Tepat di suapan terakhir terdengar jeritan mama.
Aku dan Shiden saling berpandangan dan segera berlari untuk melihat keadaan mama.
" SAYA INGIN BERTEMU DENGAN SUAMI SAYA "
" SIAPA KALIAN HAH "
" PERGI "
Mama berteriak semakin histeris beberapa pembantu mencoba menahan mama yang ingin beranjak dari tempat tidur.
Mama terus bergerak, mendorong siapa saja yang mencoba menghalanginya.
saat aku mendekat kepada mama Shiden menahan pergelangan tanganku, aku melihat pegangan tangannya.
Aku tahu Shiden mengkhawatirkanku, tapi mau bagaimana lagi itu mama aku, tak ada yang bisa menenangkannya, tak ada satupun yang bisa menenangkannya kecuali papa. Tapi aku sebagai anak yang sangat menyayanginya akan mencoba melakukan apapun.
Aku tersenyum ke arah Shiden untuk menunjukkan bahwa aku akan baik baik saja, Shiden tak perlu khawatir.
" Aku baik baik saja " setelah mengatakan kalimat itu aku kembali mendekat ke arah mama, aku ingin melihat bagaimana reaksi mama saat melihatku apakah ia mengenaliku dan menjadi tenang atau sebaliknya. Sebab reaksi mama saat melihatku adalah penentu apakah mama harus dibawa ke rumah sakit jiwa atau tetap di rumah saja menemaniku menghadapi semua yang terjadi.
Selangkah demi selangkah ku berjalan, merapalkan doa yang kuharap bisa di kabulkan oleh sang maha pemilik semesta.
Mama pasti tenang.
Mama mengenaliku.
Mama baik baik saja kan tuhan.
bisikan bisikan doa yang terus ku rapalkan, sampai aku tiba di hadapan mama.
" Mama " aku mencoba menggenggam tangan mama.
dan ternyata mama menepisnya.
" Siapa kamu, jangan dekat dekat dengan saya kamu ya yang membawa suami saya " ucapan yang keluar dari bibir mama menghujam tepat di jantungku.
Ini benar benar di luar dugaanku.
Kalimat kalimat doa yang kurapalkan sepertinya hanyalah kalimat sia sia.
dengan mama tak mengenaliku saja aku sudah merasakan sakit yang luar biasa, ditambah sekarang mama malah menolak kehadiran diriku di dekatnya, beribu kali lipat sakitnya. Bahkan rasa sakitnya adalah rasa sakit yang tak pernah aku rasakan seumur hidupku.
" Ma..."
"PERGI KAMU"
tiba tiba mama bersujud di hadapanku, kemudian menangis tersedu sedu.
" Tolong jangan bawa suami saya, suami saya tidak salah ia dijebak, saya sangat mengenal suami saya. Tolong jangan bawa dia kasihan anak saya menunggu di rumah"
Aku luruh, tulang tulangku mati rasa.
berulang kali ku bertanya kepada tuhan, apa yang sedang terjadi, cobaan apa ini, tapi terus saja tak menemukan jawaban yang tepat.
Aku memandangi mama, mataku terasa mengabur akibat air mata yang aku tahan sejak tadi.
Melihat keadaan mama sekarang membuat diriku sakit, mama seperti seseorang yang memohon pengampunan atas segala kesalahan yang diperbuat.
Aku mensejajarkan diriku dengan mama, kembali mencoba menggenggam tangannya.
" Ma, ini aku anak mama, Tylisia "
Mama melihat tepat ke manik mataku.
" Tylisia " mama mengeja namaku
Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku hanya karena mama memanggil namaku.
Aku mengangguk dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku " Iya ma, ini aku Tylisia anak mama "
" Tylisia, anakku " mama mengusap pipiku pelan.
disaat aku merasakan kehadiran mama kembali, aku dikejutkan dengan kejutan tuhan selanjutnya
" Tylisia anak mama dimana kamu, pasti kamu nungguin mama dan papa pulangkan, sayang" mama kembali histeris kali ini mama seperti orang yang sedang kehilangan seseorang.
mama berdiri, berjalan ke sana ke mari, sambil terus mengatakan kalimat yang membuatku semakin merasakan rasa sakit yang bertubi tubi.
" Tylisia kamu dimana " kalimat itulah yang terus di ulang oleh mama.
Aku berdiri menghentikan apa yang mama lakukan " Ma, Tylisia disini, ini Tylisia ma "
Mama melihatku kali ini, kembali memegangku dan sejurus kemudian kalimat yang kembali mencabik hatiku keluar dari mulutnya " Permisi, kamu lihat anak saya, namanya Tylisia rambutnya panjang sepinggang, wajahnya cantik, dia anak yang baik, dan juga pintar. Lihat tidak?"
Satu kata yang bisa aku ucapkan hanyalah " Mama "
" Bukan bukan, saya bukan mama kamu, saya mamanya Tylisia, anak saya. Saya tidak boleh meninggalkan anak saya sendiri, pasti sekarang dia sedang kesepian mencari saya. Saya tahu Tylisia anak yang kuat, tapi tetap saja saya tidak bisa meninggalkannya sendirian " mama berlalu dari hadapanku dan kembali seperti orang linglung yang sedang mencari anaknya.
Kali ini aku yang terduduk di lantai yang terasa sangat dingin, menangis sejadi jadinya.
Bahkan dalam keadaan seperti ini mama tahu bahwa Tylisia tidak bisa tanpa mama.
Shiden memelukku erat sangat erat, seolah tidak ingin kehilanganku.
" Shiden " gumamku di tengah pelukan
" Aku disini Tyl " Shiden kembali mencoba menguatkanku, yang entah sejak kapan sudah menjadi sangat lemah sampai tak sanggup lagi menghadapi kenyataan yang sedang mempermainkan hidupku.
***
Kemudian mama berdiri lalu berjalan ke arah pintu masuk
Kali ini mama terdiam berdiri di depan pintu, hanya berdiri tanpa melakukan apapun.
" Non " mbak Ranti mendekat kepadaku
" Apakah kita harus menelfon dokter Bram Non ?"
Aku ingat pesan terakhir dokter pribadiku dokter Bram, yang menyuruhku menelfonnya jika terjadi sesuatu yang tidak normal kepada mama. Tapi rasanya sangat berat untuk menuruti pesan dokter tersebut, sebab aku tahu kemana dokter itu akan membawa mama, yaitu rumah sakit jiwa untuk diobati. Hal inilah yang membuatku takut, jika mama dibawa ke rumah sakit tentu saja aku harus tinggal seorang diri tanpa siapapun berdiri di sampingku.
Shiden?
Shiden tak selamanya bisa disampingku, ia punya kehidupan yang harus dijalani, hidupnya tak hanya tentang aku, perjalanan Shiden masih panjang bahkan aku bagaikan beban baginya sekarang.
Shiden menatapku lekat " Kalau menurut kamu ada yang jalan lain yang terbaik buat mama, aku dukung apapun keputusan kamu Tyl"
Perkataan Shiden membuatku tersadar bahwa tidak ada pilihan atau bahkan jalan lain yang terbaik untuk mama selain menuruti pesan dari dokter Bram.
Saat kami sedang berdiskusi mengenai apa tindakan yang harus kami lakukan untuk mama tiba tiba terdengar ketukan dari seorang pria.
Tok Tok Tok
" Permisi "
Kami yang berada di ruang tengah langsung menoleh ke sumber suara.
Bisa kulihat beberapa orang berbaju hitam dengan gaya dan penampilan yang tak jauh berbeda dengan para detektif yang datang tempo hari.
Jangan bilang mereka datang dengan tujuan yang sama seperti detektif dan polisi tempo hari.
aku segera melangkah mendekati pria itu.
" Iya Pak, ada apa? "
" Kami dari kpk ingin melakukan penyitaan terhadap aset dan barang berharga yang terkait dengan kasus suap pemimpin Oil Venue " Penyitaan? "
" Iya Mbak, silahkan mbak dan keluarga segera mengemas pakaian mbak, tidak diperkenankan untuk membawa barang barang yang lain dari rumah ini selain pakaian "
Para pria itu menerobos masuk setelah orang yang berbicara denganku tadi memerintahkannya untuk masuk.
Aku segera merentangkan tanganku dengan maksud untuk menghalangi mereka masuk ke dalam rumahku.
" Stop, apa yang kalian lakukan, ini rumahku tak ada yang bisa mengambilnya dari aku dan mama "
mereka tak menghiraukanku, mereka tetap menerobos masuk melewati tubuhku yang kecil jika dibandingkan dengan mereka.
Aku tak mau menyerah, aku mencoba menarik salah satu dari mereka.
" Hentikan, keluar dari rumahku " tapi tetap saja badan mereka yang terlalu besar membuat pegangan tanganku yang lemah ini bisa dengan mudah mereka lepaskan.
" Ini rumah papa beli dengan uang halal, ini hasil jerih payah papa, hasil keringat papa. Jangan gara gara papa terkena kasus yang belum tentu papa lakukan kalian bisa seenaknya mengambil rumah kami yang tak ada hubungan dengannya dengan kasus ini " bibirku terus berbicara sambil menghalangi mereka yang masih terus mengambil barang barang yang ada di rumah.
" STOP, INI NAMANYA PERAMPOKAN, KALIAN TAK ADA BEDANYA DENGAN PENCURI, MENCURI BARANG YANG BUKAN MILIK KALIAN DENGAN DALIH MILIK NEGARA, KAPAN NEGARA MEMBELINYA UNTUK KAMI BAHKAN NEGARA TAK SEDIKITPUN MENYUMBANGKAN UANGNYA UNTUK MEMBELI RUMAH INI, INI HASIL KERJA KERAS PAPA " Emosiku meluap tak tertahan, tindakan yang mereka lakukan sungguh tak manusiawi.
Mereka seperti orang tuli yang tetap melanjutkan pekerjaan mereka walaupun aku sudah berulang kali mencoba menghentikan mereka.
Aku mengeluarkan barang barang yang mereka masukan kedalam tempat penyimpanan bewarna biru yang entah sejak kapan mereka bawa.
Aku mengeluarkannya satu per satu barang yang ada dalam kotak itu. Tentu saja Shiden dan para pembantuku juga melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan, mereka sama sama tidak terima.
salah satu dari pria itu terpancing emosi melihat apa yang kami lakukan.
" Hentikan sebelum kalian yang kami bawa ke kantor polisi karena telah menghalangi penyelidikan " perkataan itu sukses membuat kami terdiam tak berkutik.
Tapi sejurus kemudian aku tak menghiraukannya, aku bukan orang yang dengan mudah di ancam jika memang ingin membawaku ke kantor polisi bawa saja. Toh sekarang aku tak takut untuk di penjara bahkan aku tak takut jika harus mati.
Shiden mencoba menghentikan apa yang kulakukan " Tyl, stop Tyl "
" Nggak Den, ini rumahku tidak ada yang bisa mengambil apapun dari rumahku " aku tetap berpegang pada pendirianku
" Tyl, kamu bisa saja di bawa ke kantor polisi Tyl " Shiden kembali memperingatiku
" Silahkan saja, bahkan sekarang jika aku ditembak detik ini juga aku sama sekali tidak takut " ucapku tak gentar
"Tylisia" teriakan Shiden menusuk indera pendengaranku, kali ini Shiden tak bisa menerima apa yang sedang aku lakukan.
Aku sebisa mungkin untuk menulikan berbagai indera yang aku punya.
Jika dengan kekerasan tak bisa maka aku akan coba cara kedua yaitu dengan memohon belas kasihan mereka.
Aku mendekat kepada pria itu, lalu bersujud di depannya, rasa malu dan rasa gengsi harus kubuang jauh jauh, demi mempertahankan apa yang memang jadi millikku.
"Pak, saya mohon jangan usir kami dari rumah ini"
"Pak saya dan mama tidak memiliki tempat tinggal lagi, saya mohon kasihanilah kami"
Aku terus memohon dengan segala tenaga yang aku punya.
Pria itu ikut merendahkan tubuhnya lalu ia menyuruhku untuk berdiri, dapat dilihat dari wajahnya bahwa ia pun juga sebenarnya kasihan.
"Maaf dek, saya hanya menjalankan tugas, kami semua hanya anak buah tak memiliki wewenang untuk menghentikan penyitaan"
ujar Pria itu bersungguh sungguh.
Aku tertunduk lemah, habis sudah harapanku tak ada yang bisa kulakukan berbagai cara telah aku kerahkan demi mempertahankan apa yang ku punya, tapi takdir berkata lain aku harus merelakan rumah ini rumah yang menjadi saksi bisu kenangan yang terukir antara aku, mama, dan papa.
Kupandangi setiap sudut rumah dan figura figura indah yang didalamnya ada aku, mama, dan papa yang tersenyum bahagia.
Sosok sosok di dalam figura yang akan selalu kurindukan terpatri dalam sanubari.
Semoga kita bisa berkumpul bersama lagi Pa, Ma.
Hanya untaian doa yang bisa kupanjatkan, agar kami bisa kembali bersama menikmati kebahagiaan yang telah di renggut.
Ma,
Pa,
Aku sayang kalian.