0.50

1386 Kata
Pagi ini aku putuskan untuk tidak berangkat bersama Erlanda. Sekarang aku sudah bisa melakukannya sendiri tak perlu bantuannya Ia pun juga tak perlu bantuanku, untuk apa aku peduli kepadanya aku masih kesal kepadanya seharusnya ia mengatakan Terima kasih kepadaku tapi ternyata, Lihatlah apa yang ia lakukan kepadaku dia malah mengancamku untuk tidak ikut campur dengan urusan nya padahal tujuanku baik aku tidak ingin bu Hana mengkhawatirkan dirinya dasar manusia tidak memiliki perasaan. *** Sesampai di halte aku menghela nafas berat Sampai kapan halte Ini akan selalu ramai. Bisakah barangkali mereka libur sekolah sehari saja, Aku lelah harus berdiri sepanjang perjalanan. kemudian tak lama bus yang aku tunggu datang. aku tak peduli Apakah Erlanda sudah datang atau belum, Aku pun tak ingin mencari tahu. Segera aku menaiki bus walaupun dengan kecepatan apapun aku naik ke bus, tetap saja tak menyisahkan Bangku kosong lagi dan lagi. Tapi kali ini sedikit berbeda, Kenapa ada banyak anak laki-laki dibanding anak perempuan. Biasanya kami hanya berdesak-desakan dengan para siswa perempuan tapi kenapa sekarang ada para laki-laki yang tak memakai seragam sekolah. Aku sedikit takut, mengingat perkataan Bu Hana sebisa mungkin aku harus menjaga jarak dari mereka tapi namanya di dalam bus. Tempatnya sangat terbatas terkadang saat sopir bus mengerem aku dan yang lain ikut terdorong ke depan dan para lelaki itu juga terdorong ke depan. Tiba-tiba aku merasakan bahwa laki-laki itu semakin mendekat kepadaku kucoba untuk menghindari tapi karena ruang gerak ku sedikit aku tak bisa bergerak jauh darinya aku sungguh takut karena aku lihat wajah laki-laki itu sungguh wajah yang tidak baik terlihat kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang suka menggoda perempuan. Aku sungguh takut akan apa yang terjadi selanjutnya Aku hanya bisa mengepalkan tanganku dan bersiap-siap melayangkan kepalan tanganku. Jika dia berbuat sesuatu, perjalanan ke sekolah masih jauh, dalam keadaan seperti ini aku masih mencari keberadaan erlanda. Tapi sejak tadi aku tidak menemukannya. Apakah hari ini ini ia tak naik bis atau tidak bersekolah jika ada dia, aku pasti akan meminta bantuannya. Laki-laki yang ada di belakangku semakin mengikis jarak di antara Aku dan Dia. Dan jangan bilang ia akan melakukan hal yang tidak tidak kepadaku. Tapi tak selang beberapa saat kemudian aku mendengar rintihan dari seseorang aku mencoba melihatnya aku yakin itu suara laki-laki yang ada di belakangku tadi. Tapi saat aku melihat apa yang sedang terjadi aku terkejut Bukan main ternyata laki-laki itu sudah tak terlihat sekarang aku bisa melihat Erlanda lah yang sedang berdiri di belakangku Entah kenapa Rasanya Ia melakukan itu untuk melindungiku dari laki-laki nakal itu aku tak bisa menahan rasa senangku Karena perlakuan erlanda yang sangat tiba-tiba. Aku bisa melihat dengan jelas tangan kekar Erlanda yang sedang berpegang kepada tiang bus ini agar dirinya dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Aku tersenyum ke arah Erlanda, tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepadanya. "Terimakasih Er" "Aku hanya menjalani perintah ibu" balasnya dengan nada yang sangat dingin dan menyebalkan, ciri khas seorang Erlanda. Tapi walaupun begitu aku tetap senang, aku merasa seperti ada yang menjagaku senyuman itu tak bisa hilang dari wajahku. Sejak tadi mungkin aku saja yang tak melihat Erlanda atau mungkin sejak awal ia memang di sana. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak Tyl dia sudah punya pacar kamu bukan siapa-siapanya yang harus dilindungi" ujarku dalam hati. *** Aku sampai di kelas, bisa kulihat Erlanda sudah duduk di bangkunya bersama Choki. Choki yang melihatku memasuki kelas segera menyapaku dengan semangat "Pagi Tylisia" aku hanya tersenyum membalas sapaan Choki, segera ku letakkan tasku di tempat dudukku. "Tyl" panggil Choki kepadaku "Apaaa??" tanyaku "Sudah selesai PR Kimia?" aku mengerutkan keningku, PR kimia bukannya hanya ada PR Biologi hari ini "Kimia?" ulangku "Iya, lo belum kan?" dengan cepat aku menggeleng aku benar benar tidak tahu bahwa ada PR Kimia. "Choki, katanya kemarin cuman PR Biologi gimana sih" protesku kepada Choki sebab kemarin aku bertaya kepada Choki bahwasanya besok hanya ada PR Biologi tak ada PR yang lain. Sekarang bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sementara pelajaran Kimia sebentar lagi akan dimulai. Kemudian suara notifikasi ponselku berbunyi, siapa sih yang mengirim pesan pagi pagi begini. "Tyl" panggil Choki saat aku sangat panik "Apa lagi Chok?" tanyaku kemudian ia malah menunjuk ponselnya sambil mengatakan "Baca chat gue" tanpa suara. Aku segera mengerti dan membaca pesan yang ternyata dari Choki. Erlanda udah selesai, tapi gue takut minjam PR dia soalnya gue habis bertengkar dengan dia. Lo aja yang pinjam, pasti dia mau ngasih Begitulah isi pesan dari Choki, Dia menyuruhku untuk meminjam PR erlanda tapi apakah ia lupa bahwa aku juga bertengkar dengannya tidak hanya kemarin tapi pagi tadi aku masih bertengkar, aku menggeleng kepada Choki menandakan Aku tidak mau melakukannya bagaimana jika Erlanda menolaknya mau ditaruh dimana mukaku. "Tyl, lo mau dihukum cepet pinjam! Waktu kita nggak banyak" ujarnya dengan nada pelan agar tak terdengar oleh Erlanda. Kemudian ia menunjuk erlanda yang masih fokus membaca buku. Aku melihat jam tangan yang melingkar di tanganku benar kami tidak memiliki banyak waktu lagi aku harus mencoba sesuatu walaupun itu tidak mungkin berhasil tapi namanya usaha tidak akan mengkhianati hasil segera kubalikkan badanku menghadap Erlanda sepenuhnya aku mencoba memanggilnya dengan wajah semanis-manisnya agar ia luluh, dan berhasil ia mengalihkan pandangannya dari buku ke diriku ia mengangkat sebelah alisnya menandakan bahwa ia bertanya ada apa. Aku benar-benar ingin berteriak kepadanya sudah jelas kami sedang membicarakan mengenai PR kimia yang belum kami kerjakan tapi ia pura-pura tidak tahu maksud dan tujuanku. "Gini Er gue nggak tahu kalau ada PR kimia, gue taunya cuman ada PR biologi mangkanya gue belum ngerjain PR Kimia. Lo udah apa belum? " tanyaku tanpa basa basi. Aku mencoba menahan diriku agar tak emosi mendengar jawabannya selanjutnya "udah!" hanya itu jawabannya. Sabar Tyl aku melirik Choky " buruan!" ujarnya tanpa suara aku menatapnya marah tak lihat aku sedang berusaha. "Aku dan Choki boleh lihat?" "Boleh" ujarnya. Jawabannya benar benar diluar dugaanku. aku berteriak senang akhirnya Erlanda berubah menjadi seorang manusia normal. Ia lalu mengeluarkan buku PR Kimianya kemudian membukanya di hadapanku "Ini" ujarnya aku langsung tersenyum senang melihatnya kemudian saat aku akan mengambilnya ia dengan cepat menutupnya kembali dan menyimpannya Aku bingung dengan apa yang dilakukannya "Loh kok disimpan?" tanyaku Ia kembali fokus membaca buku yang sedang ia baca. "Katanya mau lihat kan? Kan udah lihat" jawabannya benar-benar membuat emosiku memuncak. Tak bisakah ia mengerti bahwa aku belum mengerjakannya. Tentu saja aku tidak mungkin hanya melihat seperti itu, Aku ingin menyalinnya ke buku PR. Aku menarik nafas menahan emosiku yang siap-siap meledak menghadapi sikap Erlanda. "Erlanda yang baik gue sama Choki mau minjem buku lo, gue mau nyalin jawaban lo, soalnya gue belum buat" jelasku secara rinci tentu saja dengan nada yang lembut agar Ia mau meminjamkannya kepadaku dan Choki. Erlanda hanya mengalihkan pandangannya sebentar dari buku kemudian menatapku datar tanpa ekspresi apapun dan tanpa mengatakan apapun aku mengeluarkan ekspresi memelas ku agar Ia mau memberikan bukunya. Beribu ekspresi aku Keluarkan, tapi tetap saja erlanda tidak luluh juga. Kemudian datanglah Keyla, Keyla bagaikan penyelamat untuk aku dan Choki. "udah selesai PR Kimia?" tanya Choki cepat "udah" jawab Keyla enteng "Gue mau lihat sekarang!" lalu Choki beranjak ke meja Keyla untuk mengambil buku PR Keyla. Kemudian Choki langsung menyalinnya seakan lupa bahwa aku ingin melihat juga. "Choki gue juga mau lihat" "Ya sini lihat aja! " "Gimana gue mau lihat bukunya didepan lo banget " ucapku tak terima, memang sangat egois seorang Choki, jika sudah menyangkut PR semua akan lupa dengan temannya sendiri. Aku beranjak dari tempat dudukku ke kursi Choki, biarlah aku berdiri tapi yang penting aku bisa menyalin PR Keyla. *** "Chok, gue belum selesai jangan di balik dulu" protesku kepada Choki aku belum selesai menyalin soal nomor tiga tapi ia dengan cepat membalik halaman yang berisi soal nomor empat. "Waktu kita mepet Tyl" Ujar Choki membuatku kesal "Ya tapi kan gue belum" ujarku tak terima "Ya udah foto aja" saran Choki "Oh iya" aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas tapi Sungguh malang nasibku saat aku hendak mengambil ponsel dari tas bu guru yang akan mengajar kimia sudah datang mana aku baru menyelesaikan 2 soal dari empat soal yang ditugaskan. "Chok, gue belum nih pinjam dong" bisikku panik "Gue juga belum Tyl" Aduh mampus, habislah riwayatku, Karena aku tahu guru kimia yang mengajar hari ini adalah salah satu guru killer di sekolahku, dan sekarang aku belum mengerjakannya walaupun aku anak baru tapi ku yakin ibu itu tak menerima alasanku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN