“Nanti kalo kamu lagi mood, coba deh buka file yang aku kirim,” kata Mirza di sebrang sana.
“File apa?” Agnia mengernyit bingung.
“Beberapa sample wedding. Aku tadi sempetin waktu buat ketemu WO, dan dia kirim file itu sebagai referensi. Atau kalo kamu punya list wedding dream sendiri, bisa bicarain nanti sama pihak WO.” Mirza menjelaskan dengan senang hati.
“Masih lama, loh, Mas. Kehamilan aku baru nginjak minggu ke delapan.” Agnia merasa terlalu cepat membahas rencana pernikahan.
“Persiapan dari sekarang lebih baik, Sayang. Seenggaknya kamu punya list wedding dream buat nanti, biar gak pusing lagi nyari-nyari referensi.” Mirza menasehati dengan lemah lembut.
“Kalo terlalu mahal gimana?” Agnia hanya menggoda, penasaran reaksi kekasihnya.
“Apanya?” Mirza pura-pura tak mengerti. “Kamu bukan cewek yang sukanya mewah-mewah, makanya aku pacarin,” candanya.
“Aku berubah pikiran, jadi mau yang mewah-mewah.” Agnia terdengar bersikukuh.
“Kamu list aja, ngobrol-ngobrol dulu sama WO-nya. Nanti aku kirim nomornya, ya.” Mirza tak menanggapi lebih, tahu seperti apa Agnia yang tak suka hal mewah, apalagi berlebihan.
“Gimana kalo nikahnya sederhana aja? Gak perlu pesta-pesta. Aku juga gak nuntut, 'kan?” Agnia menyarankan dengan maksud lain.
“Aku ada uang, kok. Jangan khawatir.” Mirza tak mau tahu, pernikahannya harus ada pesta.
“Uangnya buat beli yang lain aja. Misal beli properti apa gitu, yang bisa kamu sewa-sewain.” Agnia lebih setuju seperti itu ketimbang pesta.
“Hm.” Mirza berdeham malas.
“Maaf.” Agnia baru sadar posisinya.
“Ngapain minta maaf?” Mirza bingung.
“Aku gak bermaksud ngatur, pasti ngikutin maunya kamu gimana.” Agnia tak mau menentang keinginan kekasihnya lagi.
“Nanti ngobrol sama WO-nya, ya. Kalo perlu pertemuan langsung, biar aku bawa ke Jakarta kalo aku mau pulang. Kamu di sana aja, gak perlu ke sini. Entar ketemu kakak sama papa kamu, berabe mood kamu.” Mirza lega Agnia tak keras kepala.
“Iya.” Agnia menjawab singkat nan lemas.
“Kamu ngantuk?” Mirza menduga, suara Agnia terdengar sudah mengantuk.
“Kepalaku pusing.” Agnia mengeluh, karena memang itulah yang terjadi sejak tadi sore.
“Tidur, ya. Love you.” Mirza tak mau memperpanjang obrolan, tak tega.
“You too.” Agnia lalu menutup panggilan.
Setelah menyimpan ponselnya di atas nakas, Agnia kembali meringkuk di bawah selimut untuk menikmati aroma tubuh Ravindra yang berhasil membuatnya nyaman dan damai. Aroma inilah yang ia inginkan sejak tadi, kuat. Bagaimana tidak? Ravindra memakai kemeja tersebut dari pagi hingga sore, tentu aromanya menusuk penciuman.
Benar, untuk yang kesekian kalinya Agnia memasuki kamar Ravindra karena menginginkan aroma tubuh pria itu. Beberapa jam yang lalu, dengan lantangnya Ravindra berkata pada Citra bahwa dia akan pergi dan tak akan menginap di rumah. Saat itulah hati Agnia senang bukan main, bagaikan akan mendapat harta karun saja.
Di tempat lain
Ravindra tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ya, dia melihat dengan sangat jelas, apa yang Agnia lakukan di dalam kamarnya. Wanita itu menciumi pakaian kotornya tanpa rasa jijik, bahkan di area ketiak dan lehernya. Ravindra baru tahu, ternyata Agnia bukan ingin pakaiannya, tapi hanya ingin mencium aroma tubuhnya. Hanya itu!
Jika bisa, Ravindra ingin menyerahkan diri pada Agnia. Ralat, menyerahkan tubuhnya untuk sang pujaan hati. Apa wanita itu menyukainya secara diam-diam? Tapi, sikapnya tidak pernah menunjukan adanya perasaan sedikit pun. Sepertinya dua calon anaknya yang ingin berdekatan, bukan keinginan Agnia sendiri.
Pukul satu malam, Ravindra kembali ke rumah di saat semua orang sudah tertidur. Sengaja, dia ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Tak peduli akan ketahuan, yang jelas ia ingin melihat Agnia secara langsung. Ia pun memasuki kamar yang dituju menggunakan kunci cadangan dengan pelan dan hati-hati.
Berhasil masuk tanpa mengganggu si pemilik kamar, Ravindra langsung tersenyum manis melihat Agnia yang sudah terlelap dengan posisi nyaman. Wajahnya yang polos terlihat damai tanpa beban, cantik dan lugu. Tak hanya memakai piyama, wanita hamil itu juga menambahkan kemeja dan celana kain yang tadi Ravindra pakai seharian penuh.
“Sweet dream, Honey.” Ravindra bergumam dalam hati, sedangkan senyumnya masih menghiasi wajahnya yang sangat tampan dan menawan.
Ingin rasanya mengecup bibir Agnia yang mungil dan menggoda, beruntung Ravindra masih memiliki kesadaran penuh, tahu bahwa ia tidak berhak karena Agnia bukanlah miliknya. Namun, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menyapa kedua calon anaknya. Perlahan, tangannya berlabuh di atas perut Agnia, lalu mengusapnya lembut.
Tak ingin berlama-lama di sana, Ravindra segera meninggalkan rumah tersebut agar orang-orang tak sadar kepulangannya. Cukup hatinya yang tahu, sesenang apa dia hingga bertingkah seperti anak ABG yang baru menemukan cinta. Selain sering tersenyum sendiri, ia juga berharap Agnia memeluknya secara langsung.
Agnia
Kak, maaf, kalo boleh tau berapa totalan kerugian Kak Ravin soal kecelakaan aku?
11:20
Ravindra tak langsung menjawab pesan yang dikirimkan nomor asing. Dari foto profile-nya memang sudah terpampang, yaitu Agnia. Entah dari mana wanita itu mengetahui nomornya, yang jelas hati Ravindra makin berseri-seri. Akhirnya, ia tahu nomor wanita itu. Tapi, Ravindra sedikit kesal Agnia masih mengungkit soal kecelakaan kemarin.
Ravindra
Ngapain nanya itu?
11:23
Agnia
Aku ada sedikit tabungan buat nyicil ganti ruginya Kak Ravin.
11:24
Ravindra
Saya gak minta kamu ganti rugi.
11:24
Agnia
Seenggaknya aku mau tanggung jawab walau mungkin gak seberapa.
11:25
Ravindra
Simpen aja buat kebutuhan kamu.
11:26
Agnia
Aku gak enak, Kak. Udah pakai mobil Kak Ravin, eh malah pulangnya rusak.
11:27
Ravindra
Asuransi, kok.
11:27
Agnia
Tapi 'kan Kak Ravin juga ganti rugi ke yang punya motor.
11:28
Ravindra
Gak mahal.
11:28
Agnia
Berapa?
11:28
Ravindra
Gak usah dipikirin, Nia. Saya gak masalah.
11:29
Agnia
Aku gak enak, Kak.
11:29
Ravindra
Saya yang gak enak kalo kamu ganti rugi. Kayak ... kamu ngerendahin saya? Ganti rugi segitu kecil buat saya.
11:30
Agnia
Bukan gitu maksud aku, Kak.
11:30
Ravindra
Case close, ya. Jangan bahas soal ganti rugi lagi. Daripada saya terima uang dari kamu, mending saya terima uang dari Mirza.
11:31
Agnia
Mas Mirza jangan sampai tau.
11:31
Ravindra
Fine.
11:31
Agnia membuang napas lega mengetahui Ravindra sudah membebaskan persoalan kemarin. Akhirnya, tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya. Tadi pagi ia kembali mengeluh tentang kecelakaan kemarin kepada Citra, hingga gadis itu memberikan nomor Ravindra agar Agnia berbicara langsung pada orang yang bersangkutan, yaitu Ravindra.
***
Di salah satu ruangan kantor pusat PT Rajasa, Ravindra tersenyum manis sembari memperhatikan potret Agnia yang diambilnya semalam. Sekarang, wajah wanita itu bisa dilihatnya kapan pun dan di mana pun. Ditambah baru saja bertukar pesan cukup panjang, Ravindra merasa beruntung.
Namun, kenyamanan Ravindra terusik saat pintu ruangannya terbuka tiba-tiba. Senyum yang semula mengembang indah, kini redup seketika. Seorang wanita cantik berjalan anggun ke arahnya, tersenyum manis seraya melebarkan kedua tangan dengan manja untuk memeluk tubuh kekarnya.
Wanita itu terbiasa memakai pakaian modern yang cukup terbuka dan menantang. Seperti sekarang ini, dia memakai rok yang jauh di atas lutut, mempertontonkan pahanya yang putih dan mulus. Belum lagi kemejanya yang sangat ketat, membentuk tubuh ideal seorang Silvia Hanasta.
“Sayang.” Silvia mencium pipi Ravindra kanan dan kiri, sementara pria itu tak membalas ataupun menghindar dan hanya pasrah. “Sibuk?”
“Lumayan.” Ravindra kembali duduk di kursi kebesarannya setenang mungkin.
“Aku tunggu di sini, ya. Nanti kita jalan.” Silvia dengan tak tahu malunya menarik salah satu kursi ke samping Ravindra untuk diduduki.
“Kenapa gak nunggu di tempat aja? Biar aku nyusul.” Ravindra terlihat risih, sungguh.
“Aku mau dateng bareng kamu!” kata Silvia terdengar manja yang malah membuat Ravindra jijik. “Malu aku. Tiap ketemu temen-temen pasti pada nanyain kenapa kamu gak ada. Kayak jomblo aja aku, selalu sendirian.”
“Tunggu di sana.” Ravindra menunjuk sofa bersantai yang tak jauh dari sana.
“Aku mau di sini dulu.” Silvia bergeming, tetap bergelayut manja pada lengan kokoh Ravindra.
“Gak ada pakaian lain?” Ravindra menyindir, sedangkan matanya fokus pada pekerjaannya.
“Kenapa?” Silvia tidak merasa ada yang salah dalam berpakaian. “Biasa aja kayaknya.”
“Kayaknya.” Ravindra manggut-manggut dengan raut menyinggung.
“Kamu kenapa, sih? Gitu banget nadanya.” Silvia memprotes tak suka.
“Aku lagi kerja, Vi.” Ravindra memperingati Silvia yang terus bermanja.
“Santai aja kali.” Silvia memutar bola matanya ke arah lain dengan tidak sopan.
“Tunggu di sana. Bentar lagi makan siang. Aku beresin ini dulu.” Ravindra kembali menunjuk sofa, dan kali ini Silvia terpaksa menurutinya.
Bukan yang pertama kalinya melihat Silvia berpakaian menantang, bahkan beberapa karyawannya pun ada yang berpakaian serupa. Tapi, entah mengapa kali ini Ravindra tak suka. Pikirannya memang sudah dipenuhi sosok Agnia yang lugu dan sederhana, hingga melihat wanita lain selalu saja salah di penglihatan matanya.
Perusahaan asing tempat Silvia bekerja memang cukup dekat kantor Rajasa, tak heran wanita itu sering berkunjung ketimbang Ravindra yang mengunjunginya. Dia memang sengaja datang di jam menuju makan siang, agar Ravindra tidak memiliki alasan untuk menolak kehadirannya ataupun ajakannya makan siang bersama.
“Tito?” Tari terheran-heran melihat supir pribadi Ravindra memasuki rumah.
“Bu.” Tito mengangguk sopan.
“Di mana Ravin?” Tari celingukan ke belakang tubuh Tito, tapi putranya itu tidak ada.
“Mas Ravin pulang ke apartemen. Cuma gak tau ini apa, minta disimpen di kamarnya.” Tito memperlihatkan barang bawaannya.
“Apa, sih? Coba lihat.” Citra penasaran, menghampiri Tito yang berdiri tak jauh darinya.
“Eh.” Tari mencegah, tak membiarkan Citra menyentuh barang milik Ravindra.
“Kayaknya pakaian.” Tito hanya asal tebak.
“Pakaian baru? Masa dibungkus kresek gitu?” Citra tak yakin, menatap heran ke arah kantong.
“Gak tau saya, Mbak. Mungkin pakaian kotor.” Tito juga sama tak tahunya, hanya menjalankan tugas yang diberikan majikannya.
“Simpen aja di kamarnya,” titah Tari yang langsung mendapat anggukkan dari Tito.
Di tempat yang sama, Agnia merasa ada perpanjangan nyawa mendengar percakapan mereka, berharap bungkusan tadi memang pakaian kotor milik Ravindra. Hanya membayangkan aromanya saja, dia sudah tak sabar untuk menikmati aroma yang membuatnya candu.
Ravindra tidak bisa pulang setiap hari, tapi dia bisa meminta supirnya untuk mengantarkan pakaian kotor ke rumah. Dengan begitu, Ravindra tetap dapat melihat Agnia memasuki kamarnya melalui CCTV, dan wanita itu juga mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil dan cerdik, bukan?