Kamu itu aneh, tapi manis.
Sampai kapan pun, aku akan mengingatmu seperti itu.
***
Sesampainya di rumah, Deeka mendapat berbagai macam pertanyaan dari mamanya dan tentu saja ia berusaha menjawab sesantai mungkin agar mamanya itu tidak khawatir.
Deeka memang tidak ingin membuat mama khawatir. Namun, akhir-akhir ini, ia merasa ada yang aneh di dirinya. Ia merasa sering sakit kepala, penglihatannya juga kadang terlihat buram, dan yang paling aneh ... ia jadi sering terjatuh tanpa sebab.
Deeka padahal merasa sudah berhati-hati, tapi ia tetap saja jatuh atau menjatuhkan sesuatu. Setiap ia mengambil minum, ia jadi tidak bisa menuang air dengan lurus ke dalam gelasnya. Pasti tumpah dan membuat Deeka harus membereskannya.
Masuk ke dalam kamar, Deeka langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan memejamkan mata untuk sesaat. Ia merasa lelah sekali hari ini, dan itu semua karena Nara.
"Awalnya, dia keliatan baik banget sama gue. Pas ketahuan dia suka sama gue, dia aneh banget. Masa sama sekali nggak ngerasa canggung atau malu karena ketahuan?" Deeka bergumam dengan mata terpejam, seketika ia dapat melihat wajah Nara yang selalu tersenyum setiap melihatnya. "Dia cantik banget kalau senyum, tapi ... kenapa dia sebaik itu sama gue? Rasanya nggak mungkin, ada orang sebaik itu walau satu SD."
Kalau diingat-ingat, saat hari pertama MOS, kata Roni ... Nara seperti hampir menangis saat melihat Deeka. Kenapa ia sedih?
Sial, Deeka jadi penasaran dan tidak bisa tidur.
Deeka bangkit duduk dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Telepon atau chat, ya? Tapi kalau nggak dibales, gimana?"
Bodo ah. Chat aja.
Deeka: Ra, ketemuan yuk
Deeka menghapus pesannya, dan menulis pesan yang baru. "Terlalu ramah, gue kan ceritanya lagi marah sama dia."
Deeka: Kirim alamat lengkap rumah lo. Gak pake lama.
Deeka tersenyum puas saat chat-nya langsung dibaca oleh Nara. Namun, anehnya, tidak ada balasan setelah lima menit. "Dibaca doang?!"
Ketika Deeka kesal, chat baru pun masuk.
Nara: Buat apa? Gue lagi belajar.
Deeka: Ada yang mau gue tanyain
Nara: Soal Kimia?
Deeka: Bukaaaan! Ah, angkat telepon gue!
Nara: Gak mau. Gue sibuk.
Deeka: Gue juga sibuk, jangan sok sibuk lo.
Nara: Gue lagi nggak mau ngomong. Besok aja di sekolah.
Deeka: Kenapa lo jadi nyebelin? Gue mau ngomong sama lo sekarang.
Nara: Kenapa harus sekarang?
Benar juga. Kenapa harus sekarang?
Deeka: Yaudah besok.
Nara: Ok
Mendadak Deeka jadi bingung. Kenapa ia harus menuruti Nara? Benar, ia harus bertemu dengan Nara sekarang. Bukan besok.
Deeka: Nggak deh, pokoknya sekarang. Gue tunggu di danau deket sekolah. Gak pake lama!
Nara: Y
Deeka mendengus. "Gue tarik kata-kata gue yang bilang Nara gemesin juga kalo di chat. Gemesin dari Hongkong?!"
***
Nara tidak mengerti kenapa Deeka ingin bertemu dengannya sekarang. Padahal hari sudah mulai gelap, dan padahal besok mereka bertemu di sekolah. Kenapa harus sekarang?
Nara tidak siap.
Nara tidak ingin Deeka melihat matanya yang sembab ataupun mendengar suaranya yang serak karena terlalu banyak menangis. Iya, sepulang sekolah entah mengapa Nara jadi menangis tanpa henti di kamar. Ia merasa sangat lelah dan putus asa menghadapi Deeka yang sekarang jadi lebih keras kepala dan menyebalkan. Nara jadi meragukan dirinya sendiri, "Apa gue bisa deket sama Deeka kayak dulu? Gimana kalau masa depan malah lebih buruk, dibanding sebelumya?"
Itulah sebabnya ia tidak mau bertemu Deeka. Tapi, Nara takut membuat Deeka semakin membencinya jika tidak menuruti keinginan Deeka. Memang serba salah. Jadi, yasudahlah. Nara mengalah, ia pun pergi dengan mata sembab dan suara yang serak. Terserah Deeka akan melihatnya seperti apa. Itu urusan nanti.
Nara buru-buru naik angkot dan berhenti di danau dekat sekolah. Ia belum pernah ke tempat itu bersama Deeka, tapi kata Sandra, di situ matahari tenggelam terlihat sangat bagus.
Saat Nara sampai, Deeka sudah datang. Deeka duduk di pinggir danau sambil melihat Nara dari atas hingga bawah. Mungkin Deeka heran, karena Nara hanya memakai kaus polos dan celana pendek padahal cuacanya dingin. Tentu saja Nara tidak sempat ganti baju, karena takut Deeka semakin kesal jika menunggu terlalu lama.
Tapi sekarang, Nara yang malah kesal.
"Nggak kedinginan?" Deeka mendengus saat Nara duduk di sebelahnya.
"Nggak, gue suka dingin," jawab Nara, tapi sedetik kemudian ia bersin dan Deeka terkekeh. "Gue nggak sempat ganti baju."
Deeka sedikit meringis. "Lo mau bikin gue merasa bersalah?"
"IYA." Nara melirik Deeka tajam. "Sebagai gantinya, lo harus pinjemin gue jaket yang lo pakai."
"Nggak mau, nanti gue yang kedinginan." Deeka malah merapatkan jaketnya. Sebenarnya ia mau saja memberikan Nara jaket yang ia pakai, tapi ia tidak suka menuruti permintaan Nara. Entah kenapa.
Nara terdengar menghela napas. "Kenapa lo terdengar kayak bukan Deeka yang gue kenal, ya?"
"Hah? Apa maksud lo?" Deeka melirik, dan merasa bingung.
"Lo aneh, tapi manis." Nara tersenyum. "Dulu."
Deeka semakin tidak mengerti. "Dulu? Waktu kita satu SD?"
"Ya, waktu SD." Nara menatap lurus ke arah danau. "Dulu lo manis banget
"Gue bisa bersikap manis, tapi cuma ke orang tertentu." Deeka membuang pandangannya setelah diam-diam melirik Nara.
"Ooh, gitu." Nara mengangguk-angguk paham. "Dulu berarti gue termasuk ke orang tertentu, ya?" gumam Nara pelan, agar Deeka tidak mendengarnya.
"Nara," panggil Deeka pelan. "Kenapa lo nyuruh Bang Indra buat nganterin gue periksa ke dokter? Memangnya, gue keliatan sakit?"
Nara menghela napas sesaat, sebelum menjawab, "Buat jaga-jaga aja. Biasanya orang setelah luka sampai dijahit gitu, harus periksa lebih lanjut. Apa ada yang salah di dirinya, sampai dia bisa jatuh tanpa menahan pakai tangan?"
Nara berujar sangat lembut, membuat Deeka merasa lebih nyaman. Kata-katanya juga berhasil menyindirnya. Ia juga sempat berpikir begitu. Kenapa pas jatuh tadi, tangan gue sama sekali nggak bisa menahan?
"Deeka, gue akan menjauh kalau lo merasa nggak nyaman." Atau mungkin, apa Nara harus menyerah dan kembali ke masa depan? Ke masa yang tidak ada Deeka? Nara merasa begitu dilema. Ia terus menunduk, menggenggam jemarinya yang dingin. Menunggu jawaban Deeka.
"Jangan menjauh," balas Deeka pelan dan terdengar ragu, "maksud gue, jadilah diri lo sendiri. Asal lo bisa biasa aja dan nggak ikut campur urusan pribadi gue, kayaknya kita tetep bisa jadi teman."
Nara tersenyum sedikit lega. "Oke, gue nggak akan berlebihan lagi."
"Janji?" Deeka menaikkan satu alisnya, melihat Nara yang sedang tersenyum. Sial, jantungnya mulai berdetak tidak normal lagi.
"Janji."
Ternyata, Deeka tetaplah Deeka. Dan Nara, akan berusaha tetap menjadi Nara yang Deeka suka.
***
Keesokan harinya, Nara datang lebih pagi untuk belajar karena akan ada ulangan Kimia. Ia membuka buku, dan membaca dengan serius. Walau ia sebenarnya sudah pernah mempelajari materinya, tapi tetap saja yang namanya manusia tidak lepas dari lupa. Jadi, Nara belajar untuk mengingatnya lagi.
Setiap belajar, Nara merasa waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu, Sandra sudah datang dan duduk di sebelahnya. "Gila, rajin amat lo, Ra."
"Ya, daripada bengong nunggu bel masuk." Nara sedikit terkekeh.
"Kenapa nggak main hape aja, Ra?" Sandra meyengir jail. "Kenapa lo lebih milih belajar?"
"Gue suka belajar," jawab Nara tersenyum lebar. Tapi, seketika ia menghela napas melihat reaksi Sandra. "I know, gue aneh. Berhenti natap gue begitu, San."
Sandra pun tertawa. "Iya, aneh banget! Tapi keren, sih. Ah, seandainya gue suka belajar juga, mungkin nilai gue nggak akan jelek."
"Iya, karena kalau suka, pasti kita akan ngelakuin hal itu dengan maksimal."
"Kayak ... lo suka sama Deeka, jadi lo harus deketin dia secara maksimal, ya?" Sandra menyikut lengan Nara dengan pelan. Bermaksud menggodanya.
Tapi, Nara malah berdecak pelan, "Bisa ada di sampingnya, udah lebih dari cukup. Gue nggak mau bikin dia merasa nggak nyaman lagi."
"So sweet. Semangat, lo pasti bisa dapetin hatinya, Ra." Sandra menepuk-nepuk pundak Nara. "Lo juga bantuin gue, kek. Buat deketin seseorang."
"Roni?"
Mata Sandra terbelalak kaget. "Gimana lo bisa tahu?! Apa segitu jelasnya, yaa?"
Nara mengangguk sambil terkekeh pelan. "Yep. Semangat."
"Roni cool banget, kan, Ra? Terus dia juga pinter, jadi bisa memperbaiki keturunan gue nantinya kalau kita nikah." Sandra terkekeh geli sendirian. "Lo pasti mikir, gue ini berpikir terlalu jauh. Iya, kan?"
"Iya," gumam Nara pelan. "Gue jadi sedih. Takut ... apa yang lo bilang ternyata nggak sesuai dengan harapan lo itu."
Sandra cukup tersentuh dengan pemikiran Nara. Padahal baru kenal, tapi Nara sudah takut jika melihat Sandra sedih. "Oh, ayolah. Gue cuma bercanda. Gue bahkan nggak tahu pasti alasan gue suka sama Roni tuh apa. Yang jelas, gue bahagia dan deg-degan setiap lihat dia."
"Syukurlah." Nara hanya tersenyum tipis. Nara takut, ia akan bermusuhan dengan Sandra lagi karena Roni. Bagaimana ini? Sepertinya, Nara harus segera menjauh dari Roni.
Kata seseorang, jika orang yangs sedang kita bicarakan tiba-tiba muncul dan menyapa, itu artinya 'orang tersebut panjang umur'. Begitulah yang Nara rasakan saat Roni tiba-tiba datang dan mengajaknya bicara.
"Lo udah belajar Kimia, Ra? Kata Deeka, lo pinter. Gue boleh nanya?" Roni sedikit membungkuk sambil menaruh bukunya di meja Nara. Jaraknya cukup dekat, hingga Nara sendiri gugup. "Gue lumayan susah ngafalin pengertian ini, lo tahu gimana caranya biar lebih singkat dan gampang diingat?"
"Oh, itu. Gue juga lumayan kesulitan, Ron. Gue ulang-ulang terus aja sampai sepuluh kali, biar nggak lupa," jawab Nara terburu-buru.
"Gitu, ya? Oke." Saat Roni berdiri dengan benar, Nara pun bangkit berdiri. "Kenapa, Ra?"
"Gue mau ke toilet. Permisi," ujar Nara melewati Roni dan berjalan begitu cepat.
Roni dan Sandra terlihat bingung. Dan diam-diam, Deeka pun yang dari tadi hanya memperhatikan di kursinya ikut bingung.
"Kenapa dia keliatan gugup gitu?" gumam Deeka, saat Roni kembali duduk di sebelahnya. "Ron, gue udah baikan sama Nara."
"Oh, ya? Bagus, dong."
"Tapi, dia keliatannya jadi nyuekin gue. Tadi pas gue dateng aja, dia sama sekali nggak lihat dan nyapa kayak biasanya."
"Dia lagi serius belajar tadi, Dee."
"Bukan karena mau menjauh?"
"Kenapa dia harus menjauh?"
Deeka mengangkat bahunya. "Nggak tahu, tapi dia kemarin sempat bilang mau menjauh kalau gue merasa nggak nyaman."
"Lo emangnya nggak nyaman di deket Nara?" tanya Roni serius.
"Nyaman banget, kalau dia lagi nggak sok perhatian. Tapi, jantung gue nggak nyaman. Deg-degan gitu. Kenapa, ya?" Deeka bicara tidak kalah serius. "Apa gue ada keturunan sakit jantung?"
Roni mendengus geli. "b**o kok dipelihara, sih?"
"Kok jadi ngatain gue b**o?!"
"Lo tuh, mulai suka sama Nara."
"Tahu dari mana lo? Jantung berdetak nggak normal, bukan berarti suka."
Roni mengangguk-angguk. "Gue mau nanya sesuatu sama lo. Apa lo pernah berpikir, 'gue suka nggak sih sama Nara?'. Pernah?"
Deeka sedikit mengerutkan dahinya. Mengingat-ingat, "Pernah nggak, ya? Kayaknya ... pernah."
"Berarti lo beneran suka sama dia."
"What?" Deeka jadi bingung.
"Kata buku yang kemarin gue baca sih, gitu. Kalau kita berpikir begitu, walau cuma sekilas, berarti kita already in love with her."
"Already in love? Really?!"
Deeka masih tidak percaya. Dia kan berpikir begitu, sejak pertama bertemu dengan Nara. Jadi?