0.48

1065 Kata
Aku cukup penasaran ke mana tujuan gadis itu. "Siapa dia?" Tanyaku kepada Keyla "Oh itu anak kelas 10 namanya Divandra" aku hanya mengangguk sebagai responku atas jawaban Keyla, aku hanya sekedar tahu namanya saja sudah cukup, aku merasa tak akan berhubungan dengannya. "Hanya itu saja respon lo?" tanya Keyla kepadaku, membuatku menatap Keyla penuh tanda tanya. "Memangnya aku harus bagaimana?" "Tuh lihat!" ujar Keyla sambil menunjuk ke arah dimana gadis tadi berada. aku mencoba melihat kemana arah pandangan Keyla dan tentu saja aku sangat terkejut bahwasanya tujuan dari Gadis itu, gadis yang bernama Divandra itu adalah Erlanda bisa dilihat Ia memberikan sebotol air mineral kepada erlanda walaupun jarak ku cukup jauh antara aku dan Erlanda Tapi tentu saja aku tahu itu erlanda atau bukan dan bisa kupastikan bahwa itu benar, sejak kapan Erlanda disana bukankah dia tadi tidak disana. "Erlandaa ciee" dari sini kudengar suara siswa laki laki samar-samar menggoda mereka berdua, tentu saja aku masih fokus memperhatikan gerak gerik mereka dengan mata elangku ini. kemudian tanpa kuduga Erlanda berdiri lalu berjalan diikuti oleh gadis yang bernama Divandra, membuatku semakin bertanya tanya tentang apa hubungan antara mereka berdua. aku terus menatap kepergian mereka "Kemana mereka" Tanyaku dalam hati "Apakah hubungan mereka sespesial itu sehingga mereka harus berbicara jauh dari keramaian? ternyata sikap dingin erlanda kepadaku adalah caranya menjaga jarak agar tak menyakiti perempuan yang ia cintai ?" Banyak pertanyaan yang terus berputar di dalam otakku. Keyla membuka suara seolah ia tahu apa isi dalam otakku sekarang "Setahuku mereka tak ada hubungan" celetuk Keyla Dan responku adalah, aku hanya tertawa sumbang "Sejak kapan erlanda akan bercerita kepada kita mengenai hubungannya mungkin mereka sudah lama berhubungan dan erlanda menyembunyikannya selama ini?" aku semakin berpikir negatif tak lagi bisa memikirkan kemungkinan positif yang biasanya selalu aku lakukan. "Iya mungkin saja, ya sudah kita ke kantin yuk aku haus!" "Ayo!!" aku berdiri dari tempatku Semakin lama aku disini hatiku terasa semakin sakit melihat mereka sedang berbicara di ujung sana walaupun mereka sudah menjauhi lapangan tapi masih bisa kulihat mereka dengan begitu jelas. *** Divandra kali ini memberanikan diri untuk menemui Erlanda lagi, inilah kesempatannya untuk kembali merebut hati Erlanda. Gadis itu memutuskan untuk membeli sebotol air mineral memberikannya kepada Erlanda yang sedang beristirahat di Lapangan sekolah "Semoga kali ini ini aku berhasil!" Divandra menyemangati dirinya sendiri dari ujung lapangan ia bisa melihat bahwa Erlanda sedang duduk bersama dengan teman-temannya Divandra menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa groginya. Ia bisa mendengar siulan siulan nakal sebagai bentuk godaan kepada dirinya karena dengan beraninya berjalan seorang diri di tengah lapangan yang sedang ramai "Hal ini hanya bisa aku lakukan karena perasaan aku kepada kak Erlanda" batin Divandra beberapa meter lagi Divandra akan bertemu dengan erlanda dan saat Iaa sampai di hadapan erlanda ia Mencoba tersenyum. senyuman yang paling manis yang mampu melelehkan para kaum Adam "siang Kak erlanda" *** Sesampainya di kelas setelah kembali mengganti baju olahraga dengan seragam aku bisa melihat Erlanda sudah kembali ke kursinya dengan sebuah botol air mineral yang sangat amat aku kenal. "Bukankah itu pemberian dari gadis itu? Erlanda menerimanya? tentu saja, Dia gadis yang spesial bagi Erlanda!" lagi hatiku terasa sakit doaku selama ini, selama berbulan-bulan Sebelum diriku dipertemukan oleh dirinya, dirinya yang aku kagumi hanya lewat lukisan. dirinya ya aku lihat di sebuah Mall menjadi awal bagaimana rasa cinta ini tumbuh hanya dalam satu kali tatap saat itu aku sungguh gila mencintai seseorang untuk pertama kalinya tanpa mengenal orang itu tapi mungkin ada baiknya jika Aku mencintai tanpa mengenalnya aku takkan merasakan rasa sakit seperti ini, karena mengetahui bahwa saat aku mengenalnya Ia sudah bersama dengan perempuan lain. "Tyl" Panggil Keyla kepadaku memecah lamunanku yang tanpa sadar membuat ku hanya diam berdiri memandangi botol mineral itu kemudian aku langsung melanjutkan langkahku menuju tempat duduk tanpa sedikitpun melihat erlanda karena semakin aku melihatnya sakit hatiku rasanya. Choki mencoba memanggilku berulang kali tak ada balasan dari ku karena saat itu aku seperti tidak sadar pikiranku melayang entah kemana entah apa yang aku pikirkan "Tyl" Panggil Keyla kali ini sambil menggoyangkan Bahuku, aku langsung tersadar "ada apa?" "kamu kenapa?" "apa?" "sakit?" "tidak aku baik-baik saja memangnya kenapa?" "Choki daritadi manggil lo, tapi lonya nggak merespon kami kira lo kenapa-napa" ujar Keyla khawatir aku lalu melihat kearah Choki Aku berusaha menghindari Tatapan elandra yang sedang menatapku. "Ada apa?" Tanyaku " tidak ada. Lo sakit Tyl?" tanya Choki aku menggeleng "gue baik-baik aja" lalu aku kembali membalikan tubuhku menghadap ke arah depan bibirku berkata kalau aku baik-baik saja tapi hatiku tahu aku sedang tidak baik-baik saja, hatiku terasa hancur tubuhku terasa mati rasa sehingga membuatnya tak bisa bekerja menghilangkan perasaan ini dari hatiku. Aku sedih mungkin harus menghindari erlanda jika aku tidak menghindarinya entah bagaimana reaksiku saat menatap matanya. Mungkin aku akan menangis karena rasa sakit yang terus aku rasakan hingga saat ini. *** Aku sedang mengumpulkan buku-buku untuk ku masukkan ke dalam tas bersiap untuk pulang. Bisa kudengar percakapan antara erlanda dengan choki sepertinya mereka sudah berbaikan "Er pulang bareng gue?" "Nggak gue naik bus aja" "Ayolah Er sama gue aja, Gue antar sampai rumah" "Gue naik bus aja! Rumah lo dengan rumah gue nggak searah Chok, gue nggak mau ngerepotin lo" Lalu kemudian aku berdiri bersiap untuk keluar kelas. Kelas yang lain sudah keluar sejak tadi karena ada kegiatan ekstrakurikuler "Tyl" Panggil Chiki membuatku mau tak mau menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku karenanya Lagi dan lagi aku berhapan dengan Erlanda yang tepat berada disamping Choki, aku sebisa mungkin menghindari tatapan mata erlanda "Ada apa Chok? " "Pulang sendiri?" aku mengangguk i "Gue antar ya" ajak Choki "gue naik bus aja nggak apa-apa udah biasa kalau gitu gue pulang duluan ya"! Dengan cepat aku menolak ajakan Choki, dan melangkah menjauh dari keduanya. erlanda masih menatapku. kali ini aku tidak ingin bersamanya lagi Kebetulan aku juga sudah tahu jalan pulang. aku yakin bahwa hari ini aku tidak akan tersesat lagi terus menerus. *** Aku sedang menunggu bus bersama dengan siswa siswa yang lain yang juga sedang menunggu bus, Aku melihat seseorang dari ekor mataku sedang berjalan menuju ke halte bis, aku mencoba memastikan bahwa itu benar Erlanda tapi saat ku pastikan bahwa itu benar Erlanda dengan cepat aku mengalihkan pandanganku agar tak ketahuan bahwa aku melihat Erlanda. Aku sebenarnya sangat sedih mungkin harus menghindari erlanda jika aku tidak menghindarinya entah bagaimana reaksiku saat menatap matanya. Mungkin aku akan menangis karena rasa sakit yang terus aku rasakan hingga saat ini. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN