Kepulangan Mirza nyatanya tak mampu membuat hati Agnia sedikit membaik, yang ada malah semakin memburuk. Hatinya terus bertanya-tanya, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya terjadi? Tapi, salahkah jika tetap diam untuk sementara, setidaknya sampai hatinya sudah siap? Problema ini sungguh menguras energi. Perjalanan menuju rumah Rajasa terasa sangat berat. Jujur Agnia tak mau menginjakan kakinya di sana, tak sudi melihat wajah Ravindra. Setiap kali mengingat kehamilannya, Agnia selalu meneteskan air mata. Mengapa harus Ravindra yang menjadi ayah dari kedua anaknya? Ia benci kebenaran ini, benci takdirnya sendiri yang sangat rumit. “Mas ....” Agnia menoleh ke sampingnya dengan tatapan ragu. “Gimana kalo aku tinggal sama Tante Santi?” “Aku gak bakal tenang kalo kamu tinggal sama dia, Say

