Kecelakaan?

1709 Kata
Jalanan di depan sana tampak sedikit macet hingga mobil yang dikendarai Ravindra terhambat. Tanpa melihatnya secara langsung, ia yakin penyebab kemacetan tersebut karena ada kecelakaan seperti yang disebutkan Citra. Tak sabar menunggu, Ravindra menepikan mobilnya dan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Banyak orang-orang yang sedang berkerumun, bahkan tidak sedikit pengendara yang mendadak berhenti di area itu. Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara Citra dan seseorang yang sedang memakinya. Ravindra sedikit berlari, membelah kerumunan hingga orang yang dimintanya untuk memberikan jalan memandang heran. Ada banyak motor besar di sana, sepertinya mereka anggota komunitas motor yang sedang melakukan touring. Citra terlihat menciut saat beberapa pemuda bersikap garang, tapi ia tetap berdiri menghalangi Agnia yang terus disalahkan oleh pemuda-pemuda itu. Agnia sendiri terlihat tertekan dan tak berdaya karena keadaan. “Makanya kalo masih belajar gak usah sok-sok'an bawa mobil! Matic aja gak becus, apalagi manual!” Pria A menyalahkan Agnia tanpa ragu. “Masalahnya asuransi motor gue habis! Lo cek aja harganya, lebih mahal dari harga mobil lo itu!” Pria B menimpali, menunjuk motor besarnya yang memang ditaksir berharga tinggi. “Mana kakak lo? Katanya mau ke sini!” Pria A terus menggertak, Citra dan Agnia tetap diam. “Cit?” Ravindra melangkah lebar. “Kak, Kak Nia gak sengaja nyenggol motor abang itu.” Citra langsung mengadu, menunjuk Pria B yang tampak arogan sebagai pemilik moge. “Bukan gak sengaja, tapi emang gak punya mata!” Pria A terus memojokkan Agnia. “Lagian abangnya juga main salip, padahal udah pake sen mau belok.” Citra akhirnya berani memprotes dan membela diri. “Bocah! Dari tadi diem aja, giliran ada kakaknya berani nyolot!” Pria C terlihat gemas. Ravindra mengepalkan tinjunya sangat kuat, menatap tajam beberapa pemuda yang lebih pantas disebut preman pasar. Jika bisa, ia ingin menghajar mereka yang sudah berani membuat dua perempuan tercintanya tak berkutik. Namun, Ravindra tak mau memperkeruh keadaan. Terlebih, Agnia memiliki trauma pada kekerasan. “Saya ganti rugi. Bawa aja ke bengkel, nanti saya yang tebus.” Ravindra menyerahkan kartu namanya tanpa banyak pikir. “Awas aja lo susah dihubungi. Gue cari lo!” Pria A mengancam, dan mereka bergegas meninggalkan tempat itu. Jika melihat kejadiannya, semua orang akan setuju bahwa yang bersalah adalah pengendara motor. Agnia mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah dan sangat hati-hati, tapi motor besar yang sedang melaju kencang itu menyalip seenaknya ketika mobil akan berbelok. Alhasil, kecelakaan itu pun tak bisa dihindari. Kejadiannya memang hanya beberapa detik, tapi benturan keras karena motor melaju kencang membuatnya terpental. Mobil yang dikendarai Agnia memang tidak terlalu rusak, akan tetapi motor besar itu mengalami kerusakan yang cukup parah. Beruntung tidak ada luka yang berarti, Agnia ataupun Citra hanya mengalami syok. “Nia, kamu gak apa-apa? Ada yang sakit, gak?” Ravindra menatap cemas. “Maaf, mobil Kak Ravin jadi rusak.” Agnia malah membahas yang lain. “Saya tanya, kamu gak apa-apa?” Ravindra mengulangi pertanyaannya. “Aku gak apa-apa, Kak, tapi mobil Kak Ravin rusak.” Agnia kembali membahas perihal mobil, karena itulah yang mengganggu pikirannya. “Saya lebih khawatir sama kamu.” Ravindra tak peduli sekalipun mobilnya hancur, yang terpenting kondisi Agnia baik-baik saja. “Maksudnya ... Saya males ribut sama Mirza. Kalo kamu kenapa-kenapa, dia pasti nyalahin saya,” lanjutnya saat Citra meliriknya dengan tatapan aneh. “Aku gak apa-apa, Kak.” Agnia meyakinkan. “Serius?” Ravindra ingin memastikan. “Tadi benturannya kenceng, gak?” tanyanya lagi. “Lumayan, Kak.” Citra menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kita periksa kandungan kamu dulu gimana?” Ravindra tidak bohong, dia sangat khawatir. “Gak usah, Kak.” Agnia menolak sopan. “Tunggu di sini bentar, Kakak mau bawa mobil di sana. Kakak anterin pulang, nanti Kakak minta Tito buat jemput mobil ini.” Ravindra lalu pergi untuk membawa mobilnya. Tak menunggu lama, mobil Ravindra pun datang dan mereka berdua bergegas masuk ke dalamnya. Citra yang duduk di kursi depan, menceritakan kronologi kecelakaan terjadi. Sementara Agnia, terus mengingat detik-detik kecelakaan yang dialaminya. Ia tak percaya telah membuat mobil Ravindra rusak, bahkan harus ganti rugi pada pria tadi meskipun bukan salahnya. Untuk yang pertama kalinya menggunakan mobil orang lain selain mobil Mirza, Agnia sudah trauma sebesar ini. Tunggu ... dipikir kembali, mengapa ia bisa mengiyakan ajakan Citra untuk menggunakan mobil Ravindra tanpa berpikir panjang? Sungguh, kejadian ini seperti mimpi, terjadi begitu saja tanpa dapat dikendalikan. “Kak ....” Citra berhasil membuat lamunan Agnia bubar. “Jangan ngelamun.” “Kak Ravin, maaf mobilnya jadi rusak.” Agnia menatap tak berdaya seperti ingin menangis. “Jangan dipikirin, Nia. Rusaknya gak seberapa, kok. Ada asuransi ini.” Ravindra malah kesal melihat wanita itu tertekan, padahal dirinya tidak mempermasalahkan soal mobil. “Tapi ... orang tadi minta ganti rugi juga.” Agnia tetap tak tenang. “Gak usah dipikirin, yang penting kamu gak kenapa-kenapa.” Ravindra menatap tak suka. “Cit, jangan kasih tau Mas Mirza, ya.” Agnia berpesan demikian karena beberapa alasan. “Kenapa? Kak Mirza mesti tau lah Kak Nia kecelakaan.” Citra tak setuju, Mirza harus tahu kekasihnya mengalami kecelakaan. “Aku gak mau bikin dia khawatir. Kalo bisa, Mama juga gak perlu tau.” Agnia mencemaskan sesuatu. “Kak Ravin jangan bilang ke Mas Mirza, ya. Biar aku yang pikirin soal ganti rugi,” lanjutnya yang kini ditujukan kepada Ravindra. “Saya gak nyuruh kamu ganti rugi, loh, Nia!” Ravindra benar-benar kesal sekarang. Sepakat untuk tidak memberitahu Mirza dan Tari, kepulangan mereka bertiga tidak membuat sang ibu bertanya ini dan itu. Agnia sendiri memilih masuk ke dalam kamarnya, merenungi yang terjadi. Dibesarkan di keluarga yang jauh dari kata harmonis, jangankan melakukan kesalahan, tidak salah pun dia selalu disalah-salahkan. Wajar, sekarang Agnia merasa sangat bersalah atas kecerobohan yang sudah jelas dilakukannya. Ravindra adalah kakak dari kekasihnya, dan Agnia sangat menghormati pria itu. Bisa dibilang tidak akrab, karena bertemu pun baru beberapa kali. Jangankan mengobrol, bicara saja jarang. Meski Ravindra tak mempermasalahkan kejadian tadi, bukan berarti hatinya demikian. Bisa saja dia merasa kesal, tapi tertahan karena Mirza. Orang lain mungkin akan menilainya 'lebay', tapi inilah Agnia, wanita yang selalu berpikir jauh dan mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan. Jika Mirza tahu, mungkin dia akan mengomel pada Agnia karena pergi dengan menggunakan mobil Ravindra. Atau, mungkin saja dia akan mengganti kerugian Ravindra, dan Agnia tak mau itu. Sudah cukup Mirza berkorban banyak untuknya, Agnia tak mau merepotkan apa-apa lagi. Pun, ini adalah masalah yang harus dia tangani sendiri. “Cit, kira-kira kalo Kakak ngelamar kerja di kantor Kak Ravin bakal diterima, gak? Tapi Kakak cuma lulusan SMA, kuliah 'kan gak lanjut.” Agnia meracau seperti bicara sendiri, tatapan kosongnya terarah pada jendela. “Kak Nia mau kerja?” Citra ingin memastikan pendengarannya, dan Agnia mengangguk pelan tanpa berkedip. “'Kan Kakak lagi hamil. Masa kerja? Emang Kak Mirza kasih izin?” “Mas Mirza gak usah tau.” Agnia menggeleng frustasi, berdecak serba salah. “Loh?” Citra makin bingung. “Kakak mau cari uang buat ganti rugi motor tadi. Belum mobil Kak Ravin juga rusak.” Agnia menjelaskan niatnya. “Ya ampun, Kak ... Kirain kenapa ....” Citra melongo tak percaya. “Gak usah dipikirin, deh. Kak Ravin masih sanggup ganti rugi, kok.” “Tapi 'kan Kakak yang salah.” Agnia bersikukuh ingin bertanggung jawab. “Mana ada. Kakak udah pasang sen, dianya aja yang nyalip seenak jidat, terus malah nyalahin Kakak.” Citra meyakinkan bahwa Agnia tidak bersalah. “Kak Nia udah, dong ... Kak Ravin juga gak marah, 'kan?” bujuknya lembut. “Kakak gak enak, Cit, sumpah. Kakak ngerepotin banget orangnya.” Agnia tak tenang. Hingga jam makan malam pun tiba, Agnia enggan turun ke lantai bawah untuk bergabung. Selain tidak lapar, ia juga tak mau memperlihatkan wajah sembabnya pada Tari. Terlebih, Ravindra juga ada, Agnia malu bertemu. Tidak mudah menghilangkan rasa bersalahnya, apalagi ia sadar diri sedang menumpang tinggal dan mereka adalah orang-orang yang baru dikenal dalam hidupnya. Citra mengerti perasaan Agnia. Jika memposisikan diri menjadi wanita itu, ia juga pasti akan merasa berdosa atas apa yang terjadi. Semua sudah terjadi, harusnya Agnia berhenti merasa bersalah yang tidak ada gunanya, bukan? Lagi pula, Ravindra pria yang mampu, bisa memperbaiki mobilnya dan mengganti rugi motor tadi. “Loh, Nia gak turun?” Tari celingukan ke belakang tubuh Citra, mencari sosok Agnia. “Masih kenyang katanya, Ma.” Citra hanya beralasan, duduk di samping Ravindra. “Emang udah makan?” Tari ingin tahu. “Tadi makan jajanan banyak banget.” Citra kembali menjawab asal dengan tenangnya. “Oh ....” Tari manggut-manggut mengerti. “Eh iya, tadi Mama beli kerupuk. Bibi simpan di mana, ya. Kok gak ada di sini,” keluhnya, lalu pergi mencari makanan kesukaannya. “Kenapa?” Ravindra menyikut lengan Citra dengan tatapan penasaran yang tinggi. “Kak Nia nangis terus, ngerasa bersalah gitu.” Citra berbisik, persis orang bergosip. “'Kan Kakak juga gak nyalahin dia.” Ravindra mengeluh tak mengerti. “Iya tetep aja Kak Nia ngerasa bersalah. Katanya selain mobil Kak Ravin yang rusak, mesti ganti rugi juga sama yang punya motor.” Citra bercerita. “Kak Nia sampe bilang mau kerja buat nyari uang ganti rugi. Katanya Kak Nia mau ngelamar kerja di kantor, Kak Ravin bakal terima, gak? Tapi ijazahnya SMA.” “Ngaco!” Ravindra mendengkus kesal tak habis pikir. “Mana ada kerja. Dia lagi hamil gitu.” “Maunya Kak Nia.” Citra mengangkat bahu. “Mending Kakak suruh Mirza ganti rugi aja daripada Nia yang kerja.” Ravindra sedikit mengerti kegundahan yang dirasakan Agnia. “Ih, jangan. Kak Nia gak mau Kak Mirza tau soal tadi.” Citra langsung mencegah dengan cepat. “Ya tapi Kakak juga gak bakal biarin dia ngerasa bersalah gitu, Cit. Kakak juga gak minta ganti rugi, 'kan?” Ravindra kesal sendiri. Agnia ingin bertanggung jawab walaupun Ravindra tidak menuntut apa pun? Daripada membiarkan wanita itu bekerja, Ravindra lebih baik meminta ganti rugi kepada adiknya. Terpaksa, ia harus bersikap seperti orang perhitungan. Padahal, demi apa pun, dia justru khawatir pada kondisi tubuh Agnia juga kondisi kandungannya. Usai makan malam, Ravindra bergegas memasuki kamarnya untuk mandi. Pakaian kotor ia simpan di atas ranjang, ada pula pakaian bersih yang disimpan di sofa. Selain dua barang itu, ia juga menyimpan dua CCTV yang sengaja dipasang tersembunyi. Ravindra ingin tahu, pakaian mana yang akan diambil Agnia ketika dirinya pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN