Saling Melempar Tugas

1826 Kata
Sudah berhari-hari Agnia terlihat ceria, tidak melulu berbaring lemah di atas ranjang. Entah apa penyebab pastinya, yang jelas, dia merasa semangat untuk memulai harinya setelah menghirup aroma tubuh Ravindra. Padahal dia tak pulang-pulang, bukti bahwa Agnia tidak memikirkannya, melainkan hanya menginginkan aroma tubuhnya saja. Tito datang setiap sore, hanya untuk menyimpan satu setelan pakaian kotor milik Ravindra di kamarnya. Hal itu tentu membuat orang rumah bertanya-tanya, karena biasanya Ravindra menggunakan jasa laundry. Kalaupun memang ingin dicuci di rumah, mengapa tidak menunggu pakaian kotornya menumpuk lebih dulu? Setiap hari Agnia masuk ke dalam kamar Ravindra untuk membawa pakaian kotor, sekaligus menyimpan pakaian kotor yang diambilnya kemarin. Tentu, setiap hari pula Ravindra menonton rekaman CCTV yang merekam kegiatan Agnia di dalam kamarnya, dan ia bersyukur bisa melihat wajah cantik itu kapan pun yang dia mau. *** Ravindra mengerutkan keningnya ketika memeriksa deretan foto yang diunggah Citra ke sosial media. Bukan foto aneh-aneh, melainkan foto beragam makanan di waktu yang berbeda, yaitu pagi-siang-sore. Tampilannya seperti makanan restoran mewah yang menggiurkan, tapi latar belakangnya sudah jelas di dapur rumahnya. Ravindra Ada acara apa di rumah? 15:17 Citra Acara bumil ngidam. 15:19 Ravindra Maksudnya? 15:19 Citra Kak Nia lagi mau masak seharian ini. Dari pagi sampai gini hari, masih sibuk di dapur. 15:20 Ravindra Masak sebanyak itu? 15:20 Citra Iya. Ini dimakan sama semua orang rumah juga masih sisa banyak. Kayaknya mau Mama bagiin ke tetangga. Sayang kalo gak abis. 15:21 Ravindra Enak, gak? 15:21 Citra Banget, Kak. Pulang deh, banyak makanan kesukaan Kakak, loh. Aku tadi kepikiran mau anterin makanan buat Kakak, tapi akunya mager. 15:22 Ravindra Nganterin makanan buat kakaknya mager, giliran jalan-jalan semangat banget, minta uang jajan gak pernah telat. 15:23 Citra Kakak pulang aja, sih. Gak usah ngoceh. 15:23 Ravindra Mau dibawain apa? Tanya Mama sama Nia juga, siapa tau mau makanan dari luar. 15:23 Citra Gak usah bawa makanan apa-apa. Ini aja gak bakal abis. 15:24 Hari ini Agnia memang begitu semangat untuk mengolah berbagai makanan. Sejak pagi saja, dia sudah sibuk membuat sarapan untuk semua orang. Bukan hanya untuk Tari dan Citra, tapi untuk para pekerja rumah juga. Makan siang pun dia yang memasak, dan sekarang ia sedang sibuk membuat banyak camilan untuk dinikmati sore hari. Mustahil Ravindra bisa menahan diri untuk tidak pulang jika bersangkutan dengan Agnia, wanita yang selalu ia rindukan setiap saat. Dia membuat banyak makanan hari ini? Olahan barbeque dan shabu-shabu yang dibuat Agnia pada hari minggu sangat enak, Ravindra yakin makanan lain akan sama enaknya jika dia yang memasak. Andai saja saat ini Agnia adalah istri Ravindra, kepulangannya pasti akan disambut dengan senyuman manis. Wanita itu lalu menghidangkan banyak makanan enak usai mendapat kecupan romantis darinya, kemudian menemaninya makan dalam nuansa hangatnya keluarga. Kapan khayalannya itu akan menjadi kenyataan? “Rav, Mama sama Citra lagi nganter Lusi ke rumah sakit. Lusi kontraksi mendadak.” Tari melaporkan dengan nada panik. “Bukannya baru delapan bulan, Ma?” Ravindra ikut panik mendengarnya. “Gak tau, deh. Ini Mama masih nunggu pemeriksaan.” Tari terdengar tak karuan. “Ferdi ada?” Ravindra ingin memastikan. “Justru itu. Mama mau tanya, Ferdi ke mana? Dari tadi susah dihubungin, Rav.” Tari langsung menyahuti dengan aksen sewot. “Nanti aku telepon temen buat cari dia.” Ravindra sudah menduga Ferdi sedang pergi menemui selingkuhannya. “Kamu di mana sekarang?” Tari ingin tahu. “Masih di jalan. Bentar lagi sampai rumah,” jawab Ravindra sesuai keadaan. “Kamu tunggu di rumah aja, ya. Tapi nanti kalo Mama butuh bantuan, tolong minta Tito ke rumah sakit. Ini keadaannya darurat banget, Rav.” Tari mengusulkan pendapatnya. “Tito gak nganter pulang, Ma. Biar aku aja yang ke sana sekarang, gak usah pulang dulu.” Ravindra tak keberatan untuk membantu. “Tunggu di rumah aja dulu. Siapa tau Ferdi cepet ke sini. Nanti Mama kabari kalo ada apa-apa, ya.” Tari mencegah Ravindra langsung datang. Ravindra bersyukur memiliki ibu sambung seperti Tari yang sangat peduli pada sesama. Meskipun keluarga Rasaja tak menyukainya, wanita itu tak menaruh dendam sedikit pun pada putra-putri Rajasa. Buktinya dia mau membantu Ferdi yang merupakan putra dari kakak sepupu Prambudi, sementara Lusi hanya terikat ipar. Namun, hubungan Tari dan Lusi memang sangat dekat tanpa mempedulikan konflik antar keluarga. Hal itu karena Lusi jauh dari keluarganya, juga jauh dari kediaman keluarga Rajasa. Keberadaannya di Jakarta memang ikut Ferdi yang bekerja di kantor PT Rajasa. Tak heran, Tari begitu menyayangi Lusi seperti anaknya sendiri. *** Tangisan anak kecil yang merupakan anak Ferdi dan Lusi bernama Karina sudah terdengar ketika Ravindra memasuki rumah. Ravindra memang sudah menduga anak itu ada di rumahnya karena Lusi sedang dilarikan ke rumah sakit, tapi dia kaget melihat Agnia tampak kesulitan menenangkan anak kecil itu dengan cara menggendongnya. “Karin, sini sama Om.” Ravindra mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Karina. “Biar aku aja, Kak.” Agnia sedikit menghindar, tak tega karena Ravindra baru saja datang. “Mas Ravin mau kopi?” Imas, asisten rumah menawarkan dengan sopan. “Nanti aja, Bi.” Ravindra menolak singkat. “Karin rewel mau ikut ibunya.” Imas terlihat tak enak, takut diomeli Ravindra karena bukan dirinya yang menggendong Karina. “Udah lama di sini?” Ravindra basa-basi. “Setengah jam mungkin ada. Cuma gitu, langsung nempel ke Mbak Nia, gak mau digendong sama Bibi,” jawab Imas apa adanya. “Tapi itu masih nangis.” Ravindra tak tega, baik pada Karina maupun Agnia. “Iya, Mas, susah dibujuk.” Imas makin merasa tak enak, tak tahu harus melakukan apa. “Sini sama Om.” Ravindra kembali mengulurkan tangannya untuk menggapai Karina. Namun, tangis gadis kecil itu malah makin menjadi. “Kok gak mau? Biasanya mau digendong Om.” “Gak apa-apa, Kak, biar aku aja yang gendong.” Agnia sedikit kesal, padahal Karina sudah cukup tenang beberapa detik yang lalu, dan kembali menangis saat Ravindra ingin mengambil alih. “Perut kamu ditendang-tendang gitu, loh, Nia.” Ravindra meringis ketika Karina tak juga berhenti mengamuk di pangkuan Agnia. “Aku bawa ke ruangan lain.” Agnia lalu memutar tubuhnya untuk pergi. “Gak, gak. Tunggu, tunggu, tunggu.” Ravindra segera mencegah, tak tega melihatnya. Sepertinya Ravindra tahu bagaimana caranya agar Agnia melepaskan Karina. Wanita itu pasti kelelahan karena memasak seharian ini, ditambah Karina yang merepotkan. Ia pun melepaskan blazer, kemeja, juga dasi yang dipakainya di hadapan Agnia dan Imas, lalu menyimpannya di atas sofa. “Gak usah nangis, 'kan ada Tante.” Agnia masih saja sibuk membujuk Karina dengan lembut. “Karin biar saya yang gendong. Kamu istirahat aja. Sambil itu tolong, bawain kemeja saya ke atas.” Ravindra tak mau lagi mendengar bantahan. “Bibi aja yang ke atas.” Imas menawarkan diri, tak enak Agnia disuruh-suruh oleh Ravindra. “Nia aja, sekalian dia mau istirahat.” Ravindra justru sudah tahu apa yang akan Agnia lakukan dengan pakaian kotornya jika sendirian. “Kak Ravin baru pulang, Kakak yang harusnya istirahat, bukan aku. Makanya Karin biar aku aja yang urus.” Agnia malah balik tak tega. Ravindra baru pulang kerja, pastinya kelelahan. “Gini aja, Mbak Nia istirahat, Mas Ravin makan dulu, Karin biar Bibi yang gendong.” Imas tak mau diam saja, memang harusnya dia yang bekerja. “Bibi angetin makanan aja, Karin saya gendong sebentar, Nia istirahat. Nanti kalo makanannya udah anget, baru saya makan, Bibi yang gendong Karin.” Ravindra mengubah keputusan dengan bijak. “Eh, aku aja yang angetin makanan. Karin Bibi yang gendong.” Agnia menyahuti dengan cepat. “Ya ampun, Mbak Nia ini dari tadi gak bolehin siapa pun ke dapur. Gak capek, Mbak? Harusnya banyak istirahat, bukannya banyak gerak.” Imas tak percaya Agnia masih ingat pada 'dapurnya'. “Aku lagi seneng masak, Bi.” Agnia tersenyum malu. Ia pun berjalan ke arah sofa, hendak memunguti pakaian Ravindra. “Kak, ini kotor, 'kan? Mau disimpan di kamar Kakak atau aku simpan di tempat cuci?” tanyanya ragu-ragu. “Bawa ke tempat cuci aja.” Ravindra tentu tahu mengapa Agnia bertanya demikian, karena tempat cuci bersebelahan dengan dapur. “Nanti aja sama Bibi.” Imas kembali berkomentar, merasa tak enak. “Gak apa-apa, Bi.” Agnia segera berlalu dengan membawa pakaian kotor Ravindra. “Bibi jadi gak enak, loh, Mas. Bibi jadi banyak diem, Mbak Nia ngelarang Bibi masuk dapur. Tapi bukan cuma ke Bibi aja, sih, siapa pun gak boleh ke dapur, maunya Mbak Nia aja yang sibuk di sana.” Imas sedikit bercerita, tak ingin disalahkan. “Gak apa-apa. Maunya dia kayak gitu.” Ravindra tak masalah. Imas lalu pergi ke ruangan lain dengan membawa Karina, bermaksud membujuk gadis kecil itu agar berhenti menangis. Ravindra tak mau membuang waktu, bergegas pergi ke dapur untuk melihat aktivitas Agnia. Dugaannya tidak salah, wanita itu sedang menciumi pakaian kotornya dengan saksama di dalam ruangan laundry. Tak berniat mengganggu, Ravindra mematung di dekat pintu, sementara Agnia tak menyadari kehadirannya dan fokus pada aroma yang sudah ia nanti-nantikan sejak tadi. Namun, selang beberapa menit wanita itu menyudahi kegiatan konyolnya. Mau tak mau Ravindra menjauh, lalu kembali memasuki dapur seakan baru ke sana. “Kak Ravin mau sesuatu?” Agnia cukup kaget melihat kedatangan Ravindra. “Saya mau bikin kopi,” jawab Ravindra sekenanya. “Biar aku aja, Kak.” Agnia bergerak cepat, menghalangi langkah Ravindra. “Kamu angetin makanan aja, kopi biar saya sendiri yang bikin.” Ravindra menunjuk kompor yang baru saja Agnia nyalakan. “Kak Ravin pasti capek, loh. Biar aku—” “Cuma bikin kopi, Nia.” Ravindra tak peduli, tetap menyiapkan gelas untuk kopi. Padahal sejak pagi Agnia melarang siapa pun memasuki dapur, tapi kali ini ia tak berani melarang Ravindra yang ingin membuat kopinya sendiri. Ia pun mulai sibuk memasukkan beberapa makanan ke mesin penghangat makanan, lalu lanjut menumis makanan yang tadi belum selesai dimasaknya karena kedatangan Lusi dan Karina. Tidak sedikit makanan yang dibuatnya hari ini. Berbagai olahan dia kerjakan sendiri, dan ia senang tanpa merasa kelelahan. Namun, anehnya ia sendiri tak mau makan, bahkan sekadar mencicipi. Lebih aneh lagi rasanya sangat enak, bumbu-bumbunya begitu pas di lidah, padahal ia sendiri tak tahu rasanya seperti apa, kurang atau lebih. “Masak apa aja kamu?” Ravindra mengaduk kopinya sambil memperhatikan kegiatan Agnia. “Banyak, Kak.” Agnia mengarahkan pandangan ke beberapa makanan di dalam penghangat. “Gak capek masak seharian? Banyak banget yang kamu masak.” Ravindra merasa kasihan. “Asik aja, Kak. Aku jadi ada kegiatan.” Agnia tak masalah sama sekali. “Jangan terlalu kecapean. Kamu harusnya banyak istirahat.” Ravindra berpesan. “Kamu masak kayak lagi bikin hajatan tau, gak.” Agnia terdiam, hanyut dalam lamunan. Posisinya kini sangat dekat dengan Ravindra, hanya berjarak satu meter. Jelas saja aroma tubuh pria itu terasa nyata di indera penciumannya, terasa nyaman dan candu. Jika bisa, Agnia ingin mendekati pria itu, mengendus ketiaknya secara langsung. Sekian menit berlalu, lamunan Agnia buyar ketika melihat sebuah tangan kekar mendekatinya, lalu mematikan kompor. Sontak, Agnia menatap Ravindra yang juga sedang menatapnya. Debaran jantungnya langsung berpacu, tubuhnya pun membeku. Sementara Ravindra menatapnya dalam-dalam, menilik netra Agnia dari dekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN