Astaga, rutuk Lizzy, sekuat tenaga menahan kepanikannya. Apa yang harus kulakukan? Membuka mata? Apa yang akan dia lakukan setelahnya? Menceramahiku? Sebelumnya, Lizzy memang percaya diri sebagai pihak dominan di dalam hubungannya bersama Ian. Lelaki itu cenderung mudah mengalah kepadanya sehingga Lizzy sering memanfaatkannya. Selain mudah mengalah, Ian juga cenderung memanjakannya. Apa pun permintaan Lizzy selalu disetujui selama bukan hal negatif. Lama-kelamaan, terlihat pihak mana yang dominan. Namun kemudian, ada satu sisi kecil yang Lizzy miliki tentang Ian. Lizzy takut menghadapi temperamen Ian. Benar Ian mudah mengalah. Tetapi, bukan berarti ia tidak akan pernah memarahi Lizzy. Tentu saja itu terjadi hanya saat diperlukan. Dan, Lizzy paham saat ini adalah saat yang diperlukan.

