Bab 9 : Venomous

1706 Kata
Kedamaian itu tidak nyata, itu hanya ilusi yang tercipta saat manusia menginginkan ketenangan. Ryo dan Ayaka saat ini berjalan bersama menapaki lorong. Bukan sebagai orang asing, tapi sebagai rekan yang saling melindungi satu sama lain. Mereka meninggalkan area danau, dan yap, llorong itu menyempit lagi, menjadi sebuah celah sempit di antara dua dinding batu yang basah dan sedikit beruap. Udara berubah, yang awalnya sebuah kehangatan, kini menjadi hawa dingin dan lembab. Jamur fosfor itu juga nampak berbeda. Yang tadinya berwarna hijau, kini di tempat ini yang ada hanyalah jamur yang memancarkan cahaya kuning yang redup. Ryo merasakan kulitnya berdenyut. Bukan karena perihnya luka, tapi tubuhnya merasakan racun yang menyebar tipis di udara. "Kau merasakannya juga?" bisik Ayaka, suaranya hampir tidak terdengar, sangat tipis dan yahh tipis. Ryo mengangguk, matanya terus menyapu area di depan mereka. "Racun halus, Tipis tapi menyerbar di udara.." "VENOMOUS". Gumam Ryo, matanya menatap halus ke wajah Ayaka. " VENO apa tadi? " Jawab Ayaka yang tersenyum manis ke arah Ryo. "MOUS." sambung Ryo sembari menghela nafasnya. "Ayolah. Jangan terlalu kaku Ryo. Hidup itu jangan di sia-siakan hanya untuk bertarung. Tapi, sesekali bercanda, kita kan rekan." Ucap Ayaka yang masih tersenyum. "Tapi, " Ryo menghela nafas dalam-dalam. " Kita ini sedang terjebak Ayaka. Tapi terserahlah ... dasar wanita. " Percakapan itu terus berlanjut sepanjang perjalanan. Kedekatan dan kemistrinya mereka mulai terbangun selama pertarungan di dalam gua ini. Sebuah hal baik sebenarnya. "Emm Ryo? Impianmu apa, maaf tiba-tiba bertanya. Setidaknya kamu bisa bercerita sedikit kan? Saat ini kan, kamu bisa menyerap kekuatan Iblis yakan? Kira-kira kalau kelak kamu sudah menjadi kuat, apakah yang akan kamu lakukan dengan kekuatan luar biasa ini." Tanya Ayaka yang penuh dengan rasa ingin tahu. "Aku? Awalnya aku ingin jadi seperti master Genzo, menjadi seorang pemimpin klan, di kagumi, di hormati, di segani dan di senangi orang seluruh anggota klan. Jika aku kuat aku ingin melindungi klan yang sudah menjadikan aku keluarga . Tapi, " Langkah Ryo terhenti sejenak. Ayaka ikut terdiam, menunggu entah apa yang akan di ucapan Ryo selanjutnya." "Tapi? Tapi apa? " Ucap Ayaka. "Tapi saat ini aku ingin menjadi kuat. Dan akan aku pastikan Hiroto dan master Genzo akan takjub dan takut. Saat aku hancurkan Klan serigala. Aku akan menghapus klan tak tahu diri itu dari sejarah peradaban Ninja." Wajah Ryo merah padam. Penghianatan yang ia rasakan sungguh menyayat hatinya. "Aku tak tahu Ryo, tapi aku juga tak ingin menahan langkahmu. Jika suatu saat nanti kamu punya mimpi besar, beritahu aku. Dan semoga mimpi itu adalah mimpi yang bermanfaat. Hmm kita lanjut berjalan yah. Disini mulai dingin. " Jawab Ayaka yang sedikit terkejut dengan kalimat yang di lontarkan Ryo. Ini bukan seperti area Venomous seperti yang ia bayangkan. Sesuatu itu lebih licik. Ini masuk menerobos melalui kulit, menggerogoti ujung saraf. Dia merasakan sedikit pusing, sebuah mual yang samar di dasar perutnya. Jiwa Inferno di dalam dirinya mendengus dengan jijik, api murninya menolak hawa kotor yang menari di udara. Jiwa iblis laba-laba tak bersuara. Mereka membungkus syal di sekitar hidung dan mulut mereka, sebuah tindakan yang sedikit tidak berguna, tapi setidaknya itu memberi mereka sedikit kenyamanan saat menghirup udara. Setiap napas yang mereka hela terasa seperti menghirup uap kabut yang tercemar. Lorong itu akhirnya terbuka lagi, tidak ke ruangan gua yang luas, tetapi lorong itu mengarah ke sebuah ruangan yang aneh. Itu terlihat seperti sebuah hutan yang terbengkalai (yah hutan, siapa juga yang akan mengurus hutan. Pemerintah dunia saja tidak terlalu peduli). Akar-akar raksasa, berwarna pucat, dan besar, menjuntai dari langit-langit dan menjalar di sepanjang dinding, berdenyup dengan lambat seolah-olah menyerap inti sari bumi melalui batu. Lantainya ditutupi oleh lumut tebal berwarna ungu keabu-abuan yang mengeluarkan kabut tipis berwarna kuning pucat—sumber dari racun itu. Di antara akar-akar dan lumut, tumbuh bunga-bunga aneh dengan kelopak yang tertutup rapat, memancarkan cahaya fosfor sendiri yang berdenyut dengan irama yang lambat. Di tengah ruangan, sebuah danau lumpur hitam mendidih perlahan, gelembung-gelembung besar pecah di permukaannya dengan suara *blup* yang lembut dan menjijikkan, melepaskan lebih banyak uap kuning ke udara. "Ini tempat yang menyenangkan," gumam Ayaka sarkastik, tetapi ketegangan di bahunya terlihat jelas. "Mereka pasti punya selera dekorasi yang buruk," balas Ryo, matanya terus berputar, mencari ancaman. Dia tidak bisa melihat musuh, tetapi dia bisa *merasakan*nya. Sebuah kehadiran yang licik dan sabar, menyatu dengan racun itu sendiri. Mereka melangkah masuk dengan hati-hati, kaki mereka tenggelam dalam lumut yang lembek hingga ke pergelangan kaki, mengeluarkan bau tanah basah dan pembusukan yang lebih menyengat. Setiap langkah terasa berisiko. Tanpa peringatan, salah satu bunga besar di dekat kaki Ryo meletus terbuka. Bukan dengan keindahan, tetapi dengan kekerasan. Dari dalamnya, sebuah semprotan kabut kuning pekat menyembur langsung ke wajahnya. Dia menyelam ke samping, tetapi tidak cukup cepat. Dia merasakan cairan itu mengenai pipinya, seperti cuka yang kuat, membakar kulitnya. Dia mendesis kesakitan, mengusapnya dengan lengan bajunya, yang segera berasap dan berlubang kecil-kecil. "Ryo!" peringatkan Ayaka. Bunga-bunga di sekitar mereka mulai mekar, satu demi satu, seperti sekelompok penembak jitu yang melepaskan tembakan beracun. Kabut kuning mulai memenuhi ruangan, mengurangi visibilitas menjadi hampir nol. "Genjutsu tidak akan bekerja pada tanaman!" teriak Ayaka, menghindar dari semprotan dan membelah sebuah bunga dengan pedangnya. Cairan kental dan hitam menyembur dari batang yang terpotong. Ryo mengutuk. Api. Api adalah jawabannya. Tapi membakar ruangan yang dipenuhi uap yang mudah terbakar dan racun akan membunuh mereka berdua lebih cepat daripada iblis mana pun. Dia harus berpikir berbeda. Dia mengingat pelajaran singkat Ayaka tentang aliran energi. Dia menutup matanya, berjuang melawan rasa panik dan rasa terbakar di pipinya, dan mencoba merasakannya. Di bawah kabut, di bawah denyutan jamur yang beracun, ada sebuah pola. Sebuah denyutan energi yang terpusat, mengendalikan seluruh ruangan. Itu berasal dari danau lumpur. "Danau!" teriaknya kepada Ayaka melalui kabut. "Itu pusatnya!" Mereka berjuang menuju ke arah itu, menghindari semprotan dan akar-akar yang tiba-tiba hidup dan mencoba melilit pergelangan kaki mereka. Lumut di bawah kaki mereka menjadi lebih tebal, lebih lengket, seperti berusaha menahan mereka. Saat mereka mendekati tepi danau lumpur, permukaannya bergolak dengan keras. Sebuah bentuk mulai muncul dari kedalaman hitam. Itu bukan makhluk padat, tetapi sebuah pusaran lumpur dan akar yang membentuk torso humanoid raksasa tanpa kepala. Tangannya yang besar dan berat terbuat dari tanah dan batu, dan di tengah tubuhnya, tertanam di antara akar-akar yang berbelit, terdapat sebuah bunga raksasa yang terbuka, memamerkan kumpulan benang sari yang berdenyut seperti sekumpulan cacing yang merupakan mulutnya. VENOMOUS. Iblis Racun. Itu bukan makhluk yang berdiri sendiri; itu adalah ruangan itu sendiri. Bunga di dadanya menyemburkan sungai racun yang terus-menerus, sebuah semburan yang terkonsentrasi dan mematikan yang langsung menuju mereka. "Bubar!" teriak Ryo, menyelam ke kiri. Ayaka menyelam ke kanan, semburan racun itu melewati di antara mereka dan menghantam dinding di belakang, di mana batu langsung berjamur dan retak. Venomous mengangkat tangannya yang dari tanah dan menghempaskannya ke arah Ryo. Ryo berguling, menghindari pukulan yang menghancurkan yang membuat seluruh ruangan bergetar. Dia tidak bisa menggunakan api secara luas. Dia butuh presisi. Dia butuh untuk memutuskan hubungannya dengan ruangan. "Ayaka! Alihkan perhatiannya!" teriaknya, bergerak mengitari tepi danau. "Lakukan dengan cepat!" balasnya, melemparkan segelangan tangan beracun shuriken ke arah bunga di torso makhluk itu. Senjata-senjata itu menancap tetapi tampaknya tidak berpengaruh. Venomous mengalihkan perhatiannya kepadanya, mengayunkan tangan yang lain. Ayaka melompat mundur, tetapi mendarat di tambalan lumut tebal yang langsung membungkus kakinya seperti jaring, menahannya di tempat. "Ryo!" teriaknya, berjuang untuk membebaskan diri. Ryo mengumpulkan energinya. Bukan api. Tapi pengetahuan Pemintal. Dia merasakan akar-akar yang membentuk tubuh Venomous, jaringan yang rumit yang menghubungkannya ke dinding dan langit-langit. Itu seperti web raksasa. Dan dia tahu bagaimana cara memutuskan web. Dia mengulurkan tangannya, berkonsentrasi hingga kepalanya berdenyut-denyut. Dia tidak menarik; dia mendorong. Dia memaksakan keinginannya sendiri ke dalam jaringan itu, mencari titik tautan yang kritis, titik dimana aliran energi racunnya paling kuat. Dia menemukannya. Di pangkal tulang belakang makhluk itu, tempat ia menyatu dengan danau lumpur. Dengan erangan effort, Ryo *menyayat*. Tidak dengan pisau, tapi dengan kehendak. Sebuah retakan terbentuk di dasar punggung Venomous. Lumpunya menyembur keluar, dan makhluk itu menjerit—suara gemericik yang parau—dan goyah, kehilangan keseimbangan. Semburan racunnya menjadi tidak teratur, menyemprotkan ke segala arah. Ini saatnya. Ryo mengumpulkan setiap ounce kekuatan Inferno yang tersisa. Dia memampatkannya bukan menjadi peluru, tetapi menjadi sebuah jarum. Sebuah sinar laser api putih yang tipis dan mematikan di ujung jarinya. Itu menyedot nyawanya, membuatnya lemah, tetapi dia mengarahkannya ke bunga di d**a Venomous, ke mulut dari segala racun. *“Fire Style: Phoenix Flame Arrow!”* dia meneriakkan, memberi nama pada teknik barunya dalam keputusasaan. Sinar api itu melesat, membelah kabut, dan menembus langsung ke tengah bunga. Efeknya langsung. Venomous membeku. Lalu, dari dalam, sebuah cahaya oranye muncul. Retakan-retakan muncul di seluruh tubuh lumpurnya, dan api menyembur keluar. Bunga itu meledak menjadi abu yang beracun, dan makhluk itu runtuh, kembali menjadi tumpukan tanah dan akar yang tidak berbentuk di tepi danau. Kabut kuning di ruangan mulai memudar. Bunga-bunga di dinding layu dan mati. Lumut di lantai berhenti berdenyut dan menjadi lembam. Keheningan yang tercekik turun, hanya diselingi oleh suara napas terengah-engah Ryo. Dia berlutut, kelelahan. Itu adalah penggunaan kekuatan yang paling intens dan terkontrol yang pernah dia lakukan, dan harganya mahal. Dia merasa hampa. Ayaka akhirnya melepaskan diri dari lumut yang sekarang sudah mati dan bergegas menghampirinya. "Ryo? Kau baik-baik saja?" Dia mengangguk, terlalu lelah untuk berbicara. Dia menatap tumpukan tanah yang merupakan Venomous. Dia tidak merasakan penyerapan energi yang besar seperti dengan Inferno. Sebaliknya, yang dia rasakan adalah sensasi aneh di paru-parunya. Sebuah adaptasi. Dia menarik napas dalam-dalam, dan racun yang tersisa di udara tidak lagi membakar. Itu hanya terasa... tipis dan tidak berbahaya. Tubuhnya telah mengembangkan kekebalan. Itu adalah hadiah yang tidak menarik namun vital. "Kau... kau melakukannya," kata Ayaka, dan ada nada hormat yang nyata dalam suaranya sekarang. "Kau mengalahkannya dengan menyerang hubungannya dengan lingkungan, bukan makhluknya sendiri. Itu... brilian." "Kau terjebak," jawab Ryo dengan sederhana, berdiri dengan gemetar. "Detail kecil," dia membalas, waved a hand. Tapi dia tersenyum, sebuah ekspresi kecil dan langka yang hampir terlewat dalam cahaya redup. "Kita harus terus bergerak. Racunnya mungkin sudah hilang, tapi baunya akan memanggil pemulung." Mereka melanjutkan perjalanan, meninggalkan ruangan beracun di belakang. Ryo merasa berubah, bukan hanya karena kekebalan barunya, tetapi karena kemenangannya. Dia telah menggunakan kecerdasannya, bukan hanya kekuatan mentah. Itu adalah pelajaran yang lebih berharga daripada kekuatan iblis mana pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN