Aku dan Erlanda sudah sampai di bis kami sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah tidak ada yang hal yang spesial selama perjalananku dengan Erlanda, keadaan kami masih sama seperti kemarin Erlanda duduk di bangku belakang aku berdiri berdesakan dengan para penumpang yang lain. Padahal Bu Hana telah mengingatkan Erlanda untuk menjagaku, tapi lihat tingkahnya tak sedikitpun ia mengindahkan pesan ibunya.
Aku menghela nafas berat, aku sebenarnya tidak keberatan untuk naik bis tapi suasana yang selalu ramai seperti ini membuatku kesal
aku terkadang bertanya tanya kenapa bis ini bisa selalu ramai seperti, tak ada sedikitpun kesempatan untukku bisa duduk meingistirahatkan kaki ku yang lelah berdiri selama hampir 20 menit bahkan lebih jika jalanan sedang macet yang membuatku semakin lama menahan rasa lelah ini, seperti sekarang sudah hampir 10 menit bis ini tidak juga berjalan karena ada kemacetan di depan, kakiku sudah sangat mati rasa.
aku mencoba membungkukkan tubuhku agar tanganku bisa sedikit memijat kecil kakiku untuk meringankan rasa capeknya.
***
"Er, tunggu"
Erlanda lagi lagi meninggalkanku sendirian, ia turun lebih duluan dari padaku.
Kali ini aku benar benar kesulitan untuk mengejarnya, langkahnya masih saja cepat seperti tadi.
"Erlanda" panggilku berulang kali tapi tetap saja ia terus berjalan tanpa menghiraukanku, kuputuskan untuk berlari mengejarnya daripada aku harus ketinggalan.
"Huuuhh" aku mencoba mengontrol deru nafasku saat aku berhasil mengejar Erlanda
"Er, kenapa jalan kamu cepat sekali hmm" protesku kepada Erlanda tapi tetap saja dia terus berjalan.
Erlanda memang manusia super dingin atau jangan jangan telinganya sedang tidak dalam keadaan yang baik.
"Er, kamu dengar nggak sih" aku terus memberanikan diri melakukan protesku kepada Erlanda biasanya aku tak seberani ini tapi kali ini Erlanda benar benar kelewatan karena terus meninggalkanku.
Erlanda menatapku "Berhenti panggil aku kamu" peringatnya kepadaku membuatku kembali tak berkutik di hadapan Erlanda.
Aku menggigit bibirku menahan rasa takut di hadapan Erlanda "Iya" hanya itu yang bisa aku katakan.
Aku ingin Erlanda bicara denganku tapi dengan nada yang jauh lebih normal bukan nada dingin seperti sekarang dan sebelumnya.
***
Saat sampai di koridor sekolah, aku bingung harus kemana kembali ku beranikan dirik untuk bertanya kepada erlanda
"Er, setelah ini aku kemana?" tanya aku semoga pertanyaanku kali ini bisa di jawab dengan nada yang lebih manusiawi
"Ruang guru" lalu ia berlalu begitu saja kembali meninggalkanku tanpa aba aba.
Aku mencak-mencak kesal terus saja nadanya seperti itu, apakah dia punya perasaan? apakah Bu Hana mengajarinya sopan santun? lalu kapan dia akan baik kepadaku aku menghela nafas berat menuju ruang guru yang entah di mana tapi sengingatku ruang guru berada di samping ruang administrasi tempatku tes kemarin aku memutuskan untuk berjalan sendirian ke ruang guru.
****
"Welcome Erlanda manusia paling dingin" Choki menyapa Erlanda ketika ia melihat Erlanda memasuki ruang kelas
Erlanda sebagai seorang yang disapa oleh Choki hanya bisa menahan malu menghadapi teman absurnya itu.
Erlanda sampai di bangkunya, langsung dibombardir oleh pertanyaan dari Choki "Gimana tidurnya semalam" lihatlah betapa absurdnya pertanyaan dari Choki
"Tidur atau nggak bukan urusan lu"
"Gawat nih, pagi pagi udah bm aja" Choki bereaksi heboh seperti seseorang yang sedang dalam keadaan gawat darurat
"Gawat Key, gawat" teriak Choki heboh sambil memanggil manggil nama siswi perempuan yang ada di depannya.
"Apaan sih Chok, pagi pagi udah ribut" Keyla nama siswi perempuan itu merasa terganggu dengan kehebohan Choki
"Bisa nggak lu sehari aja diam, nggak kek tong kosong" sambung Keyla kesal
"Ini keadaan yang tidak bisa dibiarkan Key, ini siaga satu" entah apa yang dimaksud Choki hanya dia dan tuhan yang tahu, tapi sepertinya tuhan juga tidak tahu apa maksud dari apa yang Choki lakukan.
"CHOKIIII" akhirnya Keyla sudah diambang batas kesabarannya pagi indahnya terganggu dengan tingkah absurd seorang Choki
"Er, tolong ya teman lo ini diamankan, awas aja kalau suaranya masih terdengar gue nggak segan segan ngelakuin apa saja." ancam Keyla kepada Erlanda karena menurutnya Erlanda tidak becus menjadi temannya Choki.
Erlanda yang diancam seperti itu membuat dirinya melihat ke arah Choki dengan mata tajam yang terus menatap Choki, dari tatapan matanya Choki tahu bahwa Erlanda sangat siap untuk membunuhnya jika ia membuat ulah lagi.
Choki yang tadi berdiri akhirnya memutuskan untuk duduk kembali di kursinya diam tak berkutik tapi itu hanya bebrapa saat, saat keadaan sudah mulai terkendali Choki kembali menjalankan misinya, meminjam PR matematika dari Erlanda.
"Er" panggil Choki "Gue pinjam pr matematika lu dong, gue belum nih"
Erlanda seperti tak menanggapi perkataan Choki, akhirnya Choki mengancam Erlanda bahwa dirinya akan menganggu Keyla lagi
"Kalau lu nggak mau minjamin pr matematika, lihat aja Key.."
PLAKKK
sebuah buku mendarat di bibir Choki menghentikan dirinya untuk terus berbicara
"Emang kurang adab lu sebagai teman Er" kesal Choki karena tiba tiba Erlanda memberikan buku itu dengan kasar.
***
Bunyi bel tanda masuk berbunnyi menandakan bahwa pelajaran akan segera dimulai.
"Cepat banget sih bel, baru juga nomor 4 dikit lagi nih" omel Choki masih saja menyalin pr Erlanda
"siapa suruh lu ngebacot dulu" ujar Erlanda mengejek Choki.
Erlanda bisa melihat bahwa guru matematika mereka yaitu bu Gea memasuki kelas dengan seorang yang amat Erlanda kenal
Erlanda mengumpat tertahan "S..t" melihat ternyata benar seseorang yang datang bersama Bu Gea adalah Tylisia gadis yang selalu berada di sekitarnya, gadis bodoh yang tak segan menatapku penuh kekaguman.
***
"Tylisia, kamu sekarang ikut saya" ujar salah seorang guru yang berjalan melewatiku.
Aku yakin ibu ini yang akan membawaku ke kelas tempatku belajar, sepanjang perjalanan aku terus merapalkan doaku agar diriku bisa sekelas dengan Erlanda. karena itu akan membuatku mudah untuk mendekatinya, semoga doaku ini bisa dikabulkan oleh yang diatas.
Kulihat guru itu memasuki kelas yang bertuliskan 11. Ipa 1, hasil tes ku membawaku untuk masuk ke kelas ini menurut mereka nilai tesku sangat bagus, sehingga aku cocok di kelas 11 Ipa 1 ini kelas unggul di di sekolah ini. Saat aku memasuki kelas itu aku hanyak menundukkan kepalaku tak berani melihat isi kelas, kemudian barulah saat ibu guru itu memerintahkanku untuk memperkenalkan diri barulah dirik mengangkat kepalaku, dan pandanganku langsung bertemu dengan seseorang yang namanya terus aku sebutkan sepnajang perjalanan menuju kelas ini.
Tuhan, harapanku menjadi kenyataan.
Perasaan ini begitu membucah membuatku tak bisa menahan senyuman dari bibirku, tapi aku harus mengkondisikan perasaanku sebab aku sedang diperhatikan oleh puluhan mata dari penghuni kelas ini.
"Halo, selamat pagi perkenalkan aku Tylisia Harumi Darleen, biasa dipanggil Tylisia, salam kenal semuanya." ujarku mengakhiri perkenalan singkat aku hari ini
"Baik semuanya ada yang ingin ditanyakan lagi kepada Tylisia?"
"Bu" seorang mengangkat tangannya tinggi, Choki.
"Ya choki, silahkan" Bu Gea mempersilahkan Choki
Choki yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat erlanda mau tak mau melihat ke arahnya bingung dengan tingkah temannya ini
"Apa yang dia lakukan apa yang harus dia tanya kepada Tylisia, Bukankah dia sudah kenal dasar aneh" batin Erlanda Ananda kemudian Erlanda beralih untuk memanda objek di depannya, bisa ia lihat bahwa wajah Tylisia yang sedikit kaget menngetahui bahwa Chokilah yang mengangkat tangannya
"Oke silakan" Choki mulai dengan keanehannya pertanyaannya membuat satu kelas tertawa
"Apa kabar Lama tidak berjumpa?" itulah pertanyaan bodoh darinya yang mendapat tatapan dari Bu Gea yang akan mengajar di kelasku hari ini.
"Choki lebih baik kamu diam!"
"Jika tidak ada lagi Tylisia, Silahkan kamu duduk di bangku kosong yang ada di depan Erlanda" sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang ada
"Di sini Tyl" tunjuk Choki dengan semangatnya aku memang berharap sekelas dengan erlanda, aku senang tapu ternyata harapanku terlalu berlebihan, bagaimana bisa aku duduk tepat di depannya bagaimana bisa aku tenang sedangkan jantungku terus berdetak jika Ada di dekatnya ini membuatku gila.
"Hai Tyl" sapa Choki setelah aku mendaratkan bokongku di tempat duduk mau tidak mau aku harus menghadap belakang untuk membalas ucapan Choki
"Hai, Cok" balasku
"Ini Erlanda yang kemarin Tyl kenalin" Choki tidak mengetahu bahwa aku sudah mengenal Erlanda
"Hai Erlanda" yang hanya mendapatkan balasan kosong darinya
setelah itu aku kembali aku melirik teman sebangku ku
"Tyl, dia sedikit pendiam Tak banyak bicara, namanya Keyla si kutu buku di kelas ini jangan ganggu dia, dia suka berubah tiba-tiba menjadi macan" ujar Choki membuat Keyla mengangkat kepalanya dan menatap Choki tajam
"Santai bro" choki memang anak yang sangat jahil kepada teman-temannya ada saja tingkahnya yang membuat orang lain kesal walaupun sebenarnya ia hanya bercanda
"Hai Keyla, aku Tylisia" aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya
"Hai Tylisia, aku Keyla"
"Mohon bantuannya ya Key" ujarku tapi lagi lagi Choki ikut menimpali percakapan kami "Kalau dia nggak mau bantu ada gue dengan Erlanda, iya nggak Er?" lalu Choki menyenggol Erlanda yang saat ini sedang menyalin catatan yang ada di papan tulis, tapi gara gara tindakan Choki membuat catatannya tercoret "Upss maaf nggak sengaja Er" Choki langsung menyuruhku menghadap ke depan dengan gerakan tangan Choki tahu bahwa sebentar lagi Erlanda akan mengamuk kepadanya.
****