Bab 2 : Ryo vs inferno

1217 Kata
Suara itu semakin dekat. Dan kemudian, dia melihatnya. Sekitar dua puluh meter di depannya, sepasang titik cahaya merah menyala, melayang di dalam kegelapan. Dan pastinya, Itu bukan cahaya yang bersahabat. Itu adalah cahaya yang penuh dengan kelaparan dan kebencian. Jantung Ryo berdegup kencang. Dia menyalakan lighter-nya dengan gemetar. Cahaya kecil itu mulai suara dan titik merah itu dan yap. Makhluk itu terlihat seperti anjing, tapi kulitnya tidak berbulu, melainkan tertutup oleh sisik batu yang retak-retak, dengan cairan lava merah menyala mengalir di antara celah-celahnya. Mulutnya menganga, meneteskan air liur yang membuat batu berasap. Dan mata merahnya itu menatap langsung padanya. Inferno. Iblis tingkat rendah penjaga pintu masuk. Untuk sejenak, ia menahan nafasnya. Matanya terbelalak. Seumur hidupnya, ia tak pernah bertemu dengan hewan seperti itu. Bahkan dalam mitos apapun di seantero Jepang. Ryo menarik nafas dalam-dalam." Ryo tenanglah. Terkadang dunia itu tak seperti yang tertulis di dalam buku sejarah." Ucapnya kepada dirinya sendiri. Meski keringat dingin mengucur, ia tetap mencoba bertahan. Ia menyeka keringat itu. Ryo tidak punya waktu untuk takut. Naluri ninjanya mengambil alih jiwanya. Dia menjatuhkan lighter-nya, yang langsung padam, dan menerjunkan dirinya ke samping tepat saat makhluk itu melonjak. Dia merasakan hawa panas yang membakar melewati tubuhnya. Dia mendarat dan berguling, meraih kunai terakhirnya dari sarungnya. Dia tidak bisa melihat apapun, ia hanya mengandalkan pendengarannya. Dengusan panas dan langkah kaki bersisik di batu. Dia sontak melemparkan kunai-nya ke arah suara itu. Dring! Suara logam membentur batu. Dia meleset. AARRGGHH! Makhluk itu menatap Ryo. Tubuh besar dan mengerikan terpampang di hadapan Ryo. Air liur makhluk itu menetes ke batu. Uap panas menguap dari batu yang terkena air liur. Dengan raungan yang penuh kemarahan, makhluk itu menyerang. Ryo terkena serangan, iamerasakan cakar panas mencakar lengannya, membakar kulit melalui bajunya. Dia menjerit kesakitan dan memukul dengan tangan kosongnya, mengenai sesuatu yang keras. Batu... Ya memang Batu yang panas. Itu batu ya kawan. Sudah berapa kali saya jelaskan dari atas. Dia meloncat mundur, punggungnya membentur dinding. Dia terjepit. Di antara dua batu. Dan batu satunya penuh dengan amarah. Bau belerang dan panas semakin menjadi-jadi. Dia bisa mendengar napas panas makhluk itu tepat di depan wajahnya. Mata merah itu muncul kembali dalam kegelapan, hanya berjarak satu meter darinya. Ini akhirnya. Dia akan mati di sini, di tempat terkutuk ini, tanpa seorang pun yang tahu. "Aku akan membuktikan bahwa aku layak untuk klan ini! Aku akan setia sampai mati!" Seperti sekian detik, ia terdiam kembali. " Tidak Ryo, bukan untuk klan. Tapi orang yang akan menghancurkan klan yang tidak tau terimakasih! " Kata-katanya sendiri dari masa lalu bergema dalam kepalanya. Kemarahan yang tiba-tiba, lebih panas dari lava di tubuh makhluk itu, menyala dalam dirinya. Dia tidak akan mati seperti ini. Tidak sebelum dia membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Tidak sebelum dia membalas dendam kepada mereka yang menjebaknya. Dengan teriakan mengamuk yang memenuhi terowongan, Ryo mendorong dirinya dari dinding dan menerjang ke arah mata merah itu, tangan terbuka, siap merobek apapun yang dia bisa dengan kukunya. Dia menabrak tubuh yang panas dan bersisik itu. Dia dan makhluk itu jatuh berguling-guling. Ryo merasakan kulitnya melepuh, tapi dia tidak peduli. Dia memukul, mencakar, dan menggigit seperti binatang buas. Matanya tertuju ke sebuah celah dari d**a makhluk itu. Setiap serangan yang ia lancarkan, makhluk itu selalu melindungi titik merah padam yang ada di tubuhnya. " Jadi itu yah. Sungguh aneh, tapi mungkin kita coba." Gumamnya. Makhluk itu meronta liar, mencoba menggigitnya agar serangan itu tak mengenai dadanya. Cakarnya mencakar sisi tubuh Ryo. Tubuh Ryo tak sekuat yang terlihat. Sebagai tubuhnya melepuh. Panas dan perih. Tubuh Ryo di hempaskan oleh makhluk itu. Prakk..!! Tubuhnya menerjang bebatuan yang tajam. Punggungnya terluka dan berdarah akibat batu yang tajam. Arrrggghhh...!! Teriakan Ryo menggema. Beberapa bebatuan terjatuh dan melukai pelipisnya. Darah mengalir hingga membasahi matanya. Perih, tapi ia tetap mencoba bertahan. Semua tenaganya terkuras. Semua latihan yang ia lakukan seolah tak ada artinya. "Arhhhhh...! " Ryo menatap tajam ke arah makhluk itu." Lebih baik mati setelah mencoba daripada mati tanpa perlawanan." Tubuhnya lunglai, bergetar hebat. Ia menatap kedua tangannya yang gemeteran. Ia menerjam lagi dengan sisa-sisa tenaganya. Sebuah pertarungan monoton dan alot. Tiba-tiba, dalam pergumulan itu, matanya terfokus ke d**a makhluk itu. Cakaran dan pukulan ia Terima mentah-mentah, lalu tangan Ryo meraih sesuatu yang panas dan berdenyut di d**a makhluk itu. Tanpa pikir panjang, dia mencengkeramnya sekuat tenaga dan menariknya. Darah panas menyembur keluar. Makhluk itu melengking, suaranya penuh siksaan dan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya berkedut dan kemudian... meledak menjadi abu panas. Ryo terlempar ke belakang, membentur dinding sekali lagi. Dia terbatuk, menghirup abu panas yang membuatnya pusing. Kegelapan total kembali. Dia duduk sejenak, terisak-isak, tubuhnya berdarah dan terbakar. Dia hampir tidak bisa bernapas. Apa yang baru saja terjadi? Kemudian, dia merasakannya. Sebuah kehangatan aneh mengalir dari tangannya, naik melalui lengannya, dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Kehangatan itu bukan seperti api yang membakar, tapi lebih seperti kekuatan yang membara. Luka-lukanya terasa sedikit lebih baik, rasa sakitnya berkurang. Dadanya berkedut, meski tubuhnya sempat membaik, tapi tiba-tiba ia merasakan nyeri dan panas menyebar. "Arrrggghhh..." Ia berdiri, rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Panas dan membakar. Mata Ryo mengeluarkan darah yang mengalir. Pori-poriny melepuh. Ia berputar, berguling-guling, hingga ia menabrak batu-batu di dinding. Yap panas menyembul di tubuhnya." Aku... Aku tidak akan mati." Jantungnya seolah hampir meledak. Tak.. Tak.. Takk. Ia hampir mati, nafasnya tak karuan. Ia mencakar batu hingga kukunya berdarah." Aku tak tahu! Aku tak ingin, tapi, aku harus bertahan. Meski aku mati sekalipun." "TIDAK...! KAU TIDAK BOLEH MATI RYOOO...! " Ia memgaum sekencang mungkin. Kepalanya mendongkrak ke atas ia berteriak kesakitan.! " Tak lama kemudian, di kepalanya, sebuah pengetahuan asing muncul, seperti sebuah naluri primitif. Api, bisik sebuah suara dalam pikirannya. Kau dapat memanggilnya. Dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan, Ryo mengangkat tangannya. Dia berkonsentrasi pada perasaan sakit, panas, dan kemudian hangat, yang baru itu, memanggilnya, memerintahkannya. Berkilau. Sebuah nyala api kecil, sebesar koin, muncul di ujung jari telunjuknya. Itu tidak menyakitinya lagi. Itu terasa... alami. Seperti bagian dari dirinya sendiri. Cahaya itu menerangi wajahnya yang penuh keringat, darah, dan sakit yang tak terucapkan. Di depannya, hanya ada tumpukan abu yang masih hangat. Perlahan tubuhnya tak sakit lagi. Tubuhnya bergenerasi perlahan. Seolah kekuatan itu masuk dan terserap ke seluruh tubuhnya. Ryo tertawa, suara kecil yang hampir histeris dalam keheningan goa yang mencekam. Itu bukan tawa kebahagiaan, tapi tawa akan kegilaan dan kelegaan yang luar biasa. Ia terdiam kembali. Senyum dari bibirnya menyeringai pelan." Ahhhh kekuatan apa ini. Sungguh, sungguh, sungguh menyenangkan..." Inferno telah terserap kedalam tubuhnya. Dia selamat dari pertemuan pertamanya. Tapi cahaya api kecil di jarinya hanya menerangi sedikit ke depan, menunjukkan terowongan yang masih panjang dan gelap, menuju kedalaman yang lebih mengerikan. Dia berdiri, tubuhnya masih sakit tapi tekadnya membara seperti api baru di ujung jarinya. Goa Iblis telah memaksanya masuk. Itu telah mengambil kebebasannya. Tapi sebagai gantinya, secara tidak sengaja, itu memberinya alat untuk bertahan hidup. Dia tidak tahu ada berapa banyak iblis di tempat ini. Dia tidak tahu bagaimana caranya keluar. Tapi satu hal yang dia tahu, dia akan bertahan. Dia akan belajar. Dia akan menjadi kuat. Dan suatu hari nanti, ketika dia keluar dari neraka ini, mereka semua yang telah mengkhianatinya akan menyesal. Dengan api kecil yang masih menari di jarinya, Ryo, sang pelarian yang sekarang menjadi tahanan, mengambil langkah pertama yang pasti menuju kedalaman kegelapan, siap menghadapi apapun yang menunggunya.... Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN