0.41

1309 Kata
Lalu Erlanda segera berjalan menjauh dari kami “Tunggu gue ngambekan banget sih lu” “Nggak makan? Tanya Choki “Enggak gue langsung pulang aja” “Oh ya udah hati-hati ya Tyl, Sampai bertemu lagi” pamit Choki. Choki meninggalkanku aku sendirian untuk mengejar Erlanda yang sudah berjalan menjauh. Aku hanya terdiam memandangi Erlanda Apakah sebegitu tidak pedulinya dirinya kepadaku Aku menghela napas pelan lalu melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dari dalam saku, aku melihat nama Shiden terpampang jelas di layar ponselku tiba-tiba aku kembali bersemangat setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Shidenmenelponku “Halo!” sapa aku duluan “Halo gimana kabarnya?” “Halah basi lu!” dengusku mendengar pertanyaannya, dia tahu bahwa aku tidak baik-baik saja dengan keadaanku sekarang. “Gimana? apa gue bilang tinggal bareng gue aja. Gue kan punya apartemen ..” ucapan Shiden terpotong ketika aku dengan cepat mengancamnya untuk menutup telfon kami. “Gue tutup nih!” “Ih jangan-jangan gue masih mau ngomong dengan lu” akhirnya aku tak jadi mematikan sambungan telfonnya. “Gimana? gimana ada apa hari ini? ada sesuatu yang mau lu ceritain ke gue?” Shiden memborbardir diriku dengan berbagai pertanyaan. “Apa ya? Gue lagi di sekolah baru nih.” “Beneran? di mana sekolah baru lu?” “Rahasia” “Pake rahasia-rahasiaan segala lu” Aku tak mau mengatakannya kepada Shiden sebab jika dia tahu dimana aku sekolah dia akan setiap hari menjemputku. Jika saja ia tahu fakta bahwa aku tidak tinggal dengan mbak Arni pasti setelah itu ia akan mengamuk kepadaku menyuruhku untuk tinggal di apartemennya . Aku tidak mau sekali lagi merepotkan dirinya. Sudah cukup selama ini aku merepotkannya hari ini biarkan aku sendirian tanpa harus merepotkannya. “Tyl kasih tahu gue nggak!” kali ini Shiden yang berbicara dengan nada mengancam aku tetap kukuh dengan pendirianku “kalau Lu tau sekolah gue lu mau apa di sekolah gue? mau pindah?” “Kalau bisa ya hahaha” sudah kuduga pasti ia akan berbicara seperti itu. “Gila lu! mau mati lu ya!” “Sekolah sepi tanpa lu, di sekolah nggak ada orang yang bisa gue jahilin lagi. Nggak ada orang yang berangkat bareng sama gue, nggak ada orang yang bisa gue kasih s**u pisang lagi.” Terdengar nada sedih terselip di setiap kalimat yang diucapkan Shiden, tapi aku tidak ingin terbawa suasana pada akhirnya aku hanya bisa mengeluarkan kata candaan kepadanya “Sweet banget lu” Aku tak ingin membuat dirinya terlalu dalam kesedihan dan kekosongan saat aku pergi meninggalkannya aku dan Shiden terbiasa satu sama lain sejak kecil, Kami selalu bermain bersama melakukan apapun bersama makanya di saat salah satu dari kami pergi akan terasa canggung maka dari itu aku ingin Shiden terbiasa tanpa diriku tanpa adanya hadirku dia bisa bahagia bersama teman-temannya atau mencari sesuatu yang baru. “Tyl,” Ujarnya terdengar serius Aku menunggunya mengucapkan kalimat selanjutnya “Aku kangen” Aku hanya tersenyum menanggapinya walaupun ia sama sekali tak melihat senyum “iya ya aku juga, kamu sehat kan?” tanya “Disaat semua terasa berat, aku akan selalu ada di samping kamu” “apaan sih kok jadi mellow gini!” “Aku lagi serius Tyl ,kamu ini!” “Hehehe, maaf nggak biasa dengar kamu serius” “Kamu gimana kabarnya, Jadi kemarin ke pesta siapa tuh dandan ya?” “Iya Wildan, jadi g****k parah tuh anak” Aku membayangkan pesta mereka kemarin, pasti sangat menyenangkan “Lu tahu nggak” “Apaan?” Aku merasa tertarik dengan topik yang dibicarakan Shiden. “Sari balikkan dengan Daffa?” Tanyaku antusias “Iyaa, ya kali dengan Reza, ya dengan Daffa dong!” aku tertawa membayangkan, bagaimana pertengkaran yang terjadi antara Sari dan Daffa. Membayangkan mereka yang sekarang balikan setelah pertengkaran yang terus terjadi antara mereka, lalu aku menanyakan pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tau jawabannya. "Lalu mereka masih saja bertengkar?" tanyaku kepada Shiden "Sampai dunia kiamat pun mereka nggak akan berhenti bertengkar. "HAHAHA" aku tertawa puas mendengar jawaban Shiden Setidaknya berbicara dengan Shiden bisa melupakan rasa lelahku tidak terasa aku sudah sampai di halte bis tempatku menunggu bis. "Den, aku tutup ya" ujarku meminta izin untuk menutup telfon "Eh maaf aku ganggu ya" Shiden merasa tak enak ia kira aku sedang sibuk dan telfonnya mengangguku "Nggak, aku udah sampai di halte mau naik bis" Shiden terdiam beberapa saat tak tahu harus berkata apa karena untuk pertama kalinya aku naik bus seumur hidupku. "Emang bisa?" canda Shiden menutupi rasa kekhawatiran dirinya "Bisa lah, emangnya kamu naik motor aja masih tebar pesona" ujarku mengalihkan pembicaraan "Nggak nyambung woi" ujar Shiden kesal TIIT TIIIT Suara klakson dari bis yang akan aku naiki terdengar aku segera menutup telfon ku dengan Shiden "Ya udah den, bisku udah datang, ku tutup ya" "Iya Tyl, hati hati" *** "Er" panggil Choki "Gimana sih lu, gue kenalin sama Tylisia lu malah lari" kesal Choki melihat tingkah temannya "Lah kenapa?" tanya Erlanda tak merasa bersalah "Lu fikir sendiri, gue temenan sama lu terus gue baru pertama kali kenal sama Tylisia tapi lu udah memberikan kesan pertama yang buruk sebagai teman gue, dan lu pikir aja gimana Tylisia menilai gue, Tylisia akan berfikir kalau gue manusia yang tidak mmiliki sopan santun karena berteman sama lu yang sama sekali nggak ada sopan santunnya, lu tau sendiri temanmu cerminanmu. Habis deh pesona gue gara gara lu" Choki tak henti hentinya memprotes sikap Erlanda di hadapan Tylisia tadi. "Gue mau makan dengan tenang Chok" ujar Erlanda tak membuat Choki menghentikan celotehannya ia benar benar kesal kepada Erlanda bagaimana bisa temannya ini begitu dingin kepada setiap perempuan yang ia temui. "Er, gue yakin suatu saat pasti ada seseorang yang membuat lu bertekuk lutut" ujar Choki yang hanya dibalas acuh oleh Erlanda. Tapi tindakan Erlanda mengejutkan Choki, Erlanda memberikan sepotong nugget kesukaan Choki meletakkan di atas piring Choki tapi tindakan Erlanda malah di salah artikan oleh Choki "Buset, jangan bilang lu suka sama gue" yang mendapat tatapan tajam dari Erlanda "Lu niat mati" ujar Erlanda membuat Choki menyengir tak karuan "Makasih Er, lu memang sahabat gue" *** "Loh, Tyl udah pulang?" tanya bu Hana terkejut melihatku sudah kembali dari sekolah "Iya Bu, teesnya udah selesai" "Kenapa nggak nunggu Erlanda?" tanya Bu Hana kepadaku Aku bingung harus menjawab apa akhirnya aku memutuskan untuk berkata bohong saja supaya Ibu Hana tak memarahi Erlanda "Erlanda lama pulangnya Bu, tadi dia juga niat ngantarin aku tapi aku menolaknya soalnya aku sudah tau jalan menuju kesini" "Kamu nggak bohong kan Tyl ?" Bu Hana seperti tahu bahwa aku sedang berbohong Aku menjadi sedikit gugup karena merasa bersalah harus berbohong kepada bu Hana, padahal tadi aku sempat salah turun halte membuatku harus berjalan sejauh 2 km menuju halte tujuanku, jika aku naik bis lagi uang sakuku sudah tidak ada lagi. "Nggak Bu, Tylisia tahu jalan pulang mangkanya Erlanda mengizinkan Tylisia pulang duluan" akhirnya Bu Hana percaya kepadaku, maaf ya Bu aku harus berbohong kepada ibu. "Kamu udah makan, kamu keliatah pucat?" tanya Bu Hana khawatir "Sudah Bu" jawabku berbohong lagi tapi tiba tiba perutku berbunyi menunjukkan bahwa aku sedang berbohong kepada bu Hana "Aduh bohong kali ini gagal, kamu nggak bisa kompromi dikit ya" rutukku dalam hati kepada perutku yang tidak tau dengan situasi yang ada. "Tyl, ibu nggak suka ya kamu bohong bilang udah makan. Kalau belum makan bilang ibu nggak mau kamu sakit, kamu ingat kan kata ibu kamu anak ibu jadi jangan pernah menyembunyikan apapun dari ibu. Ya udah ini kunci rumah ibu, kamu makan ya" ujar Bu Hana Khawatir jika aku menyembunyikan rasa laparku karena merasa diriku nanti akan merepotkan dirinya. Kemudian aku mengambil kunci rumah Bu Hana yang ia berikan kepadaku. Segera aku berangkat menuju rumah bu Hana setelah meletakkan tas di kamar. "Bu Aku pergi dulu ya" pamitku kepada Bu Hana yang sedang sibuk melayani pembeli yang datang "Iya hati hati ya" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN