Bagai tak ingin menemui hari esok, Ravindra mengendarai mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan. Tak heran, banyak pengendara lain yang memprotes dengan cara membunyikan klakson bahkan berteriak. Ravindra tak peduli, bahkan tak sudi melambatkan laju mobilnya dan terus menguasai jalanan.
Ferdi memberikan saran agar Ravindra merencanakan sesuatu supaya Agnia mengalami keguguran. Menurutnya, masalah akan selesai dengan cara seperti itu. Ravindra tidak akan merasa bersalah dan melupakan yang telah terjadi. Biarlah Mirza yang menikahi Agnia seperti seharusnya. Tapi, tidakkah cara itu kejam dan tidak manusiawi?
Kedua janin itu tak tahu apa-apa, bahkan ibunya pun demikian. Ravindra sudah merasa sangat berdosa dengan memerkosa seorang wanita yang tak dikenalinya, dan ternyata wanita itu adalah kekasih Mirza. Demi apa pun, ia tak mau menambah dosa dengan membunuh kedua calon anaknya.
Citra
Kalo masalah Kakak belum kelar, jangan pulang dulu. Kasian Kak Nia kayak syok gitu.
22:11
Citra
Uang jajan transfer aja, Kak.
22:18
Ravindra
Ngelarang pulang tapi minta duitnya.
22:31
Citra
Ya 'kan beda itu mah, Kak.
22:32
Ravindra
Kenapa belum tidur? Besok sekolah, 'kan?
22:34
Citra
Abis nemenin Kak Nia.
22:34
Ravindra
Kenapa harus ditemenin?
22:34
Citra
Kak Nia susah tidur. Dari tadi muntah-muntah mulu. Katanya masih kebayang darah Kakak, bikin Kak Nia mual terus. Ini dari tadi gak berhenti ngemutin gula merah.
22:36
Ravindra
Gak ada permen?
22:36
Citra
Ada, cuma permennya rasa buah, Kak Nia gak mau.
22:37
Ravindra
Bilangin maaf dari Kakak.
22:39
Citra
Lagian Kak Ravin tumben-tumbenan marah-marah kayak tadi. Biasanya juga kalo lagi berantem sama Kak Silvi gak gitu.
22:44
Ravindra tak membalas pesan lagi, segera mengirimkan uang jajan Citra untuk satu minggu sebesar 500 ribu. Selain membiayai kebutuhan pokok adik bungsunya, ia juga terbiasa mengirim uang bulanan pada Tari. Hanya Mirza yang hampir tak pernah dia kirimi uang, tentu karena pria itu sudah memimpin kantor cabang di Cilegon.
Merasa tersinggung karena diminta untuk tidak pulang, padahal rumah itu adalah milik orang tuanya? Ravindra tidak keberatan, memang sebaiknya begitu. Pulang ke rumah hanya akan membuatnya makin tertekan. Ravindra sudah memutuskan untuk tidak pulang selama dirinya belum siap bertatap wajah bersama Agnia.
Di tempat lain
“Makan dikit aja, Sayang. Asal ke isi perut kamu. Biar gak lemes gitu.” Mirza tak bosan membujuk, memperhatikan wajah Agnia yang tampak lesu di layar ponselnya. “Coba kalo aku di sana, aku suapin pake sendok tembok biar langsung masuk banyak!” candanya.
“Aku risih lihat nasi. Kayak ... jijik gitu.” Agnia tak bisa memaksakan diri untuk makan.
“'Kan bisa makan yang lain. Makan sayurnya kek, roti, snack, buah-buahan, atau apa gitu.” Mirza masih saja nyerocos. “Muka kamu pucet, loh. Kalo kamu sampai sakit, pasti ngerepotin aku.”
“Kok ngerepotin kamu? Yang repot ya paling Mama sama Citra.” Agnia mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Aku juga repot mikirin kamu! Dikira aku bakal tenang kamu sakit di sana? Jauh, loh. Aku susah mau nengoknya!” Mirza mendumal kesal.
“Aku gak sakit, tapi kamu malah mikirin cara nengok aku. Heran, deh.” Agnia tersipu mendengar kekhawatiran pria di sebrang sana.
“Aku maunya ada di sana, di samping kamu, temenin kamu. Tapi kamunya gak pengertian. Udah tau jauh dari aku, kamunya susah jaga kesehatan. Mau gimana coba?” Mirza menampilkan mimik gemas yang diiringi nada rengekan. “Paksain makan sesuatu. Jangan sampai kamu sakit!”
“Iya, bawel.” Agnia bosan juga mendengar ocehan kekasihnya.
“Asli, kalo aku di sana, udah aku lelepin makanan ke mulut kamu. Apa susahnya sih tinggal mangap, terus telen?” Mirza gemas sendiri.
“Nih, lihat, aku makan sesuatu.” Agnia lalu memperlihatkan potongan gula merah yang masuk ke mulutnya.
“Yah, gula lagi. Gigi kamu sakit entar.” Mirza malah mendumal karena lagi-lagi hanya gula merah yang Agnia makan.
Mirza tetap terjaga untuk menemani Agnia yang sulit tidur. Meski hanya bertatap wajah melalui video call, mereka berdua tidak merasa kehilangan karena jarak. Hampir setiap jam Mirza mengirimi pesan, beberapa jam sekali dia menelpon, dan akan menghabiskan malamnya untuk video call. Bagaimana mereka akan merasa terpisahkan?
Keesokan harinya
Ravindra tetap pergi ke kantor meski tidak banyak yang bisa dia lakukan perkara tangannya terluka. Teringat kondisi Agnia, pria yang tengah dilanda dilema itu malah sibuk mencari camilan yang baik dikonsumsi ibu hamil melalui internet. Tak hanya camilan, ia juga mencari wewangian yang dapat mengurangi rasa mual dan pusing.
Ingin rasanya mencari tahu kondisi Agnia saat ini, tapi pada siapa Ravindra bertanya? Tak mungkin bertanya pada orang rumah, ia harap barang yang dibelinya berguna untuk wanita itu. Agnia sulit makan? Ravindra sempat berniat ingin membeli makanan yang biasanya disukai wanita hamil, tapi ia tak ingin membuat orang rumah curiga.
“Rav, kamu minta Tito buat kirim permen sama aroma terapi ke rumah?” Tari ingin memastikan ucapan Tito, supir pribadi Ravindra.
“Duh, Tito salah denger kayaknya. Aku suruh simpan di apartemen kok malah ke rumah.” Ravindra pura-pura tak tahu, bahkan memprotes 'kesalahan' supirnya.
“Terus ini gimana? Mana banyak banget lagi. Mama kirim lagi ke apartemen kamu, ya?” Tari merasa tak enak.
“Gak usah, Ma. Nanti aku beli lagi aja buat di apartemen.” Ravindra segera mencegah, justru ingin yang dibelinya dipakai oleh Agnia.
“Mama simpan di kamar kamu aja kalo gitu.” Tari tetap sungkan, tak pernah berani menggunakan barang milik Ravindra.
“Permen makan aja, Ma. Aroma terapi juga pakai aja buat orang rumah. Nanti aku beli lagi. Gampang, kok.” Ravindra kembali meyakinkan bahwa ia tidak keberatan.
“Ya udah kalo gitu. Terima kasih permen sama aroma terapinya, ya.” Tari baru merasa lega. “Kamu masuk kantor?”
“Masuk, Ma. Lagian cuma luka kecil gini, aku gak kenapa-kenapa,” jawab Ravindra enteng.
“Harusnya kamu istirahat aja dulu. Tenangin pikiran kamu.” Tari menegur, khawatir.
“Gak apa-apa, Ma. Aku tutup, ya.” Ravindra lalu mengakhiri sambungan telepon.
Siapa sangka, Agnia memang sangat terbantu oleh permen dan aroma terapi kiriman Ravindra yang dapat mengurangi rasa mual dan pusing. Ada beberapa varian permen dan yang paling Agnia sukai adalah rasa peppermint dan xylitol. Aroma terapi berbentuk alat diffuser juga cukup membuatnya nyaman tanpa rasa pusing.
***
Sudah berhari-hari Ravindra tak pulang ke rumah karena tak siap bertemu Agnia, tapi hari ini ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu wanita itu. Hatinya bosan menyangkal, bahwa begitu besar rindu untuknya. Ingin sekali menatap wajahnya yang sangat cantik, juga mendengar suara lembutnya yang dapat menenangkan hati.
Niat Ravindra untuk cepat pulang harus tertunda karena ada urusan mendadak. Dengan berat hati, ia terpaksa pulang larut malam. Sedikit kecewa karena sepertinya Agnia sudah tertidur, tapi tak apa, masih ada besok untuk bertemu sang pujaan. Ia pun tak sabar ingin melihat kondisi tubuh dan perkembangan calon kedua anaknya.
Ketika akan menaiki tangga menuju lantai dua, langkah Ravindra terhenti, merasa aneh karena pintu belakang terbuka lebar sedangkan suasana sudah sepi. Tak jadi naik tangga, ia ingin memeriksanya lebih dulu. Dari kejauhan, terlihat seorang wanita berpakaian piyama sedang berusaha menaiki tangga di pohon mangga.
“Agnia!” teriak Ravindra di gawang pintu, lalu melangkah lebar menghampiri Agnia. “Kamu mau naik ke atas pohon?!” sentaknya tak habis pikir.
“Nggak boleh, ya, Kak?” Agnia gugup.
“Ngaco! Malah nanya! Mau ngapain ke atas pohon?!” Ravindra melotot tak santai.
Agnia tak langsung menyahuti, malah terlihat bingung menjawab maupun bertindak. Sesaat kemudian, kepalanya terangkat mengarah ke atas pohon. “Aku ... mau mangga,” ucapnya pelan.
“Gak ada buah-buahan di rumah? Kenapa harus buah yang belum matang sama sekali?” Ravindra kesal sekaligus tak mengerti.
“Aku emang lagi mau mangga muda, Kak.” Agnia terlihat malu.
“Malam-malam gini?” Ravindra mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian, ia ingat Lusi—istri Ferdi yang juga sering menginginkan hal aneh karena ngidam. Melihat wajah Agnia yang tertekan, ia jadi merasa bersalah. “Bukan gak boleh makan buahnya, tapi masa kamu manjat pohon.”
“Gak apa-apa, Kak. Cuma bentar, kok. Aku cuma mau ambil satu buah aja, gak banyak.” Agnia begitu antusiasnya meminta izin.
“Bukan masalah bentar atau—”
“Aku gak bisa tidur gara-gara mau buah itu.” Kali ini Agnia sedikit merengek, berharap Ravindra memberi izin tanpa banyak bicara. “Harumnya nyengat ke kamar. Aku jadi kepikiran terus.”
“Saya aja yang manjat.” Ravindra tak akan membiarkan Agnia memanjat pohon.
“Nggak perlu, Kak. Kak Ravin istirahat aja.” Agnia tak mau merepotkan, sungguh.
“Yang ada kamu yang harusnya istirahat.” Ravindra segera melepaskan blazer-nya, lalu menyodorkannya pada Agnia. “Pegang ini. Kamu tunggu di dalam,” titahnya.
“Aku nunggu di sini.” Agnia menolak tegas.
“Ternyata kamu keras kepala.” Ravindra bergumam sembari menggeleng pelan.
Kepala Ravindra sempat melirik ke beberapa arah. Sial, tidak ada satu pun pekerja yang dapat dimintai pertolongan untuk memanjat pohon. Supir pribadinya langsung pulang usai mengantarkannya, dan ia malas menghubungi security di depan. Baiklah, tak apa, dia harus terlihat bak seorang berjasa, bukan? Ia pun mulai memanjat pohon.
Buah mangga di sana tampak lebat, tapi tidak ada satu pun yang terlihat sudah matang, semuanya masih muda. Wajah Ravindra meringis membayangkan asamnya buah itu. Wanita hamil memang aneh! Ravindra sudah pernah merasa aneh akan tingkah Lusi. Sekarang, Agnia pun sama konyolnya. Baiklah, mungkin semua wanita hamil memang begitu, Ravindra tak mau pusing.
“Nia, buahnya gak ada yang matang, loh.” Ravindra terus mencari buah mangga yang cukup matang, tapi tidak ada.
“Aku emang mau yang mentah, Kak.” Agnia sedikit berteriak, takutnya Ravindra kurang mendengar sahutannya.
“Asem, Nia. Gak baik buat usus kamu.” Ravindra mengingatkan, terdengar khawatir.
“Aku mau, Kak.” Agnia menegaskan dengan suaranya yang merengek campur tak sabar.
“Yakin? Awas aja gak kamu makan.” Ravindra menggerutu kembali, khawatir tidak dimakan.
“Janji, aku makan, Kak!” Agnia meninggikan suaranya, kesal dengan basa-basi pria itu.
“Sakit perut baru tau rasa!” Ravindra lalu memetik tiga buah mangga sekaligus.
Namun, satu mangga yang digenggam Ravindra terjatuh hingga mengenai wajah Agnia yang sedang mengadah ke atas. Sontak, Agnia menunduk saat matanya kemasukan sesuatu yang berasal dari buah mangga. Melihat itu, Ravindra panik dan langsung meloncat tanpa melalui tangga. Tangannya reflek mengangkat wajah Agnia, ingin memeriksanya.
“Sayang?”
Suara Mirza berhasil membuat Agnia dan Ravindra menoleh secara bersamaan. Wajah Mirza sungguh tak enak dipandang, sedangkan Agnia diserang perasaan tak enak. Tatapan Mirza begitu menghunus hingga Agnia tak dapat bicara, dan Ravindra pun sama terdiamnya. Pria itu pasti salah paham karena posisi Agnia dan Ravindra seperti sedang melakukan sesuatu, yaitu berciuman!