0.33

1466 Kata
"Ih kak Tylisia, kenapa cubit-cubit" ujar Feni kepadaku, aku yang terkejut mencoba memberi isyrat dengan membesarkan bola mataku tapi sayangnya tidak dimengerti oleh Feni. Ibu Hana hanya tertawa melihat kami "Ya sudah ya sudah sekarang ibu akan menunjukkan apa saja yang kamu kerjakan di sini nanti, Ayo ikut ibu" "Iya Bu" ujarku kepada Bu Hana "Ini kita mulai dari yang pertama ya, sebenarnya pekerjaannya tidak banyak tapi kalau kalau kamu merasa ini terlalu berat kamu bisa bilang ke ibu kok" ujar Bu Hana "Baik bu" Kami pun mengikuti Bu Hana ke arah depan "Nanti setiap hari kamu bersihkan kaca depan ini jadi tidak ada debu atau kotoran sehingga para pelanggan bisa melihat langsung ke dalam, kalau toko kue nya kotor tentu saja mereka tidak ingin membelinya kamu bisa membersihkan nya 1* 2 hari tapi tergantung kamu aja nanti kapan sempatnya" jelas Bu Hana kepadaku, Aku pun terus berpikir "Apakah setiap Bos sebaik ini atau dirinya saja yang tak pernah bekerja tapi aku pikir memang ibu Hana ini terlalu baik aku berjani tidak akan mengecewakan bu Hana" batinku berjanji di dalam hati "Yang kedua Tylisia, kamu bisa bersihkan rak rak kue ini dan disusun serapi mungkin tempat kuenya" "Hmm selain itu Bu, apakah juga harus di cuci Bu?" "Oh tentu saja dicuci setelah toko tutup jadi bisa digunakan di pagi hari sampai disini ini kamu udah paham" tanya Bu Hana kepadaku "Iya Bu aku sangat paham lalu Bu tugas yang lain?" "Nah jika sudah kamu bisa membantu ibu menjaga toko biasanya toko ibu akan tutup setelah pukul 4 sore kamu pulang sekolah biasanya pukul 2 atau pukul 3 jika kamu pulang sekolah kamu yang jaga toko ibu, ibu akan memasak di rumah untuk anak ibu, Bagaimana Tylisia kamu bersedia?" "Bersedia bu, lalu untuk masak kuenya gimana Bu, Apakah Tylisia tidak ada tugas di sana Bu?" "Ada tapi hanya sedikit , Tylisia tolong bersihkan saja bekas-bekas tepung yang berserak di lantai atau perkakas yang kotor bagian panggang-panggang biar Ibu saja" Tylisia mengangguk mengerti memahami semua perkataan Bu Hana "Oh begitu Bu" "Oh ya ibu lupa satu lagi Ibu ingin Tylisia jangan lupa untuk kunci pintu jendela di malam hari apalagi daerah sini cukup rawan untuk perempuan maka dari itu jika kamu pergi hindari pergi terlalu malam takutnya ada apa-apa Maklumlah namanya manusia kita nggak ada yang tahu apa isi hati dan pikirannya kita aja yang harus waspada" aku mengangguk mengerti Bu Hana berbicara seperti itu bagaikan nasehat seorang ibu kepada anaknya selama ini mama yang selalu menasehatiku tetapi sekarang ada Bu Hana Aku merasa sangat senang baru pertama kali aku melihat seseorang yang begitu perhatian kepada orang lain sungguh Bu Hana sangat baik "Itu saja pekerjaan Tylisia di sini, Oh iya tadi siang sudah jadi mendaftar ke sekolah yang baru?" tanya Bu Hana aku menggeleng sebagai balasan dari pertanyaannya "Loh kenapa begitu?" ujarnya "Belum ada uang Bu biasanya kan sekolah harus ada ada uangnya dulu" "Ah nggak kok kalau kamu masuk sekolah biasa kamu bisa masuk tanpa ada uang uang SPP" "Ah benarkah Bu?" "Iya anak ibu seperti itu juga, jika saja kamu pintar kamu pasti bisa, ibu suruh anak ibu untuk minta surat kepada sekolahnya ya" "Surat pendaftaran sekolah eh jangan-jangan nanti merepotkan Bu rencananya Tylisia sebulan lagi setelah gajian dari tempat ini Tylisia langsung mendaftar ke sekolah" "Jangan-jangan itu terlalu lama nanti kamu ketinggalan pelajaran apalagi kamu kelas 12 kan sekarang?" tanya Bu Hana Ibu Hana melarangku untuk istirahat selama 1 bulan karena dia tidak ingin aku ketinggalan pelajaran sungguh perhatian dari seorang ibu ke anaknya kalau begitu Ibu suruh Erlanda untuk minta surat masuk ke sekolah aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal Rasanya aneh harus minta tolong kepada orang yang baru dikenal "Apakah tidak apa-apa Bu?" Tanyaku memastikan "Oh tidak apa-apa dong Erlanda juga kebetulan sekolah di sana kan sekalian daripada kamu bolak-balik Erlanda anak yang baik kok" "Terima kasih ya bu sudah banyak membantu ku terima kasih banyak sudah peduli denganku Aku janji tidak akan mengecewakan ibu" ujarku berterima kasih dari perasaan yang terdalam Aku sangat merasa bahagia entah kenapa rasanya begitu dekat dengan ibu Hana. Aku harap aku tidak mengecewakannya aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang membuatnya marah kepadaku karena aku anggap Bu Hana sudah seperti Ibuku mungkin ini berkat doa mama, akhirnya aku bertemu dengan sosok malaikat yang bisa menjaga aku "Terima kasih mah sudah mendoakanku Semoga mama selalu dilindungi oleh Tuhan aku sayang Mama doakan aku ya Ma bisa membuktikan bahwa Papa tidak bersalah dan keluarga kita bisa berkumpul lagi Mama cepat sehat ya" Hanya lontaran doa yang bisa aku panjatkan kepada Tuhan untuk kesembuhan mamanya, Tylisia sayang mama Setelah itu aku membantu itu Ibu Hanna meletakkan kue kue dan roti roti yang akan dijual aku memperhatikan Bu Hana yang menyusun kuenya memperhatikan caranya agar nantinya aku tahu bagaimana melakukannya dari kue yang besar dikelompokkan sesuai jenisnya lalu kue yang kecil dikelompokkan sesuai jenisnya kuenya memang terlihat sangat enak sangat menggugah selera aku jadi ingin belajar membuat kue dari Bu Hana. Bu Hana memperhatikanku terus melihat apa aku sedang beliau kerjakan "Kenapa Tyl?" tanya Bu Hana "Nggak bu cuma liat aja, jadi kepengan belajar buat kue juga, kue ibu bagus-bagus ya pasti rasanya enak" pujiku kepada Bu Hana "Bu" ujar Feni memotong percakapan kami "Iya Feni ada apa?" tanya Bu Hana "Sepertinya Feni harus pulang duluan loh kenapa tidak di sini saja dulu main" "Feni mau beres-beres Bu, besok kan harus pindah baju-baju Feni masih banyak yang belum di lipat nanti Ibu marah" "Oh begitu ya sudah kamu boleh pulang duluan Tylisia biar ibu yang jaga" aku langsung menjawab "Iya Feni pulang saja duluan Terima kasih ya sudah membantu Kakak nanti Kakak pulangnya bisa sendiri kok, Terima kasih ya Fen" "Ya udah Kak Bu Feni pamit pulang dulu ya" "Iya sayang hati-hati" tapi langkah Feni terhenti karena panggilan Bu Hana "Tunggu dulu ini bawa kue untuk Ibumu" Feni yang mendengar itu langsung menolak "Tidak usah Bu tadi kan Feni juga sudah dikasih nanti Ibu jualannya gimana? Masa iya dikasih terus ke Feni rugi dong" Bu Hana langsung pergi berlalu dari hadapan Feni lalu kembali dengan sekantong kue "Ini ambil aja sekali-sekali kan enggak apa-apa" "Terima kasih ya bu, pasti ibu senang Semoga kebaikan ibu dibalas oleh yang di atas" ujar Feni "Aamiin aamiin" Ibu Hana ikut mengaminkan doa dari Feni Selepas kepergian Feni Ibu Hana langsung mengajakku ke dapur pemanggangan kue "Ayo Tylisia" "Baik bu ayo" aku mengikuti langkah Bu Hana kedapur panggangannya aroma-aroma kue pemanggangan semakin tercium harum aku mengintip ke dalam oven yang sedang dipanaskan aku bisa melihat bahwa kue kuenya mengembang dengan sempurna "Kuenya bagus-bagus ya Bu, Ibu sejak kapan bisa membuat kue?" Tanyaku kepada Bu Hana "Ibu suka memasak dari SMP Jadi kalau ada lomba memasak ibu sering ikut kadang juara sih juara 2 dan juara 3, pernah sekali juara satu itupun senang banget" " Wah Ibu hebat Tylisia saja tidak bisa memasak jangankan masak kue masak nasi aja mungkin enggak bisa" "Loh kok nggak bisa emang selama ini siapa yang masakin?" "Sebenarnya..." ujarku Aku harus memberitahukan latar belakang ku kepada bu Hani "Sebenarnya..." aku mengulang kalimatku yang tadi "Tylisia adalah anak dari majikan Mbak Arni Bu bukan anak temannya" "Jadi kamu anak majikan Bu Arni?" "Iya Bu tapi kami sudah jatuh miskin sekarang papa Tylisia dijebak oleh orang yang tidak bertanggung jawab sehingga Papa harus mendekam di penjara padahal Tylisia Tahu bahwa Papa tidak bersalah semua yang Papa bangun hancur Bu" ucapanku terpotong aku kemudian menarik nafas dalam untuk memberi ruang-ruang yang terasa sesak "Dan sekarang mama dalam kondisi yang tidak stabil Bu, harus dirawat di rumah sakit, jiwanya tergoncang melihat apa yang terjadi dengan papa ia tak menyangka hal itu akan terjadi kepada papa padahal mereka sama-sama membangun semuanya dari nol tidak ada campur tangan orang lain mereka membangunnya sendiri tapi ternyata Tuhan memberikan cobaan kepada kami cobaan yang entah sampai sekarang yang entah itu adalah tantangan untuk keluarga kami agar menjadi keluarga yang jauh lebih baik" Bu Hanna dengan seksama mendengar perkataanku aku melihat tatapannya begitu kasihan kepadaku aku tersenyum air mataku berlinang "Tidak apa-apa Bu Tidak usah merasa kasihan semuanya pasti akan baik-baik saja Terima kasih ya bu sudah mau menjadi harapan bagi hidup Tylisia" Bu Hana langsung memelukku menyalurkan segala kekuatan yang ia punya pelukannya Terasa seperti pelukan seorang ibu tulus dan hangat tak kuasa aku menahan air mata yang sejak tadi berlinang aku meneteskan air mata lagi Aku merindukan semuanya aku merindukan mama dan papa "Tylisia" ujar Bu Hana "Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang kepada Ibu Ya anggap Ibu orang tua kamu Jangan pernah kamu merasa sendirian di dunia ini sebab ada ibu yang akan menjaga kamu" Bu Hana membuatku semakin merasakan rasa Terima kasih ynag besar kepada Bu Hana, untuk pertama kalinya aku merasakan pelukan dari seorang ibu setelah beberapa hari merasakan sakit yang begitu luar biasa ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN