“Ngapain kalian di sini?” Mirza menatap Agnia dan Ravindra silih berganti dan mengintimidasi.
Tak ingin dicurigai, Ravindra sengaja menyambar blazer miliknya dari tangan Agnia dengan kasar, lalu berjalan ke arah Mirza dengan wajah tak santai. “Cewek lo nyusahin!” umpatnya, kemudian berlalu ke dalam rumah.
“Mas Mirza jangan berpikir yang nggak-nggak. Aku tadinya mau ambil mangga sendiri, tapi Kak Ravin bantu aku ambilin. Tiba-tiba mangganya jatuh, kena muka aku. Ini ada yang masuk ke mata aku, Mas.” Agnia memperlihatkan mata kirinya yang memerah dan berair.
Mirza mengenal Agnia dengan sangat baik, yakin wanita di hadapannya itu tidak sedang berbohong. Adanya buah mangga yang berserakan di sekitar pohon menjadi sebuah bukti atas ucapan Agnia. Tak mau mempermasalahkan hal tadi, Mirza akhirnya memeriksa mata kiri Agnia. Agnia sendiri merasa lega karena Mirza mempercayainya.
Setelah keadaan Agnia sudah membaik, Mirza bergerak ke arah pohon untuk memunguti tiga buah mangga, lalu kembali ke arah Agnia dan merangkulnya untuk memasuki rumah. Tidak perlu diberitahu, ia sudah tahu bahwa kekasihnya sedang mengalami ngidam dengan menginginkan buah mangga mentah malam-malam begini.
“Katanya kamu gak jadi pulang.” Agnia melirik pria di sampingnya dengan wajah bingung.
“Aku mau kasih kejutan, malah aku yang terkejut.” Mirza berubah kesal mengingat kejadian tadi, yaitu sikap Ravindra terhadap Agnia yang terkesan berlebihan bahkan lancang.
“Maksudnya?” Agnia tak mengerti.
“Tiap malam kamu mau mangga?” Mirza penasaran, mengira Ravindra sering membantu Agnia memetik buah.
“Baru sekarang.” Agnia menggeleng pelan.
“Harusnya besok aja mau mangganya, biar aku yang manjat.” Mirza lalu memutus kontak mata dengan mengarahkan pandangannya ke depan.
“Aku gak mau repotin siapa pun termasuk kamu. Apalagi kalo soal ngidam, aku gak mau repotin kamu kayak ngambil buah dari pohonnya gini.” Agnia menggeleng tegas, tak mau merepotkan siapa pun atas idamnya.
“Kenapa?” Mirza menghentikan langkahnya tiba-tiba, merasa tersinggung akan suatu hal.
“Karena kamu bukan ayahnya.” Agnia menjawab lirih diiringi mata yang berkaca-kaca.
“Terus yang barusan apa? Emangnya Ravin ayahnya bayi kamu, jadi dia berhak turutin idam kamu?” Mirza memutar kata dengan entengnya.
“Bukan gitu, Mas. Kak Ravin yang maksa mau bantu. Katanya masa aku mau manjat pohon.” Sekali lagi, Agnia menjelaskan dengan suara lembutnya, tak ingin Mirza merasa cemburu pada kakaknya sendiri. “Aku udah jadi beban berat buat kamu, jangan sampai anak-anak aku repotin kamu dari sekarang.”
Mirza sudah berkorban banyak hingga berbohong pada keluarganya sendiri, dan Agnia tak mau pria itu kerepotan karena ngidamnya selama hamil. Mirza akan kerepotan dengan berperan sebagai ayah nanti, tepatnya setelah menikah. Jadi, Agnia ingin mandiri untuk saat ini, melakukan apa pun untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Sedari dulu, Mirza paling tidak suka sikap tidak enakan yang dimiliki Agnia. Wanita itu tak pernah meminta apa pun, baik materi maupun barang. Sekalinya Mirza mengirim uang, pasti dia kembalikan sebagian dengan alasan kebanyakan. Jika diberi sebuah barang, dia akan merasa tak enak seakan Mirza akan kehabisan uangnya saja.
Ini adalah pertama kalinya Mirza pulang ke rumah selama Agnia tinggal di sana. Tadi sore ia sempat mengatakan tidak jadi pulang, bermaksud agar Agnia tidak menantinya dan ia akan datang sebagai kejutan. Tapi, rencananya harus terganggu saat ada masalah kantor yang harus ditanganinya lebih dulu hingga dia pulang larut malam.
Mirza memang tipikal pencemburu pada pria mana pun, termasuk pada Ravindra. Dia tidak akan diam saja melihat pria lain mendekati apalagi sampai menginginkan Agnia-nya. Agnia sendiri mengakui betapa besar kecemburuan pria itu, dan ia tidak risih sama sekali. Sebaliknya, ia merasa benar-benar disayangi dengan setulus hati.
Tak sempat makan saat di Cilegon, Mirza melipir ke dapur untuk mengisi perut. Agnia ada di sampingnya, hanya saja yang dia santap adalah buah mangga yang sudah ditaburi garam. Bagai rasanya sangat manis, wanita itu begitu menikmati buah mangganya dengan tenang, berbeda dengan Mirza yang meringis membayangkan rasanya.
“Mama bilang kamu jarang makan. Jangan dibiasakan. Gak baik tau,” kata Mirza di sela-sela makannya. “Denger gak, sih?” tegurnya karena Agnia tidak menyahuti.
“Aku lagi gak nafsu makan, Mas. Kadang mau yang seger-seger kayak mangga ini. Aku udah mau buah ini dari kemarin malam, tapi gak berani ambil tadinya.” Agnia menjelaskan.
“Siangnya gak mau?” Mirza menyinggung. Kenapa harus malam dan tidak tadi siang?
“Siangnya gak kepikiran, malamnya baru inget karena nyium baunya,” jawab Agnia sekenanya.
“Tapi kamu juga harus makan, Sayang. Sini, aku suapin.” Mirza menyodorkan sendok berisi makanan, tapi Agnia buru-buru menghindarinya dengan tatapan jijik. “Dikit aja,” bujuknya.
“Mas, itu berlemak tau.” Agnia siaga untuk menutup mulutnya jika Mirza memaksa.
“Sejak kapan kamu takut gemuk? Bukannya kamu suka makanan berlemak?” Mirza mendelik aneh, tahu Agnia suka makanan berlemak.
“Aku lagi eneg sama makanan berlemak.” Agnia kembali sibuk dengan buah mangganya.
“Sayur, nih.” Kali ini Mirza menyodorkan sendok yang hanya berisi sayuran dan bukan gulai.
“Gak mau.” Agnia tetap menolak.
“Bilang aja gak mau makan!” Mirza mendelikkan matanya kesal.
“Itu tau.” Agnia tampak masa bodoh.
“Tapi 'kan bisa makan sayurnya aja kalo gak mau makan nasi.” Mirza memberikan nasehat.
“Iya, nanti aja.” Agnia malas berdebat lagi.
Di lantai atas
Ravindra sedang menenangkan diri dengan cara merendam tubuhnya di dalam bathtub. Dentuman jantungnya masih bertalu-talu, pikirannya masih berputar-putar pada kejadian tadi. Ravindra benci mendengar Mirza memanggil Agnia dengan panggilan ‘Sayang’, sedangkan hatinya sudah mengklaim wanita itu adalah miliknya.
Sepertinya keputusannya pulang sangat salah. Jika bisa, Ravindra ingin memutar waktu, tak sudi melihat 'kebenaran' bahwa Agnia adalah kekasih Mirza. Tapi, tunggu ... Jika dia tak pulang, maka dia tidak memiliki kesempatan untuk mengabulkan keinginan Agnia yaitu mangga muda. Dia juga sempat sedikit berinteraksi, bukan?
“Kak Nia kenapa gak bilang kalo Kak Mirza pulang?” Citra langsung heboh saat datang ke meja makan untuk sarapan bersama.
“Kakak kamu katanya gak jadi pulang, terus tiba-tiba udah di rumah aja.” Agnia menggidikkan bahunya sekilas.
“Wah, ceritanya mau bikin kejutan, gitu? Bawa bunga, gak?” Citra mendekati wajah Agnia hanya untuk berbisik. Percuma, ucapannya tetap saja terdengar orang lain.
“Nggak,” jawab Agnia singkat.
“Dih, gak romantis banget. Terus ngapain pulang tiba-tiba coba? Mau bikin kejutan kok setengah-setengah. Harusnya tuh Kak Mirza bawa bunga yang cantik, sekalian coklat yang banyak juga biar aku nyicip.” Citra mengomel, mencibir kakaknya sendiri.
“Gak romantis kamu bilang?” Mirza tampaknya tak terima. Tangan kirinya bergerak, merangkul bahu Agnia. “Sayang, kita lihatin keromantisan kita,” ucapnya lembut.
“Mas.” Agnia malah risih, tak biasa kontak fisik, juga malu karena ada Tari dan Citra.
“Biar dia tau romantisnya kita kayak apa.” Mirza mendelik sombong ke arah Citra.
“Tapi gak gitu juga, Kak. Itu namanya lebay! Gak di depan umum kayak gini juga. Hadeh!” Citra memutar bola matanya dengan malas.
Melihat perlakuan Mirza terhadap Agnia dari kejauhan, hati Ravindra langsung menggerutu tak jelas. Wajahnya kian tak enak dipandang, auranya pun terasa berbahaya. Jika bukan karena Agnia, ia tak sudi sarapan bersama. Pemandangan yang sangat memuakkan! Pantaskah ia merasa tak terima melihat kebersamaan sepasang kekasih itu?
Tapi, walau bagaimanapun Ravindra tetap berusaha untuk bersikap santai, tak mau terlihat aneh yang malah membuat mereka bingung. Melihat wajah cantik Agnia, sudah cukup mengobati rindunya. Dia terlihat baik-baik saja, itu yang terpenting. Terlebih, Agnia begitu lahap menyantap sarapannya. Jujur saja, Ravindra senang mengingat kedua calon anaknya tumbuh dengan baik.
“Kak Mirza mau jalan sama Kak Nia, gak?” tanya Citra dengan maksud lain.
“Jalan ke mana?” Mirza tampak bingung.
“Aku 'kan nanya, malah balik nanya.” Citra berdecak kesal. “Malam minggu, loh, Kak. Gak ada niatan buat jalan-jalan gitu?”
“Kayaknya yang mau jalan-jalan kamu, deh.” Mirza menatap curiga.
“Pinter. Seratus buat Kak Mirza.” Citra tak mengelak, malah mengacungkan jempolnya tak tahu malu. “Jadi, kita mau ke mana?”
“Kalopun Kakak mau jalan sama Nia, mana mungkin ngajak kamu!” Mirza sewot sendiri.
“Dih, gak bisa gitu, dong! Aku harus ikut pokoknya!” Citra tak mau tahu. Pandangannya lalu terarah pada Agnia, menampilkan wajahnya yang merengek. “Kak Nia, aku mau ikut, ih.”
“Mending ikut pengajian aja sama Mama.” Tari hanya asal mengajak, padahal ia sendiri yakin putrinya tak mau ikut.
“Nah, itu baru bener. Sekalian ruqyah aja, Ma, ikhlas aku.” Mirza manggut-manggut setuju.
“Ih!” Citra mencubit lengan Mirza.
“Aw!” Mirza jelas memekik keras sambil melotot kesal. “Sakit tau.”
“Rasain!” Citra merasa puas. “Pokoknya aku mau ikut ke mana aja Kakak pergi!”
Kepala Ravindra memang tertunduk mengarah ke mangkuk sarapan, tapi sudut matanya tak henti memperhatikan gerakan Agnia yang duduk di samping Mirza, di sebrangnya. Wanita itu tertawa kecil saat terhibur oleh interaksi Mirza bersama Citra, Ravindra ikut tersenyum dalam diam.
“Kak Ravin sariawan? Tumben diem?” Citra menyikut lengan sang kakak hingga pria itu menolehnya. “Kantor lagi nyari pinjeman?” candanya karena Ravindra terlihat banyak pikiran bagai kantor Rajasa sedang mengalami krisis.
“Nonton aja, yuk?” ajak Mirza pada Agnia.
“Ayok.” Citra menyahuti dengan antusias.
“Gak ngajak kamu!” Mirza terlihat jengah.
“Bodo.” Citra tak peduli, yang jelas ia ingin ikut ke mana pun kakaknya akan pergi. “Kakak iyain aja, Kak. Aku mau ikut,” rengeknya pada Agnia.
“Boleh.” Agnia mengangguk setuju.
“Rav, lo mau gabung? Ajak Silvi.” Mirza turut mengajak Ravindra untuk bergabung.
“Oke.” Ravindra mengiyakan dengan cepat.
“Serius? Jadi double date? Asik ... Akhirnya, aku bisa makan di luar sepuasnya pake duit Kak Mirza. Abis itu pulangnya langsung nge-mall pake duit Kak Ravin. Nikmat mana yang aku dustakan.” Citra kegirangan seketika, tak malu berjoget ria.