“Ikut gue” lalu Erlanda menarik tanganku
“Mau ke mana?”
Tapi Erlanda terus menarik tanganku, tidak mempedulikan tatapan para siswa-siswi yang melihat kami berjalan di koridor.
Ini adalah sesuatu yang langka bagi mereka, seorang Erlanda bersama seorang perempuan sedang berpegangan tangan walaupun dalam arti yang lain, aku terus protes kepada Erlanda. Aku tidak tahu mau dibawa ke mana, ia terus menarikku.
Kami melewati Choki dan Keyla yang sedang menatap kami berdua dengan heran dan khawatir “Tolong gue” ujarku kepada Choki mencoba meminta pertolongan kepada Choki.
“Gila” kompak Choki dan Keyla melihat perlakuan Erlanda kepada diriku.
Mereka pun mengikuti aku dan Erlanda dari belakang
“Lho kenapa?” tanya mereka diam diam masih sambil megikutiku dan Erlanda, bahkan mereka tak sedikitpun berani menghentikan Erlanda
“Panjang ceritanya, buruan Tolong gue!” ucapku tak sabaran kepada mereka berdua, yang aku inginkan hanya agar mereka membantuku bukan bertanya ada apa dan kenapa.
Tak lama kemudian Erlanda menghentikan langkahnya ketika kami sampai di sebuah ruangan aku memperhatikan ruangan tersebut ternyata perpustakaan.
Kenapa dia membawaku ke ruangan ini
Choki dan Keyla terus memperhatikan kami dari jauh takut takut jika mereka juga diamuk oleh Erlanda.
Sebab Mereka melihat bahwa Erlanda sedang dalam keadaan sangat sangat buruk dia seperti menahan amarahnya.
Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Erlanda.
Tapi belum sempat aku mengeluarkan suaraku suara Erlanda yang terdengar
“Masuk” ujarnya dengan nada seperti paksaan
Mau tak mau, Aku akhirnya menuruti Erlanda entah apa yang akan dia lakukan di perpustakaan ini.
Aku mencoba melihat ke arah belakang untuk mengecek Apakah Choki dan Keyla masih ada disini atau mereka malah meninggalkanku sendiri tapi ternyata mereka berdua masih di sini tapi dalam jarak yang cukup jauh
“Tolong gue” ujarku tanpa suara kemudian Erlanda mendahului diriku dan menuju ke meja perpustakaan perpustakaan ia meletakkan buku yang tak sengaja aku robek.
Kali ini aku tahu
jangan bilang aku harus bertanggung jawab karena telah merobekan buku itu
Erlanda meletakkan buku itu di meja perpustakaan salah satu pegawai bertanya kepada Erlanda “Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Iya Bu, gadis ini yang merobek buku milik perpustakaan” lalu erlanda membuka halaman yang aku robek tadi dan menunjukkannya kepada pegawai Perpustakaan
“Ini Bu” ujarnya kepada pegawai perpustakaan itu ia memperlihatkan halaman yang tinggal setengah
Tentu saja aku membela diri, tak mau disalahkan sepenuhnya.
Saya tidak sengaja
“Aduh bagaimana ini, sesuai peraturan barang siapa yang merusak buku milik perpustakaan ia harus menggantinya dengan buku baru”
Aku terkejut bukan main jika hal ini terjadi dahulu mungkin hal ini bukanlah hal yang berat tapi sekarang untuk mengganti sebuah buku adalah hal yang sangat sulit bagiku gaji harianku saja mungkin tak bisa membeli buku, terlebih lagi buku itu tampak mahal dengan ketebalan yang menurutku cukup tebal.
Aku menelan ludah “Bu, tapi aku benar-benar tidak sengaja”
“Tidak bisa nak, kamu harus menggantinya”
“Apakah tidak bisa dilem saja Bu ? ini ada sisa robekan nya”
kemudian pegawai perpustakaan itu mencoba menempelkan kembali potongan kertas yang ada di tanganku dengan yang ada di buku kemudian mencocokkannya tapi ternyata ada bagian yang hilang tanpa aku sadari entah dimana Aku kehilangan bagian itu.
“Bu bagaimana ini, Apakah tidak ada solusi lain selain membeli buku baru”
“Tidak ada nak, peraturan di perpustakaan ini sudah jelas barang siapa yang merusak barang dan buku di perpustakaan ini mau tak mau harus menggantinya”
“Jika saya menggantinya kira kira berapa uang yang harus saya keluarkan untuk menggantinya Bu?” cicitku pelan agar tak terdengar oleh siswa siswi yang sedang memperhatikan kami
“Tunggu sebentar” ujar petugas itu, selagi petugas itu mengecek harga dari buku itu aku melihat kepada Erlanda meminta pertolongan agar dirinya mau menggantikanku atau mengajakku untuk bersama sama membayar buku itu.
Tapi Erlanda hanya menatapku datar, lalu datanglah Choki dan Keyla.
"Ada apa Tyl?" tanya Choki
"Aku tak sengaja merobekkan buku perpustakaan" jelasku lemah
"Bagaimana bisa?" kali Keyla yang bertanya
"Panjang ceritanya"
"Emang siapa yang meminjam buku itu?" tanya Keyla sembari melihat buku tebal yang ada di atas meja itu.
"Jangan bilang Erlanda" bisiknya pelan kepadaku
Aku hanya mengangguk pasrah, kali ini pikiranku benar benar tidak bisa di ajak berkompromi aku benar benar takut bagaimana caraku mengganti buku itu.
Choki yang diberitahu Keyla juga tak kalah terkejut, kemudian Choki memberanikan diri untuk berbicara dengan Erlanda yang ia tahu masih mogok berbicara dengannya.
"Er, kasihan Tylisia jangan gitu ya, kita ganti sama sama aja ya Er" Choki membujuk Erlanda agar mau bersama sama bertanggung jawab sebab ini juga karena permintaannya dan misi yang ia berikan kepadaku.
“Biar dia yang bertanggung jawab dia yang melakukannya dia juga yang harus menanggung konsekuensinya” ujar erlanda
kemudian petugas perpustakaan itu datang sambil membawa daftar harga buku yang aku robekkan itu.
“Ini daftar harga buku yang kamu rusak harganya RP. 259.000, kamu bisa membelinya di toko buku atau bisa kamu berikan uangnya kepada kami nanti biar kami yang membelikannya”
aku terkejut mendengar harga buku itu lebih mahal daripada dugaanku kemudian aku mencoba berbicara kepada ibu itu untuk memberikan keringanan kepadaku
“Maaf Bu, kalau boleh bisakah Ibu memberikan waktu saya selama 1 bulan untuk mengganti buku itu”
“1 bulan?” tanyanya kepadaku
“Iya Bu”
“Sepertinya tidak bisa paling lama buku harus diganti maksimal 2 minggu”
“Tapi saya belum ada uang Bu”
“Tidak bisa makanya jika melakukan sesuatu harus diingat dampaknya ke depan, Maaf itu sudah menjadi peraturan. Oh ya kamu kelas berapa?”
“Saya kelas 11 IPA 1 namanya Tylisia Harumi Darleen”
“Identitas kamu sudah dicatat jadi kamu harus datang membawa buku itu paling lambat dua minggu lagi, mohon maaf Ibu tidak bisa membantu. ibu permisi dulu”
Aku menghela nafas berat aku benar-benar bingung bagaimana aku harus membayarnya kemudian Choki dan Keyla menghampiriku tapi tidak dengan Erlanda dia pergi begitu saja setelah mengetahui bahwa aku yang akan bertanggung jawab.
“Dasar manusia nggak punya hati” kesal Keyla kepada Erlanda
“Chok lihat teman lu, teman macam apa itu!!!”
aku mencoba menenangkan mereka “Sudah tidak apa-apa ini juga karena kesalahanku aku yang ceroboh ayo kita keluar” ujarku lemah.
Sesampai di luar perpustakaan Choki dan Keyla memberikan sebuah solusi kepadaku tapi tentu saja.
Aku menolaknya sebab itu bukan salah mereka aku saja yang menggantinya.
“Aku bantu saja ya”
“ Iya Tyl kita sama-sama mengganti buku itu, kan kamu melakukannya karena perintah kami” ucap Choki dan Keyla secara bersamaan.
“Tidak itu kesalahanku Seharusnya aku berpikir dua kali jika harus melakukan itu, ayo kita kembali ke kelas! Setelah ini kita pelajaran olahraga akan dia tapi sudah jangan dibahas” ujarku lalu mengajak mereka pergi ke kelas karena sebentar lagi akan berbunyi.
***
Suasana riuh kelas X mewarnai jam istirahat di kelas Divandra yang sudah menahan rasa cemburunya karena melihat Erlanda menarik seorang gadis yang tidak dikenalnya biasanya Erlanda tak pernah ingin berurusan dengan seorang gadis tapi lihatlah tadi ia menarik tangan gadis itu menyebalkan .
Salah satu temannya datang menghampiri Divandra “Lo lihat nggak tadi kejadian di koridor cowok incaran lo lagi narik cewek lain, nggak kalah cakep dari lo” perkataan temannya sukses membuat emosi Divandra sampai ke ubun-ubun
“Gue yakin si cewek yang cari masalah salah ke Kak Erlanda”
“Gue baru liat tuh cewek, siapa tuh?” tanya divandra penasaran
“Gue dengar sih anak baru anak pindahan namanya Tylisia satu kelas dengan Kak Erlanda”
Divandra mengangguk mengerti
“Oh anak baru bukan apa-apa” lalu dia tersenyum miring entah apa arti dari senyumannya hanya Ia yang tahu
*****