Hujan turun deras membasahi bumi. Di balik tabir rintik yang pekat, seorang bayangan melesat cepat, hampir tidak terlihat, menyusuri jalan setapak berlumpur di pinggir hutan.
Ryo, ninja berusia sembilan belas tahun dari Klan Serigala Abu-Abu, berlari. nafasnya bergerak cepat anik turun. Dadanya terasa perih, bukan karena lari, tetapi karena luka tikaman di bahunya yang masih mengucurkan darah dengan deras, dicampur air hujan menjadi cairan merah muda yang pucat. Lukanya bukan datang dari musuh, melainkan dari pedang saudara sesama klan sendiri.
"Lari, Ryo! Lari... Jangan pernah kau melihat ke belakang!"
Suara Kaito, teman masa kecilnya, masih bergema di telinganya, terpotong-potong oleh teriakan dan gemerincing pedang sesaat sebelum Ryo memutuskan untuk melompat melalui jendela gudang senjata. Dia tidak bisa melihat dan memastikan apakah Kaito bisa selamat. Dia hanya bisa lari dan terus berlari.
Dia menyelinap di antara pepohonan besar, kaki-kakinya yang terluka nyaris terpeleset beberapa kali di akar pohon yang licin. Pakaian ninjanya yang hitam basah kuyup, melekat erat di kulitnya, membatasi setiap gerakannya. Tapi itu adalah hal terakhir yang dipikirkannya. Di belakangnya, dari kejauhan, terlihat beberapa titik obor yang bergerak cepat, disertai suara siulan kode ninja yang menusuk dalam keheningan kegelapan.
Mereka masih terus mengejar Ryo.
Jantungnya berdegup kencang. Mereka, yang adalah saudara seperguruannya, orang-orang yang dia kira akan melindunginya, sekarang memburunya seperti seekor binatang buruan.
"Dia adalah pengkhianat! Bunuh Ryo!"
Teriakan Master Genzo, pemimpin klan, masih membekas telinganya. Betapa mudahnya tuduhan itu lontarkan kepada Ryo. Betapa cepatnya loyalitas yang dibangun dengan susah payah, dengan darah dan keringat selama bertahun-tahun hancur , dan hal itu hancur berantakan dalam satu malam.
Pikirannya melayang ke masa lalu,
Flashback . . .
Matahari terik, lapangan pelatihan di kompleks klan. Ryo kecil, berusia sepuluh tahun, terjatuh di atas tanah berdebu setelah dilempar oleh Hiroto, anak yang lebih besar darinya.
"Kau terlalu lemah, Ryo! Klan Serigala Abu-Abu itu butuh ninja yang kuat, bukan anak bawang yang tak berdaya seperti kau!" ejek Hiroto, disambut tawa rekan-rekan lainnya.
Ryo menggesek darah di sudut bibirnya, matanya berkaca-kaca tapi tidak ada air mata yang jatuh. Saat itu, sebuah bayangan tinggi besar menghalangi sinar matahari. Master Genzo.
"Apa yang terjadi di sini?" suaranya dalam, dan sangat berwibawa.
Hiroto langsung membungkuk hormat. "Maaf sensei. " Hiroto mengangkat pandanganya sekilas. " Dia jatuh dengan sendirinya, Sensei." Lanjutnya menundukkan wajahnya kembali.
Genzo tidak menjawab. Dia menatap Ryo. "Apa kau akan membiarkan dirimu diinjak-injak, Ryo?" Genzo terdiam sejenak." Apakah itu yang di ajarkan di perguruan?" Lanjutnya.
Ryo menggigit bibirnya, kemudian ia bangkit berdiri. "Tidak, Sensei!"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Genzo memandangi wajah Ryo.
"Aku akan berlatih lebih keras! Aku akan membuktikan bahwa aku layak untuk klan ini! Aku bersumpah akan setia sampai mati!" teriak Ryo dengan penuh keyakinan, mata kecilnya berbinar.
Master Genzo tersenyum, sebuah ekspresi yang sungguh langka. Dia meletakkan tangan di pundak Ryo. "Loyalitas dan kekuatan. Itulah yang membuat klan kita kuat. Ingat itu, nak."
Ryo membusungkan dadanya, rasa bangga memenuhi hatinya. Dia akan melakukan apa pun untuk klan, untuk Master Genzo.
Flashback pun berakhir. Pikirannya kembali ke kondisi dimana hal yang ia anggap sakral dahulu, sudah tak berarti sekarang.
Air mata akhirnya bercampur dengan air hujan di pipinya. Betapa ironisnya. "Setia sampai mati." Dan sekarang, mereka yang mengajarkannya kalimat itu justru ingin membawanya kepada kematian.
"DI SANA! AKU MELIHATNYA!"
Suara teriakan dari belakang menyadarkannya. Sebuah shuriken menyambar, mendarat dan menancap di pohon tepat di sebelah kepalanya. Keringat dingin sekejap mengucur dari pelipis Ryo, Tak berlangsung lama,ia kembali memacu nafasnya, mendorong dirinya untuk berlari lebih cepat. Mereka sudah semakin dekat.
Dia tahu hutan ini seperti punggung tangannya sendiri. Dia dan Kaito sering berlatih dan menjelajahinya. Itu keuntungannya satu-satunya. Para pengejar mungkin lebih banyak, tapi Ryo lebih lincah dan lebih mengenali medan.
Dia belok tajam ke kiri, meninggalkan jalan setapak dan menerobos semak belukar yang lebat. Duri mencakar kulitnya yang sudah terluka, tapi dia mengabaikan rasa sakitnya. Dia memanfaatkan pepohonan besar sebagai pelindung, bergerak secara zig-zag untuk mempersulit bidikan.
Dua ninja lain muncul di samping kirinya, mencoba menjepitnya. Ryo tidak berhenti. Dari balik lipatan bajunya, dia melemparkan tiga kunai bertanda ledakan kecil. Senjata itu bukan untuk membunuh, tapi untuk mengacau.
KRAK! Krak!
Ledakan kecil memercikkan lumpur dan memecah konsentrasi pengejar. Ryo memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat ke atas dahan pohon besar, bergerak dari satu dahan ke dahan lain dengan keahlian yang membuatnya dijuluki "Angin yang Berjalan" oleh Master Genzo.
Tapi julukan itu sekarang terasa seperti kutukan.
Dia terus bergerak, menjauh dari pusat desa. Satu-satunya arah yang mungkin ia tuju adalah menuju Tebing Naga, sebuah formasi batu curam yang dianggap angker oleh warga desa. Di kaki tebing itu, konon terdapat Goa Iblis, sebuah tempat yang dikutuk, pintu masuk menuju neraka. Tidak ada yang pernah masuk dan keluar dengan selamat. Tapi pada titik ini, mitos menakutkan itu terdengar lebih baik daripada ditangkap oleh klannya sendiri.
"Dia menuju tebing!" teriak salah satu pengejar.
"Jangan biarkan dia masuk ke goa! Bunuh dia di tempat!" balas yang lain.
Obor-obor semakin dekat. Ryo tahu dia tidak bisa mengalahkan mereka semua. Ada sekitar enam atau tujuh ninja di belakangnya, semuanya handal. Dia sudah lelah, terluka, dan sendirian.
Ryo semakin mempercepat lajunya. Akhirnya, pepohonan mulai menipis, dan dia melihatnya. Tebing Naga menjulang tinggi dan angker di balik tirai hujan,
Dan di dasarnya, seperti mulut neraka yang terbuka lebar, adalah pintu masuk Goa Iblis. Lubang gelap yang lebar, dikelilingi oleh batu-batu runcing yang menyerupai gigi. Bahkan dari sini, dia bisa merasakan hawa dingin yang tidak wajar menyembul dari dalamnya, seolah menantangnya.
Dia melompat turun dari pohon terakhir dan mendarat dengan tidak sempurna di tanah berbatu, lututnya nyeri. Dia menoleh ke belakang. Para pengejarnya sudah keluar dari hutan, membentuk formasi setengah lingkaran, perlahan mendekat. Di tengah mereka, berdiri seorang ninja tinggi dengan topeng serigala. Hiroto. Pasti dia.
"Sudah cukup, Ryo!" teriak Hiroto, suaranya nyaring menembus deru hujan. "Lagi pula kau tidak punya tempat untuk lari. Serahkan dirimu, dan mungkin Master Genzo akan memberikanmu kematian yang cepat."
Ryo berdiri tegak, meski napasnya tersengal-sengal. Darah dari lukanya mengalir deras di lengannya. "Aku tidak melakukan kesalahan apapun, Hiroto! Kalian yang dikelabui!"
Hiroto tertawa sinis. "Pengkhianat selalu mengatakan itu. Bukti-buktinya jelas. Kau menjual rahasia klan kepada Klan Elang Putih."
"Itu tidak benar! Itu jebakan!"
"Berhenti membual, Ryo," kata Hiroto, menarik pedangnya. Pedang-pedang lain pun mengikuti, berkilat sesaat oleh kilat yang menyambar di langit. "Ini sudah berakhir."
Ryo terjebak antara mulut goa dan saudara sesama klannya sendiri. Tak ada pilihan lain. Tak ada harapan lain.
Ryo melihat ke belakang, ke mulut goa yang gelap. Dia tidak punya pilihan. Masuk ke goa mungkin berarti mati, tetapi tetap di luar pasti berarti mati. Setidaknya di dalam, dia mungkin punya kesempatan, seberapapun kecilnya.
Dia mengambil langkah mundur.
"Jangan bodoh, Ryo!" hardik Hiroto, suaranya sedikit panik. "Masuk ke sana adalah bunuh diri! Lebih baik mati oleh tangan kami!"
Ryo menatap wajah Hiroto." Cih," Sembari ia meludah ke tanah." Kalian menginginkanku mati begitu saja? Tidak ada satu orang yang percaya dengan ucapanku. Dan lucunya kalian tidak membiarkanku untuk berbicara!" teriak Ryo, dengan sisa-sisa keberaniannya.
Dia kemudian berpaling dan berlari sekuat tenaga menuju kegelapan.
"Hentikan dia!" teriak Hiroto.
Shuriken dan kunai berdesing di sekelilingnya, menancap di tanah dan batu di sekitarnya. Satu bilah menyambar pahanya, darah menetes pelan dari luka itu, membuat Ryo sedikit goyah dan terhuyung, tapi dia tidak berhenti. Jarak sepuluh meter terasa seperti sepuluh mil.
Dengan teriakan menguak yang penuh dengan rasa putus asa, ketakutan, dan amarah, Ryo melompat ke dalam kegelapan mulut goa.
Dia mendarat dengan kasar di tanah berbatuan, menggulingkan tubuhnya beberapa kali ke dalam kegelapan yang pekat. Suara hujan dan teriakan dari luar tiba-tiba menjadi teredam, seolah-olah dia telah memasuki dunia yang berbeda.
Dia berdiri dengan goyah, berusaha menatap keluar. Dia bisa melihat siluet para pengejarnya berdiri di mulut goa, ragu-ragu untuk masuk. Hiroto tampak sedang berdebat dengan yang lain.
Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh rendah menggetarkan tanah di bawah kakinya. Ryo berbalik, mencoba menatap kegelapan di belakangnya, tapi tidak melihat apa-apa selain kegelapan yang lebih pekat.
Dari luar, Hiroto dan yang lain mendengar suara itu dan mundur selangkah.
"Apa itu?" desis salah satu ninja.
Tanpa peringatan, sebuah pintu batu raksasa, yang sebelumnya tidak terlihat karena tertutup lumut dan ilusi, tergelincir dari atas bingkai goa dengan suara menggeram yang mengerikan.
Hiroto hanya bisa melongo. "Pintu... itu..."
Dengan gemuruh yang memekakkan telinga dan getaran yang membuat Ryo jatuh berlutut, pintu batu raksasa itu menghantam tanah, menutup mulut goa dengan sempurna. Segera setelahnya, simbol-simbol aneh dan arcane yang terukir di permukaan pintu menyala dengan cahaya merah darah yang suram, memancarkan energi magis yang mencekik sebelum padam kembali, meninggalkan kegelapan total.
Suara terakhir yang Ryo dengar dari dunia luar adalah teriakan Hiroto yang teredam, penuh dengan emosi yang tidak bisa dia tempatkan—apakah itu kemarahan? Kekecewaan? Atau... ketakutan?
Lalu, keheningan yang pekat mulai terasa.
Dia benar-benar terjebak.Tak ada jalan keluar lagi, tak ada harapan lagi.
Dia meraba-raba di dalam kegelapan, tangannya menyentuh permukaan pintu batu yang dingin dan kasar. Tidak ada celah, tidak ada engsel, tidak ada pegangan. Itu adalah dinding yang solid, seolah-olah pintu itu tidak pernah ada. Dia memukulnya dengan tangan yang masih bisa digerakkan, tapi yang didapatnya hanya rasa sakit di buku-buku jarinya dan suara debaman yang tenggelam dalam keheningan kuburan ini.
"Tidak... tidak..." desisnya, suaranya bergetar, dipenuhi kepanikan yang mulai menjalar.
Dia menenangkan pikirannya, menarik nafas dalam-dalam." Tenang Ryo, kamu bisa. Setidaknya kamu mati karena bertarung layaknya ksatria. Bukan mati di tangan saudara seperguruanmu." Gumamnya kepada dirinya sendiri.
Dia merogoh kantongnya, mencari apa saja yang bisa memberinya secerca cahaya. Dia menemukan sebuah lighter kecil tahan air, perlengkapan standar untuk misi luar. Tangannya gemetaran saat dia menggesek batu apinya.
Crik.
Percikan api kecil muncul, menerangi sekelilingnya secara samar-samar selama satu detik sebelum padam.
Crik. Crik.
Akhirnya, nyala api kecil yang oranye muncul, bertahan. Itu mungkin bukanlah sumber cahaya yang baik, tetapi cukup untuk menerangi kegelisahan yang ada di matanya dan menerangi area gua di sekelilingnya.
Dia berada di sebuah terowongan batu yang lebar dan seolah tak berujung. Udara terasa basi, berdebu, dan berbau logam dan sesuatu yang... Mungkin busuk? Lantainya tidak rata, dipenuhi batu kerikil dan sesuatu yang terasa renyah di bawah sepatu ninjanya—mungkin tulang? Tapi dia tidak ingin melihat lebih dekat. Jantung dan nafasnya tak berhenti berdegub kencang.
Dinding gua ini sangat basah, berlumut, dan uniknya dihiasi oleh ukiran-ukiran aneh yang terlihat sangat tua dan kuno,sesuatu yang ia tak pernah temukan di ukiran-ukiran yang ada di luar dunia yang luas itu. Seolah menggambarkan makhluk-makhluk mengerikan yang sedang menyiksa manusia. Cahaya lighter-nya yang kecil membuat bayangan-bayangan itu terlihat bergerak dan seolah menari, menambah suasana menjadi semakin mencekam.
Dia mencoba bangkit dan mengobati lukanya.
Dengan gigitan giginya, dia merobek sebagian dari bagian bawah jubah ninjanya yang sudah compang-camping. Dengan susah payah, dia membalut luka di bahu dan pahanya sebaik mungkin. Setiap sentuhan terasa menyakitkan, tetapi dia harus tetap melakukannya.
Setelah selesai, dia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya. Kepanikan tidak akan menyelamatkannya. Dia adalah ninja Klan Serigala Abu-Abu. Dia telah berlatih untuk bertahan dalam kondisi terburuk. Meski kondisi ini berada di luar semua kondisi dalam pelatihannya.
Dia mengangkat lighter-nya lagi, mencoba melihat lebih jauh ke dalam terowongan. Koridor itu tampak menurun, menghilang ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Dia tidak bisa melihat ujungnya.
Dia harus terus bergerak. Berdiri dan menunggu disini tentu hanya akan menarik perhatian sesuatu yang entitasnya tak pernah ia ketahui.
Dengan langkah hati-hati, Ryo mulai berjalan menyusuri terowongan, meninggalkan pintu yang tertutup rapat di belakangnya. Setiap langkahnya menggema, suara yang terlalu keras dalam keheningan yang mematikan ini.
Pikirannya berputar-putar. Siapa yang telah menjebaknya? Mengapa Master Genzo begitu mudah mempercayainya? Apakah Kaito selamat?
Tapi pertanyaan-pertanyaan itu harus ditunda dulu. Sekarang, yang terpenting adalah bertahan hidup! .
Dia berjalan selama mungkin, mungkin hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti satu jam. Lighter-nya mulai panas dan nyalanya mulai tidak stabil. Ketakutan baru menyelimutinya, bagaimana jika cahayanya padam?
Tiba-tiba, dia mendengar sesuatu.
Seperti sesuatu yang diseret di atas batu.
Ryo berhenti, mematikan lighter-nya. Dia membeku di tempat, mencoba mendengarkan dalam kegelapan total.