Bab 7 : Arc. Glacia part 1

1782 Kata
“Sejauh ini. Aku telah melihat yang hal-hal lain. Mayat-mayat. Beberapa dari klan kita, beberapa dari klan lain. Dan makhluk-makhluk… hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar dan logika.” Ayaka menghela nafas, dan untuk sesaat, Ryo melihat kelelahan yang mendalam di balik topeng ketenangannya. “Aku pikir, beraliansi itu bukan hal yang buruk. Yahh setidaknya untuk saat ini dari pada nanti ada yang mati karena di serang makhluk buas kan.” Gumam Ayaka sembari sedikit terkekeh. Di ikuti dengan senyuman manis dari bibirnya. “Cih, mengapa aku harus mempercayaimu?” tantang Ryo. Inferno dalam diri Ryo seolah ingin mengamuk dan membakar Ayaka. “Yaa kamu kan terluka, dan karena kau terluka, dan persediaanmu hampir habis, aku bisa menolong kamu. Dan karena,” dia menatapnya langsung, “aku tahu siapa yang benar-benar mengkhianatimu. Bukan hanya Genzo dan klanmu.” Ryo terdiam. Matanya terfokus ke arah Ayaka. Kalimat itu membuat darahnya seolah mendidih. “Siapa?” Ucap Ryo dengan tegas. Ayaka tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang dingin dan seolah ia habis mendapatkan mangsa. “Bertahanlah bersamaku sampai kita menemukan tempat yang aman untuk bermalam. Dan aku akan memberitahumu sebuah nama. Percayalah, ini kesepakatan yang tidak terlalu buruk yakan?” Tanpa aba-aba , Ayaka membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri lorong, ia berfikir bahwa Ryo akan mengikutinya. Ryo terdiam sejenak. Pikirannya bergejolak, antara rasa haus darah, rasa kecewa, dan rasa ingin tahu yang kuat. Akhirnya, ia memilih untuk tidak mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dan ia segera mengikuti langkah Ayaka. Mereka berjalan dalam keheningan, hanya diiringi oleh suara tetesan air dan napas mereka sendiri. Ayaka memimpin dengan percaya diri, seolah dia memiliki peta dan hafal seluk belik area ini di kepalanya. “Kau kenal jalan di sini?” tanya Ryo akhirnya. “Tidak,” dia jawab tanpa menengok. “Tapi aku mengikuti aliran energi. Dan uniknya, energi yang lemah cenderung mengalir ke tempat yang lebih aman, atau setidaknya, ke tempat yang tidak terlalu mematikan. Ini adalah dasar dari senjutsu. Kau mungkin tidak memperhatikan yah saat belajar di Klan Serigalamu.” Ada nada ejekan lagi, halus tapi pasti. Ryo mengabaikan celaannya. Nafasnya masih berat. “Energi iblis,” gumamnya pelan. Ayaka mengangguk tipis, tapi matanya menyipit. “Ya… tapi bukan cuma itu.” Suaranya turun menjadi bisikan. “Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua.” Dia berhenti di sebuah persimpangan gelap. Lorong bercabang dua, keduanya tampak sama gelap dan sama menakutkan. Perlahan, Ayaka mengulurkan tangannya, jari-jarinya sedikit bergetar seolah sedang menyentuh udara yang tak kasat mata. “Yang ini,” katanya lirih, menunjuk ke kiri. “Rasakan… lebih hangat, bukan?” Ryo memejamkan mata, mencoba mengerti. Awalnya, yang dia rasakan hanya amukan Inferno yang mendidih di nadinya, panas dan liar. Tapi di balik itu, jauh di dasar kesadarannya, ia menemukan sesuatu yang lain—aliran halus, samar, seperti arus sungai bawah tanah yang mengalir di antara batu. Rasanya… seperti tanah basah, seperti akar tua yang tidur selama ribuan tahun. Tenang. Sabar. Kuno. Matanya terbuka, terkejut. “Aku… aku merasakannya.” Ayaka menoleh, sedikit terkejut juga. Bibirnya membentuk senyum sinis, tapi ada percikan ketertarikan di matanya. “Hm. Mungkin kau sedikit berguna, bagiku hehe.” Mereka melangkah ke lorong yang lebih hangat. Udara di sana lembap dan pekat, membuat napas terasa berat. Dinding batu mulai berubah, menjadi lebih halus seolah diukir oleh air berabad-abad lalu. Suara tetesan air menggema, semakin keras seiring mereka mendaki. Dan kemudian lorong itu terbuka. Dunia di depan mereka membuat Ryo terpaku. Sebuah tebing kecil menghadap ke danau bawah tanah yang luas, airnya hitam legam, memantulkan kilauan jamur fosfor di langit-langit gua yang menjulang tinggi bagaikan langit malam yang mati. Di seberang danau, ada sebuah pulau kecil dengan pantai pasir hitam. Di baliknya, menganga sebuah mulut gua, gelap seperti rahang raksasa. Tapi bukan itu yang mencuri perhatian Ryo. Di tepi danau, tepat di bawah mereka… ada sebuah struktur. Bukan formasi alam, tapi sesuatu yang dibuat dengan maksud tertentu. Sebuah kuil kecil, seluruhnya dari batu hitam yang sama dengan dinding gua. Permukaannya diukir dengan rune-rune aneh, berkelok seperti urat nadi raksasa. Aura kekuatan memancar darinya, bukan seperti ledakan, melainkan seperti bisikan yang merayap ke dalam jiwa—dalam, tenang, tapi menakutkan. “Apa itu?” bisik Ryo. “Tempat perlindungan,” kata Ayaka, suaranya terdengar hampir… lega. “Tempat netral. Makhluk-makhluk itu tidak akan masuk. Atau, kebanyakan dari mereka tidak akan.” Dia mulai memanjat turun ke arah tebing, gerakannya lincah dan pasti. Ryo mengikutinya, lebih lambat, tubuhnya yang sakit protes dengan setiap gerakan. Mereka akhirnya sampai di dasar, berdiri di depan kuil kecil itu. Udara di sini terasa berbeda—lebih bersih, lebih ringan, seolah terisolasi dari sisa kekacauan Goa. Ayaka duduk di tangga batu kuil, mengeluarkan sebotol air dari paketnya dan meminumnya dengan lama. Dia kemudian melemparkan botol itu ke Ryo. “Minumlah. Itu tidak diracuni kok.” Ryo menangkapnya. Dia membuka botolnya, dan dengan hati-hati—meskiia tidak sepenuhnya mempercayai Ayaka, tapi ia yakin untuk meminumnya. “Sekarang beritahu aku siapa orangnya,” kata Ryo, ia duduk di tangga yang berseberangan, sembari tetap menjaga jarak. “Nama itu... siapa orangnya.” Ayaka memandangnya, matanya tertuju ke arah Ryo di bawah cahaya hijau pucat. “Hiroto.” Ryo mengertakkan giginya." Hiroto?". Teman sepermainannya. Orang yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Rasa sakit hati menyelimuti relung hati Ryo. Bagai tersat sembilu. “Bagaimana kau tahu?” desisnya. “Karena dia datang padaku terlebih dahulu,” kata Ayaka dengan datar. “Dia mengira Klan Kesturi akan mendukung kudeta Genzo. Dia menawarkan kepada kami sebagian kekuasaan, sebagai imbalan atas dukungan kami. Dia adalah orang yang memberi tahu Genzo tentang… ‘penyimpangan’ dalam garis keturunanmu. Tentang darah asing yang dia klaim mengalir dalam nadimu.” Itu adalah pukulan telak untuk Ryo. Rahasia terkelam Ryo. Alasan di balik semua ini. “Aku tidak percaya, masih ada sedikit kemungkinan kamu berbohong,” gumam Ryo, tapi suaranya kosong. “Apakah benar atau tidak?” tanya Ayaka, tajam. “Kau tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi, aku jawab jujur, Itu adalah alasan yang mereka butuhkan untuk menjatuhkanmu. Genzo ingin kekuasaanmu melemah. Hiroto ingin posisimu. Itu sederhana.” Ayaka mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus aku? " "Aku tidak tahu pasti. " Jawab Ayaka “Aku menolak tawaran Hiroto,. Klan Kesturi tidak akan bersekutu dengan penghianat. Tampaknya ketidaksenangannya itu adalah alasan mengapa aku ‘secara tidak sengaja’ terlempar ke dalam perangkap ini selama misi pengintaian.” Ryo duduk terdiam, dipenuhi oleh kemarahan yang begitu kuat hingga membuatnya mual. Inferno dalam dirinya mengamuk, menyetujui kemarahan itu, menginginkannya untuk membakar segalanya. Dia mengingat kembali semua tahun-tahun bersama Hiroto—pelatihan, pertempuran, tertawa—dan semuanya ternoda, diputarbalikkan menjadi kebohongan yang keji. Dia berdiri, berjalan menjauh dari kuil, menuju tepi air yang hitam. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan sesuatu. Ia ingin melampiaskan kemarahannya. “Kemarahanmu tidak ada gunanya di sini. Tidak ada yang bisa meredakan amarahmu,” kata Ayaka dari belakangnya, suaranya tidak berubah. “Simpanlah amarah itu . Lampiaskan saja amarahmu pada iblis-iblis itu. Itulah cara agar kau bisa bertahan hidup di sini. Itulah cara agar kau menjadi cukup kuat untuk membalas dendam.” Dia benar. Ryo tahu itu. Tapi itu tidak membuat Ryo menjadi tenang. Ryo mengepalkan tangannya, dan api mulai berkobar, mencerminkan amarahnya di permukaan air yang gelap. “Aku akan membunuhnya,” dia berjanji, kepada dirinya sendiri, kepada Goa, kepada iblis-iblis yang mendengarkan. “Aku akan membunuh mereka semua.” Ia seolah menjadi gelap mata. “Rencana yang bagus,” kata Ayaka kering. “Sekarang, apakah kau ingin melakukan itu sendirian, atau apakah kau ingin bertahan hidup malam ini? Aku merasakan sesuatu yang mendekat. Sesuatu yang besar. Dan makhluk itu penuh dengan rasa lapar yang kuat.” Seolah-olah dipanggil oleh kata-katanya, air hitam di danau mulai bergelembung. Gelembung-gelembung kecil pada awalnya, lalu semakin besar, mengganggu permukaan yang tenang. Sebuah gundukan air mulai terbentuk di tengah danau, sesuatu yang besar muncul dari kedalaman. Ryo dan Ayaka mundur, bersiap-siap. Udara tiba-tiba bergetar, seolah gua menahan napas. Danau sepertinya… mendidih. Gelembung-gelembung hitam meletup, mengirimkan semburan uap yang membekukan udara di sekitar. Lalu, dengan letupan dahsyat, ledakan air dan energi yang membekukan meledak dari kedalaman, makhluk itu muncul. Percikan air yang membeku menjadi pecahan es beterbangan seperti peluru, menghantam dinding-dinding gua. Ini adalah iblis es. Tubuhnya terbuat dari es biru tua yang jernih, memantulkan cahaya jamur dalam kilauan yang menyakitkan mata. Setiap gerakannya menimbulkan suara retakan halus, seperti glasier yang bergeser. Bentuknya seperti naga tanpa sayap, dengan tubuh yang panjang dan berotot dan enam kaki yang berakhir dengan cakar yang seperti pilar es. Kepalanya memanjang, mulutnya penuh dengan paku-paku es seperti belati. Matanya adalah dua bongkah es biru pucat yang bersinar dengan kecerdasan yang dingin dan kejam. Dia memancarkan hawa dingin yang begitu intens hingga udara bergetar, embusan napas membeku sebelum meninggalkan bibir, dan lapisan es merambat dengan cepat di permukaan air di sekitarnya. Rasa dinginnya menusuk tulang, sebuah kontras yang menyiksa terhadap api yang masih membara di dalam diri Ryo. GLACIA. Namanya tertanam dalam pikiran Ryo, sebuah pengetahuan yang diberikan oleh Goa itu sendiri. Iblis Es. Penjaga danau. Level yang jauh lebih tinggi daripada Inferno. Glacia mengangkat kepalanya yang seperti ular dan mengeluarkan suara—bukan raungan, tetapi suara retakan gletser yang bergemuruh, bergema di seluruh gua seperti genderang kehancuran, suara yang bergetar di tulang mereka dan membuat gigi mereka bergemeretak. Ayaka sudah menarik pedangnya, mengambil posisi bertahan. “Aku harap api-mu cukup panas, Serigala Api!” Ryo tidak menjawab. Dia sudah bergerak. Dia melemparkan semburan api besar ke arah kepala makhluk itu, sebuah Fireball yang lebih besar dan lebih panas daripada yang dia gunakan pada sang laba-laba. Api itu menghantam Glacia tepat di wajahnya—dan padam seketika, lenyap seperti lilin yang disiram air. Uap air mendesis, tetapi esnya bahkan tidak mencair. Itu hanya menguapkan lapisan luarnya yang tipis. Glacia memandang ke arahnya, dan mata esnya bersinar. Sebuah sinar kematian dingin yang membeku melesat darinya, secepat kilat. Ryo menyelam ke arah samping, dan sinar itu mengenai dinding gua di belakangnya, menutupinya dengan es setebal beberapa kaki dalam sekejap. Batu yang tertutup es berderak, retak oleh beratnya sendiri. "Tidak berfungsi? Ahh... Api tidak bisa dengan sekejap melelehkan es " Gumam Ryo yang segera berusaha untuk menghindari semua serangan yang di lancarkan ke arahnya. “Ryo... Ini tidak sepenuhnya mustahil. Tapi, mungkin kita membutuhkan sesuatu... Sesuatu yang lebih kuat lagi!” teriak Ayaka. Dia membentuk segel tangan. “Genjutsu: Mirage!” Gambar bayangan dari dirinya sendiri muncul di sekitar Glacia, menari-nari dan mengalihkan perhatian. Glacia menggeram dengan penuh amarah. Yah, makhluk itu tak sepenuhnya bodoh. Pastinya ia tak akan mudah di kelabui, tetapi itu cukup untuk mengecoh makhluk itu, sehingga Glacia segera memutar kepalanya kemudian menghantam secara membabi buta semua bayangan itu dengan hempasan dari ekornya. . . Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN