0.34

1498 Kata
Ibu Hana melepaskan pelukannya lalu memandangi wajahku kemudian mengangkat tangannya untuk menghapus sisa sisa air mata yang ada di dipipiku. "Kamu jangan nangis lagi ada ibu di sini, kamu bisa mengatakan segalanya dengan ibu mengungkapkan isi hatimu kepada ibu. Ibu akan selalu mendengarkan kamu sudah ibu anggap sebagai anak perempuan ibu" kemudian Ibu Hana tersenyum Lalu aku pun ikut tersenyum tiba-tiba sebuah kalimat membuatku tertawa mendengarnya "Sekarang ibu punya 2 anak, anak laki-laki 1, anak perempuan 1 lucu ya baru kemarin ibu punya anak satu sekarang nambah lagi jadi dua udah besar lagi cantik banget. Ibu kenalin kamu dengan Erlanda ya kalau kamu sedikit kurang nyaman dengan Erlanda kamu bilang ke ibu Erlanda anaknya memang gitu dingin ke perempuan kecuali ibunya aneh padahal Erlanda itu baik banget sama ibu tapi kalau udah menyangkut lawan jenisnya yang sebaya dengannya pasti dia sangat kaku dan dingin jadi kamu harus terbiasa nanti. Ibu yakin erlanda akan terbuka ketika dia percaya kepada kamu jadi kamu yang sabar ya,Semangat menghadapi Erlanda. Padahal ibu sudah berulang kali lagi mengatakan kepada Erlanda jangan gitu ke perempuan nanti nggak ada yang suka loh pasti setelah Ibu mengatakan itu dia mengalihkannya ke yang lain" Aku tertawa mendengar cerita Bu Hana aku penasaran bagaimana sosok Erlanda sepertinya sangat misterius Ting suara oven berbunyi tanda kue telah masak "Kue ibu udah masuk nih tolong kamu ambilkan tempat disana ya!" "Baik bu" aku mengambil tempat yang ibu perintahkan di sudut dapur "Ini bu" aku memberikan kepada Bu Hana "Oh Baik terima kasih" lalu dengan perlahan Bu Hana mengangkat piring oven yang panas ke luar agar memudahkan dirinya Untuk memindahkan dari oven ke tempat kue kali ini Bu Hana memanggang kue yang ia beri nama adalah rainbows karena warnanya yang berbentuk pelangi tetapi tidak seperti kue kue pelangi pada umumnya sangat unik pokoknya "Ini Ibu jual berapa Bu?" Tanyaku "Kalo ini Ibu jual Rp7.000 saja" "7000?" ujarku "Kenapa murah sekali Bu?" "Menurut Ibu kalau terlalu mahal tidak ada yang beli walaupun untungnya banyak Percuma saja jika tidak ada yang beli tapi kalau ibu jual murah kalau untungnya sedikit pasti banyak yang beli sama saja toh daripada laku 1 sekali laku untung nya Rp5.000 kalau harganya mahal dan kalau harganya murah walaupun hanya 1000 tapi 5 kali orang membeli sama saja mendapat Rp5.000" "Oh ya ya Betul" "Betul kan manusia tuh lebih suka yang murah daripada yang mahal" "Haha iya bu betul kalau belanja cari yang murah bukan cari yang mahal" *** Hari menjelang sore pekerjaanku membantu Bu Hana hari ini selesai aku harus pulang ke rumah Mbak Arni sudah hampir sore tidak mungkin aku berlama-lama di luar sedangkan Mbak Arni sedang sibuk di rumah. Aku pamit pulang dengan Bu Hana "Bu aku pulang dulu ya, besok balik lagi" izinku kepada Bu Hana "Tunggu sebentar kamu nggak mau ketemu sama Erlanda sebentar lagi dia datang" aku tersenyum kikuk "Besok juga ketemu Bu, lain kali saja kan aku bakalan bekerja disini pasti setiap hari ketemu" "Oh iya juga ya Ibu lupa" Bu Hana tertawa "Nanti Ibu bilang ke Erlanda untuk minta surat masuk sekolahnya tapi sekolah dia itu cukup jauh memang sih harus naik bus satu kali tapi hanya sekolah itu yang dekat dari sini" ujar Bu Hana menjelaskan "Iya bu Tidak apa-apa, sudah Ibu bantu saja aku sudah sangat senang. Nggak apa-apa jauh Bu, kan masih ada kendaraan ke sana ya sudah Tylisia pulang dulu ya Bu" "Iya hati-hati ya" Aku pamit tak lupa aku menyalami tangan dan mencium tangan Ibu Hana "Aku pulang dulu ya Bu" aku membuka pintu toko kemudian berjalan ke arah rumah Mbak Arni Tanpa aku sadari ternyata aku berpapasan dengan Erlanda. Tapi tentu saja aku tidak menyadarinya saat aku berbelok ke kiri ternyata Erlanda berbelok ke kanan hanya berpapasan tanpa saling melihat di dalam perjalanan aku terus memikirkan sikap Bu Hana kepadaku sungguh orang yang baik. Aku penasaran bagaimana anak Bu Hana apakah baik juga seperti Bu Hana atau tidak. Tiba-tiba hujan turun aku terkejut "Tadi hujan tidak turun tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa Hujan akan turun tapi sekarang tiba-tiba dia turun menyebalkan" aku harus berlari menuju rumah Mbak Arni jika tidak ingin badanku basah, aku mempercepat lari ku berlari dan terus berlari "Ayo Tylisia sedikit lagi kamu harus bisa" batinku dalam hati saat aku harus menerjang hujan deras aku bisa melihat rumah Mbak Arni dari sini sedikit lagi. "Tylisia kamu bisa" aku menyemangati diriku Sesampai di rumah Bu Arni aku mengatur nafasku Untung saja hujannya bisa kulalui aku mengetuk pintu rumah Mbak Arni terus aku ketuk mungkin tidak terdengar karena hujan yang deras pikirku lalu tak lama pintu terbuka menampakan Mbak Arni dari balik pintu "Kenapa basah basah gini pulangnya nggak ada payung ya?" tanya Mbak Arni khawatir "Tadi sih enggak hujan mbak tapi udah setengah jalan tiba-tiba hujannya datang" "Ya udah ayo masuk Non, nanti kedinginan sekalian saja mandi biar nanti nggak demam" "Baik mbak, Feni mana?" tanyaku "Tidur mbak" "Tidur?" Tanyaku "Setelah kembali dari toko Bu Hana ia langsung tidur" "Loh katanya mau merapikan barang-barangnya" "Alasan aja Mbak dia udah ngantuk katanya tadi mau izin tidur nggak enak takut dikatain pemalas tapi emang pemalas" "Feni memang unik ya mbak Ada saja tingkahnya" aku kagum dengan keunikan Feni "Iya Non Feni memang ajaib ada aja tingkahnya terkadang menjadi hiburan bagi saya tapi terkadang juga jadi membingungkan Kenapa ada anak seperti itu" "Mbak mbak ada-ada saja, Untung ada Feni jika tidak pasti suasana sepi" "Iya mbak benar sekali, oh ya gimana pekerjaan di sana lancar?" "Lancar mbak, Bu Hana orangnya baik" "Memang Non, Bu Hana emang orangnya baik banget bahkan Ibu enggak pernah ketemu orang sebaik Bu Hana" aku setuju dengan perkataan Mbak Arni. *** Lonceng pintu Bu Hana berbunyi sebagai tanda bahwa ada orang yang masuk ke toko kuenya Bu Hana yang sedang di dapur segera menghampiri pelanggannya tapi ternyata bukan pelanggan yang datang tapi anak semata wayangnya erlanda "Loh er udah pulang?" tanya Bu Hana kepada anaknya "Udah bu, untung aja cepat pulang kalau nggak pasti kehujanan" "Oh iya baru aja pegawai baru Ibu pulang ketemu di jalan nggak tadi atau papasan nggak?" tanya Bu Hana antusias "Nggak bu nggak ada lihat siapa-siapa" "Ya kamu jalannya lurus aja ke depan, Pantas aja nggak lihat mana pernah kamu jalan lihat lihat kiri kanan lurus aja kayak patung" "Ibu ih" erlanda tak terima "Gimana Bu pegawai baru itu anaknya baik?" tanya Erlanda cukup penasaran dengan pegawai baru ibunya "Seperti apa yang ibu bilang anaknya baik banget, oh iya Er kamu tolong minta surat pendaftaran ke sekolah kamu ya" "Pendaftaran?" tanya erlanda heran "Memangnya untuk siapa Bu? Siapa yang mau masuk sekolah?" "Oh itu pegawai baru ibu kan masih sekolah nah dia belum punya biaya untuk masuk sekolah jadi masuk sekolah Kamu aja Er kan disana gratis kalau lulus tes, tesnya berlaku untuk anak baru atau anak pindahankan Er?" "Setahu elanda berlaku sih bu tapi tergantung dia lulus tesnya atau nggak. Kalau nggak lulus tes ya terpaksa harus bayar uang SPP nya dan uang pendaftaran pertama tapi kalau lulus ya gratis semuanya" "Hmm kalau begitu nggak apa apa er minta aja dulu suratnya Ibu yakin dia pasti lulus kok kayaknya anaknya pintar" "Baik bu" "Oh ya Gimana sekolahnya" tanya Bu Hana "ya begitu Bu, biasa aja" "Choki kapan main ke sini" "Jangan lagi deh Bu" "Loh kenapa?" "Kue habis sama dia" "Enggak apa-apa dong namanya kan juga temen kamu Choki Anaknya baik kok" "Iya bu tapi kalau masalah lambung nomor satu" "Ibu heran kenapa kamu bisa akrab dengan Choki padahal kepribadian kalian bertolak belakang Choki anaknya hiperaktif kamu anaknya pasif" bu Hana mengeluarkan rasa penasarannya terhadap pertemanan Choki dan erlanda yang sudah terjalin cukup lama "Erlanda juga heran Bu, Kenapa bisa akrab dengan Choki" "Kamu dan Choki itu saling melengkapi" "Mungkin karena udah berteman sejak SMP kali ya Bu, berasa cocok aja" "Iya mungkin Emang tipe kamu nggak mau nyari temen yang lain maunya itu itu aja sih" "Ya gimana lagi Bu nggak ada yang cocok hanya berteman sekedarnya saja" "Oh ya Er besok tiga hari lagi ajak Choki ke sini ya" Erlanda menaikkan alisnya tak mengerti mengapa ibunya menyuruhnya mengajak Choki ke sini "Lusa ulang tahun toko ini Ibu ingin membagikan kue gratis kepada pelanggan Ibu apalagi Choki" "Oh iya nggak terasa ya Bu udah tiga belas tahun Ibu merintis toko ini" "Iya untung ada toko ini kalau nggak Ibu nggak tahu gimana cara kita untuk makan, Untung aja" "Ibu lupa meminta nomor telepon Tylisia" "Tylisia?" tanya erlanda "Oh ibu lupa ya memperkenalkan nama pegawai baru Ibu namanya Tylisia cantik kan ya namanya seperti orangnya kamu jangan jahat-jahat ya dengan dia, dia sudah Ibu anggap seperti anak ibu sendiri awas aja kamu dingin terhadapnya" "iya Bu iya" Ibu Hana sudah berulang kali mengingatkan erlanda agar ramah kepada siapapun tapi Erlanda tidak mendengarkannya Dia hanya ramah kepada orang-orang yang lebih tua kepadanya tapi jika itu menyangkut sebayanya Erlanda akan berubah 180 derajat dari orang yang ramah menjadi orang yang dingin terkadang Bu Hana heran dengan sikap anaknya. Apakah Erlanda memiliki kelainan atau ia membatasi dirinya dengan lingkungan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN