Bab 11 : Banshee kalah

939 Kata
Suara itu seperti kaca pecah. Nyanyian Banshee terputus tiba-tiba, terganggu oleh interferensi yang sempurna. Dia tercekik, matanya membelalak karena terkejut dan rasa sakit, dan seutas darah halus mengalir dari bibirnya.. Banshee terhuyung, memegang tenggorokannya. Dia menatap Ryo dengan kebencian yang tak terucapkan, tapi juga dengan... ketakutan? Ryo tidak membiarkan Banshee pulih. Dengan cepat ia berlari meninggalkan danau, dan dengan kekuatan fisik yang terlatih, ia pun segera meloncat dari batu ke batu, hingga akhirnya ia sampai di hadapan Banshee, Tapi Banshee hanya bisa menyerang dengan suara. Banshee terlihat kaget seolah tak meyangka ada yang bisa melawan suaranya. Matanya yang biru terbelelak. "Katakan selamat tinggal, Banshee... ! Dengan satu tebasan yang cepat, pedang Ryo terayun langsung mengarah ke leher Banshee. Banshee tidak bisa melawan. Ia hanya melihat Ryo datang bak kilat di tengah hujan. Pedang Ryo menebus leher Banshee yang pucat. Tidak ada darah. Banshee hanya hancur berkeping-keping, seperti kaca yang pecah. Nafas Ryo menggebu-gebu. "Ayaka... Hah.. Hah.. Kita menang. " Ayaka tak menjawab. Ia hanya menatap Ryo dari kejauhan. Tak lama sesaat Banshee lenyap, Ryo merasakan sebuah kekuatan mengalamir masuk ke tubuhnya. Tapi bukan kekuatan yang bisa memperkuat fisiknya. Tapi lebih dari itu. Kekuatan yang ia dapatkan adalah kekuatan keterangan. Ketenangan yang dingin dan penuh dengan hasrat membunuh yang kuat. Ryo berdiri di pulau itu, terengah-engah, air menetes dari pakaiannya. Dia merasa... Tenang dan bisa mengendalikan jiwanya. Ayaka berjalan menyebrangi danau, wajahnya masih pucat tetapi penuh dengan kekaguman yang tidak terucapkan. "Aku... aku tidak percaya kau bisa mengalahkan makhluk itu. Aku hampir... aku hampir..." "Tapi kau juga tidak buruk. ," kata Ryo, menyarungkan pedangnya. "Kau bisa bertahan melawan tekanan yang di luar ninja pada umumnya." Ayaka mengangguk, ia menarik napas dalam-dalam. "Aku berhutang nyawa padamu, Ryo." "Kita ini tekan, ingat?" balas Ryo. Dia melihat sekeliling ruangan yang sekarang sunyi. Kristal-kristal di langit-langit masih bersinar, tetapi sekarang dengan cahaya yang lembut dan menenangkan. "Mari kita pergi dari sini." Mereka meninggalkan ruangan Banshee, mereka berjalan dengan hati yang masih berdebar-debar. Ryo dengan ketenangan mentalnya yang baru, Ayaka dengan rasa terima kasih yang dalam dan rasa kagumnya sebagai sesama tekan. Perjalanan selanjutnya membawa mereka melalui serangkaian gua yang lebih luas, di mana mereka harus menggunakan semua kemampuan ninjanya untuk menghindari jebakan dan makhluk yang lebih kecil. Mereka belajar untuk bekerja sama tanpa perlu berbicara—Ayaka menggunakan genjutsu-nya untuk mengalihkan perhatian, sementara Ryo memberikan serangan fisik atau elemental yang mematikan. Mereka menjadi sebuah mesin pembunuh yang saling menguatkan, sebuah tim. Di goa selanjutnya, terdapat beberapa ukiran kuno, yang menggambarkan lukisan dari para humanoid yang bertarung melawan para iblis. "Siapakah mereka?" bisik Ayaka, menjalankan jarinya di atas ukiran yang usang. "Sebuah tanda? ," tebak Ryo. "Atau mungkin peringatan." Di akhir ukiran, ada sebuah simbol. Sebuah mata dengan pupil seperti kucing, dikelilingi oleh sembilan ekor yang menyebar. "Aku pernah melihat simbol ini sebelumnya," gumam Ayaka, menyipitkan mata. "Dalam arsip rahasia Klan Kesturi. Itu dikaitkan dengan... sesuatu yang lebih dulu dari klan-klan ninja yang tertua sekalipun. Sesuatu yang primal." "Goa ini memiliki sejarah," kata Ryo. "Dan kita akan mengukir sebuah sejarah baru." Mereka terus berjalan, dan lorong di depannyamulai menurun dengan tajam, menuju kegelapan yang lebih dalam. Udara menjadi semakin panas dan berbau belerang. Suara gemuruh yang dalam terasa di bawah kaki mereka. Mereka akhirnya tiba di tepi sebuah jurang yang sangat dalam. Di seberangnya, terdapat sebuah pintu gerbang besar yang diukir dari batu hitam, tertutup oleh dua daun pintu batu raksasa yang dihiasi dengan ukiran iblis dan para korbanya yang tersiksa. Di depan pintu gerbang, jembatan batu sempit membentang di atas jurang, di mana di bawahnya, lava merah menyala mendidih dan bergolak, memancarkan panas yang hampir tak tertahankan. Ini jelas adalah sebuah pintu masuk utama. Sebuah tempat penting dan bisa jadi inti dari gua iblis ini. Saat memasuki jembatan, mereka pun terhenti. "Ninja? " Ucap ayaka yang menunjuk ke sosok di tengah jembatan. "Hmmm... Menarik. Kupikir hanya kita yang tersisa, dan hanya kita yang bisa bertahan hidup dalam tempat terkutuk ini. " Jawab Ryo, matanya menatap tajam ke arah ninja itu. "Coba tebak, ada yang kita temukan disini Ayaka." Makhluk itu tinggi besar dan berotot, mengenakan jubah hitam Klan Serigala, tetapi dengan sebuah ban lengan merah—tanda dari pasukan elit Genzo. Wajahnya yang kasar tersenyum sinis, dan di tangannya ada sebuah naginata dengan mata pisau yang berkilauan di cahaya lava. Hiroto. Dia tidak sendirian. Di belakangnya, dua ninja lain dengan ban lengan merah berdiri, terlihat tegang dan waspada. "Ryo," kata Hiroto, suaranya ramah dan menyesakkan seperti biasa. "Sungguh suatu kejutan yang menyenangkan untuk menemukanmu masih hidup disini. Dan kau? Bersama seorang wanita yang hina? Klan kasturi." Inferno dalam tubuh Ryo bergejolak. Seolah-olah ia ingin segera membakar Hiroto yang sadari tadi tersenyum, dengan senyuman yang menjijikkan. Ayaka mengutuk dengan pelan. "Perangkap. Mereka pasti memasang penanda di gerbang." "Cerdas. Kau cukup cerdas untuk seukuran Ninja dari klan pengecuti," puji Hiroto. "Genzo mengira kau mungkin mencoba melarikan diri melalui jalur rahasia ini. Dia ingin kau kembali hidup-hidup, kalau bisa. Tapi... Tak ada larangan untuk membawa pulang tubuhmu yang sudah tak bernyawa." Matanya yang licik beralih ke Ayaka. "Dan mungkin, aku bisa bawa oleh-oleh musang khas klan Katsuri." Ryo mulai berjalan pelan ke arah Hiroto. " Sisi baiknya, mungkin aku yang akan menggendong mayatmu, agar kau bisa kembali tanpa susah payah berjalan." Ryo tersenyum tipis, tak ada keraguan dalam ucapannya. "Bicaramu cukup banyak yah, untuk seukuran makhluk rendahan," sindir Hiroto, memutar naginatanya. " Mari kita lihat siapa yang bisa bertahan!" Tangan Hiroto memberi isyarat ke belakang, dan langsung saja kedua Ninja itu segera melemparkan shuriken beracun ke arah Ryo dan Ayaka. Bersambung... Pertempuran di jembatan sempit di atas jurang lava telah dimulai. Dan kali ini, musuhnya adalah manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN