" Itu Non" ujar Asisten Rumah Tanggaku, aku kesal kepadanya kenapa dia berbicara setengah setengah seperti itu.
" Kenapa mbak, jangan setengah setengah ngomongnya" teriakku
Sebelum ART ku ini melanjutkan pembicaraannya tiba tiba terjadi kegaduhan di lantai bawah.
Aku dan ART ku saling berpandangan, saling meminta penjelasan mengenai apa yang membuat kegaduhan di bawah terjadi. Tanpa ba bi bu, Kami segera melangkah keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saat sampai di lantai bawah
Aku benar benar terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapanku.
Sejenak aku tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, beberapa pembantuku ada yang mencoba menghalangi para pria berpakaian hitam dan beberapa polisi yang mencoba menggeledah ruangan kerja papa.
Setelah aku mencoba mencerna apa yang terjadi barulah seolah ragaku kembali bersiap untuk menghadapi kenyataan yang akan terjadi. Aku kuatkan diriku untuk bertanya mengenai apa yang sedang terjadi kepada para pria berpakaian hitam itu.
" Kena.. " ucapanku tergantung saat melihat mama memasuki rumah dengan keadaan yang jauh dari kata baik baik saja, mata yang memerah dan sembab seperti sehabis menangis. Siapapun yang melihat keadaan mama pasti akan terenyuh melihatnya, mama yang biasanya selalu tampil menawan kini berbeda jauh dari mama yang biasanya aku lihat.
Aku segera berlari menuju mama, memeluknya erat walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mama dan papa. Aku memberikan sebuah pelukan hangat dengan maksud agar mama bisa menjadi lebih tenang. Tanpa diucapkan secara jelaspun dapat dilihat bahwa mama sedang terguncang hebat.
" Ma" ucapku lirih
Tapi hanya beberapa saat di pelukanku, mama langsung melepas pelukannya dan berlari menghampiri para pria sedang membawa dokumen dokumen yang mereka ambil dari meja kerja papa.
Disaat inilah mama mencoba menghadang para pria itu dan menjerit histeris
" SUAMI SAYA TIDAK BERSALAH"
" BERITA ITU TIDAK BENAR"
" JIKA KALIAN BERANI AMBIL BARANG DARI RUMAH SAYA, SAYA TIDAK SEGAN SEGAN AKAN MELAPORKAN KALIAN"
mama semakin berteriak meluapkan emosinya yang terguncang.
Aku segera menenangkan mama, meskipun aku belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang sedang terjadi.
" Mama" ucapku lembut memegang tangannya.
" Tylisia, kamu cepat ambil dokumen yang ada di tangan mereka cepat!!! " mama kembali berteriak sambil mendorongku mendekat kepada para pria itu.
" Ma"
" Cepat Tyl, kenapa kamu diam saja, papa kamu nggak salah"
Semakin kuat dorongan mama kepadaku, setetes bulir air mata lolos dari mataku apa yang mama lakukan dan keadaan mama membuatku tak bisa menahan air mata yang sudah sejak tadi aku tahan.
Diam hanya diam yang bisa kulakukan, mematung bagaikan seseorang yang kehilangan arah untuk berbicara saja mungkin sulit.
Melihat aku hanya berdiri diam membuat mama bertindak sendirian, mama menghadang para pria itu yang kuyakini adalah para detektif yang bekerja untuk menyelidiki sebuah kejahatan, hal ini bisa dilihat dari tanda pengenalnya yang tak sengaja aku lihat secara jelas pada saat mama mencoba mendorongku.
Mama menarik paksa dokumen dokumen yang dibawa oleh para detektif itu.
" Jangan dibawa" ujar mama
" Ibu mohon kooperatif dalam penyelidikan ini" salah satu detektif itu meminta mama untuk bisa bekerja sama dalam penyelidikan yang sedang mereka kerjakan.
" Untuk apa, suami saya tidak salah, suami saya difitnah, kalian harusnya mencari orang yang telah memfitnah suami saya bukan malah menangkap suami saya" mama berbicara tanpa henti menjelaskan kepada para polisi dan detektif, padahal mama sangat tahu bahwa tindakannya adalah tindakan yang sia sia.
" Ibu, jika ibu seperti ini ibu akan kami tangkap karena menghambat proses penyelidikan" polisi yang ada di sana mengancam mama untuk berhenti melakukan hal hal yang tidak perlu.
Aku yang mendengar itu berusaha menahan gejolak emosiku, disatu sisi aku sangat marah mamaku diperlakukan seperti orang yang tidak berharga tapi di satu sisi perkataan polisi itu benar mama tak bisa bersikap seperti itu, mama seharusnya bersikap lebih tenang dan mampu mengontrol emosinya.
Aku kembali mendekat kepada mama.
" Ma, mama tenang dulu ya" ujarku sembari mengelus punggung mama berusaha menenangkan dirinya.
" Tyl, papa kamu" tangis mama pecah kini ia tak lagi menghadang para polisi dan detektif yang sedang membawa bahan bahan untuk penyelidikan.
" Papa kamu nggak mungkin ngelakuin itu Tyl" suara mama kembali terdengar diiringi isak tangis mama yang terdengar sangat menyayat hati membuatku juga ikutan menangis. Ingin rasanya menguatkan mama tapi apa daya diriku bukanlah orang yang kuat yang mampu melihat orang tuanya dalam keadaan seperti ini.
Mama menangis sejadi jadinya, tubuhnya bergetar hebat.
Aku seperti patung yang hanya bisa berdiri melihat mama seperti itu, mama yang biasanya selalu bisa di andalkan setiap aku menangis yang selalu bisa membuatku tenang harus menghadapi hal seperti ini membuatnya berubah menjadi wanita yang terluka, aku seketika menanyakan keadilan kepada tuhan.
Tapi aku tahu pikiranku itu salah, tuhan selalu adil kepada setiap hambanya. Adil dalam memberikan suka maupun duka.
" Tyl, papa kamu nggak akan masuk penjarakan?" mama bermonolog sendirian dengan sebuah pertanyaan yang tak mampu aku jawab.
***
Tepat setelah mengatakan hal itu mama jatuh pingsan.
Aku terlonjak kaget dan dengan sigap segera menahan tubuh mama agar tidak terjatuh ke lantai.
Para pembantuku juga sama terkejutnya denganku, mereka juga ikut membantuku menahan tubuh mama dan membopong mama ke kamar utama.
" Mbak tolong ambilkan minum buat mama "
Art yang ku perintahkan segera berlalu dari hadapanku untuk mengambil minum untuk mama.
Aku memperhatikan lekat lekat wajah mama, tampak raut lelah di wajahnya. Dalam keadaan seperti ini aku baru melihat wajah mama tidak semuda dulu lagi sudah banyak kerutan halus di wajahnya, menandakan bahwa mama sudah cukup berumur, tapi mengapa saat mama dalam keadaan yang sudah sangat nyaman tiba tiba ada saja masalah yang membuatnya menjadi seperti ini.
" Mama " aku mengusap rambutnya lembut menyalurkan seluruh kehangatan yang tersisa dari tubuhku yang penuh dengan ketakutan, ketakutan akan hal yang akan terjadi, ketakutan melihat mama dalam keadaan seperti ini. Entah mampukah aku menghadapinya sendiri tanpa adanya sanak saudara yang dapat diminta perlindungan.
" Non, makan dulu yuk "
aku menatap Art ku dan menggeleng lemah, untuk minum saja aku tidak berselera apalagi makan.
" Udah malam Non, Non nanti sakit, non nggak boleh sakit " artku kembali membujukku untuk mau makan.
Tapi aku pun tetap memberikan jawaban yang sama "Tidak Mbak"
Kemudian ia berlalu pergi entah kemana aku tak peduli, sekarang yang aku pedulikan hanya mama seorang.
" Ma, Tylisia disini mama jangan takut ya, kita hadapi sama sama " bisikku kepada mama
Kuharap mama bisa mendengar bisikkanku. Bisikan tulus dari hati seorang anak kepada ibunya, bisikan untuk meminta mamanya bangun dan bersama sama menghadapi kenyataan yang tidak berpihak pada mereka.
***
Cahaya matahari menyelinap melalui jendela besar yang ada di kamar mama. Cahaya yang menandakan matahari sudah terbit menunjukkan bahwa hari sudah berganti, tapi masalahku belum juga berhenti.
" Enghh " Cahaya matahari sukses membuat erangan keluar dari bibirku
Aku tertidur dalam keadaan duduk sambil memegangi tangan mama. Malam tadi begitu membuatku lelah seakan tubuhku mati rasa sampai sampai membuatku tidak sadar sudah terlelap tidur dalam keadaan duduk.
Aku merasakan tubuhku sedikit sakit karena posisi tidur yang tidak biasanya.
Aku memandangi wajah mama, deru nafas beraturan menandakan mama masih terlelap tidur.
Setetes air mata kembali lolos dari mataku, menangis adalah salah satu hal yang bisa aku lakukan saat ini, disaat mama tertidur. aku tidak ingin menangis di depan mama, aku ingin membuat mama kuat bagaimana mama akan kuat jika aku terlihat lemah.
Aku sudah mengetahui apa yang terjadi, apa yang terjadi kepada papa dan mengapa itu bisa terjadi.
***