Aku dan Bu Hana sedang membersihkan toko sebelum menutup toko karena kue dan roti sudah terjual habis.
"Syukurlah rezeki hari ini ya Tyl" ujar Bu Hana
"Ya Bu hari ini habis Tapi kasihan anak-anak tidak mendapatkan jatahnya hari ini"
"Iya ya terkadang Ibu juga memikirkan itu jika habis anak-anak tidak bisa mencicipi kue Ibu"
"Tylisia sangat salut dengan anak anak di sini Bu"
"Kenapa?" tanya Bu Hana antusias
"Mereka masih kecil tapi mau untuk berbagi, saat itu Tylisia membagikan kue tapi hanya ada 10 sedangkan mereka ada 19 orang, jadi waktu itu Tylisia bingung bu harus bagaimana tapi tiba tiba mereka menyuruh Tylisiq membagi mereka menjadi berpasangan sehingga mereka bisa saling berbagi kue dengan pasangannya masing masing" ceritaku panjang sambil mengingat kejadian yang membuatku terus berdecak kagum dengan mereka.
Bu Hana tersenyum mendengar ceritaku "Kamu mau tau nggak siapa yang ngebuat mereka jadi seperti itu?" tanya Bu Hana kepadaku tentu saja aku ingin tahu setahuku mereka di ajarkan oleh Bu Hana untuk bersikap seperti itu tapi dari perkataan Bu Hana bukan dirinya lah yang melakukan hal itu tapi orang lain
"Siapa Bu?" tanyaku cepat
Siapapun itu adalah sosok yang hebat yang mampu mengajarakan kebaikan yang terus diingat oleh anak sekecil mereka, aku kagum kepada orang itu, karena itulah aku sangat penasaran.
"Erlanda" jawab Bu Hana tenang tapi tidak dengan diriku yang sangat terkejut dengan jawaban Bu Hana
"Erlanda?" ulangku memastikan agar aku tak salah dengar
"Iya kamu tidak percaya kan? tapi itulah yang dikatakan anak anak itu kepada ibu, Erlanda menyembunyikan segala hal yang ia lakukan dari ibu, maka dari itu ibu sangat khawatir tentang dirinya ibu takut ia akan berbuat yang tidak tidak maka dari itu ibu menyuruh Tylisia untuk selalu ada di sampingnya memang terkadang dia selalu bisa melindungi dirinya sendiri tapi ibu yakin dia juga butuh sosok pelindung setelah kepergian ayahnya, dan ibu yakin bahwa kamu bisa melakukannya" Ucapan Bu Hana membuatku terdiam, aku seperti sedang bercermin cerita Bu Hana tentang Erlanda membuatku sadar bahwa Erlanda sama sepertiku. Erlanda yang tampak kuat di luar ternyata hanya kamuflase untuk menutupi dirinya yang juga sangat rapuh.
Lamunanku tersadar saat ibu Hana izin ke dapur
"Ibu ke dapur dulu ya, kamu bersihkan yang disini saja"
"Baik bu" lalu bu Hana berlalu kemudian bunyi bel sebagai tanda ada seseorang yang masuk berbunyi aku segera menuju sumber suara, ku kira itu pelanggan yang baru datang
"Maaf kue dan rotinya sudah habis" aku sedikit menunduk sebagai tanda permintaan maaf tetapi lawan bicara ku ini tak mengatakan apapun yang membuatku bingung kuberanikan diri untuk melihat siapa yang ada di depanku dan ternyata itu Erlanda yang hanya diam tanpa ekspresi melihatku seperti melihat seseorang yang aneh menurutnya.
"Oh erlanda mencari ibu ya? Ibu ada di belakang" Aku langsung tahu bahwa dia ke sini pasti mencari ibunya tidak mungkin mencari ku kemudian aku segera pergi dari hadapannya tapi sebuah suara menghentikanku dan itu suara Erlanda
"Tunggu" ujar Erlanda
Hatiku berdetak cepat tanpa aba-aba aku begitu senang rasanya, rasa lelah membersihkan toko ini seketika hilang hanya dengan suara Erlanda dia memanggilku kan dia menyuruhku menunggunya lalu aku berbalik dengan senyum sumringah
"Iya ada apa?" ujarku
Dia memberikan selembar kertas putih dari dalam tasnya
"Ini apa" Tanyaku lihat saja sendiri ujarnya dingin kenapa dia selalu dingin tak bisakah dia hangat sedikit aku membaca perlahan isi kertas yang dia berikan aku berteriak senang intinya aku lulus tes dan aku bisa bersekolah di sana secara gratis tidak perlu memikirkan biaya lagi aku sangat senang tanpa terduga aku melompat-lompat kesenangan dihadapan Erlanda
"Aku satu sekolah sama kamu Er, aku lulus" ujarku sambil terus melompat lompat kecil tentu saja Erlanda hanya diam tak bergeming lalu berlalu dari hadapanku membuatku mati kutu.
Dia terlihat biasa saja Apakah dia tidak senang satu sekolah denganku
Aku segera menyusul Bu Hana dan Erlanda yang ada di dapur memberitahukan kepada Bu Hana bahwa besok aku bisa bersekolah di sekolah Erlanda sekolah baruku
"Bu, aku lulus"
"Beneran?" tanya Bu hana tak kalah semangat
"Iya Bu ini Erlanda barusan memberikanku surat pemberitahuan bahwa aku lulus dan diterima di sekolah itu" sambil memperlihatkan kertas yang sedang aku pegang
"Wah Ibu ikut senang" Bu Hana langsung memelukku.
Aku sangat senang bisa berbagi kebahagiaan dengan Bu Hana setidaknya ada seseorang yang selalu mendengarkanku tempatku berbagi kebahagiaan dan berbagi kesedihan Terima kasih Tuhan telah memberikanku Bu Hana Malaikat Tanpa Sayap yang tiba-tiba hadir di hidupku saat hidupku sedang hancur hancur nya, aku memandangi Erlanda yang tampak terdiam melihat kami dengan tatapan yang sulit diartikan tapi aku yakin dia ikut senang entah apa arti ekspresinya tapi aku tersenyum kepadanya dengan harapan dia akan membalas Senyumanku, tapi itu hanyalah Harapan. Harapan yang aku harap suatu saat nanti bisa menjadi kenyataan.
"ya sudah" Ujar Bu Hana melepaskan pelukannya "Untuk merayakan keberhasilan kamu bagaimana kalau nanti malam kita makan di luar" sambung Bu Hana aku yang merasa tak enak langsung menolak ajakan Bu Hana
"Nggak usah Bu, nggak usah Kenapa harus dirayakan hal ini bukan sesuatu yang besar"
"Tidak, Ibu ingin kita merayakannya di luar karena itu sebagai suatu pencapaian bagi kamu dan sebagai hadiah ibu untuk kamu karena kamu tetap semangat menjalani apa yang kamu inginkan, nanti jam 7 kamu datang ke rumah ibu kita makan malam bersama di luar dan erlanda Ibu tidak menerima penolakan kamu harus ikut" ancam Bu Hana
Erlanda masih saja diam hanya mengamati tanpa merespon
"Ya sudah erlanda kamu bantu si Tylisia membersihkan di luar ya kasihan sejak tadi dia yang menjaga toko" perintah Bu Hana kepada Erlanda yang mendapat desahan nafas berat dari elanda
"Bu" protes Erlanda tak terima tapi apa yang dia dapat Erlanda malah didorong untuk mengikuti Tylisia.
***
Akhirnya aku selesai juga membersihkan toko aku melirik Erlanda yang hanya berdiri di meja kasir entah apa yang dia lakukan, Tapi sejak tadi dia hanya diam di situ.
Bukankah dia disuruh membantuku tapi kenapa dia hanya diam saja aku tahu bahwa ia diperintahkan Bu Hana untuk membantuku Tapi sejak tadi ia sama sekali tidak membantu ku kemudian kudengar suara Bu Hanna memanggilku
"Tyl, jangan lupa ventilasinya dikunci ya"
" iya bu" aku melihat ventilasi yang belum terkunci aku mencoba menguncinya tapi tinggi badanku membuatku tak bisa mengunci ventilasi itu aku terus mencoba berbagai cara seperti melompat, menginjit, tapi tetap saja tak sampai aku mencoba mencari kursi yang ada di sekitarku tapi nihil terus aku coba tapi kemudian sebuah tangan terulur aroma tubuh dari seseorang yang saat ini ini menjadi candu bagiku, itu erlanda. Erlanda ada di belakangku membantuku mengunci pintu ventilasi
Erlanda dengan mudah menguncinya karena tubuhnya yang tinggi kemudian setelah ia menguncinya ia lalu pergi menjauh meninggalkanku sendirian, tentu saja lagi lagi aku membatu seperti lupa bernafas
"Ayo bernapas" Tylisia bisikku dalam hati aku menepuk dadaku agar lebih mudah untuk bernafas.
Kenapa udara terasa panas padahal Erlanda tidak melakukannya untukku Tapi tetap saja erlanda membantuku.
Kemudian Bu Hanna datang dari belakang
"Tyl, sudah dikunci?" tanyanya kepadaku aku berbalik menormalkan Ekspresiku
"Sudah Bu"
Bu Hana seperti terkejut melihatku
"Ada apa Bu?"
"kamu sakit?"
"sakit?" Tanyaku heran
"Pipi kamu merah, Kamu demam?"
aku terkejut bukan main semuanya bercampur aduk malu terkejut kesal.
Kenapa Bu Hana mengungkitnya sekarang kenapa juga harus bertanya kenapa pipiku merah ini semua karena anaknya.
Aku tidak menyangka pipiku merah.
"Enggak Bu, Tylisia enggak sakit" ujarku
aku bisa melihat Erlanda sedang melihatku
"Jadi kalau nggak sakit, kenapa pipi kamu merah?"
"itu Bu, aku kesulitan menguncinya daritadi melompat-lompat menggunakan energi mungkin karena itu tubuhku merasa sedikit panas jadi ya Begini bu pipinya jadi merah" alasanku tak masuk akal
"Oh begitu tapi syukurlah" Ucap Bu Hanna pada akhirnya
"Ya sudah, ibu dan Eranda pulang dulu ya nanti jam 7 kamu datang ke rumah ibu kita makan bersama"
"Oke siap bu"
"Ibu dan Erlanda pamit dulu ya"
ibu dan anak itu keluar dari toko menuju rumahnya meninggalkanku sendiri dengan rasa malu.
Sudah berapa kali diriku harus malu di depan Erlanda.
Tuhan selamatkan wajahku.
****