Kita lanjutkan lagi. Dan jujur apakah kalian bisa menerka apa yang terjadi?
Satu langkah , langkah kedua. Ryo sudah setengah jalan. Dia bisa melihat sebuah terowongan di seberang, gelap dan penuh rahasia.
Lalu, nasib berbalik. Sebuah tetesan air dari stalaktit di atas jatuh tepat di bahunya yang terluka. Itu bukan air biasa, itu seperti asam. Dan mungkin benar asam. Rasa sakit yang tajam dan membakar, menambah rasa perih lukanya, membuat Ryo hampir menjerit. Ryo refleks menggigit bibirnya sampai berdarah, agar ia bisa menahan suara, tetapi gerakan mengadaknya itu memicu sepotong batu kecil terlepas dari tepian dan jatuh.
Plunk.
Suara itu kecil dan hampir tak terdengar. Tapi itu sudah cukup menarik perhatian seekor iblis yang punya indra yang peka.
Mata Hydra yang hitam dan mirip mata serangga itu berkedip, menyapu seluruh ruangan. Mencari sumber suara. Sorot mata itu terhenti tepat ke arah Ryo.
Tanpa amarah, tanpa emosi. Yang ada hanya rasa lapar, seolah iya menemukan mangsa yang bisa memuaskan rasa laparnya.
Dengan desisan keras yang tiba-tiba, makhluk itu seketika mengangkat bagian depan tubuhnya, mulutnya terbuka lebar. Kabut tipis berwarna hijau kelaur dari mulutnya. Aroma yang yang manis dan memabukkan.
"Agak lain, emm... Selain racun apalagi coba yang keluar dari mulut iblis." Gumam Ryo." Here we go, lagiii..!! " Sejenak Ryo saling menatap dengan iblis itu, dan saat uap racun hampir memenuhi ruangan, ia pun segera melangkah pergi, menjauh dengan sekuat tenaga. Ia berlari di sepanjang tepian yang sempit, rasa sakit dan ketakutan pun is abaikan.
Hydra tidak langsung mengejarnya. Sebaliknya, tubuhnya yang besar itu mulai bergetar, dan dari dalam lendir basah di lantai, sesuatu yang lain muncul. Tiga, lalu lima, kemudian tujuh makhluk seperti cacing besar, seukuran anjing, dengan mulut melingkar mereka yang di penuh dengan gigi. Mereka adalah bagian dari diri Hydra, tapi dengan kekuatan yang tak seberapa. Mereka segera merayap dengan cepat ke atas dinding, mengejar Ryo dengan liar dan brutal.
Mata Ryo awas menatap makhluk buas itu dari sudut matanya. Ia mencoba mengatur rencana di waktu yang sangat singkat di sela pelariannya itu.
Tanpa membuang waktu, Ryo langsung mengeluarkan api di jarinya lagi, bukan untuk menerangi jalan, tapi untuk senjata. Ryo menarik nafasnya dalam dalam. Mencoba memfokuskan kekuatan Inferno yang bersemayam di tubuhnya.
Saat cacing pertama mendekat—dan melompat ke arahnya, Ryo langsung mengayunkan tangannya. Api itu menyamba keluar dari telapak tangannya, api itu langsung membakar tubuh lendir makhluk itu. Makhluk Itu Itu menjerit—suara mencicit yang tinggi—dan jatuh menghantam lantai. Serangan itu tak sampai di situ, makhluk yang lain terus berdatangan.
Ryo terus berlari sambil memukul setiap makhluk yang mendekat dengan cambukan api. Tapi kekuatannya masih lemah. Ia masih beradaptasi dengan kekuatan itu. Api itu hanya mengusir mereka, tidak cukup kuat untuk di pakai membunuh. Dan setiap kali dia menggunakannya, dia bisa merasakan kehangatan di dalam dirinya berkurang sedikit demi sedikit. Kekuatan ini memiliki batasan waktu penggunaan.
Tujuan nya sudah terlihat di depan mata. Dia hampir mencapai ujung ruangan. Terowongan itu hanya berjarak beberapa lompatan.
Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar, lantai berlendir itu seolah hidup. Induk Hydra mulai bergerak. Dan dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran besarnya, makhluk itu meluncur melintasi lantai yang licin, mulutnya menganga, dan siap menelan Ryo dan tepian tempatnya berdiri sekaligus.
Ryo hanya punya 2 pilihan kesempatan untuk bertahan hidup, melompat ke bawah ke lantai yang hidup dan beracun, atau dilahap hidup-hidup oleh iblis.
Di bawah, cacing-cacing kecil sedang telah menunggu mangsanya. Dan didepannya, terlihat mulut ular itu semakin mendekat.
Kepanikan mulai meracuni dirinya. Tapi tidak! . Ryo tidak akan mati, setidaknya sebelum ia berhasil membalas sakit hati yang ia Terima dari klan Serigala.
Ia berdiri tegap. Matanya lurus memandang mulut makhluk itu, mulut yang siap menerkamnya.
Ryo mengernyitkan dahinya. Sebuah senyuman tersimpul di bibirnya." Kalau tidak bisa di serang dari luar, kenapa tidak bisa di serang sari dalam." Ia menarik nafasnya dalam-dalam." Kemarilah datang ke ayah...!" Teriak Ryo menggema di seluruh ruangan.
Teriakan yang penuh keyakinan, Ryo tidak melompat ke samping, tapi justru ke depan—langsung ke dalam mulut makhluk itu.
Dunia seolah berputar. Dia terjatuh dalamnlendir dan racun, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan fleksibel—tenggorokannya. Tak bersama lama, ia pun segera meluncur ke bawah, terjatuh ke dalam perut makhluk itu.
Tempat itu gelap total, pengap, dan panas dengan suhu yang tidak stabil. Cairan asam mulai langsung membakar kulit dan pakaiannya. Dia berteriak kesakitan, berjuang untuk berdiri di dalam perut Hydra.
Tapi kabar baiknya, ini juga berarti dia terlindung dari gigi dan racun Hydran untuk sementara.
Dia menyalakan api di tangannya. Cahayanya menerangi kantong berdaging yang mengerikan di sekelilingnya. Dindingnya berdenyut, dan cairan pencernaan hijau menggenang di sekitar kakinya, membakar sepatu botnya.
"Aku harus keluar sekarang.!" Gumamnya.
"Inferno...! Akulah tuanmu!. Kau telah bertekuk lutut di hadapanku. Kerahkan kekuatan iblis apimu!" Teriaklah menggema.
"TERBAKARLAH!" dia berteriak dalam pikirannya.
Api di tangannya menyala-nyala, berkembang dari sekedar titik menjadi bola api yang besar dan penuh amarah, menerangi seluruh rongga perut dengan cahaya oranye yang terang. Cairan pencernaan itu mendidih dan menguap. Daging di sekelilingnya menjerit—bukan jeritan fisik, tetapi jeritan metafisik dari makhluk yang terluka parah.
-(Deskripsikan saja sendiri teriakan makhluk buas ini sesuai dengan kepercayaan masing-masing) -
Ryo memukul dan mendorong tangannya yang berapi ke dinding perut Hydra.
Daging itu membara, meleleh, dan terbuka.
Dari luar, Hydra raksasa itu menggeliat kesakitan, tubuhnya menghantam dinding dan langit-langit, menyebabkan getaran besar. Lalu, dari samping tubuhnya, sebuah semburan api dan daging yang terbakar meledak keluar, dan dari dalamnya, keluar seorang pemuda yang terbungkus api dan lendir, terjatuh ke lantai yang hidup.
Ryo mendarat dengan keras, ia berguling untuk mematikan api yang membakar pakaiannya. Ia mencoba untuk berdiri, meski sambil terhuyung-huyung. Seluruh tubuhnya terbakar, baik dari luar maupun dari dalam. Dia telah menggunakan hampir semua kekuatan apinya.
Di depannya, Hydra yang sekarat menggeliat-geliat, lubang besar yang membara di tubuhnya. Cahaya hijau di tubuhnya meredup. Cacing-cacing kecilnya sudah tidak bergerak lagi, meleleh menjadi lendir.
Ryo berdiri disana, napasnya terengah-engah, matanya menatap dalam kepada makhluk yang hampir membunuhnya. Lalu, dia merasakannya lagi—aliran energi yang lebih besar, lebih kuat, mengalir dari makhluk yang sekarat menujunya. Itu terasa seperti kehidupan itu sendiri, energi mentah yang membanjiri setiap sel dan atom dalam tubuhnya.
Luka-lukanya yang terbakar mulai ter-generasi. Kulit yang melepuh itu mulai mengempis dan perlahan mengering. Rasa sakit di bahunya mereda.
"Ahhh... Hydra. Maaf yah kekuatanmu saat ini sudah jadi milikku." Ryo berdiri dengan gagah, sambil menyerap seluruh kekuatan dari iblis itu.
Pengetahuan baru muncul. Regenerasi.
Dia tidak hanya bisa menyembuhkan dirinya sendiri sedikit lebih cepat, tapi dia bisa merasakan bahwa tubuhnya yang sekarang dapat pulih dari luka yang bahkan bisa membuat ia terbunuh sekalipun.
Dia melihat tangannya. Kulit yang terbakar sudah hampir pulih sepenuhnya.
Ryo mulai berjalan dengan pelan mendekati Hydra, matanya menatap dalam ke Hydra yang sudah tak bernyawa, tubuhnya yang besar sekarang hanya menjadi bangkai yang tidak bergerak, cahaya hijaunya itu pun padam.
Ryo mendapatkan kekuatan baru lagi. Kekuatan yang di luar nalar dan logika manusia di luar sana.
Tapi harga yang haru ua bayar sungguh sepadan.
Dengan napas yang masih berat , Ryo melihat sekeliling ruangan yang sekarang sunyi. Bau manis itu mulai menghilang, digantikan oleh bau daging terbakar yang tajam.
Dia terus berjalan, jangan sampai ada sosoknlain yang tertarik dengan kegaduhan yang baru saja terjadi
Dia memilih terowongan di seberang ruangan dan berjalan masuk, meninggalkan reruntuhan di belakangnya. Tubuhnya masih sakit, tetapi kekuatan barunya memberinya harapan. Sebuah harapan yang gelap dan berdarah.
Dia adalah tahanan di Goa Iblis. Tapi dia juga seorang pemburu. Dan dia baru saja mendapatkan power yang lebih kuat.
Perjalanan barunya yang gelap dan berbahaya baru saja dimulai, dan pelajaran malam ini telah mengajarkannya satu hal. untuk bertahan hidup, dia harus menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih kejam daripada iblis-iblis yang menghuni neraka ini. Dan dia akan melakukannya, tidak peduli berapa banyak pengorbanan yang harus ia bayar untuk menebus hal itu.
Bersambung...