Part 15

1578 Kata
Gerald membuka matanya secara perlahan. Beberapa detik kemudian, Ia segera bangkit dari tempat tidurnya. Meregangkan badannya sesekali dan membuka jendela kamarnya. Ia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul lima pagi. Ia segera bersiap-siap untuk lari pagi. Setelah selesai, Ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sebelum keluar rumah, Gerald meminum satu sampai dua gelas air putih. “Mau lari pagi kak?” tanya Kaila yang dari pintu kamarnya dengan mata yang masih mengantuk Gerald mengangguk. “Kenapa gak bilang sih? Aku juga mau ikut” ucap Kaila dengan suara parau khas orang baru bangun tidur Gerald hanya merespon ucapan Kaila dengan senyuman. Ia segera melangkahkan kakinya pergi dan memulai aktifitasnya untuk lari pagi. Sementara Kaila menatap kesal kepergian Gerald. Gerald menyusuri tiap jalan dengan lari secara perlahan sambil sesekali mengatur nafasnya. Setelah tiga puluh menit, Ia berhenti sejenak selama beberapa menit untuk istirahat. Lalu kemudian mulai berlari pelan lagi. Gerald terus berlari secara perlahan hingga sampai ke tempat minimarket tempat Grizelle bekerja. Gerald berhenti dan melirik sekilas ke dalam minimarket. Ia melihat Grizelle di sana yang sedang memainkan handphonenya. Sesekali Grizelle terkekeh pelan sambil melihat handphonenya. Gerald tersenyum. Ia seperti merasa lega saat melihat Grizelle tidak merasa tertekan dengan pekerjaan itu. Gerald menatap seorang pria bertato yang memasuki minimarket itu. Perasaannya mendadak tidak enak. Gerald ikut masuk ke minimarket. “Selamat datang” sapa Grizelle Grizelle membelalakkan matanya saat melihat Gerald. “Tumben ke sini jam-jam segini, kangen ya?” goda Grizelle “Enggak” jawab Gerald singkat dan segera melangkahkan kakinya untuk mengambil beberapa botol minuman dan segera menuju kasir “Terus ngapain dong?” tanya Grizelle sambil memindai barang belanjaan Gerald “Lari pagi” jawab Gerald “Oh gitu” ucap Grizelle Grizelle menyerahkan barang belanjaan Gerald dan Gerald membayar barang itu. Pria bertato itu tiba, Grizelle memindai barang pria itu dan segera memberikannya pada pria itu. Tak lupa, pria itu juga segera membayar barang belanjaannya itu dan segera pergi. Grizelle menatap Gerald yang tak kunjung pergi dari tadi. “Kau kenapa masih ada di sini?” tanya Grizelle “Kau benar tak apa-apa?” tanya Gerald balik bertanya “Apanya?” tanya Grizelle sambil menyerngitkan dahinya bingung “Kerja sampai jam segini” jawab Gerald “Tidak apa-apa. Hari ini aku masuk siang. Bentar lagi aku juga bakalan pulang” ujar Grizelle “Tapi kalau kau bekerja tengah malam, kau tidak takut kalau ada yang berniat jahat?” tanya Gerald “Enggak. Emangnya kenapa?” jawab Grizelle “Kau khawatir padaku?” sambung Grizelle “Tidak. Aku hanya bertanya” jawab Gerald Grizelle tersenyum. “Kau tenang saja, aku pandai berkelahi” ujar Grizelle “Selama itu masih satu atau dua orang aku masih bisa mengatasinya” sambung Grizelle lagi Gerald menyipitkan matanya merasa tidak percaya dengan ucapan Grizelle. “Kau pikir aku bohong? Kau tidak lihat aku menghajar seseorang di kantin waktu itu?” tanya Grizelle ‘Oh iya’ batin Gerald “Sudahlah! Pergi sana! Nanti kau jatuh cinta padaku loh kalau lama-lama di sini” goda Grizelle sambil tersenyum Melihat Grizelle tersenyum, Gerald juga ikut tersenyum. “Teruslah tersenyum, aku lebih suka melihat mu tersenyum” ujar Gerald sambil tersenyum dan segera pergi dari minimarket itu ‘Sial! Dari tadi aku yang goda dia, kenapa malah aku yang baper?’ batin Grizelle sambil menahan senyumnya ***** Kelas Grizelle sebentar lagi akan dimulai, Ia segera berlari kencang menuju kelasnya. Dari arah sebaliknya, Kiara datang mencegah Grizelle. “Minggir!” ucap Grizelle “Ikut aku!” ucap Kiara “Minggir! Aku udah telat” ucap Grizelle Kiara tidak peduli, dan segera menarik tangan Grizelle ke tempat sepi. “Apa sih?!” tanya Grizelle kesal “Aku udah bilangkan jauhi Gerald” jawab Kiara “Emangnya kau siapa sampai aku harus patuh sama ucapanmu?” tanya Grizelle “KAU GAK PANTAS BERSAMANYA!” bentak Kiara “Wah, kau benar-benar parah” ucap Grizelle “Ngaca woi! Gak usah muka dua” sambung Grizelle “Itu urusanku. Jangan merusak semua rencanaku” ucap Kiara “Merusak kau bilang? Kalau begitu aku tanya padamu, bagaimana rasanya setelah merusak kehidupanku? Menyenangkan bukan?” tanya Grizelle “Apa maksudmu?” tanya Kiara Grizelle menjambak rambut belakang Kiara hingga Kiara meringis kesakitan. “Sialan! Aku pasti udah telat karenamu, kalau kau melakukan ini lagi kau akan ku habisi” ucap Grizelle dan melepas jambakan itu lalu segera melangkah pergi Kiara mengepalkan tangannya sambil menahan amarahnya. ***** Grizelle keluar dari kelasnya dengan lemas, dia merasa mengantuk. Grizelle duduk di bangku taman ujung. Ia menghembus nafas berat saat teringat kejadian dengan Kiara tadi. Namun, secara perlahan matanya mulai terlelap. Tak lama kemudian, seorang pria mendatangi Grizelle dan duduk di samping Grizelle. Saat Ia hampir menyentuh Grizelle. Teriakan seseorang menghentikannya. “WOI!” teriak seseorang yang ternyata adalah Gerald Gerald mendekati Grizelle. Pria itu segera berlari saat melihat Gerald mendekat. Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya tidak menyangka. Gerald menatap ke arah Grizelle yang tidur nyenyak. Bagaimana bisa seorang gadis santai tidur di tempat umum seperti ini? Gerald duduk di samping Grizelle, segan ingin membangunkan gadis itu. Tetapi kalau dipikirkan lagi, orang akan memandang Gerald dengan tatapan m***m. Mau tidak mau, Gerald membangunkan Grizelle. “Bangun” ucap Gerald beberapa kali Grizelle tidak menggubris. Gerald memulai menendang pelan kaki Grizelle. Grizelle yang merasa terganggu segera membuka matanya dan menemukan Gerald. “Sejak kapan kau di sini?” tanya Grizelle “Bagaimana bisa kau tidur di sini?” tanya Gerald balik “Aku tidak ada niatan tidur di sini, aku duduk dan tertidur di sini” jawab Grizelle “Kayaknya aku kecapekan dan kurang tidur” sambung Grizelle lemas “Kalau begitu pulang, jangan tidur di sini” ucap Gerald “Iya-iya, bawel banget” ucap Grizelle Kruukkk Bunyi perut Grizelle membuat Grizelle dan Gerald menatap satu sama lain. ‘Perut sialan’ batin Grizelle sambil menggigit bibir bawahnya “Kau belum makan?” tanya Gerald “Iya, hehe” jawab Grizelle canggung “Kenapa?” tanya Gerald “Gak sempat. Aku ngantuk, aku pulang dulu” pamit Grizelle dan segera pergi meninggalkan Gerald Gerald hanya memandang kepergian Grizelle. ***** “Sampai kapan kita pacaran rahasia seperti ini?” tanya Gio sambil mengerucutkan bibirnya “Aku juga gak tau” jawab Kiara “Aku mulai tidak tahan” ucap Gio “Apa kau bilang? Jadi kau sudah tak tahan lagi? Oke. Kita putus aja” ucap Kiara “Wah, cepat sekali kau memutuskan hal itu” ucap Gio “Kau yang bilang lebih dahulu kalau kau sudah tidak tahan lagi” ucap Kiara “Maksudku, aku sudah tidak tahan untuk membicarakan ini pada Gerald” ucap Gio “Sungguh?” tanya Kiara Gio mengangguk. “Jangan marah lagi, hm?” tanya Gio Kiara mengangguk dan menggandeng tangan Gio. “Kiara” panggil seseorang dari jauh Kiara mengenal suara itu. Itu pasti Gerald. Kiara segera mendorong Gio agar menjauh darinya “U-Udah selesai?” tanya Kiara Gerald mengangguk. “Ayo pulang” ajak Gerald Kiara mengangguk. “Gi, Pulang duluan” pamit Gerald Gio hanya mengangguk. ***** “Ha? Gimana kak tadi?” tanya Grizelle “Hari ini kau yang jaga malam ya, sampai jam tiga aja deh. Tolong banget, aku gak bisa” ucap pegawai itu “T-tapi kak-“ “Tolong banget, kali ini aja beneran” ucap pegawai Grizelle diam. Bukan apa-apa, bahkan sekarang dia masih mengantuk. “Ya? Kau kan besok kosong tuh kuliahnya, jadi bisalah. Sampai jam tiga aja, eh enggak sampai jam dua, gimana?” tanya pegawai itu Grizelle masih diam. Matanya seakan berteriak minta untuk ditutup. “Atau gak gini, besok kau bebas deh. Biar aku yang gantikan” ucap pegawai itu lagi “Emangnya kakak kuat seharian jaga?” tanya Grizelle “Aku suruh temanku gantian jaga” jawab pegawai itu “Lah terus kenapa gak teman kakak aja yang jaga nanti?” tanya Grizelle “Mereka gak bisa, tolonglah ya” bujuk pegawai itu “Yaudah deh iya” ucap Grizelle “Beneran?” tanya pegawai itu Grizelle mengangguk. Pegawai itu berterimakasih dan segera pergi. Grizelle melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Grizelle mengacak rambutnya. ‘AKU PENGEN TIDUR’ batin Grizelle menangis Beberapa jam kemudian, untuk kesekian kalinya Grizelle melirik jam tangannya. Sekarang sudah hampir pukul setengah tiga pagi. ‘KATANYA SAMPAI JAM DUA’ batin Grizelle berteriak kesal Rambutnya sudah acak-acakan karena beberapa kali Grizelle menjambak rambutnya sendiri karena kesal dan mengantuk. Pegawai itu datang. Grizelle ingin sekali menjambak rambut pegawai itu tapi Ia sudah tak ada tenaga. “Maaf ya telat” ucap pegawai itu Grizelle tidak menggubris dan segera pergi pulang. Dalam perjalanan, sesekali Grizelle menguap. Ia berjalan lemas, Ia benar-benar ingin menggeletakkan badannya di jalan itu. Dari belakang, Grizelle merasa ada yang mengikuti. Dia melihat ke belakang dan menemukan dua orang laki-laki yang mulai mendekat ke arahnya. “Sialan!” umpat Grizelle Grizelle berlari di jalanan sepi itu, kedua laki-laki itu juga ikutan berlari. Dugaannya benar, laki-laki itu mengikutinya. Merasa tidak sanggup berlari, Grizelle bersembunyi di balik dinding besar. Ia segera mengambil handphonenya dan menelepon seseorang. ‘Tapi siapa?’ batin Grizelle Grizelle segera menekan nomor Gerald saat mengingat rumah Gerald dekat dari tempatnya berada. ‘Please, angkat’ batin Grizelle Grizelle kembali menjambak rambutnya saat Gerald tidak mengangkat panggilannya. ‘Andai aku tau rumahnya di mana’ batin Grizelle Grizelle mencoba menelepon Gerald, namun hasilnya nihil. Grizelle terus mencoba menelepon Gerald sambil melihat kedua laki-laki itu yang masih berada di sekitarnya. ‘Aku mohon angkat’ batin Grizelle frustasi Matanya mulai berkaca-kaca saat Gerald mengangkat panggilannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN