle saat langkahnya salah Gerald terkekeh pelan melihat Grizelle. Setelah selesai, Grizelle mengajak Gerald untuk mencoba berbagai permainan di sana. Merasa puas, Grizelle mengajak Gerald untuk beristirahat. Gerald melirik sekilas ke arah Grizelle yang masih tersenyum. “Apa kau sesenang itu?” tanya Gerald Grizelle mengangguk. “Aku rindu orangtua ku” sambung Grizelle “Kalian sering ke sini?” tanya Gerald Grizelle kembali mengangguk. “Setiap ulang tahunku, kami pasti ke sini. Dari kecil, aku memang sangat suka permainan seperti ini, terkadang kami juga bermain di taman hiburan” jelas Grizelle Mata Grizelle kembali berkaca-kaca. “Ah sial!” umpat Grizelle sambil mengusap matanya agar tidak ada air mata yang menetes “Kau sangat suka mengumpat” ucap Gerald “Aku sudah terlalu lama bergabung dengan kehidupan ini” ujar Grizelle “Maksudmu?” tanya Gerald Grizelle menoleh ke arah Gerald dan menatap mata Gerald. “Apa menurutmu dari dulu aku memang seperti ini?” tanya Grizelle “Seperti apa maksudmu?” tanya Gerald “Suka membuli, berkata kasar, pandai berkelahi, apa menurutmu aku memang seperti itu dari asalnya atau tidak?” tanya Grizelle Gerald diam. “Atau apa aku ada alasan dalam melakukan itu, apa kau percaya padaku atau tidak?” tanya Grizelle Gerald diam. Grizelle menghembuskan nafas berat saat melihat Gerald hanya diam. “Kau tahu, kebanyakan orang tidak percaya denganku” ujar Grizelle ‘Dia seperti mengalami suatu kejadian buruk’ batin Gerald “Kau percaya atau tidak? Entah kenapa aku ingin tahu tentang itu” ucap Grizelle “Aku harus mendengar ceritanya, baru aku bisa menentukan apa aku percaya atau tidak” ucap Gerald “Ha?” tanya Grizelle “Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal seperti ini” ujar Gerald “Tapi, aku akan menjawab pertanyaanmu, saat kau sudah siap menceritakan semuanya padaku” sambung Gerald Grizelle diam. “Ada kejadian yang terjadi dibalik semua perkataanmu tadi, kan?” tanya Gerald Grizelle mengangguk. “Aku akan menunggumu untuk siap menceritakannya padaku. Setelah itu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu tadi” ujar Gerald Gerald kembali menatap mata Grizelle. “Kapan ulang tahunmu?” tanya Gerald “Bulan depan” jawab Grizelle “Kenapa?” tanya Grizelle “Ayo kita ke sini lagi! Aku akan melakukan hal seperti yang dilakukan orangtuamu waktu itu” jawab Gerald “Jadi, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis” sambung Gerald dengan nada lembut Grizelle hanya diam. Dia tidak tau harus merespon bagaimana. Dia senang. Sangat senang. Tak lama kemudian, Gio dan Kaila kembali dan mereka segera mengakhiri pertemuan mereka dan pulang. Kaila meminta agar Gerald mengantar Grizelle pulang. Sesampainya di depan kos itu, Grizelle tersenyum pada Gerald. “Terima kasih” ujar Grizelle Gerald mengangguk dan pamit untuk pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN