BAB 225

2533 Kata

“Hei, sudah jelas dia tidak akan buka mulut. Kenapa masih repot-repot menginterogasinya, Bodoh?” seloroh Charlotte sewot sambil melipat kakinya dengan begitu anggun dan menyikukan siku kirinya pada lengan sofa guna menyangga kepalanya. Tatapannya begitu sinis kepada seorang pelayan gadungan yang tersungkur tak berdaya di hadapannya. “Oh, tidak, lupakan. Tanpa perlu dipertanyakan lagi, sudah jelas dia kiriman dari siapa.” Ian mengembuskan napas untuk kesekian kalinya. Hatinya yang bersumbu pendek mulai merasa terusik oleh rasa kesal akibat dari celotehan Charlotte. Ian tahu gadis itu sedang temperamental, tapi beginilah dirinya, tidak pernah mampu menghadapi momen temperamental tersebut. Biasanya, Ian akan ikut temperamental atau diam sampai akhir, membiarkan gadis itu mengamuk sesuka hat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN