Aku terus berjalan menuju gerbang sekolah, saat akan sampai di parkiran tiba tiba aku berpapasan dengan dia, perempuan yang memberikan Erlanda air mineral yang aku yakini memiliki hubungan spesial dengan Erlanda.
Tak sengaja mataku dan matanya bertemu, entah kenapa ada sirat kemarahan dari tatapan matanya, yang membuatku tak mengerti mengapa ia harus menunjukkan tatapan seperti itu, apakah karena ia melihat diriku dan Erlanda di koridor tadi, tapi seharusnya Erlanda sudah menjelaskannya saat mereka bertemu di jam olahraga tadi.
Aku tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara aku dan dirinya, sebisa mungkin aku harus menghindari permusuhan.
Maka dari itu aku dengan cepat mengalihkan pandanganku begitu pula dengan Divandra dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya yang bewarna merah dan segera melaju cepat keluar gerbang sekolah, hal yang sama juga aku lakukan aku terus berjalan menuju gerbang sekolah, tapi tiba tiba sebuah motor menghadangku dan itu Choki.
"Yakin nggak pulang bareng gue?" tanyanya memastikan
Aku menggeleng "Nggak Chok, gue tau arah jalan pulang kita beda"
"Woi Er" teriak Choki saat melihat Erlanda melewati kami, kemana Erlanda kenapa ia terlihat terburu buru.
Erlanda menoleh kepada Choki "Apa?" tanyanya menghentikan langkahnya yang terburu buru
"Mau kemana?"
"Pulang" jawabnya singkat lalu segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Aku terus memperhatikan Erlanda hingga melewati gerbang sekolah tapi anehnya ia malah berbelok ke kanan, bukannya kalau erlanda ingin pulang harus berbelok ke kiri tapi kenapa ia berbelok ke kanan, kenapa ia harus berbohong mengatakan ia ingin pulang.
"Woi, Tyl" panggil Choki melihatku melamun
"Apaa?"
"Jadi nggak pulang sama gue?" tanya Choki sekali lagi
Aku menggeleng menolak Choki, aku tidak ingin Choki tahu bahwa diriku tinggal di toko Erlanda. Bisa bisa jika dia tahu bahwa aku tinggal di dekat Erlanda pasti ia akan heboh tak karuan.
***
Benar tebakanku saat aku sampai di halte ternyata memang tak ada keberadaan Erlanda di sini, kemana dia pikirku. aku terus mencoba mencari Erlanda terus ku mencoba mencarinya siapa tahu dia bersembunyi di tempat yang tak terlihat olehku atau tertutupi oleh orang orang yang sedang menunggu bus sama sepertiku.
Kemudian bus datang dengan cepat aku menaikinya tapi tetap saja di dalam bus aku tidak bisa menemukan Erlanda.
****
Erlanda berjalan keluar kelas dengan terburu buru setelah mendapatkan telfon dari seseorang, tak ingin membuat orang itu menunggu membuat Erlanda semakin mempercepat langkahnya. Tapi sebuah suara memanggilnya
"Woi Er" membuat Erlanda mau tak mau menghentikan langkahnya, Erlanda bisa melihat bahwa yang memanggilnya adalah Choki dan disamping Choki ia bisa melihat ada Tylisia, yang entah kenapa sejak jam olahraga selesai terus menghindari tatapannya.
Tak ingin membuang waktunya untuk memikirkan hal hal yang menurutnya membuang waktu.
"Pulang" ujar Erlanda agar Choki tak banyak tanya lagi.
Kemudian Erlanda putuskan untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda, sesampai di gerbang sekolah ia bisa melihat bahwa ada sebuah mobil merah yang telah menunggunya.
"Maaf menunggu lama" ujar Erlanda saat dirinya sudah memasuki mobil itu, si pengemudi itu hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda ia menerima permintaan maaf Erlandaa "Its Okey" ujarnya.
***
"Loh, Tyl udah pulang?' tanya bu hana saat aku memasuki toko
Aku mengangguk, kemudian aku mengerti tatapan Bu Hana bahwa ia menanyakan keberadaan Erlanda. Sepertinya bu Hana tidak juga tahu kemana Erlanda pergi, terpaksa aku berbohong kepada Bu Hana dengan mengatakan bahwa Erlanda pergi bersama temannya mengerjakan tugas kelompok.
"Hmm erlanda pergi Bu bersama temannya tadi katanya ada tugas kelompok" ujarku bohong
"Lah kamu kok nggak?" tanya bu Hana bingung
"Aku dan Erlanda beda kelompok Bu" kemudian Bu Hana mengangguk paham lalu ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Aku permisi kepada Bu Hana untuk mengganti pakaianku "Bu, aku izin ganti baju dulu ya"
***
Hari ini, Bu Hana mengajakku untuk makan malam bersamanya tentu saja aku sudah menolak tapi Bu Hana terus memaksaku jika tidak ia akan marah kepadaku.
"Assalamualaikum" aku mengetuk pintu rumah Bu Hana.
Kemudian aku melihat Erlanda keluar dari kamarnya membuatku terkejut, jadi Erlanda sudah pulang tapi sejak kapan. Saat Bu Hana dan aku masih di toko? bukankah biasanya Erlanda akan mengunjungi toko walaupun hanya sebentar.
Erlanda melihatku, membuatku segera mengalihkan pandangan darinya "Ayo Tyl, masuk!" ajak Bu Hana melihatku masih berada di ambang pintu
"Kamu ini Er, bukannya di suruh masuk malah dibiarin diluar" aku mendengar Bu Hana menasehati Erlanda membuatku mau tak mau menahan senyumanku saat melihat Erlanda menunjukkan wajah bersalahnya di hadapan Bu Hana.
Erlanda bisa melakukan berbagai ekspresi yang menggemaskan jika sedang berhadapan dengan Bu Hana, andai saja ia juga bisa begitu dii hadapanku.
Pikiran bodoh macam apa ini.
Erlanda sudah memiliki Divanda tidak mungkin aku mengharapkan hal itu dari pacar orang.
***
Menu di meja makan hari ini sangat menggugah selera, masakan Bu Hana tak pernah mengecewakan selalu membuat air liur ini ters menetes.
"Ini Tyl" Bu Hana memberikan piring yang berisi nasi kepadaku
"Makasih Bu"
"Cukupkan, atau mau tambah" tanya Bu hana
"Sudah cukup Bu" kemdian Bu Hana melakukan hal yang sama kepadda Erlanda yang duduk di seberangku. Inilah baiknya Bu Hana ia tak pernah membeda bedakan perlakuannya antara aku dan Erlanda. selalu sama karena ia sudah menganggapku adalah anaknya.
Kemudian aku mengambil sepotong ayam , Lalu meletakkannya di atas piring ku.
"Oh ya Er tadi kata Tylisia kamu pergi mengerjakan tugas kelompok ya?"
Bu Hana mengatakan itu saat aku sedang mengunyah makanan, membuatku tersedak.
Mampus, aku lupa memberitahu Erlanda bahwa aku berbohong kepada ibunya, jangan sampai ibunya mengetahui kalau aku mengarang alasan ke mana dirinya pergi.
"uhuk"
"Kenapa Tyl? " tanya Bu Hana khawatir
"Ini minum dulu, kamu ngak apa kan Tyl? " tanya Bu Hana khawatir ia memberikan segelas air minum kepadaku aku langsung meminumnya dengan cepat hingga tak bersisa.
Erlanda yang memandang ku penuh tanda tanya, Seolah mengatakan apa yang sedang terjadi.
Aku mengedipkan mata ku sebagai kode menyurhnya mengiyakan ucapan ibunya itu, semoga saja erlanda mengerti
"Er? "tanya Bu Hana
"Ya Bu, benar Kamu tadi kerja kelompok?"
" benar Bu tadi bersama Choki" kemudian Bu Hana melanjutkan makannya.
Aku bisa bernafas lega,
Tapi tatapan Erlanda masih tertuju kepadaku menuntut penjelasan tapi dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya.
Dan melanjutkan kegiatan makan yang sempat tertunda.
***
Aku selesai mencuci piring bekas makan kami tadi, karena hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dengan cepat aku bergegas pulang dan tak lupa pamit kepada Bu Hana, tapi saat aku pamit aku tak melihat Erlanda mungkin ia sedang mengerjakan pr didalam kamarnya. Maka dari itu aku juga harus bergegas pulang agar bisa mengerjakan pr ku yang belum aku kerjakan.
***
Saat perjalan pulang tiba tiba aku dikejutkan oleh sesosok bayangan yang samar samar terlihat sedang berdiri menyandar di dinding luar toko, aku yang memang sangat penakut dengan hal hal yang berbau mistis dan ditambah kurangnya pencahayaan dari lampu jalan membuatku terkejut bukan main saat aku ingin berteriak, ternyata bayangan itu bergerak ke arahku, keringat dingin mengucur deras di balik bajuku mungkin sekarang wajahku sudah sangat pucat ketakutan, apakah aku akan mati dimakan makhluk itu pikirku.
Ia semakin mendekat dan aku berusaha untuk berjalan mundur, dan pada saat bayangan itu disinari oleh lampu kendaraan yang lewat aku bisa melihat bahwa itu Erlanda.
Jadi bayangan tadi Erlanda aku kira itu hantu yang siap memakanku.
Aku bernafas lega, syukurlah itu Erlanda.
Erlanda sampai di hadapanku dengan ekspresi wajah yang sama, tenang dan dingin, aku mencoba mengontrol nafasku yang memburu karena ketakutan "Ada apa Kenapa kamu ke sini?" Tanyaku kepadanya kemudian ia menatapku lama kemudian mengucapkan sesuatu yang membuatku harus merutuki dirinya.
"Lo nggak usah berbohong dihadapan Ibu gue karena gue nggak mau lo ikut campur dengan urusan gue biar gue yang menghadapi konsekuensinya gue nggak perlu perlindungan dari Lo, sekali lagi gue ingetin kalau Ibu gue nanya gue ke mana lo Jawab aja nggak tahu!!" ujar Erlanda dingin dengan nada ancaman yang sangat terdegar jelas dari nada suaraya.
Ucapan Erlanda selalu mengintimidasiku, membuatku harus diam tanpa bisa mengatakan apapun. Kemudian Erlanda pergi dari hadapanku barulah setelah Erlanda sudah dalam jarak yang sedikit jauh barulah aku berani mengatakan apa yang pikiranku katakan "Dasar manusia tidak tahu terimakasih" teriakku kepadanya tapi Erlanda masih terus berjalan tanpa menghiraukan teriakanku.
Dasar batu nggak punya hati.
Tapi aku tetap suka.
****