PART 9

1825 Kata
Aku kira, aku bisa menyelamatkanmu dari segala rasa sakit.  Tapi, ternyata.... ***   Nara mungkin sangat frustrasi karena Deeka tidak mau menuruti kata-katanya.                 Makanya, Nara sampai keceplosan mengaku dari masa depan. Kini, Deeka dan Roni menatap Nara seperti baru saja melihat hantu. Apalagi Deeka, wajahnya sangat pucat. Haruskah Nara tertawa dan berkata ia hanya bercanda? Ya, itu mungkin lebih baik. Ini waktunya menguji bakat akting Nara.                 "Kaget, ya? Haha, gue—"                 "Nara, kenapa lo repot-repot balik ke masa lalu? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Roni terlihat serius.                 "Hah? Lo ... percaya?" Nara sungguh bingung. Orang sepintar Roni, percaya?                 "Jawab dulu pertanyaan gue. Baru gue bisa mutusin buat percaya atau nggak."                 "Yang terjadi? Hmm, gue balik ke masa lalu karena—" Ah, tidak mungkin Nara bocorkan sekarang. Waktunya belum tepat.                 Namun saat Nara sedang dilema, Deeka tiba-tiba mendengus geli, melempar bantal ke arah Roni. "Udah, akting lo keterlaluan, Ron."                 Roni pun terkekeh. "Heh, Nara baru aja mau jawab. Lo ganggu aja, Dee!"                 Nara menghela napas. "Oh, jadi lo cuma pura-pura percaya buat ngerjain gue? Oke, fine."                 Roni cukup heran dengan reaksi Nara. "Lo kok kayak kecewa karena ternyata gue nggak percaya? Lo sendiri memangnya serius?"                 Benar juga. Kenapa Nara merasa kecewa?                 "Gue bercanda! Sumpah, bercanda! Ha ... haha. Lucu, kan? Wow, dari masa depan gitu loh." Nara tertawa hambar, dan rasanya ingin punya kemampuan menghilang detik ini juga.                 "Gue hampir percaya. Sedikit, soalnya lo tadi bener bilang dagu gue bakal berdarah kalau main sepak bola," ujar Deeka pelan. "Tapi, kayaknya terlalu mustahil. Lo kan bukan Doraemon."                 "Iya, mustahil banget. Haha." Nara ingin cepat-cepat kabur. Namun, ia baru teringat sesuatu. "Oh, iya, mana hp lo? Biar gue aja yang ngomong sama Abang lo, Dee."                 "Nggak usah, biar Roni aja."                 "Gue aja! Please!" Nara sungguh ingin bicara dengan Indra. "Gue bisa jamin, lo nggak akan diomelin nanti."                 "Lo kok tahu Abang gue doyan ngomelin gue?" Deeka menaikkan satu alisnya. Nara mencurigakan, apa jangan-jangan ia pernah mengikuti Deeka sampai rumah?                 "Cuma nebak. Semua Abang bukannya gitu? Nggak, ya? Sorry, gue nggak pernah punya Abang, sih."                 "Udahlah, Dee. Kasih aja. Siapa tahu Bang Indra beneran jadi jinak kalau Nara yang ngomong." Bagus, akhirnya Roni mulai membantu Nara. Dari tadi, kek!                 "Oke, tapi awas aja kalau Bang Indra nggak jadi jinak." Deeka memberi ponselnya kepada Nara.                 "Iya, iya! Trust me." Nara pun keluar dari UKS dan langsung menghubungi nomor Indra. Ia ingin meminta tolong untuk membawa Deeka ke dokter syaraf nanti. Ia harus diperiksa lebih awal. Semoga berhasil.                 [Halo? Kenapa, Dee? Lo nggak buat ulah, kan?]                 "Assalamualaikum, Kak. Saya Nara, teman sekelasnya Deeka."                 [Wa'alaikumussalam, eh sorry, gue kira adek gue.]                 "Nggak apa-apa, Kak. Saya cuma mau ngasih tahu, Deeka tadi jatuh di lapangan, terus dagunya berdarah dan harus dijahit. Jadi, harus dibawa ke rumah sakit. Nanti Kakak langsung dateng aja ke rumah sakit dekat sekolah Deeka, ya."                 [Hah?! Dia luka? Tuh anak ada-ada aja, ceroboh banget.]                 "Bukan ceroboh, Kak. Dia kayaknya sakit. Jadi, sebaiknya Kakak bawa Deeka ke dokter syaraf untuk pemeriksaan. Lebih cepat, lebih baik, Kak."                 [Sakit? Kamu tahu dari mana?]                 "Dari tingkahnya di sekolah yang sering jatuh, saya jadi teringat drama yang pernah saya lihat. Jangan sampai ... Deeka memiliki penyakit yang sama." Nara berusaha sekeras mungkin untuk menahan tangis.                 [Penyakit apa yang ada di drama itu?]                 "Hah? hmm, saya lupa namanya. Pokoknya susah!"                 [Deeka memang ceroboh, tapi bukan berarti dia sakit. Jangan berlebihan, Nara.]                 "Kak, jangan menyepelekan suatu hal yang menyangkut dengan kesehatan. Bisa aja hal sepele yang kita kira, ternyata adalah masalah yang serius.]                 [Kamu nangis?]                 Nara menghapus air matanya, menjauhkan ponsel dari telinganya. "Nggak, kok. Intinya, tolong ajak Deeka melakukan pemeriksaan syaraf nanti. Ya, Kak?"                 [Kamu ikut ke rumah sakit?]                 "Memangnya kenapa?"                 [Saya mau bertemu.]                 "Mau ngapain?" Nara sebenarnya sedikit deg-degan. Suara Indra terdengar sedingin es batu.                 [Mau jitak, karena dugaan kamu pasti salah. Deeka sehat seratus persen. Saya yakin.]                 "Jadi, Bang Indra nggak percaya?"                 [Kenapa tiba-tiba kamu sok akrab? Bang Indra? Roni aja manggil saya gitu setelah satu tahun jadi sahabatnya Deeka.]                 Sial, Nara keceplosan.                 "Maaf, saya nggak bermaksud-"                 [Jangan datang ke rumah sakit, deh. Belajar aja yang bener, biar bisa naik kelas. Deeka nggak butuh kamu.]                 Deg.                 Sambungan pun terputus. Nara menggenggam ponsel dengan kuat, ia sedikit kehilangan keseimbangan karena masih tidak percaya dengan kata-kata Indra. Untungnya, Roni menahan dari belakang dan menuntun Nara untuk duduk di kursi panjang depan UKS. "Lo kenapa, Ra? Bang Indra ngomelin lo?"                 Nara mengangguk pelan. "Kayaknya dia benci sama gue, Ron."                 "Jangan dimasukin ke hati. Dia emang susah buat dideketin. Pokoknya, cuma orang tertentu aja yang bisa akrab sama Bang Indra."                 Gue dulu akrab. Banget.                 Nara jadi ingat saat pertama kali bertemu dengan Indra. Wajahnya yang sangat mirip dengan Deeka sempat membuat Nara terdiam. Sedikit terpesona. "Nanti kalau Deeka udah dewasa, apa akan sekeren Kakak?"                 "Nggak, dong. Dia kayaknya bakal lebih keren dari gue." Indra tersenyum tipis. "Tunggu, lo manggil gue Kakak?"                 "Iya."                 "Lo pacarnya Deeka, kan? Panggil gue Bang Indra aja."                 "Bukan, eh, maksudnya belum."                 "Lo udah tahu penyakit Deeka, dan memilih untuk tetap tinggal. Lo lebih dari layak buat jadi pacarnya. DEEKA AJA YANG KURANG PINTER. Maaf, ya."                 "Aduh, jangan minta maaf, Kak-eh, Bang Indra."                 Nara ingat sekali, Indra tersenyum sangat ramah saat itu. Tapi, sekarang? Nara baru saja dimarahi. Padahal, niat Nara ingin menyelamatkan Deeka. Kenapa rasanya sulit sekali, sih?                 "Eh, eh, kok lo tiba-tiba nangis?!" Roni sedikit panik saat Nara mulai terisak dan menutup wajahnya. "Ra, Bang Indra emang jahat sama orang asing. Gue juga sering diomelin, kok, dulu."                 Nara menangis bukan hanya karena dimarahi Indra. Melainkan, ia mulai lelah dan merasa semuanya terasa semakin sulit. Menyelamatkan Deeka ... ternyata sangat sulit. Nara harus bagaimana lagi?                 Menyerah lah, Nara.                 Nara terkesiap saat mendengar suara kakek pemilik arloji di dekat telinganya. Namun, Kakek itu tidak ada di mana-mana. Hanya ada Roni.                 "Menyerah? Nggak bisa. Nggak akan." Nara menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Aku akan mencoba menyelamatkannya sampai akhir."                 Roni diam-diam merasa merinding. "Oke, oke, semangat, Ra. Udah? Lo jangan nangis lagi, ya."                 Nara menghela napas dengan gusar dan tidak dengar suara Roni yang pelan. "Apa gue harus ikut ke rumah sakit? Tapi, kalau Bang Indra makin marah, gimana?"                 "Mana hape gue? Lo gagal, ya?" Deeka berdiri di dekat pintu. Dagunya sudah ditutup kapas dan plester untuk sementara. "Udah gue tebak, pasti lo gagal menjinakkan Bang Indra. Hah."                 "Deeka," tegur Roni tajam. "Udah, dong. Nara baru aja berhenti nangis."                 "Cengeng," ejek Deeka sambil mendengus pelan. "Annoying sekali."                 Nara bangkit berdiri, memegang tangan Deeka dan mengembalikan ponselnya dengan tatapan paling tajam. "Please, berhenti mikir nangis itu adalah dosa. Nggak semua orang sekuat lo. Dan, menjadi sedikit lemah sama sekali nggak salah."                 Deeka tidak bisa membalas kata-kata Nara. Ia hanya menggenggam ponselnya dengan erat, seakan takut ponselnya jatuh. Ia balas menatap mata Nara yang sedikit sembab dan merah. Lagi-lagi, jantung Deeka berdetak tidak karuan.                 "Gue bukan orang jahat. Jadi, tolong, jangan benci gue. Oke?" Nara tersenyum. Sangat tipis. Seolah ia tersenyum sambil menahan tangis yang akan pecah jika melihat Deeka terlalu lama.                 "Gue mau ke rumah sakit sama Roni dan Pak Budi. Lo mendingan balik ke kelas," ujar Deeka berusaha tanpa emosi.                 "Oke. Semoga lo baik-baik aja." Nara menepuk lengan Deeka, sebelum pergi dengan langkah yang berat.                 Yah, mungkin memang lebih baik jika ia tidak ikut ke rumah sakit. Ia tidak mau Deeka semakin membencinya.... *** Setelah dagu Deeka dijahit dan diberi perban serta plester, Deeka pun bisa bernapas lega. Sungguh mengerikan membayangkan jarum dan benang masuk ke dalam kulitnya yang lembut. Walau sudah dibius, tetap saja Deeka bisa membayangkannya. Mengerikan sekali!                 Pak Budi sudah pulang duluan, karena harus kembali mengajar olahraga kelas lain. Roni juga pergi entah ke mana, hingga Deeka harus berjalan sendirian di lorong rumah sakit untuk menemukan Bang Indra. Ia mau pulang dan tidur secepatnya.                 Setelah melihat punggung tegap Indra dari kejauhan, Deeka berlari menghampiri, tapi ia sedikit terhuyung hingga berakhir menabrak punggung kakaknya yang galak itu. Sial sekali nasib Deeka hari ini.                 "Dee! Lo kalau jalan hati-hati dikit, dong." Indra menggeram menatap adiknya yang ceroboh dengan kesal. "Lo inget ini udah keberapa kali lo jatuh?"                 Deeka berlagak menghitung dengan jemarinya. "Kayaknya ... lima, Bang."                 "Nah, apa kurang banyak? Lo kenapa, sih? Kayak bocah aja kerjaannya jatuh mulu. Jalan tuh pakai mata, Dee—" Entah mengapa, Indra jadi teringat kata-kata seseorang. Namanya tadi siapa, ya? Nana atau Rara? Indra tidak ingat.                 "Sudah selesai marahin Hamba, Yang Mulia?" tanya Deeka sambil membungkuk sopan. "Sekali lagi, Hamba minta maaf. Hamba sendiri tidak mengerti kenapa kaki dan otak Hamba tidak kompak. Maaf."                 "Nggak kompak?" tanya Indra sedikit terkejut. "Lo bercanda, kan?"                 Deeka menggaruk kepalanya, sedikit bingung dengan pertanyaan Indra. "Ya ... gue merasa ya begitu. Otak gue nyuruh jalan lurus, eh kaki gue tiba-tiba malah berhenti dan bikin badan gue jadi nggak seimbang."                 Ya Tuhan. Mungkin dugaan Nana benar. "Lo harus diperiksa. Mungkin lo sakit."                 Deeka malah tertawa. "Gue udah nggak apa-apa, Bang. Dagu gue kan udah dijahit. Selow!"                 "Dee! Gue serius, lo harus diperiksa."                 "Kenapa? Gue merasa sehat."                 "Lo sendiri tadi yang bilang kaki dan otak lo nggak kompak! Mungkin lo sakit serius, Dee. Gimana kalau kata-kata teman lo itu bener?"                 "Siapa maksud Bang Indra? Dia bilang apa?"                 Indra memijat pelipisnya, sambil meredakan emosi. "Dia bilang ... lo nggak ceroboh, tapi lo mungkin sakit dan harus diperiksa ke dokter syaraf."                 "Kenapa dia sok tahu, sih?" Deeka berbalik badan. "Gue SEHAT! Lo lebih percaya gue atau orang asing, Bang? Pilih!" Lima detik, Indra juga belum menjawab. Deeka pun berjalan cepat meninggalkan Indra. "Ayo, pulang. Gue mau tidur, Bang!"                 Indra pun menghela napas, sebelum berlari menyusul Deeka. "Tunggu, woy! Kan gue yang nyetir!"                 Beberapa detik kemudian, Roni yang membawa plastik berisi bubur ayam kesukaan Deeka jadi ikut berlari mengejar Deeka dan abangnya saat melihat kedua kakak beradik itu berjalan sangat cepat menuju parkiran.                 "Hey, hey, apa kalian tidak melupakan seseorang?!" Roni mengejar dengan napas terengah-engah. "Deeka, gue bawa bubur ayam! STOP! Jantung gue lemah, woy!"                 Deeka dan Indra pun berhenti. Deeka mengambil sebungkus bubur ayam dari tangan Roni, lalu kembali berjalan cepat seperti sebelumnya.                 "k*****t," gumam Roni memandang punggung Deeka dengan sebal.                 "Language, Ron." Indra menegur, menepuk pundak Roni.                 "Oh, iya." Roni meringis, lalu ia pun berteriak. "Dasar kelelawar kecil pemakan serangga!"                 Indra pun tertawa. Mengacungkan jempol kepada Roni. Deeka begitu merepotkan jika sudah marah. Untung masih satu darah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN