Aku dan Keyla sudah berganti baju menjadi baju olahraga setelah istirahat jam pelajaran berikutnya adalah olahraga maka dari itu kami bersiap-siap terlebih dahulu sebelum pelajaran olahraga dimulai.
Menurut Keyla guru olahraga kami sangat disiplin ,Ia tak mentolerir siapapun yang terlambat dengan alasan apapun maka dari itu kami memanfaatkan waktu agar bisa cepat berganti pakaian.
Tak berapa lama, kami kembali ke kelas bisa dilihat bahwa siswa-siswa sudah berganti pakaian menjadi baju olahraga begitu pula dengan Choki dan Erlanda.
Erlanda tak mengatakan apapun setelah kejadian di perpustakaan tadi Choki begitu juga ia tak ingin menyapa Erlanda dia ingin memberikan Erlanda pelajaran bahwa tidak selamanya kita harus berpendirian tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Aku dan Keyla duduk di bangku kami menunggu guru olahraga kami masuk.
Aku sebenarnya sangat sedih karena melihat sikap Erlanda, yang begitu teganya kepadaku padahal Ia tahu bagaimana keadaan ekonomi ku walaupun aku juga tak ingin dikasihaninya tapi setidaknya aku ingin Dia sedikit mengerti.
Suasana kelas yang awalnya ribut menjadi Hening setelah seseorang guru laki-laki bertubuh sedikit berisi masuk ke kelas kami wajahnya sangat seram untuk ukuran seorang guru
"Selamat siang" ujarnya sebelum memulai pelajaran setelah itu ia memerintahkan kami untuk segera ke lapangan karena pada hari ini materinya mengenai olahraga di luar ruangan (Outdoor).
"Ayo Tyl kita ke lapangan!" ajak Keyla dan langsung mendapat anggukan dariku kemudian aku berbisik pelan kepada Keyla "Perlukah kita ajak Choki?"
"Aku juga tidak tahu coba kita ajak ya!"
"Chok mau bareng kita nggak?" tanya Keyla kepada Choki
"Ya udah boleh tunggu ya!"
Kemudian kami berjalan menuju lapangan Erlanda sudah pergi sejak tadi ia diperintahkan oleh guru olahraga untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan
"lo Yakin enggak apa-apa"
"Gue baik baik aja, chill" ujarku meyakinkan mereka aku tidak ingin mereka mengkhawatirkanku
"Sebenarnya apa yang terjadi Tyl?"
Aku menceritakan semua yang terjadi sepanjang perjalanan sebenarnya jika diingat itu adalah kejadian yang sangat lucu Bagaimana bisa aku dengan beraninya melakukan hal itu kepada Erlanda mengingatnya membuatku tertawa.
Kemudian kami sampai di lapangan hijau bisa ku lihat erlanda sedang berdiri merapikan peralatan yang ia bawa dari ruang olahraga. Hari ini pelajaran kami mengenai lari rintangan kami harus bisa melewati rintangan yang ada di hadapan kami.
"Baik anak anak silahkan berkumpul bapak akan mempratekkan materi hari ini, silahkan Erlanda maju ke depan, Selain Erlanda Bapak butuh 1 orang untuk membantu bapak, Siapa yang mau usahakan itu siswi perempuan"
aku dan para siswa perempuan lainnya segera menghindari tatapan dari guru olahraga, kami tak ingin disuruh untuk mempraktekkan materi mengenai lari rintangan yang ternyata dilakukan secara berpasang-pasangan setelah beberapa menit tak ada yang ingin mengajukan diri, lalu Pak guru yang bernama Santoso itu akhirnya bersuara
"Baik jika tidak ada yang mau, Bapak akan menunjuk saja. Orang yang Bapak tunjuk silahkan maju ke depan! Erlanda tolong absensi kehadiran milik bapak"
Kemudian Erlanda mengambilkan apa yang diperintahkan oleh Pak Santoso
"ini pak" ujarnya memberikan absensi kehadiran itu.
Pak Santoso dengan seksama membaca satu persatu nama yang akan maju ke depan dan ternyata namaku lah yang dipanggil oleh Pak Santoso
"Siapa yang namanya Tylisia? "
Aku kaget mendengar namaku yang dipanggil, mau tak mau aku mengangkat tanganku agar Pak Santoso tahu keberadaanku.
"Ya silakan yang namanya Tylisia, maju ke depan!" aku akhirnya memutuskan untuk maju ke depan berdiri disebelah Erlanda yang entah kenapa sedikit berbeda dari biasanya ia terlihat sangat tampan menggunakan baju olahraga miliknya.
Walaupun aku masih sedikit kecewa padanya tapi aku tetap saja tak bisa berhenti untuk memuji ketampanannya.
"Baik perhatikan Erlanda dan Tylisia, kamu sebagai pelari pertama" ujar Pak Santoso sambil menunjukku "kemudian kamu Erlanda sebagai pelari terakhir. Tugas kamu Tylisia berlari secepat-cepatnya melewati setiap rintangan membawa tongkat yang ada di tanganmu lalu memberikannya kepada Erlanda dan erlanda lakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Tylisia hingga mencapai garis finish sampai disini mengerti?"
aku dan Erlanda mengangguk mengerti lalu kami berdiri di garis yang telah ditentukan
"Baik Erlanda kamu siap disana?"
"Siap pak!"
"Setelah bapak meniupkan peluit ini kamu lari secepat-cepatnya menuju Erlanda mengerti?"
"Baik Pak!"
"Satu dua,,, prit......!!!"
Setelah mendengar aba-aba aku langsung berlari kencang melewati rintangan rintangan yang sengaja diletakkan, aku bisa melihat Erlanda sedang menungguku di ujung sana untuk pertama kalinya Erlanda menungguku walaupun hanya karena praktek olahraga tapi hal ini sudah mampu membuatku tersenyum senang seakan lupa tentang apa yang ia lakukan kepadaku.
Kemudian setelah hampir sampai ke garis dimana Erlanda berada, aku semakin mempercepat lariku lalu dengan cepat aku memberikan tongkat itu kepada Erlanda, aku bisa merasakan sentuhan tangannya saat ia mengambil tongkat itu dari genggamanku.
Ketika erlanda sudah berhasil mengambil tongkatnya aku mencoba menarik nafas dalam-dalam memberikan pasokan oksigen kepada paru-paru karena sudah lama rasanya aku tidak berlari sekencang itu hingga membuat dadaku sedikit sesak tapi tak kupedulikan saat kulihat Erlanda sedang berlari melewati rintangan dan berhasil.
Aku bersorak senang melihat keberhasilannya "Baik kerjasama tim kalian sangat bagus waktunya tergolong cepat!"
"Siapa lagi yang ingin mencobanya dan memecahkan durasi waktu yang dimiliki oleh Erlanda dan Tylisia?"
kemudian barulah banyak yang mengangkat tangannya ingin mencoba untuk mendapat nilai.
Aku masih berdiri di tempat garis start pelari terakhir, aku bisa melihat Erlanda dari sini sedang mengatur sedang mengatur nafasnya kuberanikan diri untuk berjalan ke arahnya ia menatapku.
Aku tersenyum kepadanya dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa melihat Erlanda membalas Senyumanku.
jantungku berdebar sangat kencang seperti ingin lari dari tempatnya hanya dengan satu senyuman kecil dari Erlanda mampu memporak-porandakan seluruh hati dan jiwaku.
Efek senyuman Erlanda begitu luar biasa kemudian aku mencari tempat untuk memgistirahatkan kakiku sambil melihat siswa-siswi lain yang sedang mengambil nilai.
"Tyl!" teriak Keyla dari kejauhan Keyla dan Coki sedang bersiap-siap menunggu giliran mereka untuk mengambil nilai.
"Semangat!!!" teriakku dari kejauhan sambil mengepalkan tanganku ke udara yang dibalas kepalan balik dari Keyla.
***
Akhirnya setelah semua mengambil nilai Bapak Santoso membiarkan kami untuk melakukan olahraga bebas asalkan tidak ada satupun yang ke kantin.
Aku dan Keyla sedang duduk di tengah lapangan berumput hijau ini, jika kalian bertanya di mana Choki ia sedang berkumpul dengan siswa laki-laki di sana dan disana juga ada Erlanda.
kemudian Keyla mencoba mengatakan sesuatu kepadaku "Tyl" panggilnya
"Iya ada apa ?" Tanyaku
"Lo tahu untuk pertama kalinya gue ngeliat wajah bersalah dari erlanda" pernyataan Keyla membuatku terkejut
"Lo mungkin salah lihat Key!"
" Gue kira Gue salah Tyl, tapi setelah gua pasti kan sekali lagi ternyata gue bener, Erlanda sepertinya merasa kalau tindakannya sangat berlebihan ke lo"
"Kapan lo ngelihatnya Key"
"Saat gue dan Lo kembali dari ruang ganti dan duduk di kursi, saat itu ada barang gue yang tertinggal di atas meja Choki dan Lo tahu Apa yang Erlanda lakuin"
"Dia sedang ngeliat lo dari belakang dengan Tatapan yang seperti gue bilang tadi tatapan bersalah"
ingin rasanya aku terbang setelah mendengar ucapan dari Keyla tapi aku yakin Keyla salah dalam mengartikan arti dari tatapan erlanda sebab sangat sulit menilai erlanda hanya dari tatapan dan ekspresinya saja
***
suara sorak sorai menggoda terdengar dari ujung lapangan membuatku mau tak mau ikut melihat.
Siapa yang menyebabkan keributan itu ternyata aku bisa melihat seorang gadis sedang berjalan menuju sekelompok laki-laki yang sedang duduk di sana, tapi tak ada Erlanda.
Entah kemana aku pun tak tahu
***