Kegelapan itu tidak hanya sebuah gelap. Tapi Ryo bagai di telan mentah-mentah oleh sebuah entitas hitam yang hidup. Hanya sebuah titik api kecil sebesar koin di ujung jarinya yang menantang keputusasaan itu, menari-nari dengan liar, melemparkan bayangan-bayangan aneh yang seolah mengejeknya di dinding batu yang kasar. Cahayanya yang oranye lemah justru membuat kegelapan di sekelilingnya terasa lebih dalam, lebih mencekam.
Ryo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang seperti genderang perang. Bau belerang dan daging hangus dari abu iblis yang baru saja dia bunuh menusuk hidungnya, bercampur dengan aroma darahnya sendiri yang bak metalik dan keringat dinginnya. Setiap inci tubuhnya merasa kesakitan. Luka di bahunya, yang dibalut seadanya dengan sobekan jubah, berdenyut-denyut dengan ritme yang menyiksa dan intens. Ya meski sudah berregenerasi sebagian. Luka bakar di lengannya dan sisi tubuhnya terasa seperti masih terbakar, kulitnya melepuh dan memerah. Sentuhan dingin dan lembap udara goa justru memberikan sedikit kelegaan pada luka bakarnya, tapi juga membuatnya menggigil.
Dia masih duduk bersandar di dinding, tubuhnya lemas. Matanya, yang sudah mulai menyesuaikan diri dengan cahaya minim, menatap tumpukan abu yang masih memancarkan sisa-sisa bara. Inferno. Itulah nama yang muncul di kepalanya, sebuah pengetahuan asing yang tertanam begitu saja, sebagai hadiah dari makhluk yang telah dia bunuh.
"Kau dapat memanggilnya." Suara itu entah dari mana muncul. Sepersekian detik, ia mencari sumber suara, pandangannya lun tertuju ke nyala api.
Dia menatap dalam nyala api di jarinya. Itu terasa... aneh. Seperti ada sungai kecil panas yang mengalir di dalam pembuluh darahnya, menunggu mendapatkan tuan untuk dikendalikan. Bukan perasaan yang jahat atau roh yang mengganggu, tapi ia merasakan kekuatan yang liar dan berbahaya dan pastinya luar biasa. Dia kemudian menutup matanya, dan mencoba untuk berkonsentrasi. Dia mencoba memerintahkan api itu agar padam.
Dan yap. Api itu pun lenyap, dan kegelapan pun menyergapnya lagi, lebih menakutkan dari sebelumnya.
"Ohh Ryo... Apa yang kau lakukan. Sumpah gelap sekali, dingin, " Gumamnya.
Jantungnya mulai berdebar kencang. Dengan panik, dia segera memerintahkan api itu muncul kembali. Berkilau. Api kecil itu langsung menyala, setia, menghangatkan ujung jarinya. Ryo menghela napas lega. Itu nyata. Kekuatan ini nyata. Itu adalah satu-satunya hal yang dia miliki sekarang.
"Ahhh... Apakah aku akan jadi avatar? Atau ninja yang punya kekuatan sihir, atau bisa buat naga dari apa? Atau mungkin." Ia terdiam sejenak. Lalu ia mengangkat wajahnya dan mengacungkan jarinya ke atas." Aku akan jadi pahlawan super."
Tapi, dia harus terus bergerak. Duduk di sini berarti mati. Entah karena lukanya, kehausan, atau karena makhluk lain yang pasti akan tertarik dengan aroma darah dan pertempurannya.
Terowongan itu lebih lebar dari yang dia duga. Langit-langitnya tinggi, ditutupi stalaktit runcing seperti gigi raksasa yang meneteskan air secara konstan, menciptakan genangan-genangan kecil di lantai yang tidak rata. Suara tetesan air itu adalah satu-satunya suara selain napasnya sendiri, sebuah ritme yang menyedihkan dan menegaskan kesendiriannya yang absolut.
Dia memutuskan untuk berjalan, meninggalkan pintu yang tertutup. Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Satu langkah. Lalu langkah lainnya. Setiap langkah adalah sebuah pencapaian. Dia menyusuri terowongan, tangan kirinya (yang tidak memegang api) meraba dinding yang kasar untuk keseimbangan, sementara matanya waspada memindai setiap bayangan yang bergerak, setiap suara yang tidak biasa.
Pikirannya, yang didera rasa sakit dan kelelahan, tidak bisa berhenti. Seolah-olah ada suara yang memggema di pikirannya.
"Mereka membencimu, Ryo. Mereka ingin kau mati. "
Terdengar suara Master Genzo yang penuh kebencian.
" Kau terlalu lemah, Ryo!" Ejekan Hiroto.
"Lari, Ryo! Jangan pernah melihat ke belakang! " Teriakan terakhir Kaito.
Suara-suara itu berpura-pura terus di kepalanya.
Air mata panas mengembun di sudut matanya, tetapi dia dengan cepat mengusapnya dengan bahu yang tidak terluka. Tidak. Tidak ada tempat untuk air mata di sini. Air mata tidak akan menyembuhkan lukanya. Air mata tidak akan membawanya keluar dari sini. Kemarahan, bagaimanapun, mungkin akan melakukannya. Kemarahan itu hangat, seperti api di dalam dirinya. Itu memberinya kekuatan untuk terus berjalan.
Dia berjalan mungkin selama setengah jam, meskipun waktunya terdistorsi dalam keabadian yang gelap ini. Terowongan itu bercabang beberapa kali, dan dia selalu memilih jalan yang tampaknya menurun, masuk lebih dalam ke perut bumi. Insting ninjanya memberitahunya bahwa jalan keluar tidak akan ditemukan di dekat permukaan.
Lalu, dia menciumnya. Sebuah aroma yang berbeda. Bukan bau debu dan batu basah. Tapi sesuatu yang... manis dan busuk. Seperti daging yang membusuk dicampur dengan madu. Itu membuat perutnya mual. Dia melambat, indranya siaga tinggi.
Terowongan di depannya membuka ke sebuah ruangan yang lebih besar. Dari kejauhan, dia bisa melihat cahaya kehijauan yang suram dan berkedip-kedip, memancarkan siluet yang aneh. Sumber baunya berasal dari sana.
Ryo menekan dirinya ke dinding, mematikan apinya. Dia merayap pelan-pelan, menggunakan setiap tonjolan batu dan stalagmit sebagai penyembunyi. Saat dia mendekati mulut ruangan, suara barulah muncul—suara desisan rendah, mendengkur, dan suara seperti sesuatu yang besar sedang bergerak malas.
Dia mengintip dari balik tepi batu.
Pemandangan yang membuatnya hampir muntah.
Ruangan itu luas, mungkin sebesar balai latihan klannya. Lantainya bukan lagi batu, tetapi sesuatu yang lunak, bergelombang, dan berdenyut lemah, seperti daging raksasa yang hidup. Permukaannya berlendir dan dipenuhi dengan pembuluh darah tipis yang bercahaya dengan cahaya hijau pucat yang sama, menerangi seluruh ruangan dengan cahaya hantu yang menakutkan. Di seluruh permukaan "lantai" yang hidup ini, tersebar tulang-belulang. Tulang manusia, tulang makhluk yang tidak dikenali, semuanya bersih dilucuti dagingnya hingga mengkilap.
Dan di tengah ruangan, berbaring di atas singgasana yang terbuat dari tengkorak dan tulang rusuk yang disusun, adalah makhluknya.
Itu adalah ular, tapi bukan ular biasa. Ukurannya sebesar batang pohon besar, dengan panjang yang tidak bisa dia tebak karena tubuhnya yang melingkar-lingkar. Kulitnya bukan sisik, tetapi lapisan lendir tebal dan transparan, di bawahnya terlihat otot-otot yang berdenyut dan organ dalam yang bercahaya dengan cahaya hijau racun. Kepalanya berbentuk segitiga, dengan mata majemuk yang besar dan hitam seperti kaca yang memantulkan cahaya hijau itu. Yang paling mengerikan adalah mulutnya—mulut yang selalu terbuka, mengeluarkan cairan lendir kehijauan yang menetes ke "lantai" dan menyebabkan asap naik perlahan. Dari mulut itulah aroma manis dan busuk itu berasal.
Ryo menahan napas. Hydra. Nama itu muncul lagi di benaknya, meski makhluk ini hanya memiliki satu kepala. Mungkin versi muda, atau jenis yang berbeda. Tapi dia bisa merasakan kekuatannya—energi kehidupan yang liar dan kemampuan regenerasi yang kuat.
Tujuannya bukan untuk bertarung. Tujuannya adalah untuk melewati ruangan ini tanpa menarik perhatiannya. Dia melihat ke seberang ruangan. ada dua terowongan keluar lainnya. Dia harus memilih satu.
Dia memeriksa langit-langit. Mungkin dia bisa memanjat? Tapi langit-langitnya juga tertutup oleh material hidup yang berdenyut itu, dan tampaknya licin.
Lantai? Mustahil. Berjalan di atasnya akan seperti berjalan di atas perangkap lengket.
Dinding samping. Itu satu-satunya pilihan. Ada semacam tepian batu sempit, seperti jalur yang mengelilingi ruangan, sekitar tiga meter di atas lantai yang hidup. Itu sempit, mungkin hanya selebar satu kaki, dan licin karena kelembapan. Tapi itu adalah satu-satunya jalan.
Dia harus bergerak cepat dan sunyi.
Dia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Kemudian, dengan keanggunan yang telah dilatih sejak kecil, dia melompat, meraih tepian batu itu, dan kemudian ia mengangkat dirinya dengan diam-diam. Tangannya yang terluka membuat ia berteriak kesakitan, tapi dia mengatupkan giginya. Dia berdiri dengan hati-hati di atas jalur sempit itu, menyebarkan tangannya untuk keseimbangan.
Dia mulai merayap di sepanjang tepian, pandangaj mata nya tidak pernah terlepas dari Hydra di bawah. Makhluk itu tampaknya sedang tidur, atau setidaknya dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya yang besar berdenyut dengan perlahan.
Bersambung...