Sejak Ravindra datang, Ferdi merasa ada suatu masalah yang sedang terjadi, terlihat dari wajah pria itu yang sangat kacau. Nadanya bicara juga seolah kehabisan tenaga, lemah dan tak berdaya. Jika orang lain mungkin Ferdi tidak akan kaget, tapi yang terlihat merana adalah seorang Ravindra Syahreza Rajasa, CEO muda yang disegani banyak orang.
“Lo kenapa, Rav?” Ferdi menyikut lengan Ravindra hingga pria itu menoleh.
“Lo masih inget sama cewek yang waktu di Cilegon?” Ravindra bertanya lemah.
“Yang lo bilang, ‘Dia punya gue! Lo-lo jangan ada yang nyentuh dia!’” Ferdi mempraktekkan ucapan Ravindra pada saat itu. “Kenapa emang? Lo ketemu lagi sama itu cewek? Atau lo yang masih inget sama dia?”
“Ternyata ... dia pacarnya adek gue, Mirza.” Ravindra bergumam malas.
“Apa?!” Ferdi bereaksi berlebihan, berteriak saking tak percayanya. “Lo ngomong apa?”
“Dia di rumah gue sekarang. Dia ... dia lagi hamil.” Ravindra bingung mengungkapkan.
“Dia minta lo buat tanggung jawab?” Ferdi tak puas dengan ucapan Ravindra yang tak jelas.
“Dia gak tau gue yang perkosa dia, Fer. Tapi ....” Ravindra bingung menyerukkan isi hatinya.
“Kalo ngomong jangan setengah-setengah!” Ferdi menggeram kesal.
“Dia hamil anak gue, Fer.” Ravindra lalu menunduk dalam.
“Terus, ngapain dia di rumah lo?” Ferdi masih tidak mengerti.
“Dia diusir dari rumahnya gara-gara dia hamil. Si Mirza minta izin ke gue biar ceweknya tinggal di rumah sama Mama, tapi dia sendiri tetep tinggal di Cilegon. Katanya dia mau nikahi ceweknya kalo udah lahiran. Jadi, sementara ini ceweknya tinggal di rumah gue.” Ravindra bercerita panjang lebar.
Masalah ini terlalu rumit untuk Ravindra pendam seorang diri. Demi apa pun, ia sangat menyesal atas apa yang telah diperbuatnya. Terlebih, Agnia adalah kekasih Mirza, adiknya sendiri. Akan sebesar apa masalah ini jika terbongkar? Ravindra menyerah dan tak sanggup meski hanya membayangkannya saja.
Ya, awalnya Ravindra setengah percaya bahwa Agnia hamil oleh Mirza hingga ia bisa bersikap sedikit santai. Namun, apa yang didengarnya hari ini dari mulut Agnia sendiri membuat pikirannya sangat kacau. Jujur Ravindra kagum atas ketulusan Mirza pada Agnia, mau bertanggung jawab meski bukan dia pelakunya. Tapi, entah mengapa justru Ravindra merasa tak terima dan tak setuju.
Pada malam itu, Ravindra, Ferdi, dan Danis sedang berada di Kota Cilegon untuk kepentingan perusahaan. Namun, Ravindra membatalkan pertemuan bersama klien tanpa alasan hingga Mirza terpaksa menggantikannya, padahal pria itu sudah berencana untuk menjemput Agnia. Sebaliknya, Ravindra dan lainnya malah mabuk-mabukan.
Ferdi dan Danis yang memang senang menghabiskan malamnya bersama wanita, sudah memanggil seorang PSK untuk datang ke kamar hotelnya. Ravindra tak berniat untuk mengikuti kebiasaan buruk mereka berdua, tapi obrolan mereka tentang adegan dewasa membuatnya membayangkan hingga merusak jalan pikirnya.
“Fer, kayaknya gue juga butuh cewek.” Ravindra bergumam, matanya tertutup saat efek alkohol sedang memanjakannya.
“Balik ke Jakarta sana. Si Silvi kayaknya mau aja lo tidurin.” Ferdi yang mengemudikan mobil tersebut menyahutinya dengan asal.
“Ck! Jangan bercanda lo!” Ravindra menatap tak suka, risih mendengar nama kekasihnya.
“Heh, hidup lo jadi taruhannya kalo si Silvi tau lo main sama cewek lain.” Danis yang duduk di samping Ferdi ikut bicara.
“Bodo, Dan, bodo! Lo pikir gue takut sama dia?” Ravindra tak peduli, malah jengah mendengar wanita itu disebut-sebut.
“Cewek tuh sendirian.” Danis berseru ketika melihat Agnia berdiri di pinggir jalan.
“Awas aja kunti,” celetuk Ferdi seenaknya.
“Mana ada. Tempatnya masih lumayan rame gini.” Danis yakin wanita itu adalah manusia, bukan halusinasinya saja.
Ferdi sengaja merendahkan kecepatan guna melihat wajah Agnia dengan jelas. Danis yang berada di sisi kiri, mengamati wajah cantik Agnia yang sangat menggoda. Sebenarnya wanita itu berpakaian cukup rapi dan tertutup, akan tetapi justru wajah 'tak berdosa' itulah yang menjadi daya tarik dan membuat pria-pria menginginkannya.
“Fer, Fer, berhenti, berhenti.” Ravindra memerintah sesukanya. Ibu jarinya menunjuk Agnia saat berkata, “Gue mau dia.”
“Yang bener, Rav.” Ferdi berdecak malas, yakin sepupunya hanya bercanda.
“Masukin dia ke sini. Cepetan!” titah Ravindra tak sabaran.
“Lo gila? Gimana kalo ada yang lihat?” Danis ragu, sadar perintah Ravindra tidaklah benar.
“Bodo amat! Gue mau dia! Keluar lo pada!” Ravindra tak mau tahu.
Ferdi dan Danis saling pandang selama beberapa detik. Ragu, tapi akhirnya Ferdi memundurkan mobilnya hingga berhenti tepat di hadapan Agnia. Danis yang berada di sisi kiri segera keluar, disusul Ferdi yang juga bergegas keluar. Sementara Ravindra sendiri, tak sudi membuang tenaganya dan tetap berada di dalam mobil.
Mulanya Agnia tetap tenang saat mobil berwarna hitam berhenti di depannya, mengira mobil tersebut adalah taksi online yang sudah dipesannya. Namun, ia diserang kepanikan ketika Ferdi dan Danis melakukan gerak-gerik mencurigakan. Dalam keadaan takut, Agnia bukannya berlari, malah tak sadarkan diri.
Agnia mengidap gangguan kecemasan sejak kecil yang membuatnya sering merasa gugup, gelisah, ataupun takut tanpa alasan. Selalu merasa akan ada bahaya yang akan datang, selalu menganggap orang asing akan menyakitinya. Gangguan kecemasannya itu terjadi saat Ferdi dan Danis menghampirinya, dia tak sadarkan diri sebelum tahu niat kedatangan mereka.
Usai menempatkan Agnia di kursi belakang bersama Ravindra, Ferdi dan Danis segera memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu secepatnya. Entah apa yang direncanakan takdir hingga pengendara lain tidak menyadari adanya kejahatan, padahal kondisi jalanan masih cukup ramai.
“Kenapa dia? Kalian pukul?” Ravindra melotot tajam, mengira mereka telah menyakiti Agnia.
“Dia pingsan sebelum gue sampai.” Danis membantah, memang itulah yang terjadi.
“Aduh.” Ferdi terlihat tak tenang seolah menyesali sesuatu. “Kayaknya dia lagi sakit.”
“Kayaknya, sih, gitu. Aneh aja. Kita belum ngapa-ngapain, dia udah pingsan duluan.” Danis setuju atas ucapan Ferdi.
“Nah, iya, itu. Kayaknya dia lagi sakit.” Ferdi manggut-manggut dengan cepat, yakin wanita yang diculiknya sedang sakit.
Pria yang sedang setengah mabuk itu tetap bergeming, malah sibuk menelisik wajah Agnia yang tengah berbaring di pahanya. Meskipun tanpa riasan dan berpakaian sederhana, percayalah, wanita itu dapat mengalahkan kecantikan seorang artis sekalipun. Selain cantik, dia juga sangat manis!
Kulit putihnya begitu berseri seolah tak pernah terpapar sinar matahari. Bulu matanya sangat lentik, menjadi pemandangan yang indah andai saja bertatapan secara langsung. Hidungnya mancung dan mungil, serta dagu lancip yang sempurna dipadukan dengan bentuk wajahnya yang oval.
“Rav?” Ferdi mengkhawatirkan sesuatu. “Kita keluarin aja gimana? Ntar gue telepon ambulan buat bawa dia ke rumah sakit. Yang penting gak ada yang tau kalo kita yang nyulik dia,” lanjutnya.
“Gue mau dia.” Ravindra tak ingin menggagalkan impiannya, yaitu menikmati setiap inci dari tubuh Agnia.
“Ehem ... Gue juga mau kali, Rav.” Danis sengaja berdeham keras, berharap Ravindra mengerti.
“Apa?” Ravindra berubah muram, bertanya dengan nada kesal.
“Lo aja dulu, entar baru gue.” Danis dengan 'bijaksana' mengalah.
“Nyari mati lo?!” Ravindra semakin murka mendengar kalimat sialan itu.
“Jangan lupa, gue yang udah bawa dia masuk ke dalam mobil.” Danis mengingatkan, nadanya terdengar sombong.
“Enak aja minta giliran! Dia milik gue, dan gak ada satu pun dari kalian yang bisa sentuh dia!” Ravindra memperingati sekaligus mengancam.
“Wes ... Sok posesif lo! Inget Silvi, woy!” Ferdi merasa geli sendiri.
“Gak usah sebut nama dia, bisa?!” Ravindra menendang kursi Ferdi dari belakang.
Sesampainya di hotel, Ravindra langsung membawa Agnia ke dalam kamarnya tanpa bantuan Ferdi ataupun Danis. Wanita malang itu tetap diam, tak merespons apa pun atas sentuhan yang dilakukan Ravindra pada tubuhnya. Sementara Ravindra, dengan sangat leluasa menikmatinya.
Sejujurnya Ravindra tidak pernah segila itu, menculik seorang wanita lalu memerkosanya. Juga, ia tidak pernah bermalam bersama wanita mana pun termasuk bersama kekasihnya sendiri. Namun, entah mengapa wajah cantik Agnia begitu cepat menarik hatinya hingga sulit dikendalikan.
Setelah birahinya tersalurkan, Ravindra baru menyesali sesuatu. Wanita yang dijamahnya ternyata belum pernah melakukan itu. Karena rencananya mendadak, Ravindra tak memakai pelindung, tak memikirkan bagaimana akibatnya nanti. Agnia juga tetap tak sadarkan diri.
Sempat ingin menghubungi dokter, tapi bagaimana jika dokter memberikan pertanyaan yang tidak bisa Ravindra jawab? Bagaimana jika Agnia memerlukan tindakan medis yang artinya harus dibawa ke rumah sakit? Bagaimana jika ia malah menjadi seorang tersangka kejahatan?
Paginya, Ravindra meninggalkan Agnia dalam posisinya yang masih belum sadarkan diri. Sebelum pergi, ia meminta salah satu karyawan hotel untuk menjaga Agnia. Selain itu, ia juga memberikan sejumlah uang agar pihak hotel menyerahkan salinan CCTV untuk menghilangkan jejak.
***
Sejak kejadian itu, Ravindra selalu dihantui rasa bersalah. Mulanya ia pikir akan berlalu, tapi ternyata perasaan bersalahnya makin membesar dari hari ke hari. Ravindra menyerah pada egonya, berniat mencari Agnia untuk bertanggung jawab. Namun, orang suruhannya memberikan informasi bahwa wanita itu adalah kekasih Mirza dan saat itu juga Ravindra merasa setengah depresi.
Ravindra pernah berandai-andai akan bertemu Agnia kembali, wanita yang berhasil bersemayam di hatinya, sering kali mengusik ketenangannya, menguasai seluruh pikirannya. Tanpa diminta, takdir memang mempertemukannya kembali. Tapi, Agnia datang sebagai kekasih bahkan calon istri Mirza, bukan hadir untuk menjadi pendampingnya.
Ravindra benci mengetahui kebenaran ini, benci dengan keadaan yang membuatnya terasa di jalan buntu, benci pada dirinya sendiri yang telah membuat kekacauan hingga wanita yang dihamilinya ingin menggugurkan kandungan, benci membayangkan Mirza yang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dilakukannya.
Ravindra bisa saja diam dan membiarkan Mirza menikahi Agnia. Tapi, apakah rahasia ini akan selamanya tertutup? Bagaimana jika terjadi sesuatu hingga terbongkarnya rahasia besar ini? Terlebih jika Agnia dan Mirza sudah menikah, situasinya akan semakin rumit. Masalahnya, Ravindra juga tak tahu harus berbuat apa untuk mencari jalan keluar.
“Kenapa harus Mirza yang jadi cowoknya? Gue mau tanggung jawab! Tapi kalo posisinya kayak gini, mana mungkin gue nikahin dia.” Ravindra meracau seperti orang frustasi.
“Gue ngerasa ini mimpi, Rav. Kita nyulik cewek random, 'kan? Seluas-luasnya dunia, kenapa harus ceweknya si Mirza yang kena?” Ferdi sama bingungnya, tercengang, nyaris tak percaya.
“Apalagi gue.” Ravindra mendesah berat.
“Tapi ya ... untung aja dia gak tau siapa yang nyulik dia. Berabe urusannya.” Ferdi pikir masalah Ravindra tidak terlalu berat.
“Lo pikir masalah selesai cuma karena dia gak tau tentang itu?!” Ravindra berubah murka, Ferdi terkesan menyepelekan masalah ini.
“Terus mau lo apa? Gak mungkin lo ujug-ujug ngaku terus nikahin dia, 'kan? Lupain soal dia, fokus sama Silvi aja. Satu lagi, anggap dia hamil sama Mirza biar lo gak ngerasa terbebani.” Ferdi kembali memberi saran dengan sikap tak pedulinya.
“Lo tau sendiri hubungan gue sama si Silvi kayak gimana. Kalo bukan paksaan Nenek, males gue, sumpah.” Ravindra menggelengkan kepalanya, tak percaya Ferdi malah membahas Silvia. “Gue baru bisa tenang kalo ada jaminan rahasia ini gak bakal kebongkar, Fer. Sumpah, gue gak tenang.”
“Kayaknya gue punya ide bagus.” Ferdi menerawang jauh, merangkai rencananya.
“Ide apa?” Ravindra menatap curiga.