“Ini bodoh. Siapa yang sedang mengemis ke siapa, huh?” Egidio tetap berdiri tenang di dekat sofa yang diduduki oleh Alice, mengamati kekacauan yang sang nona perbuat dan menyimak segala umpatannya. Alice memang temperamental sejak kecil, jadi bukan masalah besar bagi Egidio yang sudah lama melayaninya. Lagipula, semakin bertambah usia, temperamennya sedikit membaik sedikit demi sedikit. Walau, tidak menutup fakta bahwa setiap kekacauan yang ia perbuat masih besar. Egidio hanya bisa memaklumi. “Sekali lagi aku bertemu dengannya, kupastikan untuk memotong lidahnya.” Alice melempar gelas anggur yang telah kosong secara asal. Gelas itu sigap ditangkap oleh Egidio bertepatan dengan Alice bangkit berdiri. Wanita jangkung itu melangkah ke pintu kamar, hendak keluar, tanpa menunggu Egidio. E

