"kita tidak saling mengenal!"
"tapi..cicin ini mengikatkan kita untuk menjadi kekasih!" kataku yang merasa konyol
Dia yang berdiri disampingku menyandarkan dirinya di stralis pagar teras lantai lima, diam menatap langit jakarta dimalam hari.
"sekarang bagaimana selanjutnya!" tanyaku
Kulihat dia yang masih tak menghiraukan, tiba-tiba ia membuka mulutnya dan berkata,
"memangnya kamu mempunyai kekuatan apa?"
Suaranya begitu lembut saat dia berbicara, bukan hanya tampan saja namun dia juga berkarisma. Tapi bagaimana juga aku baru mengenalnya jangan terburu-buru untuk mengaguminya.
"kenapa kamu diam?"
Tanyanya kembali membuat aku salah tingkah.
"oh maaf, aku..tadi tidak mendengarnya!"
"eeh tadi, bagaimana selanjutnya?"
Aku merasa canggung untuk bertanya padanya,
"tambahkan wecatku!"
Ia menunjukan ponselnya, menyuruhku menambahkan kekotak.
Akupun tercengang seakan tidak percaya dengan sendirinya ia memintaku berteman.
Akupun segera memasukan nomernya dan bertanya,
"ehmm namanya?"
"Anggara!!"
"okeh, aku simpan!"
"siapa namamu?" tanya Anggara,
Aku merasa tersanjung akhirnya dia bertanya namaku yang artinya aku tak perlu repot dan merasa malu memperkenalkan diri.
"Nindi!"
"em, oke!" jawabnya seakan enggan dan ia pun pamit pergi meninggalkan pesta.
Sosok pria tampan, dingin, dan berkarisma itulah Anggara purnamadingrat, tidak heran kalau dia keturunan ningrat.
###
Malam ini terasa sangat panjang aku terus memikirkan kejadian yang barusan, tidak dapat memejamkan mata, hatiku gelisah dan otakku berfikir terus.
"rasanya tidak percaya kalau aku sudah bertunangan,"
"apa artinya nanti aku akan menikah!"
"padahal aku masih sekolah!"
"tapi..cicin ini telah berada di jariku!"
"apa kata teman-temanku nanti! Aku sungguh malu bertemu mereka."
Aku masih bergulang-guling ditempat tidurku, sesekali aku melihat ponselku mengeser keatas kebawah melihat kotak masuk berharap dia akan mengecatku.
"ah, mana mungkin dia mengecatku!diakan tidak tahu nomer aku!"
"apa aku yang duluan mengecatnya!!"
"haduhhh bagaimana ini!!"
###
Anggara :
"kenapa aku harus bertunangan dengan gadis itu!" katanya dalam hati.
Anggara duduk terdiam diatas sofa yang berada didalam kamarnya memikirkan gadis tunangannya itu. Melihat ponselnya tidak ada pesan dengan nomor baru yang masuk.
"apa bagusnya gadis itu, dia nampak biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa!"
"kakek.. kakek!!akukan masih sekolah tidak ada pemikiran seperti itu!"
Anggara melemparkan tubuhnya diatas sofa seakan kesal dan frustasi, tentang bagaimana cara menghadapi gadis itu selanjutnya.
Ke esok harinya
Si tuan muda memang sudah terbisa hidup mewah dan nyaman, hidup bak pangeran didalam istana. Segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan baik dan detail, banyak pelayan dirumahnya yang melayani dirinya dari bangun tidur sampai tidur lagi sudah dipersiapkan segalanya.
Pagi ini Anggara bangun telat karena semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak, semua pelayannya sangat sibuk melayaninya pasalnya dia tidak bisa dibangunkan al hasil bangun kesiangan.
Air mandi, baju, seragam, tas, sepatu dan sebagainya telah rapi disiapkan oleh para pelayannya.
Ada salah seorang pelayan yang melayani sejak kecil hingga saat ini yang khusus dari perpakaian sampai memakai sepatu dan segala sesuatu pribadinya dilayani olehnya. Yang disebut dengan ibu pengasuh.
"tuan!semuanya sudah siap!!" kata salah seorang sopirnya.
"sarapan dulu.." kata ibu pengasuh merapikan sarapan yang dibawakan pelayan dapur.
"tidak ibu..saya sudah telat!"
"tuan muda jangan begitu ini!! ibu bawakan sekotak sarapan, makanlah dalam mobil bisakan!?"
Tuan muda itupun nampak patuh dengan ibu pengasuhnya. Lalu ia memasukan kotak makanannya kedalam tas.
"jangan lupa dimakan!!" pesannya lagi
Tuan muda itu lansung berangkat sekolah diantar sang sopir dengan mobil mewahnya.
Sudah tiga hari Anggara berada di tanah air pasalnya sejak usia tiga tahun Anggara telah tumbuh besar sampai sekarang di negeri orang dengan alasan tertentu.
Nindi :
"Nindi!!bangun nak!kamu telat!!" kata ibu membuka pintu dan segera membangunkanya.
"ibu!!aku telat!!"
"iya cepat mandi!!"
"ya ya ya..aku segera mandi"
Dengan sigapnya Nindi bangun dan segera masuk kekamar mandi walau terdengar suara gaduh dikamar mandi yang ditimbulkan Nindi.
Seusainya Nindi langsung menuju meja makan untuk melahap sesutu yang dapat mengisi perutnya dengan cepat, sepotong roti dan segelas s**u ditambah satu buah pisang ia lahap dengan buru-buru.
"nenek nenek!! Nindi berangkat yah! Ibu! Nindi berangakat!" ucapnya sambil berlari dan tidak lupa mencium kedua tangan dua orang wanita itu.
"jangan terburu-buru!!!pakai sopir!!" teriak nenek.
Nindi tidak menghiraukan ucapan neneknya ia terus berlari sampai depan pintu gerbang dan dilihatlah sebuah sepeda milik pak satpam yang selalu dipinjamnya dengan segera Nindi mengambil dan mengendarainya.
"eh eh eh!!! Nona !! ya ilah nona main bawa ajah!kebiasaan nih bocah!ada mobil ge pakai sepeda!!" teriak satpam penjaga,
"minjem bangg mamattt!!!!" teriaknya,
Nindi langsung melesat jauh
"sepedanyakan!mau dipakai non, hadahhh...apess benerrr mesti bolak balik jalan kaki, mana rumahnya gede banget lagi..akukan capek munternya heehhhhh..!!"
Tidak menghiraukan apa kata orang Nindi selalu berangkat menggunakan sepeda entah minjem atau apalah dia dipasti mendapatkannya. Nindi lebih suka mengayuh sepeda ketimbang naik mobil dengan sang sopir, akan banyak alasan Nindi menolaknya.
Dengan tampilan biasa dan sederhanya Nindi sama sekali tidak terlihat bahwa dia seorang pewaris Grand boedi grupe. Dia lebih terlihat urakan ketimbang tampil rapi dan elegant.
Rambut panjangnya yang dibawah bahu hitam ikal terurai dan selalu memakai bandana kecil polos sebagi penyekat. Seragam putih abu-abu dengan rok pendek selutut dan tidak lupa makai celana strit panjang untuk menutupi pahanya saat bersepeda.
Nindi terus melaju kencang dengan menggunakan jalur sepeda untuk sampai sekolahnya dengan jarak tempuh sekitar 30-45 menit dari rumahnya, dan akan sampai sekitar 10-15 menit jika mengunakan mobil. Nindi tidak peduli akan hal itu ia lebih senang bersepeda karena saat pulang dapat beramai-ramai dengan teman-temannya.
Sepeda ia parkir dengan sembarangan langsung berlari kemenuju keteman-temannya yang masih berada dikoridor sekolah
"yeahhh!!!saya berhasillll!!" teriak Nindi girang seakan telah memenangkan balap sepeda.
Nindi langsung menyambagi teman-temannya.
"aapaan sih, Nindi" kata Siska
"hah, akhirnya sampai juga..tidak telat kan!?"
"uhh, Nindi krigetnya..bau tau!!" usil Riana
"eh..jangan salah, parfumku mahal tau!!
"a alah parfum mahal pakai sepeda!sayang diparfumnya ha ha ha.." canda Siska
"yuk!ah, aku mau lepas celana dulu!" seru Nindi berjalan ke menuju toilet.
"heehh, lepas sini ajah Nin! he he he.." canda Riana.
##
"tunggu tunggu..!!kayaknya ada yang beda dengan kelas kita!" seru Nindi melihat para siswi yang berlalulalang didepan kelas dengan memperhatikan kelasnya.
"oh iyaaa kira-kira ada apa yah?" tanya Askia
"haduhhh kalian inih!! masa tidak tau sih! kelas kita kan kedatangan seorang pangeran!" jelas Siska dengan nada kesal.
"hah, masa??"
"iya sih!"
"emang ada?"
Gaduh Nindi dan Askia penasaran.
"hadah!!" Riana menepuk jidad, "ayo cepat masuk!"
Ajak Riana melihat kedua temannya nampak sangat menyebalkan.