0.24

1022 Kata
“Duh Shiden makin hari makin ganteng aja” “Iya, kok makin cakep aja, kenalan sama anak tante yuk” Aku memberikan tatapan mengejek kepada Shiden, tapi lihatlah Shiden sekarang sedang berpura pura malu malu setelah di puji oleh para ibu ibu sosialita ini. Kami langsung duduk dimeja yang telah disediakan, bahkan bisa dibilang ibu ibu sosialita ini menyewa seluruh café untuk acara arisan mereka. Padahal mereka hanya berjumlah 10 orang sedangkan café yang di sewa mereka berkapasitas 60 orang. Sungguh perilaku yang mubazir. Shiden duduk di sebelahku dan segera mengambil minuman yang ada di atas meja, dan langsung meneguk habis minuman itu. Dasar Shiden. Shiden mempersempit jarak kami yang hanya beberapa meter, lalu ia mendekatkan bibirnya ke wajahku tidak lebih tepatnya ke telingaku. Seperti orang yang ingin berbisik, dan ternyata benar Shiden memang mencoba berbisik kepadaku. “Emang iya aku makin ganteng?” Bisikannya membuatku semakin bergidik geli, dari mana kepercayaan diri Shiden yang dengan Pdnya bertanya hal seperti itu. Aku langsung memberikan respon tak terima, lihatlah wajahnya masih seperti dulu tak ada yang berubah masih sama tetap sama, sama sama membuatku kesal setiap saat. Shiden kembali berbisik “Tapi sayang kamu nggak juga bisa suka sama aku” Dengan reflekku yang cepat, aku langsung mencubit kecil perutnya yang masih berada dalam jangkauan ku “Shiden” ucapku tanpa suara “AWWW AWWW” Teriak Shiden kesakitan “Ada apa ganteng?” tanya salah satu ibu-ibu Aku semakin geli mendengar kata dari kalimat terakhir ibu itu, ganteng dari mana coba. “ Ini tante, Tyl..AW” Sebelum Shiden melanjutkan kalimatnya aku segera menginjak kakinya untuk segera menyuruhnya tutup mulut dan tidak menyebut namaku. “Loh, loh kenapa lagi?” “Apa yang sakit?” Aku segera mengambil alih suasana, tidak membiarkan Shiden menjawab pertanyaan dari para ibu ibu. “Shiden emang suka gitu tan, apa tu namanya Dhen, oh ya caper ya, cari perhatian” ujarku sambil sedikit tertawa palsu tidak lupa mataku yang mengkode Shiden untuk mengiyakan jawabanku sebelumnya. “Lah, ngg eh iya nte caper aja dikit sama tante tante yang cantik.” “Aduh, udah ganteng jago gombal pula lagi” Aku segera mengambil gelas minuman yang ada di atas meja, meneguknya sampai habis tak bersisa, entah kenapa suasana hari ini begitu menggelikan membuatku sedikit haus. Sedangkan Shiden malah tersenyum penuh kemenangan, menampakkan seluruh deretan gigi putihnya. “Oh ya Tylisia, mamanya mana?” Aku bingung harus menjawab apa tadi Shiden mengajakku kesini karena katanya ada mamanya disini, tapi setelah aku sampai aku tak menemukan mama dimanapun. “Mungkin lagi di perjalanan tan” jawabku pelan “Oh lagi di jalan atau lagi ngurusin masalah papa kamu?” Aku mengernyit kebingungan masalah, masalah apa bahkan mama dan papa tak pernah memberitahuku. “Hushm kamu ni Ndin. Itu cuman rumor siapa tau nggak benar” salah satu ibu ibu memperingati temannya yang bernama Andini itu. Tapi tante Andini itu tetap saja menyuarakan apa yang sedang ia fikirkan kepadaku membuatku semakin bingung. “Emang kamu nggak tau Tyl, pajak kan ya?” Sekali lagi aku mengernyit bingung, tak tahu arah kemana pembicaraan ini. Setahuku papa dan mama baru kembali ke Indonesia pagi ini, aku belum bertemu mereka dan tidak tahu tentang masalah atau rumor yang dibicarakan oleh ibu ibu yang ada di depanku ini. *** Aku sampai di depan rumah, aku masih saja mengingat pembicaraan antara aku dan tante Andini itu. “Sudah tidak usah difikirkan, namanya ibu ibu emang suka ngegosip nggak jelas” Shiden mencoba menenangkan ku. Shiden lalu mengusap puncak kepalaku “Tylisia, masuk gih mandi biar segar” Aku hanya mengangguk lemah mengiyakan lalu melangkahkan kaki yang entah sejak kapan terasa berat untuk sekedar di langkahkan. Aku seperti merasakan sebuah beban berat di pundakku. “ Tapi, sekali lagi seperti yang dikatakan Shiden siapa tahu itu hanya bahan gosip ibu ibu yang tidak jelas asal usulnya” Batinku menyemangati diriku sendiri. Aku melambaikan tanganku ke arah Shiden, tak lama Shiden pun melaju ke arah rumahnya yang memang berada di sebelahku. *** Seperti yang di perintahkan Shiden aku langsung mandi dan membersihkan diri. Rencananya setelah mandi aku ingin menelfon mama, untuk menanyakan kabar mereka sejak tiba di Indonesia. Alasan mereka kenapa tidak langsung pulang ke rumah. *** Aku berkali kali mencoba menelfon mama semenjak 15 menit yang lalu, tapi tetap saja tak ada jawaban dari ujung sana, ada apa dengan mama kenapa dia tak mengangkat telfonku. Pikiran buruk semakin menghantuiku, tapi aku segera mengenyahkan pikiran itu dan terus mencoba menelfon mama. Biasanya mama tak pernah seperti ini. Mama selalu mengangkat telfonku, walaupun tak diangkat pun pasti beberapa saat kemudian mama pasti menelfon balik. Aku mencoba mencari kontak papa, siapa tau mama sedang di kamar mandi, aku masih mencoba positive thingking padahal percakapan ibu ibu di cafe tadi terus menghantui fikiranku. Aku menekan tombol dial untuk menelfon papa. Tapi di luar dugaanku nomor papa yang selalu bisa di telfon mendadak tidak bisa, suara operator yang menjawab telfonku, mengatakan bahwa nomor yang aku tuju sedang tidak aktif. Pikiran burukku semakin memenuhi kepalaku, aku mulai keringat dingin dan merasakan takut akan sesuatu yang terjadi dengan papa dan mama. Semoga mereka baik baik saja. Aku sekali lagi mencoba menelfon mama tapi tetap tidak diangkat. Tepat saat aku hendak mengakhiri telfonku yang tidak juga tersambung ke mama. Tiba tiba ada yang membuka pintuku secara paksa, membuatku terlonjak kaget. Aku kembali dikagetkan dengan bunyi dering dari notifikasi pesan yang terus menerus masuk. Membuatku semakin tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Aku kembali memfokuskan diriku kepada mbak asisten rumah tanggaku yang membuka paksa pintu kamarku tanpa sedikitipun mengetuk tidak seperti biasanya. Kulihat raut wajah cemas dari mbak yang membuatku semakin berfikir yang tidak tidak mengenai apa yang sedang terjadi. " Ada apa mbak? " tanyaku mendekatinya " Non, bapak non" " Ada apa dengan papa mbak? " Hatiku yang memang dari awal tidak tenang semakin tidak tenang dibuatnya. " Bapak di kantor polisi Non" " Papa? Ngapain mbak? Papa nabrak orang" hanya itu dugaan yang dapat aku fikirkan yang membuat papa bisa berada di kantor polisi. " Bukan Non" " Jadi karena apa mbak" ujarku sedikit berteriak menahan rasa cemasku. " Itu Non" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN