Setelah berjalan selama 15 menit, kami sampai di tempat makan yang menjadi favorit Bu Hanna.
Sejak tinggal di sini Bu Hana selalu makan di tempat ini menurutnya rasa makanan di sini kalah dengan rasa restoran walaupun tempatnya kecil tapi selalu ramai, pelayanannya juga ramah tempatnya bersih.
ternyata saat aku sampai di sana apa yang dikatakan Bu Hanna benar, tempat ini sangat bersih dan juga ramai walaupun tak seperti tempat aku makan dulu yang dipenuhi oleh orang-orang berkelas, tapi hal seperti ini bisa membuatku bahagia sekarang.
Jika pergi makan bersama seperti ini, Aku masih teringat mama dan papa semoga mereka selalu dilindungi Tuhan.
"Selamat malam, untuk berapa orang Bu?" sapa pelayan dengan ramah,
"Tiga orang" jawab Bu Hanna
"baik ada di ujung sana, Silahkan Ikuti saya" kami mengikuti pelayan yang menunjukkan meja kami.
"Baik, ini buku menunya kalau ingin pesan nanti panggil saja"
aku duduk di samping Bu Hanna dan Erlanda di seberangnya.
Aku bisa dengan leluasa memandang Erlanda karena ia tepat berada di hadapanku.
Lihatlah saat malam pun wajahnya masih bersinar terang kegelapan tak menutupi ketampanannya aku terus menatap wajahnya sampai ia menangkap basah bahwa aku sedang menatapnya.
membuatku jadi kikuk dan berusaha menetralkan perasaan.
Malu karena sudah tertangkap basah, kini Aku pastikan dia tak melihatku lagi, dan lagi Aku memberanikan diri untuk melihatnya menikmati ciptaan tuhan yang sangat baik kepadanya, Lihatlah pada saat Tuhan memberikan ketampanannya, Mungkin dia berbaris di nomor satu. Semuanya ada padanya, mulai dari matanya yang memiliki Hazel mata coklat gelap, hidungnya yang mancung, bibir yang tipis dan kulitnya putih luar biasa.
"Kamu mau pesan apa?" Bu Hana bertany kepadaku aku bingung sebab aku tidak tahu apa yang enak di sini.
"Ikut ibu saja"
"Semua makanan disini enak kok"
"Ibu pesan apa? "
"Ibu memesan nasi soto, Kamu apa? "
"Hmm, nasi goreng aja Bu telurnya mata sapi tapi mateng minumnya air putih" Ujarku,
kemudian ibu memberitahukan kepada pelayan pesanan kami setelah kepergian pelayan tidak ada yang bersuara diantara kami dan lagi-lagi Bu Hana yang memecah keheningan diantara kami tadi
"Bagaimana rasanya naik bus untuk pertama kalinya?"
" Ya, culture Shock Bu tapi tidak apa apa kan ada Erlanda"
"Ada waktu itu kamu bilang dia duduk kamu berdiri"
"Nggak kok Bu, Emang enggak ada tempat untuk duduk biasalah Bu kalau pagi ramai"
"Tapi kamu hati-hati ya di bis suka ada pelecehan kamu harus menghindari berdiri dekat bapak atau anak seumuran kamu ada yang melakukan tindakan seperti Itu"
"Ngeri sekarang ya Bu"
"Dulu ibu sering melihat berita mengenai itu jadi agak parno kalo di atas bis kamu jaga Tylisia ya, Jangan Biarin dia berdiri sendiri di bus nanti ada apa-apa, lagian Ibu nggak mau anak ibu kenapa-napa."
"Oh ya besok jangan lupa ya ajak Choki" "bukannya lusa Bu?"
"Oh iya Ibu lupa Maklum faktor u"
"Memangnya ada apa Bu?"
"Ibu Rencananya mau ngadain syukuran, syukuran untuk toko Ibu karena udah hampir 10 tahun berdiri"
"Sudah lama ya Bu, Iya tapi tokonya masih yg kayak gitu-gitu aja.
Ucapan Bu Hanna terpotong saat pelayan mengantarkan makanannya.
"Maaf ini pesanannya nasi goreng dua nasi soto satu es teh satu air mineral nya 2, Selamat menikmati!"
" Terima kasih Mbak" kami menikmati makanan yang telah disajikan benar atau ujar Bu Hanna makanannya enak
"gimana Tyl? enak ?"
"enak banget Bu, benar kata ibu nggak kalah jauh dari restoran mahal"
Kami menghabiskan malam dengan saling mengobrol tentu saja hanya aku dan Bu Hana Erlanda hanya sesekali menimpali, jika ditanya bu Hana tapi hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan buatku Setelah sekian lama aku akhirnya bisa merasakan hangatnya keluarga.
****
Hari ini aku bangun lebih awal tak terasa, hari ini aku pergi ke sekolah, belajar di sekolah sudah lama rasanya aku hari ini berangkat dengan Erlanda lagi mungkin seterusnya aku akan berangkat terus dengannya. Walaupun dia menolak mentah-mentah kali ini aku yang menunggunya di jalan menuju halte kata Bu Hanna Erlanda selalu berangkat tepat waktu ia selalu berangkat pukul 06.00 jadi jika ingin berangkat bersamanya aku sudah harus siap sebelum pukul 6, dengan cepat aku mandi memakai baju seragam milik diriku di cermin untuk memastikan bahwa penampilanku sudah rapi.
Aku memutuskan untuk segera berangkat saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul pukul 06 kurang 10 menit biar aku yang menunggu Erlanda.
Aku bisa melihat Erlanda sedang berjalan menuju ke arahku.
Erlanda batinku
aku merapikan pakaianku yang sedikit kusut karena terkena angin dan merapikan anak rambutku saat aku hendak menyapanya ketika dia tepat berada di hadapanku ternyata dia hanya berlalu melewati ku meninggalkanku lagi seperti kemarin aku dengan cepat mengejarnya.
" Hai Er, tapi tak bergeming dia hanya diam saja" tanpa membalas perkataanku aku mencoba dengan cepat menyamai langkah kakinya.
Aku tidak ingin ketinggalan seperti kemarin aku ingin berjalan beriringan bersamanya dan aku berhasil aku bisa menyamai langkah kakiku dengan langkah kakinya walaupun satu langkah dirinya dan aku dua langkah tapi tidak apa-apa apa lagi berjalan bersama erlanda Aku akan melakukan apapun selama beberapa menit kami hanya diam saja aku terus berpikir mencari bahan obrolan yang tepat agar memecahkan keheningan yang terus terjadi diantara kami, aku mencoba memanggilnya. "Gimana tidurnya nyenyak?" setelah mengeluarkan kalimat itu aku merutuki diriku sendiri pertanyaan bodoh macam apa yang ku keluarkan sudah pasti Erlanda tidak akan menjawabnya dan benar erlanda masih saja diam tak merespon ekspresinya masih sama dengan pertama kali.
aku daritadi hanya melihat ekspresi yang sama, aku heran kenapa hanya satu ekspresi yang bisa aku lihat dari erlanda apakah dia tidak bisa berekspresi atau mungkin ada kelainan. Kemudian aku kembali memikirkan pertanyaan yang tepat yang aku ajukan untuk Erlanda
" Nanti kalau aku mau ambil seragam sekolah kemana ya Er?"
kali ini pertanyaanku pasti di jawabnya pertanyaanku lebih berbobot dibanding tadi.
1 detik
2 detik
5 detik
15 detik
Tak juga aku mendengar suaranya itu tandanya dia tak juga menjawab pertanyaanku
"Er" panggil aku lagi
Kemudian ia menghentikan langkahnya tiba-tiba membuatku juga menghentikan langkahku Aku hanya bisa bertanya di dalam hati mengapa ia menghentikan langkah kakinya kemudian ia berbalik menghadapku menatapku dengan ekspresinya yang masih sama.
" Bisa diam gak?" tanyanya kepadaku tapi lebih seperti nada perintah yang menyuruh untuk diam
"Maaf Er" ujarku
Aku kira dia merasa terganggu denganku aku menutup Mulutku tidak berani lagi mengeluarkan sedikitpun suara.
aku tidak ingin Erlanda menjadi marah kepadaku sehingga tidak ingin berangkat sekolah bersamaku lagi aku tidak ingin ini terjadi setidaknya dengan berjalan bersamanya tanpa adanya obrolan itu sudah menjadi semangat bagiku sebagai obat untuk menghiburku walaupun ia tak ingin sedikitpun mendengar keluh kesahku bahkan dengar suaraku saja.
Ya sepertinya.
****