Di belakang Akuarium.

1154 Kata
Semua terdiam. Ketukan di pintu kembali terdengar saat matahari sudah ada di atas kepala. Tepat di tengah hari. Dave yang saat itu masih duduk di sudut ruangan seketika menatap jam yang terlihat tertempel di atas tembok. Kemudian lelaki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri July. Ia menepuk pundak lelaki itu, setelahnya ia bergumam masih dengan suaranya yang khas dan tak jelas, “Sudah saatnya mereka datang. Jangan sampai mereka menerobos pintu.” Seketika July tersadar. Benar yang dikatakan oleh Dave si lelaki dengan perut buncit itu. Bagaimana jika mereka, makhluk-makhluk yang entah dari mana datangnya itu berhasil menerobos masuk ke dalam kamar July? Ia segera bergegas untuk melakukan pertahanan. Berlari mengunci pintu yang masih terdengar ketukan dari baliknya. Ketukan itu bukan lagi terdengar seperti ketukan biasa. Sudah terdengar seperti dentuman. Seperti bola basket yang dilemparkan dengan kekuatan ekstra. Bahkan terdengar sepertimseolah-olah mereka hendak menghancurkan pintunya. Sepertinya orang atau makhluk di balik pintu itu berusaha keras untuk masuk. Suara semakin gaduh. Dari balik pintu itu, July dapat simpulkan kalau jumlah mereka lebih dari satu. Tidak seperti sebelumnya di mana ketukan itu terasa biasa saja. Tidak begitu parah. Pintu yang berwarna putih itu kini sudah berubah warna, bermotif merah penuh dengan darah yang menempel juga di tubuh mereka. July dengan segera mengambil meja kecil di sudut ruang, mencoba untuk mengganjal pintu selagi mereka masih menggedor-gedor, mencoba untuk mendobrak pintu. Semua kunci sudah ia pasang memang, tapi ia masih belum yakin kalau dengan kunci-kunci itu mereka masih bisa ditahan. Sementara itu, dari tengah-tengah pintu tersebut, terdapat lubang intip yang memang sudah tersedia untuk melihat seseorang di luar. Lubang yang cukup besar, sebesar koin. July, dengan hati-hati mengintip melalui lubang tersebut. Memang di setiap pintu di rumah, tidak, lebih tepatnya di setiap pintu yang menghadap ke luar, terdapat lubang kecil untuk mengintip siapa yanga da di balik pintu tersebut. July mengintip dari kupang sebesar koin itu. Terlihat seseorang yang ternyata tingginya lebih tinggi dibanding lubang tersebut. Begitu ia mengintip dari lubang itu, yang terlihat adalah bagian d**a dari makhluk aneh yang sedari tadi membentur-benturkan kepalanya ke pintu. Makhluk itu terlihat mirip dengan manusia pada umumnya, mengenakan kemeja biru muda dengan bercak darah. Segera, July mengarahkan pistol dan menarik pelatuknya hingga bunyi dentuman dari pistol tersebut tak terhindari lagi. Satu per satu ditembakinya makhluk-makhluk yang berdiri di balik pintu belakang rumahnya itu. Satu per satu juga makhluk yang ia kira tadinya manusia yang sejenis dengan July, mulai tumbang begitu peluru keluar dari pistol yang ditembakkan oleh July melalui lubang intip pintu tersebut. Mereka terlihat menggelepar di tanah begitu July mengintip mereka lagi dari lubang yang sama dengan lubang tempat July mengarahkan pistolnya pada mereka. Beberapa waktu berlalu, mereka-makhluk makhluk itu pun sudah tidak gaduh seperti sebelumnya. Situasi kembali tenang, seperti beberapa saat sebelum mereka datang. July melihat jam di dinding, masih dengan badan yang menyender ke pintu, menahan agar mereka yang tadinya di balik pintu itu menggedor-gedor, tidak dapat masuk dan menyakiti July. Sudah lewat satu jam. Tengah hari sudah berlalu. July mulai mengintip kembali melalui lubang di pintu belakang rumahnya itu dan menemukan keadaan di belakang pintu tidak seramai dan seberantakan sebelumnya. Hanya terlihat tumpukan tumpukan makhluk yang telah tertembak dengan pistol yang July gunakan tadi. Merasa situasi sudah aman, lelaki itu mencari cara untuk mengganjal pjntu agar lebih kuat ketika makhluk-makhluk itu kembali menggedor pintu rumahnya. Ia mencari sesuatu di sekitar dan menemukan sebuah linggis panjang dari besi yang bisa ia gunakan untuk mengganjal pintu agar makhluk-makhluk itu tidak bisa membukanya. Setelah merasa cukup dengan pertahanan yang ia buat, July kembali memasuki pintu kecil yang tertempel di tembok itu, kemudian membiarkan tubuhnya berseluncur dan berakhir di ruangan yang sebelumnya ia datangi. “Dave!” July menyerukan nama pria asing bertopi terbalik yang tadi, saat penerobosan rumah July dimulai, masih bersama dengannya, duduk pada sebuah kursi kecil di sudut ruangan. July ingin tahu seberapa banyak Dave mengetahui tentang kejadian demi kejadian di dunia yang ia yakini bukan dunianya ini. July kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan lain yang dipenuhi dengan tabung-tabung besar seperti akuarium dalam Sea World di dunia July yang asli. Tapi, bukannya hewan laut atau ikan-ikan, tabung tabung yang terlihat seperti akuarium tersebut berisikan tumbuhan yang berbeda-beda. July berdiri di depan salah satu tanakan tersebut. Semuanya terlihat begitu bagus dan beraneka ragam. Berbeda dengan tanaman tanaman miliknya yang ada di Zen Garden. Lelaki itu terhenti di salah satu akuarium yang berisikan sebuah tanaman bunga matahari. Hanya sebuah tangkai. Tapi berdiri dengan tegak lurus dengan dua lembar daun di sisi kanan kirinya. Lama July menatap tanaman tersebut. Ia seperti terhipnotis. Sebelumnya ia merasa bahwa apa yang ia lihat ktu begitu familiar. Entah di mana ia menemukan bunga tersebut. Mungkin di Florist yang pernah ia lewati, atau di televisi, atau mungkin di salah satu tempat yang pernah ia kunjungi. Ia tidak tahu pasti, yang ia tahu bahwa sepertinya ini bukan pertama kali bagi July melihat bunga dengan cara tumbuh yang sama, posisi yang sama dan besar yang sama. Setelah terdiam beberapa waktu, ia kemudian menoleh ke arah jam yang ada di dalam ruangan itu. July kemudian bergumam, “Ke mana pria asing yang aneh itu pergi?” “Kau mencari Dave?” Tiba-tiba saja terdengar sebuah pertanyaan yang July pun tidak tahu berasal dari mana. Lelaki itu dengan cepat menoleh ke kiri dan kanan. Suaranya terdengar seperti suara seorang perempuan, tapi July tahu kalau itu bukanlah suara milik Anne sepupunya yang entah sekarang ada di mana. Begitu July kembali menengok ke arah akuarium yang berisikan bunga matahari berwarna kuning itu, ia nampak terkejut. Bunga itu tidak sama posisinya dengan yang sebelumnya ia lihat. Lelaki itu jelas mengingat kalau bunga matahari berwarna kuning itu tegak berdiri dengan dua lembar daun di sisi kanan dan kirinya. Tapi, begitu ia kembali menengok ke arah bunga tersebut, posisinya berubah. Bunga itu condong ke kanan. Tidak lagi tegak lurus. July yang merasa penasaran kemudian mendekatinya. Ia hampir menempelkan tubuhnya itu di akuarium yang berisi bunga tersebut. Dalam hitungan detik, tidak butuh waktu yang lama, July jatuh terduduk dengan wajah yang terlihat ketakutan. Bagaimana tidak, begitu ia hampir menempelkan wajahnya di kaca akuarium itu, bunga matahari berwarna kuning yang sebelumnya terlihat condong ke kanan itu terlihat condong ke kiri dan bahkan terlihat mengedipkan mata. July berpikir kalau itu hanyalah delusi yang ia ciptakan. Toh sepertinya ini masih dalam dunia mimpi. Ia bisa bangun kapan saja dan mengingat kejadian hari ini sebagai sebuah pengantar tidur meskipun terasa seperti nyata. Sampai akhirnya, ia melihat bunga matahari ini berkedip ke arahnya. “Ba-bagaimana mungkin? Apakah bunga itu benar-benar berkedip padaku?” Lelaki itu sontak berkata demikian. Sampai akhirnya, pertanyaan yang ia ajukan itu mendapatkan jawaban dari suara seseorang yang sebelumnya ia dengar juga. “Jangankan berkedip, mengobrol denganmu saja aku bisa, kok” Lagi lagi, July menarik tubuhnya ke belakang. Mulutnya menganga, terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sampai akhirnya, terdengar suara lain yang mengajaknya berbicara. Ia berkata pada July, “Kau mencariku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN