“Aku harus tahu siapa Nona Isabelle yang telah menyokongmu.” “Dan, seperti yang sudah saya ucapkan berulang kali, saya tidak bisa membocorkan identitas beliau, Yang Mulia.” Ian menyipitkan mata. “Kau tidak akan tergiur oleh uang, huh?” Master Liu tersenyum teduh sembari menyesap pipa tembakau panjang khas China berwarna keemasan. “Anda mengetahui saya dengan baik.” Ian menghela napas panjang sebelum menghabiskan segelas anggur yang disajikan. Sorot mata merahnya melirik sinis pada sang pemilik Vermillion Sabre yang duduk di hadapannya, berwajah teduh tak berdosa. Ian mengapresiasi keamanahan Master Liu yang patut diacungi jempol, tetapi dia benar-benar harus tahu siapa si Nona Isabelle yang menyokong pria itu hingga begitu dipercayai. Ian tahu lebih dari siapa pun betapa netralnya

