"Feni Feni kamu ini lucu juga ya, udah tahu mana yang ganteng" ujarku menggodanya
"Tau dong Kak kan Feni punya mata siapa sih yang nggak suka cogan" Feni tertawa menampakkan gigi putih nya
"Kita udah sampai Kak, itu tokonya"
"Oh iya ayo kita masuk Fen!"
"Ayo Kak!"
Tak lupa kami mengetuk pintu terlebih dahulu sebenarnya tak usah diketuk sih tapi agar terkesan lebih sopan saja. Tepat setelah kami mengetuk pintu ibu Hana terlihat sedang meletakkan kue kue yang baru dipanggangnya segera Bu hana ibu mempersilakan kami masuk "Masuk saja tidak usah di ketok"
Aku dan Feni masuk bersamaan ke dalam toko Bu Hana tak lupa kami bersalaman dengan Bu Hana
"Ini kamu kan yang ingin bekerja disini?"
"Ya Bu Tylisia"
"Kamu kenapa datang hari ini bukannya Ibu sudah bilang kalau kamu bisa datang kapan saja saat kamu sudah siap bekerja" ujar Bu Hana
"Iya Bu nggak papa hari ini Tylisia mau lihat lihat dulu sebagai bentuk latihan dulu ngebantu Ibu, ngeliat apa apa yang mau dikerjakan sebelum nanti resmi bekerja disini "Apa tuh nama kerennya ya, ibu lupa" Tanya Bu Hana
"Training Bu" ujar Feni
"Feni tahu aja" Ujar Bu Hana
"Feni nggak sekolah?"
"Ah enggak Bu, Feni kan sama ibu mau pindah"
"Oh iya Ibu lupa"
"Lalu Tylisia kamu tinggal di mana?" tanya Bu Hana kepadaku
"Nanti Tylisua coba cari kos-kosan yang lebih murah sementara dua hari ini tinggal bersama dengan Mbak Arni dan Feni dulu Bu "
Bu Hana terdiam sejenak kemudian mengatakan sesuatu yang mampu membuatku amat sangat senang "Ibu ada kamar kosong sih di toko ini tapi kecil, kalau kamu mau kamu bisa tidur di sana" Tawar Bu Hana kepadaku
"Tapi Bu apakah tidak merepotkan Ibu" tanyaku yang meras tak enak hati
"Ya enggak apa-apa lah anggap saja itu fasilitas untuk pegawai tapi memang kecil Kalau kamu mau kamu bisa tinggal di sana, sampai kamu menemukan tempat baru yang lebih nyaman"
"Ibu baik sekali" ujarku tak bisa mengungkapkan kebaikan yang diberika bu Hana kepadaku
"Kalau kamu mau lihat Ayo ibu tunjukan kamarnya"
Sekali lagi Feni bertanya karena merasa tak enak "Tapi apakah benar tidak apa-apa Bu takutnya terlalu merepotkan Ibu"
"Tidak apa-apa Tylisiya sekalian juga ada yang menjaga toko. Mari Ibu perlihatkan kamarnya nya."
"Wah ini sudah cukup besar Bu barang Tylisia juga tidak banyak" ucapku senang memang benar kamarnya kecil tapi kalau untukku ini sangat cukup
" Tapi letaknya di dapur Apakah tidak apa-apa Tyl" Bu Hana kembali menanyakan kepada Tylisia
"Tidak apa-apa Bu selagi masih bisa dijadikan tempat tidur dan nyaman dimanapun mau Bu" Ujarku sungguh sungguh
" Syukurlah kalau kamu mau kamu bisa tinggal di sini untuk sementara waktu setelah pindah dari rumah Mbak Arni"
" Baik bu terima kasih banyak belum juga bekerja sudah ditawarkan tunggal di toko"
" Iya sama-sama kamu nggak usah bilang terima kasih hal ini merupakan tanggung jawab dari Bos"
"Bos segala kek punya toko roti besar aja kan" "Memang besar ibu"
"Enggak jangan ada kata bos di antara Kita anggap saja ini ibu kamu Tyl Ibu juga punya anak seusia kamu jadi rasanya sangat ganjil apabila kamu memangil Bos cukup Ibu saja "Kalian berdua udah makan?" tanyanya Bu Hana kepada kami berdua
"Udah Bu tadi di rumah"
"Feni sekarang kelas berapa ?" tanya Bu Hana Ibu sudah lama tidak melihat Feni pergi sekolah lagi
"Iya Bu Feni lewat belakang kalau lewat sini jauh, sekarang Feni udah kelas 2 SMP"
"udah besar aja ya Fen dulu masih main di depan toko ini main kalau banjir untung sekarang udah jarang Banjir kalau sempat banjir kue ibu-ibu pasti bakalan terendam banjir"
" Iya Bu syukurlah ah semoga daerah kita tidak terkena banjir lagi ya Bu"
" emang di sini suka banjir" Tanyaku kepada keduanya
" Iya Kak kalau gitu tapi udah lama sih biasanya kalau banjir bisa sampai se lutut orang dewasa"
"Parah juga ya tapi syukurlah sekarang udah nggak, nggak kebayang susahnya beraktivitas" Ujarku tak ingin membayangkan
"Bener, susah banget beraktivitas mana setelah itu banyak yang sakit dimana mana rumah kotor benar-benar bencana itu memang merugikan manusia, ya itu semua juga Karena manusia juga sih merugikan alam sekarang gantian alam yang merugikan manusia" ujar bu Han yang mendapat persetujuan dari ku dan Feni
Bau harum kue menyeruak memenuhi toko ini sungguh harum rasanya sangat sangat harum aku sangat menyukai aroma ini aroma pemanggangan kue yang menusuk hidung membuat perut yang awalnya kenyang menjadi lapar kembali hanya dengan mencium bau panggangan.
"Ayo sini Tylisia Feni Ibu lagi manggang kue" "Pantes baunya harum banget" ujar Feni
"Feni mau kue nggak?" tawar Bu Hana
"Nggak usah Bu udah kenyang" balas Feni malu-malu
"Sok malu-malu pula, bilang aja mau Fen"
"Iya Bu, Feni memang suka gitu suka malu-malu Bu" timpalku kepada Feni
"Ykin nggak mau Fen?" tanya bu Hana sekali lagi
Feni hanya tertawa "Hehehe mau bu tapi satu aja" ujar Feni
"Yah padahal ibu mau kasih 2 sayang banget atau ibu lebih baik ibu jual aja ya?"
"Ya jangan Bu, Mending untuk Feni aja kalau ibu mau ngasih dua lambung Feni siap menampung kok" Tylisia tertawa melihat tingkah Feni sangat lucu.
Bu Hana memberikan kami sepotong kue yang tampak sangat menggiurkan
"Ini kue apa Bu?" tanyaku penasaran
"Ini kue hanya ada di toko ini Kak namanya kue hanya buatan Bu Hana, hanya Bu Hana yang tahu resepnya coba Kakak cari di toko mana pun enggak ada kue seenak ini" ujar Feni
"Lebay kamu Fen, ada kok banyak toko kue yang lebih enak dari toko ibu"
"Nggak ada Bu khusus adonan kue Bu Hana Ini tidak ada yang bisa menandingini rasanya" "Nanti di kampung Feni pasti akan merindukan kue Ibu gimana ya caranya kalau kangen"
"Ya datang ke sini dong"
"Nanti kalau liburan kamu main kesini ya Fen" "Siap Bu, Ibu jangan lupa titip salam aku ke kak Erlanda ya" Akhirnya Feni ingat nama anak Bu Hana yaitu Erlanda.
"Kenalin juga Kak Erlanda ke Kak Tylisia ya Bu"
"Feni apaan sih Fen, kok jadi Kakak yang kamu suruh dikenalin ke anak ibu Hana?"
"Tadi siapa sih yang suka sama Erlanda" sambungku sambil mencubit kecil Feni apa-apaan sih aku tak mengenal Erlanda tapi dia seenaknya mempromosikanku mau ditaruh di mana mukaku Feni Feni kamu ini ada-ada saja
Kemudian Bu Hana malah ikutan menimpali dengan kalimat yang membuatku semakin hilang muka "Tapi sepertinya Tylisia emang cocok sama anak Ibu Erlanda, nanti ibu kenalkan ya sama Erlanda"
aku rasanya ingin hilang saja dari bumi ini bagaimana bisa ibu Hana dan Feni berkata hal seperti itu di depanku.
Tuhan tolong aku.
***