Udara bergetar oleh ketegangan, seolah seluruh gua menahan napas. Ayaka memberi Ryo waktu. Dia butuh sesuatu. Sesuatu yang lebih. Sesuatu yang bisa mengakhiri ini. Apa? Api Inferno adalah api terkuat yang dia miliki!
Kecuali… itu bukan hanya api, bukan? Itu adalah kemarahan. Itu adalah keinginan untuk menghancurkan. Itu adalah kekuatan iblis. Itu adalah bagian dirinya yang paling liar, paling murni, dan paling mematikan.
Dia tidak bisa hanya memanaskannya. Dia harus memusatkannya. Memampatkannya. Membuatnya menjadi senjata, bukan hanya semburan. Bukan sekadar amarah yang meledak, tapi amarah yang diarahkan dengan presisi. Senjata terakhir.
Dia mengingat peluru api yang dia gunakan pada pemintal. Tapi, itu lebih terkonsentrasi. Lebih fokus. Lebih mematikan.
Dia berkonsentrasi, memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang yang bergetar. Mengumpulkan setiap ounce kekuatan Inferno di dalam dirinya, menariknya dari setiap saraf, setiap tetes darah, setiap amarah yang pernah dia rasakan. Menyalurkannya ke ujung jarinya, setetes kekuatan yang memuat seluruh api neraka.
Api itu berkobar, bukan merah, tetapi putih panas, menyilaukan seperti inti matahari. Berputar dengan liar seperti mata bor. Itu menyedot energinya, menghisap kekuatannya seperti jurang tak berdasar, membuatnya merasa lemah, tetapi dia terus mendorong. Keringat dingin bercampur panas di dahinya, menetes ke tanah seperti hujan badai. Nafasnya memburu. Ini taruhannya: hidup atau mati.
Glacia menghancurkan ilusi terakhir Ayaka dan membalikkan perhatiannya kembali kepada Ryo, mata es itu bersinar dengan kebencian yang menusuk. Mulutnya terbuka untuk menyemburkan napas yang membekukan. Udara di sekitar Ryo berubah menjadi kabut putih yang tajam, membekukan paru-parunya hanya dengan bernapas.
“Cobalah ini, kau monster beku!” Ryo meneriakkan, suara seraknya memantul di seluruh gua seperti pekik perang terakhir seorang prajurit yang menolak mati. Dan dia melepaskan semburan api putih yang tipis dan mematikan dari jarinya, sebuah Fire Style: Flame Bullet yang dimodifikasi oleh jiwa Inferno.
“Hossenka no Jutsu!”
Peluru api itu melesat seperti meteor mini, menyulap udara menjadi garis cahaya yang menyilaukan, dan menembus langsung ke mulut Glacia yang terbuka.
Ada hentakan—sebuah dentuman mengerikan—ledakan uap dan pecahan es yang terdengar seperti kaca pecah. Suara itu merobek keheningan gua, mengguncang dinding, dan membuat air danau berombak seperti laut diterpa badai.
Glacia menjerit—suara yang mengerikan, retak, dan penuh penderitaan—dan kepalanya tersentak ke belakang. Jeritan itu menembus telinga, membuat batu bergetar, dan jamur fosfor di langit-langit meledak menjadi serpihan bercahaya. Di langit-langit mulutnya terdapat lubang yang menganga di mana esnya tidak hanya mencair, tetapi menguap sepenuhnya, meninggalkan tepian yang bergerigi dan meleleh.
Itu terluka. Itu marah. Sangat marah.
Ayaka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melesat ke depan, seperti bayangan yang terhunus, berlari di sepanjang punggung makhluk yang berguling-guling, pedangnya teracung. Satu teriakan perang meluncur dari bibirnya, membelah udara yang penuh uap dan pecahan es. Dia menusukkannya ke sambungan di antara lempengan-lempengan es di punggung Glacia, mencari celah, mencari kelemahan.
Ryo jatuh berlutut, d**a naik-turun seperti palu godam. Nafasnya seperti pisau yang mengiris paru-paru. Kehabisan napas. Teknik itu telah mengurasnya. Tubuhnya gemetar, matanya kabur. Dia butuh lebih banyak. Selalu butuh lebih banyak.
Glacia mengamuk, membalik tubuhnya seperti badai yang lepas kendali, mencoba menggigit Ayaka, tetapi lukanya membuatnya lambat dan ceroboh. Amukan makhluk itu menghancurkan kolom-kolom batu yang menopang gua. Cambukan ekornya yang kuat menghantam kolom-kolom batu, menghasilkan ledakan debu dan pecahan batu yang jatuh dari langit-langit, membuat gua seperti medan perang akhir zaman.
Ryo melihat salah satu bongkahan besar jatuh tepat ke arah Ayaka, yang sedang sibuk menusuk lagi.
“Ayaka! Di atas!” teriaknya.
Dia melihat ke atas, matanya membelalak. Dia terjebak—jika dia melompat, dia akan jatuh ke dalam cakar Glacia. Jika dia tetap diam, dia akan dihancurkan.
Ryo bereaksi tanpa berpikir. Dia mengulurkan tangannya, bukan dengan api, tetapi dengan pengetahuan baru yang dia dapatkan dari pemintal. Dia merasakan benang-benang energi di udara, struktur dari batu yang jatuh. Dia menariknya, memelintirnya, tidak untuk menghentikan batu itu, tetapi untuk mengubah trajektorinya.
Itu bukan Fūinjutsu yang elegan. Itu kasar, keras, dan menyiksa bagi pikirannya. Tapi itu bekerja.
Batu besar itu sedikit berbelok, menghantam punggung Glacia tepat di belakang Ayaka dengan dampak yang menghancurkan, membuat iblis itu menjerit kesakitan lagi dan terhuyung-huyung.
Ayaka melompat, mendarat dengan tergopoh-gopoh di samping Ryo, matanya tertuju padanya dengan ekspresi tak percaya yang baru. “Apa yang baru saja kau lakukan?”
“Tidak ada waktu!” raung Ryo, berdiri kembali. Glacia sudah pulih, mata birunya sekarang penuh dengan kebencian yang membara, tertuju pada mereka berdua. Udara di sekitar mereka menjadi semakin dingin, napas mereka membeku di udara.
Mereka saling memandang, dua musuh, dua sekutu sementara, terjebak dalam pertempuran yang mustahil.
Glacia mengangkat tubuhnya, mengumpulkan energi untuk serangan terakhirnya, sesuatu yang akan membekukan mereka berdua menjadi es hingga ke inti sel mereka.
Ryo merasakan Inferno di dalam dirinya, sekarat, tertekan oleh dinginnya. Dia merasakan pengetahuan pemintal, tidak berguna untuk serangan langsung. Dia merasakan ketakutan dan kemarahan.
Dan kemudian, dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah getaran di bawah kakinya. Bukan dari Glacia.
Dari air.
Dari sesuatu di dalam air.
Sesuatu yang bergerak dengan sangat, sangat cepat.
Tiba-tiba, permukaan air di belakang Glacia meledak untuk kedua kalinya malam itu.
Sosok lain melesat keluar, sebuah blur dari scale dan otot yang bergerak dengan kecepatan yang tidak mungkin. Itu menabrak Glacia dari samping dengan kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan iblis es yang besar itu.
Itu adalah iblis lain. Seekor ular raksasa, tubuhnya sepanjang Glacia, dengan sisik berwarna hijau gelap yang memancarkan kilauan beracun dan sembilan kepala yang masing-masing mendesis dengan mata merah dan taring yang meneteskan bisa. Kepalanya yang kesembilan, yang terbesar, memiliki sebuah tanduk runcing.
HYDRA.
"Hah? Hydra... Bukannya saya sudah pernah mengalahkannya.. " Gumam Ryo dengan tatapan tajam.
Pemangsa abadi Glacia. Rivalnya.
Dua iblis besar itu terjalin dalam pertarungan yang ganas dan mengamuk, menggigit, mencakar, dan memukul satu sama lain, mengabaikan dua ninja kecil di pantai.
Ryo dan Ayaka hanya bisa menatap, terpana, saat pertempuran titan mereka berlangsung di depan mereka.
Air dan es beterbangan. Racun Hydra membakar dan melelehkan es Glacia, sementara hawa dingin Glacia memperlambat dan membekukan kepala Hydra, yang kemudian pecah hanya untuk tumbuh kembali dengan mengerikan.
Ini adalah kekacauan murni. Kekuatan mentah yang tidak terbendung.
Ayaka meraih lengan Ryo, menariknya. “Ini kesempatan kita! Lari!”
Mereka berbalik dan berlari, meninggalkan dua iblis yang sedang bertarung, menuju lorong yang membawa mereka pergi dari danau. Suara pertempuran yang bergemuruh memudar di belakang mereka, digantikan oleh deru napas mereka sendiri dan detak jantung yang berdebar kencang di telinga mereka. Mereka tidak berhenti sampai mereka berada jauh di dalam lorong yang aman, bersembunyi di sebuah ceruk kecil, tubuh mereka gemetar karena adrenalin dan kelelahan. Ryo bersandar ke dinding, menutup matanya. Dia selamat. Lagi. Tapi hanya karena intervensi dari kekacauan murni. Itu bukanlah sebuah kemenangan. Itu adalah pengingat yang menakutkan tentang betapa tidak signifikannya dirinya di dalam Goa ini.
Ayaka duduk di seberangnya, menarik napas dalam-dalam. “Kau…” dia mulai, lalu berhenti, seolah-olah tidak yakin dengan apa yang ingin dikatakannya. “Kau memiliki lebih dari satu kekuatan. Bagaimana?” Ryo membuka matanya dan menatapnya. Api dan benang. Dia telah memperhatikannya.
“Aku menang,” katanya dengan sederhana. “Aku membunuh mereka, dan aku mengambilnya.”
Itu bukan kebohongan, tapi juga bukan sepenuhnya kebenaran. Ia tidak membunuh semua iblis secara langsung. Sejak darah pertama makhluk neraka itu menyentuh tubuhnya, Inferno—api yang bersatu dengan kemarahannya—mulai bertindak sebagai parasit yang haus kekuatan. Energi iblis di sekitarnya, baik yang dilepas oleh kematian maupun yang tersebar di udara, tertarik dan menyatu dengan Inferno, lalu mengalir ke tubuh Ryo. Setiap serapan memperkuat tubuhnya, mempercepat regenerasi luka, dan memperluas batas kekuatannya. Namun, efek sampingnya adalah Ryo merasakan dirinya sedikit demi sedikit meninggalkan batasan manusiawi, menjadi lebih dekat dengan entitas yang haus kekuatan.
Dia mengangkat tangannya, dan sebuah nyala api kecil berkobar di ujung jari satu tangan, sementara seberkas cahaya keperakan yang hampir tak terlihat—sebuah benang energi—berputar-putar di ujung jari yang lain.
Ayaka memandangnya dengan sebuah ekspresi yang tidak dapat dibacanya—sebuah campuran dari rasa ingin tahu, ketakutan, dan… ketertarikan. “Itu tidak mungkin. Menyerap kekuatan iblis… itu adalah legenda. Dongeng untuk menakuti anak-anak ninja.”
“Tampaknya legenda itu benar,” kata Ryo, memadamkan kedua kekuatan itu. Dia sangat lelah.
Dan jauh di bawah tanah, seekor makhluk lain merasakan tarikan energi itu—sebuah predator kuno, berbeda dari Glacia. Hydra. Bukan satu-satunya di dunia ini. Ini adalah entitas lain, bagian dari jaringan predator kuno Goa, yang muncul karena tarikan energi yang baru saja dilepas Ryo saat menyerap kekuatan Glacia. Goa ini bukan sekadar penjara, tapi sarang bagi berbagai makhluk kuno, dan setiap aliran energi yang kuat seperti magnet bagi mereka. Ryo baru saja menyalakan obor yang akan menarik semua monster keluar dari bayang-bayang.
Ryo memandang Ayaka. “Genzo dan Hiroto… mereka bahkan tidak tahu apa yang telah mereka lepaskan,” gumam Ayaka, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memandang Ryo dengan cara yang baru, seperti seorang ahli pedang yang memandang sebilah pedang langka dan mematikan. “Jika kau bisa melakukan itu… jika kau bisa terus melakukannya…”
“Aku akan keluar dari sini,” kata Ryo, suaranya datar dan penuh keyakinan yang mengerikan. “Dan aku akan menghancurkan mereka.”
Ayaka mengangguk perlahan, sebuah permainan pikiran yang hampir terlihat berputar di belakang matanya yang biru. “Mungkin kau akan melakukannya.” Dia terdiam sejenak. “ Aliansi kita. Mungkin… itu bisa menguntungkan kita berdua. Untuk sementara waktu yang lebih lama.”
Note : Ryo bisa menyerap kekuatan Iblis meskipun ia tak mengalahkan secara langsung.