0.26

1410 Kata
Flashback Aku beranjak dari kamar mama menuju ke ruang tamu, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Beberapa pembantu di rumahku masih ada yang terjaga, aku tahu mereka sama lelahnya denganku tapi mereka tetap setia menjagaku dan mama. " Mbak " panggilku kepada salah satu ART yang sudah lama bekerja dengan keluargaku " Iya Non " " Mbak tidur aja ajak yang lain juga, kasian pada capek" " Nggak apa apa Non, kita tidur disini aja" " Mbak, ke kamar aja nggak apa apa. Lebih nyaman tidur di kamar " aku tak mau menyusahkan mereka, aku ingin mereka tidur dan beristirahat karena ini bukan masalah mereka jadi tak berhak rasanya diriku untuk menganggu waktu istirahat mereka. " Non, sini deh " ajak ART yang bernama Mbak Ranti sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya Aku menuruti perintah mbak Ranti dan duduk di sebelahnya. Mbak Ranti membuka suara " Non, jangan pikir non nggak punya siapa siapa. Ada kami yang selalu ada menjaga non dan ibuk" Aku tak bisa berkata apa apa, mbak Ranti dan lainnya mengetahui apa yang aku pikirkan. " Makasih ya mbak, udah mau direpotin sama masalah kami " ujarku tulus berterimakasih " Non jangan bilang gitu, bahkan kami merasa tak sedikitpun di repotkan " sekali lagi Mbak Ranti meyakiniku Aku tersenyum melihat mbak Ranti dan para Art yang lain yang juga sedang mendengarkan obrolan kami. Seketika aku teringat dengan apa yang terjadi dengan papa, sampai detik ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. " Mbak tolong hidupkan tvnya " perintahku kepada Art yang sedang duduk di dekat Tv. " Jangan Mbak " " Nggak apa apa mbak, aku ingin tahu apa yang terjadi dengan papa " Akhirnya pembantuku mengalah dan menyalakan tv.  Dan benar  baru saja aku menyalakan tv berita pertama yang keluar adalah berita mengenai papa. Aku terus memperhatikan berita yang sedang ditayangkan, menyimak dengan baik apa yang sedang diberitakan Seketika tubuhku menegang saat mengetahui apa yang terjadi kepada papa. Sebenarnya sejak awal aku sudah melihat headline berita yang terpampang secara jelas di layar tv, tapi aku enggan percaya apa yang ditulis di headline siapa tahu mereka melebih lebihkannya. Headline itu tertulis seperti ini " Kasus suap pajak puluhan milliar menyeret Oil Venue Company "  Pikiranku kembali kepada percakapan antara diriku dan para ibu ibu di cafe tadi sore, apakah pajak yang mereka maksud adalah kasus pajak yang menyeret papa. Aku benar benar tidak tahu kenapa papa bisa terlibat kasus sebesar ini, papa yang aku tahu adalah seorang yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dan tentu saja selama berbelas belas tahun perusahaan ini berdiri tak sekalipun papa terlibat kasus seperti ini.  Ada apa ini? Apakah ini semua jebakan? Atau ada yang ingin menjatuhkan papa dan keluarga kami? Pikiran buruk terus menghantuiku, aku tahu papa tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, jika ini semua adalah jebakan yang dibuat oleh seseorang yang ingin menjatuhkan papa aku tak segan segan untuk membunuh mereka. -Flashback End- *** Aku membuka ponselku yang sejak kemarin sore kubiarkan, begitu banyak notifikasi masuk. Aku membuka satu per satu pesan yang masuk, seketika aku membeku setelah membaca setiap pesan yang masuk. " Jadi, gimana anak calon tahanan? " " Tyl, lu nggak apa apa kan? papa lu di penjara? " " Fix, orang kaya gini nggak boleh nginjakkin kaki di JIS. " " Barang branded lu bayar pajak nggak? " " Bangga bayar pajak! Upss. " " Tyl kasihan banget sih hidup lu, jangan mati ya! " Rasa sesak di d**a yang seakan merenggut seluruh pasokan oksigen yang aku hirup. Kalimat kalimat itu bagaikan boomerang nyata yang menusuk tepat di jantungku, aku tak habis pikir bagaimana ada seorang manusia yang disebut teman mampu menuliskan bahkan mengirimkan kalimat kalimat yang sangat amat menyakitkan. Apakah selama ini aku yang tidak tahu bahwa dunia memang sekejam ini. Aku menutup ponselku setelah melihat semua pesan yang dikirim oleh para manusia berkedok teman. Lebih baik sekarang aku fokus dengan apa yang akan terjadi ke depannya, bagaimana dunia membawa nasibku, apakah akan masih tetap berada di dataran atau akan terjatuh di dasar palung. " AAAKKHH " Suara pekikan keras terdengar dari lantai bawah  " Mama " batinku dalam hati Aku segera berlari secepat yang aku bisa. Betapa terkejutnya aku saat mama dalam kondisi yang histeris luar biasa di depan tv yang sedang menampilkan berita terbaru mengenai kasus yang sedang menjerat papa. Aku diam membatu setelah kembali melihat headline berita itu. " Pemimpin Oil Venue Company di tetapkan menjadi tersangka " Harapanku sirna, harapan yang hanya tinggal harapan. Harapan bahwa papa tidak bersalah, harapan bahwa papa bisa kembali ke pelukan keluarganya. Sekarang hanya tinggal harapan, entah bagaimana aku dan mama akan menjalani kehidupan ini tanpa papa. tanpa nahkoda yang menjadi penunjuk arah dalam mengarungi luasnya lautan bumi ini. Penunjuk arah yang sekaligus menjadi pelindung dari serangan para manusia manusia yang tak berperasaan. membayangkan itu saja membuat tulang tulang lemah tak berdaya aku seperti kehilangan keseimbanganku, kaki yang terasa tak mampu lagi berpijak seketika jatuh terduduk di lantai. Entah meratapi nasib atau mencoba menerimanya. Takdir yang seolah olah langsung melumpuhkan segala kehidupan seorang Tylisia, takdir yang membawanya jatuh sejatuh jatuhnya.  Menerima, bukanlah sebuah kata yang bisa dilakukan dengan mudah. Tapi menangis bukanlah sesuatu yang harus dilakukan sekarang. Bertahan adalah kata yang tepat untuk menghadapi segalanya. Teriakan mama membuatku kembali ke dunia nyata, aku tahu hidupku belum berakhir masih ada mama yang harus aku kuatkan.  Harusnya aku tak boleh egois seakan akan menanggap bahwa aku lah yang paling terluka, aku harusnya ingat masih ada mama yang lebih terluka dari pada diriku. Aku menatap mama dan berdiri dengan sisa sisa tenagaku. Mendekat kepadanya, memeluknya. Tapi pelukan itu kembali terlepas saat mama mendorong tubuhku sekuat tenaganya sehingga membuat aku terdorong  dan membuat punggung membentur meja yang ada di dekat kami. " Non " terdengar nada khawatir dari mbak Ranti Aku tersenyum sebagai tanda bahwa aku baik baik saja, tapi tentu saja itu bohong. Aku kembali berdiri dengan tertatih sambil menahan rasa sakit yang menjalar di punggungku. Saat aku sudah berdiri sempurna dan kembali ingin mendekat ke mama, mama tiba tiba pingsan, lagi. " MAMA " *** Aku mendatangkan dokter pribadi yang biasanya merawat keluargaku. " Bagaimana keadaan mama Dok ?" " Mama  kamu terguncang hebat, jiwanya tidak stabil Tyl, mama kamu harus segera mendapatkan perawatan jika tidak akan membahayakan jiwanya, dan bisa berakibat fatal yaitu gangguan jiwa." Apalagi ini Tuhan. " Lalu apa yang harus aku lakukan Dok ?" " Dokter ada kenalan di sebuah rumah sakit jiwa, mama kamu bisa mendapatkan perawatan disana. Tapi coba kita lihat saat ia sadar nanti apakah ia akan tenang dan mengenalimu atau malah bertindak lebih anarkis " Aku mengangguk lemah. Kenyataan memang menyakitkan, sangat menyakitkan. *** " Tyl " Sebuah suara yang amat ku kenal terdengar oleh inderaku, segera aku menoleh ke sumber suara.  Shiden. Seperti tahu apa yang aku butuhkan saati ini, Shiden langsung merentangkan tangannya seolah olah bersiap siap menerima sebuah pelukan. Aku berlari mendekatinya, dan memeluknya. Hangat Satu kata yang bisa mendefinisikan segalanya yang aku rasakan, aku butuh pelukan, butuh kehangatan yang diberikan oleh orang yang aku sayang, kehangatan sebelum menghadapi dinginnya kenyataan yang tidak lagi bersahabat. *** Aku dan Shiden duduk di sofa ruang tamu. " Makan udah?" Satu pertanyaan yang keluar dari bibir Shiden membuatku teringat akan sesuatu yang sudah aku lupakan sejak tadi malam. Yaitu makan. Aku menggeleng lemah. Shiden memukul kepalaku pelan. " Dasar Bodoh "  Aku meringis sambil mengelus kepalaku yang ia pukul. " Dasar Nakal " kekehan kecil keluar dari mulut Shiden. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, yang aku tidak tahu apa itu. Aku terus mengikuti gerak gerik dari Shiden. " Makan dulu ya " ujarnya sambil membuka sebuah kotak nasi berwarna biru. Aroma nasi goreng menyeruak keluar berebutan dari kotak nasi yang dibawa oleh Shiden. Ini nasi goreng kesukaanku. " Beli dimana sepertinya aku kenal baunya?" " Abang biasa eheh " kekehan keluar dari bibir Shiden " Kok pake kotak nasi ?" tanyaku kepadanya sebab kalau beli di abang abang harusnya dibungkus dengan bungkus biasa tapi ini mengapa dengan kotak nasi. " Sebenarnya niat awalnya sih biar disangka masak sendiri, eh tapi ya gimana dah ketahuan jadinya jujur aja deh " kali ini aku yang tertawa melihat tingah polos Shiden. Shiden lalu mengambil sendok yang sudah ia siapkan. Menyendokkan satu sendok besar penuh nasi goreng ke dalam mulutku. " Aaaa, ayo nak buka mulutnya " aku tersenyum malu dan membuka mulutku untuk menerima suapan darinya. kedatangan Shiden membuatku sedikit melupakan rasa sesak yang terus memburu mentalku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN