"Baik anak anak kita akhiri pelajaran kita hhari ini, jangan lupa kerjakan PRnya hari kamis akan ibu periksa" Bu Gea menutup pembelajaran hari ini bertepatan dengan bunyi bel sebagai tanda waktu istirahat telah tiba.
Aku menyimpan buku buku yang digunakan saat pelajaran tadi ke dalam tas, mau tak mau aku harus menghadap ke arah belakang tentu saja aku juga bisa melihat Erlanda.
Sejak insiden pencoretan tadi Choki hanya diam tak berani bersuara, jika sedikit saja Choki mengeluarkan suara bisa habis dirinya oleh Erlanda detik itu juga.
Choki berdehem pelan "Ekhmm, ekhmmm" Choki melakukan itu demi mendapat perhatian dari Erlanda.
Tapi usahanya sia sia saja, akhirnya Choki memutuskan untuk beranjak dari kursinya menuju kursiku dan Keyla.
"Key, Tyl" bisiknya pelan agar suaranya tak di dengar oleh Erlanda.
Keyla memutar bola matanya malas "Apa lagi Choki Choki?" tanya Keyla
"Tolongin gue please, cuman kalian yang bisa ngebantuin gue keluar dari situasi darurat ini" Choki memohon pertolongan dari ku dan Keyla. Aku dan Keyla saling berpandangan penuh arti, Keyla yang mengerti arti dari tatapanku dan aku yang tau arti dari tatapannya.
Akhirnya Keyla memberanikan diri membalas ucapan Choki "Lo tau sendiri Erlanda jauh lebih galak dari macan kek gue macan kek gue ini lemah di hadapan Predator kek Erlanda, jadi setelah gue dan Tylisia berdiskusi kami memutuskan bahwa kami tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian" ujar Keyla panjang lebar yang mendapat anggukan dariku "Iya Chok, gue nggak berani ngelakuin apapun"
Choki merengek manja seperti anak umur 5 tahun yang tak dibelikan mainan oleh ibunya "Gimana sih kalian, katanya teman tapi nggak mau bantu sama sekali, tolong dong please" Kami sebenarnya tak tega terhadap Choki tapi mau tak mau kami harus sebisa mungkin tidak terlibat ke masalah mereka berdua.
Kemudian Choki beralih kepadaku memohon kepadaku untuk mau membantunya "Tyl tolongin gue" Choki memohon sambil berbisik bisik agar tak terdengar Erlanda yang masih tak bergeming di bangkunya.
"Gue punya ide" celetuk Keyla pada akhirnya membuat Choki tersenyum sumringah "Apa apa?" jawabnya antusias
"Sini sini" lalu kami berbisik pelan merencanakan sesuatu yang bisa membantu Choki berbaikan dengan Erlanda.
***
"Kok gue sih?" protesku tak terima kami memutuskan untuk menjalankan misi membantu Choki berbaikan dengan Erlanda.
"Kan lo udah setuju tadi Tyl" protes Choki
"Jangan gue deh Keyla aja" tolakku masa iya aku yang harus melaksanakan misi ini, bisa habis aku dengan Erlanda.
"Lo cuman ngajak Erlanda ke taman ini, itu adalah misi paling mudah"
"Ayo dong Tyl gue mohon, lo mau berdiri sendirian di pelaminan nanti" ujar Choki
"Maksud lo apaan?" tanyaku tak mengerti
"Soalnya jodoh lo mati gara gara bertengkar dengan Erlanda" ujar Choki mendapat pukulan dari Keyla
"Mending lo mati sekarang biar Tylisia sendirian di pelaminan daripada berdiri sama lo, amit amit" Keyla dan Choki malah beradu mulut tak memikirkan diriku yang tak tahu bagaimana cara membuat Erlanda akan mengikutinya, berbicara saja dengannya sangatlah sulit apalagi sekarang menyuruhnya mengikutiku adalah hal yang tidak mungkin.
"Buruan Tyl, nanti keburu masuk" Keyla mendorongku menjauh dari mereka, aku memberikan tampang memelasku agar mereka mengasihiniku tapi apa yang mereka lakukan malah mngepalkan tangannya di udara memberikan semangat kepadaku
dengan sangat terpaksa aku akhirnya melangkahkan kaki menuju kelas dimana Erlanda berada.
Aku mencoba menetralkan debaran jantungku, memikirkan cara untuk mengajak Erlanda.
Sesampai di depan kelas aku berusaha mengintip untuk melihat situasi di dalam kelas, aku bisa mlihat Erlanda sedang duduk tenang di bangkunya sedang membaca buku.
"Hufttt, ada Erlanda kamu bisa Tyl" semangat dalam hati.
Misiku kali ini adalah mengajak Erlanda untuk pergi ke taman belakang, sebenarnya misi ini sangatlah mudah tetapi jika saja tak melibatkan Erlanda.
Aku dengan pelan melangkah mennuju Erlanda yang masih fokus membaca buku yang berada di pangkuannya.
Tepat saat aku sudah berada di depannya, dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang berani menganggu kegiatan membacanya yang tenang.
"Apa?" tanya Erlanda dingin.
Hal yang bagus Tyl, Erlanda bertanya duluan itu berarti ia merasa penasaran dengan apa yang aku lakukan selanjutnya.
"Hmm, Er ikut aku yuk" ajakku memulai misiku
"Gue lo" ujarnya mmperingati.
aku menelan salivaku bulat bulat, gugupku bertambah menjadi dua kali lipat mampus aku melakukan kesalahan.
"Maaf, Er ikut gue yuk!"
"Nggak" respon cepat Erlanda, aku menjadi tidak sabaran akhirnya aku mencoba menyesejajarkan tubuhku dengan Erlanda yang sedang duduk "Bentar aja ikut gue, please" mohonku agar ia mau mengikutiku tapi seperti yang kita tahu bahwa Erlanda bukan seorang yang sangat mudah luluh.
Kali ini dia melanjutkan kegiatan membacanya yang terhenti, bagaiman abisa ia membaca dalam keadaan seperti ini.
"Er, bentar aja ikut gue" aku dengan cepat menarik tangannya, tapi kekuatan Erlanda begitu kuat sehingga membuatku tak bisa menariknya malah aku yang ditarik olehnya membuatku hilang keseimbangan tapi dengan cepat aku mengembalikan keseimbanganku agar tidak terjatuh di hadapan Erlanda.
Erlanda menatapku dingin tatapan yang mampu membuatku diam tak berkutik, bagaimana ini aku tidak tahu apa yang harus ak lakukan. sebuah ide muncul dari fikiranku.
"Er, ada tikus" teriakku heboh tapi tidak dengan Erlanda dia hanya diam saja terus membaca buku.
Kali ini gagal lagi.
Dering ponsel dari sakuku menganggu proses berfikirku untuk mencari ide
Drrrt...Drrrt
"Siapa sih yang mengangguku?" ujarku kesal yang kuyakin Erlanda masih bisa mendengarnya.
Shiden, ada apa dia menelfonku ujarku dalam hati.
"Er, tunggu bentar ya" pamitku kepada erlanda yang kuyakini tak dihiraukannya.
aku mengangkat telfon dari Shiden sedikit menjauh dari Erlanda.
"Halo"
"Kok lama banget angkat telfon aku" ujar Shiden manja
"Aku lagi sibuk nih, nanti aku telfon lagi"
"Sibuk apaan? nggak kangen sama gue"
"Iya kangen tapi nanti ya lagi urgent nih" ujarku lalu mematikan sambungan telfonku dengan Shiden.
Kembali aku harus menjalankan misiku yang terus gagal.
Mencoba mendekati Erlanda lagi, kali ini aku harus benar benar nekat apapun akan aku lakukan jika tidak ingin Choki mengamuk kepadaku.
Kali ini aku yakin ide ku berhasil, Aku harus dengan cepat menarik buku yang dibaca Erlanda, lalu ketika buku sudah aku dapatkan aku harus berlari menjauh darinya nah kemudian mau tak mau Erlanda akan mengejarku lalu aku akan mengejarku sampai ke taman.
Aku tersenyum membayangkan bahwa ideku kali ini akan berhasil, aku mendekati Erlanda dengan perlahan tanpa sepengetahuannya dan saat Erlanda berada di jangkauanku aku dengan cepat menarik bukunya tapi memang benar kita tidak boleh mendahului rencana tuhan, aku kira rencana ini pasti berhasil tetapi ternyata hal lain yang tak kusangka terjadi.
Tepat saat aku menarik buku Erlanda, Erlanda sedang membalikkan halaman bukunya yang membuat tanganku malah memegang lembaran halaman itu dan menariknya membuat halaman buku itu robek menjadi dua, yang stau ditangaku dan yang satu masih tertinggal di buku itu.
aku menatap robekan kertas yang ada di tanganku, kali ini bukan hanya Choki yang dalam bahaya tapi diriku juga lebih berbahaya daripada Choki.
Setelah menatap robekan itu dengan perasaan yang campur aduk, aku memberanikan diri untuk menatap erlanda yang sudah berdiri di sampingku.
DEGGG
tatapan mata Erlanda benar benar membuatku ciut, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan apakah aku lari saja. tapi jika aku lari nanti aku juga bertemu dengan Erlanda, tapi biarlah itu menjadi resiko nanti sekarang yang aku tahu aku harus berlari menjauh dari Erlanda.
Aku dengan cepat mengambil ancang ancang untuk lari, tapi tiba tiba saat aku berhasil berlari beberapa langkah. aku merasakan ikatan rambutku seperti ditarik, membuatku tak bisa berlari karena pegangan tangan orang itu. Aku mencoba melihat siapa yang berani menarik rambutku, dan ternyata itu Erlanda.
Aish aku gagal lari darinya, ini semua salah rambutku kenapa aku pagi ini mengucirnya jika tidak pasti Erlanda tidak akan mudah menariknya.
Aku berbalik menghadap Erlanda, satu hal yang bisa aku lakukan adalah tersenyum kepadanya yang sedang menatapku garang.