PART 8

1798 Kata
Masa lalu, masa depan... semuanya terasa aneh jika tidak ada kamu.  *** "Ayolah, Lo harusnya senang karena disayang sama cewek semanis gue."                 "Se-sejak kapan Lo jadi na-narsistik begini?"                 "Wah, kayaknya sifat narsis lo menular ke gue, deh."                 Dan, Deeka akhirnya terbangun dari mimpi singkatnya di siang bolong. Ya, dia ketiduran saat jam istirahat, karena menunggu Roni membelikan siomay terlalu lama. Namun, walau mimpinya sangat singkat, ia merasa mimpinya begitu nyata.                 Walau wajah cewek itu tidak terlihat, tapi suaranya terdengar sangat tidak asing. Deeka pernah dengar di mana, ya?                 Lagipula, apa maksud mimpi Deeka? Siapa cewek itu? Lalu, kenapa Deeka bicara dengan terbata-bata? Apa karena gugup? Ya, bisa jadi.                 Deeka menggaruk kepalanya, lalu kembali membenamkan wajahnya di lipatan tangan--di atas meja. Tanpa sengaja, matanya melihat Nara sedang bercanda dengan Sandra. Ada-ada saja.                 Tunggu dulu, kenapa Deeka jadi memperhatikan Nara yang tertawa dengan manis?                 Deeka kembali menunduk. Mengatur napasnya, lalu untuk terakhir kali dalam hari ini, ia melihat ke arah Nara lagi.                 Sial. Kenapa dia lagi ngeliatin gue?  Apa dia ngerasa kalau gue ngeliatin dia dari tadi?                 "Deeka!"                 Malah manggil lagi.                 Deeka sangat terlihat salah tingkah. Ia melihat ke segala arah, sebelum melambaikan tangan pelan ke Nara. "Kenapa?"                 Nara mendengus geli, lalu berjalan mendekati Deeka. Lebih tepatnya, ia duduk di hadapan Deeka. "Lo pusing, nggak?"                 "Nggak."                 "Apa pandangan lo buram atau sakit?"                 "Nggak juga. Kenapa, sih?"                 "Syukurlah." Nara tersenyum kecil."Udah makan?"                 "Belom. Lo mau beliin?" canda Deeka sengaja.                 Nara seketika tersenyum lebar. "Iya, lo mau makan apa?"                 Deeka tercengang. "Ra, stop, okay? Walau lo temen SD gue, lo jangan terlalu manjain gue gitu. Gue cuma bercanda."                 "Apa salahnya kalau gue beliin lo makanan?"                 "Gue nggak mau nyusahin lo. Ralat, gue nggak mau nyusahin siapa pun. Ngerti?" Deeka bangkit berdiri, berjalan cepat ke luar. Tepat saat itu, Roni baru kembali dari kantin dan membawa siomay.                 "Aduh, sorry, Dee. Tadi di kantin ada Kak Nuga ngajak ngobrol lama banget!"                 "Ya udah, siomaynya buat lo aja."                 "Lah, kok?"                 "Gue baru aja bilang ke Nara kalau gue nggak suka ngerepotin orang. Gimana kalau dia tahu gue nyuruh Lo beliin siomay? Habis sudah kata-kata gue yang keren tadi!"                 Roni memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata Deeka. "Terus lo makan apa?"                 "Gue nggak laper," jawab Deeka, dengan perut yang keroncongan.                 "Tadi lo kayak kelaperan."                 "Sekarang udah kenyang! Jangan sok perhatian kayak Nara, deh, Ron!" Deeka mendengus, lalu melangkah cepat menuju lapangan.                 Lapangan memang selalu menjadi tempat pelarian Deeka saat kesal. Ia bebas melakukan apa pun, termasuk curhat sama pohon. Ini rahasia, Roni saja tidak tahu kebiasaan Deeka yang satu itu. Sesampainya di lapangan, Deeka duduk di pinggir lapangan dan berhadapan dengan pohon tua yang entah berbuah apa nanti. Maaf saja, Deeka tidak ahli membedakan pohon. Semua terlihat sama di mata Deeka, kecuali pohon pisang.                 "Gue lagi kesel sama seseorang. Dia sok perhatian banget, kayak udah kenal gue lamaaaa banget. Awalnya gue fine-fine aja, tapi ternyata gue mulai merasa nggak nyaman sekarang. Kenapa harus gue, sih? Roni padahal juga ganteng dan jomblo. Kenapa harus gue yang diikutin terus, udah kayak stalker aja." Deeka bergumam sendiri, menghadap pohon tua itu. Setelah merasa sedikit lega, ia bangkit berdiri dan berbalik badan.                 Namun, matanya melebar sempurna saat melihat Nara sedang menatapnya. Bukan tersenyum seperti biasanya, ia terlihat sedih.                 "Oh, jadi menurut lo, gue kayak penguntit, ya?"                 "Nggak, Ra. Maksud gue bukan lo—"                 "Deeka, sekarang, lo nggak bisa bohongi gue lagi. Gue nggak sebodoh dulu, Dee." Nara tersenyum kecil. "Maaf, karena membuat lo nggak nyaman. Gue akan menjauh, kok. Kayak dulu."                 "Dulu?"                 "Lo nggak mungkin ingat, Dee." Senyuman Nara seketika hilang, ia berbalik badan dan pergi dengan langkah yang terlihat santai. Meninggalkan Deeka yang kebingungan mengerti kata-kata Nara.                 Deeka menghela napas dengan gusar, tak lama, ia berjalan ke kelas karena bel masuk berbunyi. *** Di kelas, Nara terlihat sedikit berbeda. Ia tidak bercanda dengan Sandra lagi. Ia terlihat fokus belajar, mendengarkan materi dari guru Kimia.                 "Kerjakan PR kalian, kalau ada yang ketahuan menyalin PR temannya, bukunya akan Ibu sobek. Mengerti?" tekan Bu Keuis. Deeka sampai merinding. Iya, iya, Bu! Saya percaya ancaman Ibu bukan main-main.                 Setelah Bu Keuis pergi, Deeka langsung menghampiri meja Nara. Ia ingin meminta maaf, dan menjelaskan bahwa perasaannya memang sedang kacau.                 "Ra, lo marah?"                 Nara bahkan tidak menoleh. "Kenapa marah? Gue fine-fine aja."                 Deeka menundukkan kepalanya. Nara bahkan mengulang kata-kata Deeka tadi. "Ra, gue nggak mau punya musuh. Maafin gue, oke? Kita temen, kan?"                 Nara bangkit berdiri sambil membawa baju olahraga. "Nggak tahu, tapi memangnya lo mau temenan sama penguntit?" Nara akhirnya mau menatap Deeka, ia berusaha terlihat segalak mungkin. "Oh iya, lo mendingan di kelas aja, jangan pamerin kemampuan sepak bola lo. Gue akan makin marah, kalau lo ikut olahraga hari ini."                 "Kenapa lo ngatur-ngatur, sih?"                 "Demi kebaikan lo, Dee!" Nara mengatur napasnya setelah setengah berteriak.                 Deeka hampir tersentak saat Nara berteriak padanya. "Nggak mau. Lo bukan nyokap gue."                 Deeka kembali ke mejanya dan mengambil baju olahraga. Ia benar-benar tidak suka Nara mengaturnya. Lagipula, Deeka sangat mencintai sepak bola. Lebih dari apa pun.                 Melihat tingkah Deeka yang menganggap omongan Nara angin lalu, Nara hanya bisa mendengus dan mengatur emosinya. "Yah, begitulah Deeka. Kalau dia langsung nurut, itu baru aneh, kan?"                 "Kalian kenapa, sih? Kok kayak musuh bebuyutan gitu?" Sandra yang dari tadi hanya menguping dan memperhatikan Nara, akhirnya berani bertanya. "Kemarin kayaknya baik-baik aja."                 Nara menarik tangan Sandra. "Ayo, kita harus ganti baju dan awasi Deeka saat olahraga. Oke?"                 "Why? Kenapa kita harus ngawasin Deeka? Dia bukan anak kecil, Ra...."                 "Tapi, dia kayak anak kecil, San. Ayo, kita nggak punya banyak waktu!" *** Nara terus memperhatikan Deeka yang bermain sepak bola bersama anak-anak yang lain. Seperti dulu, murid cewek berteduh dari panas dan hanya menonton pertandingan. Setelah itu, baru gantian dengan murid cowok.                 Nara menggerakkan lututnya secara gelisah. Sebentar lagi, Deeka akan jatuh dengan dagu berdarah. Nara ingin mencegah itu terjadi, tapi Deeka sangat keras kepala. Ditambah, Nara harus pura-pura marah dengan Deeka.                 Ya, Nara sebenarnya sama sekali tidak marah. Ia memang mendengar semua curhatan Deeka dengan pohon di lapangan tadi. Namun, bukankah itu wajar? Nara mungkin memang berlebihan memberikan Deeka perhatian, hingga Deeka merasa risi. Yah, jujur, kata-kata Deeka sedikit menyakiti perasaan Nara.                 Tapi, tidak apa-apa! Nara tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan terbawa perasaan dan marah secara berlebihan. Nara harus santai, menjauh secara elegan, tapi tetap menjaga Deeka. Bisa tidak, ya? Nara sendiri bingung.                 "Segitu sukanya, ya? Kedip, woy!" Siska tiba-tiba sudah ada di sebelah Nara, mengibaskan tangan secara mengejek. "Memang ganteng, sih, tapi kayaknya nggak mungkin bisa lo raih."                 Nara tersenyum kecil. "Bisa, pasti bisa. Lo aja yang nggak inget."                 "Apa? Inget apa maksud lo?"                 "Deeka dan gue saling suka, bahkan sejak awal." Nara bangkit berdiri, menghampiri guru olahraganya.                 "Dasar cewek aneh. Dia habis mimpi apa kesambet, sih?" gumam Siska, yang ternyata mendapat pelototan tajam dari Sandra. "Apa lo liat-liat?!"                 "Ye, gue lihatin pohon yang ada di belakang lo! Jangan kepedean, deh!"                 "Cih, pohon? Ternyata lo nggak kalah aneh sama Nara, ya? Hebat."                 "Ya, emang hebat! Seenggaknya kami beneran bersahabat. Nggak kayak Lo, cuma punya babu bukannya sahabat."                 "Gue nggak butuh sahabat." Siska mendorong Sandra, lalu Sandra balas mendorong Siska. "Jangan sombong, paling persahabatan manis lo sama Nara nggak akan bertahan lama."                 "Oh, ya?" Sandra mendorong Siska lagi. "Jangan sok tahu. Lo bukan dukun."                 "Gue dorong lo pelan, ya! Dasar cewek bar-bar tenaga kuli!" Siska mendorong Sandra lebih keras, hingga Sandra mundur beberapa langkah.                 "Apa? Dasar nenek lampir muka dua!"                 Dan, terjadilah perkelahian kecil antara kedua cewek itu. Siapa yang sangka, dua tahun lagi, mereka akan menjadi sahabat tak terpisahkan?                 Jika Nara memberitahu mereka, mungkin mereka akan mengira Nara gila. Jadi, Nara biarkan saja. Karena kalau dilihat, mereka lucu sekali. Nara jadi ingin ikut dorong-dorongan dan sedikit menjambak rambut Siska.                 Kembali ke Nara, ia mengobrol sebentar dengan guru olahraga. Ia meminta untuk menghentikan pertandingan, karena Pak Guru dipanggil kepala sekolah.                 Peluit dibunyikan, semua berhenti bermain, tapi beberapa terlihat kebingungan. Karena baru sepuluh menit bermain, masa sudah langsung istirahat?                 "Pak! Baru aja saya mau nyetak gol! Kok udah istirahat aja?" Deeka mendengus kesal, lalu melirik Nara dengan tajam.                 "Bapak dipanggil kepala sekolah, kalian istirahat sebentar ya!" ucap Pak Budi dengan buru-buru. Setelah Pak Budi pergi, Deeka langsung melirik Nara dengan tajam.                 "Ulah lo, ya?"                 "Bukan."                 "Jangan bohong. Kenapa sih lo ngelarang gue main sepak bola? Ada masalah?"                 Nara menggigit bibirnya, sebelum bergumam pelan. "Gue nggak mau lihat lo jatuh lagi."                 "Kalau main, terus jatuh, ya wajarlah! Namanya juga cowok. Lo kenapa, sih?"                 "Lo akan jatuh, dagu lo berdarah, lo akan ketakutan saat dagu lo dijahit."                 Deeka langsung mengernyit bingung. "Omongan lo nggak masuk akal. Gue nggak percaya." Ia pun berteriak ke teman-temannya, "Ayo, woy, main lagi! Istirahatnya udah selesai! Pak Budi juga sebentar lagi pasti balik!"                 Nara berdecak. "Good luck," ujar Nara sebelum kembali ke pinggir lapangan bersama Sandra. Ia yang tadinya kesal dengan Deeka, langsung mendengus geli saat melihat rambut Sandra yang acak-acak seperti tersambar petir. "Sandraaa, rambut lo kenapa?"                 "Jangan tawa, Ra!" Sandra merapikan rambutnya yang kusut akibat jambakan Siska. "Ah, gue harus kasih pelajaran ke Siska!"                 "Oke, semangat, ya." Nara menepuk-nepuk pundak Sandra.                 Tepat setelah itu, Deeka terjatuh. Persis seperti dulu, dan semua murid di lapangan otomatis menghampiri Deeka dengan panik.                 "Astagfirullah, Dee! Dagu lo berdarah!" teriak Roni cukup keras.                 Deeka meringis, menggigit bibir dan merasakan sakit yang luar biasa dari dagunya. "Aduh sakit, Ron!"                 Tiba-tiba saja, seseorang menempelkan handuk kecil ke dagu Deeka. "Biar darahnya nggak ngalir terus," ujar cewek itu datar.                 Deeka sedikit membuka mulutnya, menatap cewek itu dengan takut. "Lo siapa sebenernya, Ra?"                 Nara tersenyum kecil. "Gue Nara. Lo lupa?"                 "Maksud gue, kenapa lo bisa tahu—"                 "Cepat ke UKS, terus ke rumah sakit. Dagu lo harus dijahit, Dee." Nara membantu Deeka berdiri. "Oh iya, boleh gue aja yang nelepon Abang lo?"                 Deeka speechless. Ia hanya mengangguk polos, dan diam saja saat dibopong oleh Nara dan Roni.                 "Lo tadi terdengar kayak dokter, Ra. Keren banget!" puji Roni sesampainya di UKS. "Kok lo langsung tahu dagu Deeka harus dijahit?"                 Deeka yang sedang berbaring dan lukanya diobati, hanya bisa menghela napas. "Bukan kayak dokter, tapi kayak cenayang. Bikin merinding."                 "Gue bukan cenayang," jawab Nara datar.                 "Terus?!" Deeka mulai kesal.                 "Gue dari masa depan."                 Lalu, semuanya tiba-tiba hening.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN