Wika memandangi cincin lamaran Pras yang melingkari jari manis tangan kirinya. Kedua sudut bibirnya melengkungkan senyum kebahagiaan. Masih tak menyangka baginya jika hubungan antara dirinya dan Pras telah resmi bertunangan. Anggaplah seperti itu, meskipun acara lamarannya mendadak dan terkesan sangat sederhana. Tapi, sensasinya sungguh mewah dan sangat berkesan untuknya. "Ciyee!" terdengar suara Bu Asti yang tengah menggoda Wika. "Anak gadis mama, pagi-pagi udah nyengir senyum-senyum sendirian gitu. Lagi lihatin apa neng?" Wika terkikik geli mendengar rentetan godaan sang mama. "Apaan sih ma." "Uluh-uluh malu," cibir Bu Asti yang masih gencar menggoda puteri semata wayangnya. "Biarin aja lagi ma," seruan suara dari arah tangga. Bu Asti dan Wika menoleh dan menemukan Pak Dayu yang

