“Goddamnit.” “Bahasa, Bro.” Ian menoleh dengan dengusan kasar dan decakan kesal kepada Noah. “Sejak kapan mau mahir bermain darts, huh? Katakan padaku, apa rahasiamu?” Noah duduk di sofa sesaat setelah memutar lengan kanannya yang terasa sedikit pegal. Pria berambut keperakan itu meraih segelas anggur di meja lalu menenggaknya. Di samping kirinya, Charlotte sedang membaca koran tanpa mengalihkan fokus ke mana pun—termasuk kegaduhan Ian dan Noah selama bermain darts. Begitu bangga, Noah merangkul Charlotte dan menyunggingkan segaris senyuman hangatnya yang khas kepada Ian yang berwajah garang. “Pujian diberikan untuk Charlie,” ujar Noah seadanya membuat Ian mendecih. “Jangan menebar aura kasmaran kalian secara sembarangan di hadapanku, love bird,” gerutu Ian seraya menyentak tulan

