Petualangan mereka berlanjut....
Lorong-lorong berikutnya terlihat sepi, hanya ada beberapa makluk kecil yang berkeliaran tapi tak berani mendekat. Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah ceruk kecil yang kering dan bebas dari jamur untuk beristirahat. Mereka akhirnya duduk dan beristirahat sejenak.
"Ryo, sini biarkan saya merawat lukamu." Ayaka lekas mengambil salep untuk mengobati luka kabar Ryo.
"Terima kasih Ayaka." Ryo memandangi Ayaka yang penuh perhatian kepadanya.
"Emm bisa jangan memandangiku seperti itu? " Wajah Ayaka memerah—tersipu malu. Ia langsung memalingkan pandangannya dari Ryo.
"Maaf, hehe. "
"Kau belajar cepat," katanya saat dia bekerja, suaranya. " Kau kuat yah... Biasanya tidak akan ada yang bisa bertahan hidup saat melawan monster seperti mereka." Ucap Ayaka yang kembali mengobati Ryo.
"Aku tidak tahu dengan takdir yang ada di tanganku ini, tapi.. "
"Emm maaf memotong pembicaraanmu Ryo..." Dia diam untuk beberapa saat. "Genzo... dia takut padamu, kau tahu? Bukan karena darahmu yang diduga tidak murni. Tapi karena potensimu. Kau selalu lebih kuat, lebih cepat, lebih pintar dari Hiroto. Itu adalah ancaman baginya."
Ryo mendengarkan, namun ia tetap diam. Dia tidak pernah mendengar pujian seperti itu sebelumnya.
"Ayahku," kata Ayaka tiba-tiba, suaranya sedikit pelan, "dia adalah anggota dewan Klan Kesturi. Dia menentang aliansi dengan Genzo. Tapi, kejadian tak terduga pun kami alamin setelah penolakan itu." Dia berhenti sejenak, mengingat. "Dia 'hilang' dalam misi, seminggu sebelum pengkhianatan itu terjadi."
Ryo menatapnya. Di balik wajah tenangnya, ada rasa sakit yang sama. Kehilangan yang sama. "Genzo?"
"Siapa lagi?" dia berkata, suaranya kembali datar. Luka Ryo sudah hampir di perban oleh Ayaka. "Jadi, kau lihat, balas dendamku mungkin tidak sepenting milikmu, tapi rasa itu ada." Ayaka menatap mata Ryo. "Kita menjadi rekan bukan karena kebetulan, Ryo dari Klan Serigala. Tapi Kita adalah orang yang menjadi korban dari gelapnya permainan politik."
Untuk sejenak, Ryo tertegun mendengar pengakuan Ayaka. Ryo mengangguk perlahan. Mungkin dia bukan hanya sekedar rekan, tapi bisa bisa Ayaka adalah pendengar yang baik. Orang yang merasakan penderitaan yang hampir sama.
"Aku akan membuat mereka akan membayar rasa sakit ini," janji Ryo, dan kali ini, itu terasa seperti sebuah sumpah untuk mereka.
Setelah beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Jalan di lorong itu mulai menanjak lagi, dan udara menjadi lebih dingin, lebih bersih. Dinding batu berubah, menjadi lebih halus, seolah diukir oleh angin.
Lalu, mereka mendengar suara itu.
Sebuah nyanyian.
Itu adalah suara wanita, tinggi dan melankolis, bergema di lorong batu dengan keindahan yang tidak masuk di logika. Itu adalah melodi yang memilukan dan tidak dikenal, penuh dengan kerinduan dan kesedihan yang begitu dalam hingga menusuk langsung ke jantung.
Ryo dan Ayaka saling memandang, waspada. Keindahan di Goa Iblis selalu menjadi jebakan.
Mereka mengikuti suara itu, tidak bisa menahan diri, ditarik oleh pesonanya yang sungguh magis. Lorong itu terbuka dan mengarah ke sebuah ruang gua yang luas dan berbentuk kubah. Di tengahnya, terdapat sebuah danau air yang jernih dan biru, memantulkan langit-langit gua yang dipenuhi kristal biru yang memancarkan cahayai yang lembut dan menenangkan. Di tengah danau, terdapat sebuah pulau batu kecil.
Dan di atas pulau itulah sang penyanyi duduk.
Terlihat seorang wanita dengan rambut seputih salju yang tersimpul indah, mengenakan gaun dari kabut dan cahaya bulan yang samar. Kulitnya pucat sempurna, dan matanya yang besar tertutup saat dia menyanyi. Dia cantik dengan cara yang menghancurkan hati, seperti patung porselen yang terlalu rapuh untuk dunia ini.
"Ryo, itu iblis lain penjaga ruangan ini kah? " Ucap Ayaka yang memandang ke arah Wanita itu.
"Ada 2 kemungkinan. " Jawab Ryo, ia terdiam sejenak. " Kemungkinan satu dan kemungkinan kedua." Jawab Ryo tanpa ekspresi.
"Bisa serius.. Emm. Kau tahu kan kita berada dimana kan? " Ayaka mengerutkan keningnya, ia sekilas memandang Ryo dengan heran.
Ryo pun tak menjawab lagi.
Tapi Ryo bisa merasakannya. Energi yang mengerikan yang terpancar darinya. Itu adalah energi mistik yang murni, sebuah pasang surut kesedihan dan keputusasaan yang mencoba menarik mereka dan menenggelamkan mereka dalam irama indah nan sendu.
"BANSHEE." Suara Inferno terdengar samar di pikiran Ryo. Ryo tak menjawab, pikirannya masih terfokus ke Banshee. Sorot matanya tak teralihkan sedetik pun.
Iblis Suara. Yang menghancurkan musuh-musuhnya lewat nyanyian.
Mereka berdua berhenti di tepi danau, terpaku. Nyanyiannya membungkus mereka, merayap masuk ke dalam pikiran mereka. Ryo merasa kesedihannya sendiri—atas pengkhianatan, atas kehilangan, atas ketakutan—diperbesar, ditarik ke permukaan oleh melodi yang mematikan itu. Dia melihat wajah Hiroto yang tertawa, berubah menjadi cemoohan. Dia melihat Master Genzo mengucapkan sumpah setia, hanya untuk menusuknya dari belakang. Dia merasakan kedinginan yang menyendiri di Goa ini, ketakutan bahwa dia akan mati di sini, dilupakan.
Dia melihat Ayaka di sampingnya, wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, juga terjebak dalam jerat emosinya sendiri. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah, berusaha melawan.
"Jangan dengarkan," desisnya melalui gritted teeth. "Itu Genjutsu tingkat tinggi! Itu menyerang kenanganmu!"
Tapi itu lebih dari sekedar ilusi. Itu adalah serangan langsung terhadap jiwa. Ryo merasa air mata panas mengalir di pipinya. Dia ingin menyerah. Berbaring dan membiarkan kesedihan mengambilnya.
Jiwa Inferno dalam dirinya mendengus, marah karena dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa dibakar. Kekuatan iblis pemintal juga tak bisa gunakan.
Banshee membuka matanya. Terlihat mata yang berwarna biru pucat, seperti es tipis, dan kosong dari segala emosi kecuali sebuah kesedihan yang abadi. Dia menatap langsung kepada Ryo, dan nyanyiannya berubah, menjadi lebih personal, menusuk lebih dalam ke dan menggali luka-lama Ryo.
"Kau sendirian di dunia ini," sebuah suara berbisik di dalam pikirannya, terdengar seperti nyanyiannya. "Mereka semua meninggalkanmu. Mereka semua membencimu. Darahmu kotor, ingatanmu adalah beban. Beristirahatlah. Beristirahatlah di sini bersamaku. Dalam damai."
Suara itu sangat menggoda. Untuk mengakhiri perjuangan. Untuk berhenti berlari.
Dia melihat ke dalam air danau yang jernih. Di dalamnya, dia melihat bayangannya sendiri, tapi lebih tua, lebih damai, dengan senyuman di wajahnya, tertidur abadi di bawah air. Itu terlihat... Sangat tentram.
Tubuh Ryo berjalan perlahan masuk kedalam air.
"Ryo, jangan!" teriak Ayaka, tetapi suaranya terdengar sangat jauh, seperti dari ujung terowongan yang panjang.
Kakinya sudah menyentuh air. Terasa dingin dan menenangkan.
Lalu, sesuatu yang lain muncul. Bukan kenangan sedih, tapi sebuah suara. Suara Master Kaito, guru lamanya, yang tewas membelanya selama pelarian.
"Kehidupan seorang ninja itu tak mudah, jalan ninjamu harus di tentukan oleh hatimu sendiri. Jika ada halangan dan rintangan yang menghadang, LAWAN! " Suara master Kaito menggema.
Itu adalah sebuah perintah. Sebuah arahan agar tidak menyerah di setiap kondisi.
Ryo tiba-tiba berhenti. Air sekarang sampai di pergelangan kakinya. Bayangan yang tentram di air tersenyum padanya, lalu seolah ada tangan mengulur dari dalam air.
Dengan erangan kemarahan dan kesakitan, Ryo mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Banshee yang kosong.
"TIDAK... Dasar iblis kotor, kau pikir tipu daya murahanmu ini bisa menjebakki kah... Hah!" Ryo berteriak, dan teriakannya adalah sebuah penolakan terhadap kesedihan, terhadap keputusasaan, terhadap godaan untuk menyerah.
Dia mengangkat tangannya, tetapi bukan untuk menyerang Banshee. Dia menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, mengahalau semua suara.
Dia melihat Ayaka, yang juga berjuang, tangannya menekan di telinganya.
"Jangan dengarkan liriknya!" teriak Ryo, suaranya serak. "Dengarkan nadanya! Itu hanya suara! Itu hanya getaran!"
Itu adalah sebuah cara untuk tidak terkena melodi sendu yang sangat magis. Mereka adalah ninja. Indranya terlatih untuk melawan setiap serangkaian serangan yang hendak di lancarkan musuh. Dia mulai memetakan suaranya, mencari celah, mencari ketidaksempurnaan dalam nyanyian itu.
Banshee, menyadari seranganya mulai tak berefek, akhirnya ia mulai meninggikan suaranya, sampai kristal di langit-langit bergetar dan pecah, berhamburan seperti hujan berlian biru ke dalam danau.
Ryo mengatupkan gigi. Dia menemukan itu. Sebuah celah kecil dalam harmoni, sebuah nada yang sedikit sumbang yang terjadi setiap kali dia menghela nafas.
Terlihat sepele, tapi celah kecil itu bisa membuat segalanya berubah.
Ryo fokus melawan suara itu.
Dengan semua kehendak yang tersisa, dia memproyeksikan pikirannya sendiri, bukan sebagai serangan, tetapi sebagai sebuah catatan. Sebuah nada tunggal, murni, dan keras yang bertentangan dengan nada sumbang Banshee.
"UUUUUUUUUU—! " Dalam satu tarikan nafas yang panjang, Ryo berteriak sekuat-kuatnya.
Suara yang dipenuhi dengan amarah, dengan emosi, dengan tekad, yang disatukan dalam satu hentakan kuat.
Dia menyelaraskannya dengan sempurna.
KRAK!